Minggu, 22 Mei 2016
Sabtu, 24 November 2012
JD justin
Just Dreaming Attente
Attente (part 1)
Ada kalahnya seseorang berada di sisi tergelap bumi dan ada kalanya seseorang disisi terterang dibumi.
Karna ini takdir dan sudah menjadi kepastian dari tuhan bahwa semua orang pasti mengalami hal itu dan tak bisa berpaling.
Mungkin tak ada yang ingin mengalami nasip sepertiku.
Aku juga tak ingin ini terjadi dalam hidupnku.
Tapi inilah takdirku dan ini pula yang sudah tersurat untukku.
Walaupun aku tak menginginkan ini semua
Rasanya aku ingin berteriak keseluruh dunia bahwa apakah salah ketika seorang wanita muda memiliki seorang putri tanpa ada pria disampingnya.
Aku juga tak ingin mengalami ini tapi aku tak ingin membaut anak yang tak punya salah yang merasakan semua ini.
Anakku juga tak menginginkan hal ini terjadi padanya, ia juga pasti menginginka kasih sayang seorang pria yang bisa ia panggil dengan sebutan "ayah"
tapi semuanya tak bisa ia miliki aku tak ingin ia mengetahui ayahnya seorang bajingan yang tak menginginkan kehadiranya didunia ini.
Biar aku yang menanggung semua ini.
Perkenalkan namaku lucia williana dan putri cantikku bernama blue liliana dan aku memanggilnya blue
seringali blue bertanya padaku "mom kenapa meleka celalu mengatakan aku anak halam, maksud meleka apa mom"
rasanya sakit saat saat blue kecilku mengatakan hal itu.
Apa mereka tak bisa membiarkan putriku tak mengetahui hal yang menyakitkan itu.
Apa mau mereka apa mereka ingin anakku juga merasakan sakit ini.
Apa meraka tak bisa membiarkan
anakku tak mengetahui itu.
Dia masih sangat kecil untuk mengetahui hal sesakit ini.
Ia belummengerti dan belum memehami semua ini.
Hari ini hari pertama blue masuk sekolah, ia sangat senang bahkan dia yang membangunkanku.
"mom ayo sebental lagi aku masuk sekolah!"
"baik sayang, kau tunggu saja dulu. Mom akan membuatkan kau sarapan pagi dulu"
"ok mom"
blue melangkahkan kakinya keluar dari kamarku.
Dengan langkah pasti aku berjalan keluar dari kamar,
kuikat asal rambutku.
Lalu kembali melangkahkan kakiku kedapur.
Kubuatkan roti isi daging untunya karna ia sangat menyukai roti itu.
"hy mom,apa semuanya sudah siap" ucap blue saat ia sudah duduk dimeja makan.
Aku selalu tersenyum saat ia berusaha untuk menggapai kursi yang ia dudukki.
"ayo sebentar lagi kau masuk sekolah sayang" kudendong blue lalu kulangkahkan kakiku kedalam mobilku.
Ini semua hasil jeri payaku. Aku tak perna meminta pria yang membuatku seperti ini untuk membiayai hidupku dan blue aku lebih baik bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil tetes keringatku.
Kuparkirkan mobilku diparkiran sekolah blue.
Kubukakan pintu mobil untuk putriku.
Kuantar ia sampai kedepan kelasnya.
"belajar yang baik. Jangan nakal yah sayang"
"baik mom"
kukecup puncak kepalanya dan membiarkan masuk.
Kulangkahkan kakiku kembali kedalam mobil.
Tapi kembali terdengar bisikan-bisikan yang selalu diucapkan orang-orang tentangku.
Tapi aku tak perna menghiraukan, aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu yang selalu tertiup.
Kututup mobilku lalu kembali menjalankanya,
apa ini bals dari dosaku karna melakukan hal yang sepatutnya dilakukan.
Kalau aku mau aku bisa mencarikan seorang ayah untuk blue tapi aku tak ingin kembali merasakan sakitnya karna ulah pria.
Kubiarkan hatiku tertutupdan membeku,
tak kubiarkan seseorang membuka dan memasuki hatiku.
Sekarang yang menjadi prioritasku adalah kebahagian malaikat kecilku,
ia segalanya untukku.
Dia semangat hidupku dan aku tak bisa sekuat ini tanpanya, ia membariku kekuatan saat aku hampir terpuruk dalam jurang yang sangat dalam.
Kutaruh tasku dimeja kerja,
lalu kubuka setiap lembaran proposal yang ada dihadapanku.
Tok.tok.tok
"silahkan masuk"
"maaf bu, orang yang saya maksud sudah datang"
"oh, suru dia masuk"
tak lama seorang pria datang
"baiklah, silahkan duduk. Apa anda yakin ingin bekerja disini"
"ia bu"
"maaf kau tak usah memanggulku bu.
Pangil saja williana"
"baik bu, maaf maksudku williana."
"baiklah kau sekarang bisa bekerja"
pria itu menlangkahkan kakinya keluar dari ruangan bosnya.
"kenapa dengan hatiku apa kau jatuh cinta padanya, tapi kenapa bisa secepat ini.kenapa aku bisa melihat kesedihan dikedua bola matanya.
Tapi kenapa aku tak bisa mengetahui apa yang membuatnya seperti ini.
Kurasakan setiap getaran dalam hatiku"
pria itu membenarkan meja yang akan menjadi meja kerjanya.
Pria ini terus memikirkan apa yang membuat williana mempunya pandangan mata yang sangat menyedihkan.
Padahal ia mempunya segalanya ia bahkan memiliki seorang putri.
Dalam hati pria ini ia bertekat untuk merubah pandangan mata williana yang menyedihkan kembali bersinar dan memmancarkan kebahagian dari detiap sorot matanya.
Karna ini takdir dan sudah menjadi kepastian dari tuhan bahwa semua orang pasti mengalami hal itu dan tak bisa berpaling.
Mungkin tak ada yang ingin mengalami nasip sepertiku.
Aku juga tak ingin ini terjadi dalam hidupnku.
Tapi inilah takdirku dan ini pula yang sudah tersurat untukku.
Walaupun aku tak menginginkan ini semua
Rasanya aku ingin berteriak keseluruh dunia bahwa apakah salah ketika seorang wanita muda memiliki seorang putri tanpa ada pria disampingnya.
Aku juga tak ingin mengalami ini tapi aku tak ingin membaut anak yang tak punya salah yang merasakan semua ini.
Anakku juga tak menginginkan hal ini terjadi padanya, ia juga pasti menginginka kasih sayang seorang pria yang bisa ia panggil dengan sebutan "ayah"
tapi semuanya tak bisa ia miliki aku tak ingin ia mengetahui ayahnya seorang bajingan yang tak menginginkan kehadiranya didunia ini.
Biar aku yang menanggung semua ini.
Perkenalkan namaku lucia williana dan putri cantikku bernama blue liliana dan aku memanggilnya blue
seringali blue bertanya padaku "mom kenapa meleka celalu mengatakan aku anak halam, maksud meleka apa mom"
rasanya sakit saat saat blue kecilku mengatakan hal itu.
Apa mereka tak bisa membiarkan putriku tak mengetahui hal yang menyakitkan itu.
Apa mau mereka apa mereka ingin anakku juga merasakan sakit ini.
Apa meraka tak bisa membiarkan
anakku tak mengetahui itu.
Dia masih sangat kecil untuk mengetahui hal sesakit ini.
Ia belummengerti dan belum memehami semua ini.
Hari ini hari pertama blue masuk sekolah, ia sangat senang bahkan dia yang membangunkanku.
"mom ayo sebental lagi aku masuk sekolah!"
"baik sayang, kau tunggu saja dulu. Mom akan membuatkan kau sarapan pagi dulu"
"ok mom"
blue melangkahkan kakinya keluar dari kamarku.
Dengan langkah pasti aku berjalan keluar dari kamar,
kuikat asal rambutku.
Lalu kembali melangkahkan kakiku kedapur.
Kubuatkan roti isi daging untunya karna ia sangat menyukai roti itu.
"hy mom,apa semuanya sudah siap" ucap blue saat ia sudah duduk dimeja makan.
Aku selalu tersenyum saat ia berusaha untuk menggapai kursi yang ia dudukki.
"ayo sebentar lagi kau masuk sekolah sayang" kudendong blue lalu kulangkahkan kakiku kedalam mobilku.
Ini semua hasil jeri payaku. Aku tak perna meminta pria yang membuatku seperti ini untuk membiayai hidupku dan blue aku lebih baik bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil tetes keringatku.
Kuparkirkan mobilku diparkiran sekolah blue.
Kubukakan pintu mobil untuk putriku.
Kuantar ia sampai kedepan kelasnya.
"belajar yang baik. Jangan nakal yah sayang"
"baik mom"
kukecup puncak kepalanya dan membiarkan masuk.
Kulangkahkan kakiku kembali kedalam mobil.
Tapi kembali terdengar bisikan-bisikan yang selalu diucapkan orang-orang tentangku.
Tapi aku tak perna menghiraukan, aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu yang selalu tertiup.
Kututup mobilku lalu kembali menjalankanya,
apa ini bals dari dosaku karna melakukan hal yang sepatutnya dilakukan.
Kalau aku mau aku bisa mencarikan seorang ayah untuk blue tapi aku tak ingin kembali merasakan sakitnya karna ulah pria.
Kubiarkan hatiku tertutupdan membeku,
tak kubiarkan seseorang membuka dan memasuki hatiku.
Sekarang yang menjadi prioritasku adalah kebahagian malaikat kecilku,
ia segalanya untukku.
Dia semangat hidupku dan aku tak bisa sekuat ini tanpanya, ia membariku kekuatan saat aku hampir terpuruk dalam jurang yang sangat dalam.
Kutaruh tasku dimeja kerja,
lalu kubuka setiap lembaran proposal yang ada dihadapanku.
Tok.tok.tok
"silahkan masuk"
"maaf bu, orang yang saya maksud sudah datang"
"oh, suru dia masuk"
tak lama seorang pria datang
"baiklah, silahkan duduk. Apa anda yakin ingin bekerja disini"
"ia bu"
"maaf kau tak usah memanggulku bu.
Pangil saja williana"
"baik bu, maaf maksudku williana."
"baiklah kau sekarang bisa bekerja"
pria itu menlangkahkan kakinya keluar dari ruangan bosnya.
"kenapa dengan hatiku apa kau jatuh cinta padanya, tapi kenapa bisa secepat ini.kenapa aku bisa melihat kesedihan dikedua bola matanya.
Tapi kenapa aku tak bisa mengetahui apa yang membuatnya seperti ini.
Kurasakan setiap getaran dalam hatiku"
pria itu membenarkan meja yang akan menjadi meja kerjanya.
Pria ini terus memikirkan apa yang membuat williana mempunya pandangan mata yang sangat menyedihkan.
Padahal ia mempunya segalanya ia bahkan memiliki seorang putri.
Dalam hati pria ini ia bertekat untuk merubah pandangan mata williana yang menyedihkan kembali bersinar dan memmancarkan kebahagian dari detiap sorot matanya.
Attente (part 2)
Setiap melihat kedalam bola matnya sangat terlihat kesedihan itu sangat menyakitkan hati .
Apa yang membuatnya bisa menjadi seorang wanita yang sangat dingin, dan yang membuatku heran dia tak mengenaliku lagi.
Apa dia sudah melupakan masa lalunya.
Dan aku dengar dari karyawan-karyawan yang lain ia mempunyai anak diluar perkawina.
Apa dia mencoba menutup hatinya karna sakit yang ia rasa, tapi sakit apa itu, sesakit itukah yang ia rasakan sampai mengubahnya menjadi seseorang yang sangat dingin dan seperti tak punya hati dengan orang lain.
Tapi pagi tadi aku melihat williana yang dulu saat ia tersenyum bersama putri kecilnya,
anak itu sangat mirip dengan williana.
Semenjak pagi tadi aku merasa perasaan yang dulu kukubur kembali tumbuh dan bersemi.
Apa aku masih sangat, mencintainya bahkan aku ingin mengembalikanya menjadi williana yang kukenal walaupun itu akan melalui jalan yang begitu terjal dan sulit.
Kulihat malaikat kecil williana berjalan kearahku, ia tersenyum bahkan senyumnya sangat mirip.
"hy aku boleh memengilmu uncle?"
kusejajarkan tubuhku dengan putri kecil williana
"boleh sayang, siapa namamu gadis cantik?"
"pelkenalkan namaku blue. Nama ini mom yang membelikanya, momku cantikan uncle?"
"ia dia sangat cantik, tapi kau lebih cantik sayang. Sebagai hadia perkenalan uncle punya hadia untukmu"
kuberika blue boneka kelinci padanya.
Boneka ini pemberian williana sebelum ia pergi dan tak perna kembali.
"maksih uncle, blue keluangan mom dulu yah. Dah"
putri kecil willian menjauh dan hilang dibalik pintu ruangan ibunya.
Kudengan decitan pintu yang dibuka oleh blue
"hy mom, aku dapat hadia dali uncle"
"blue mom kan sudah bilang sayang kau tak boleh mengganggu uncle-uncle dan aunty kalau mereka sedang kerja"
blue duduk disofa dekat pintu.
"blue tak mengganggu, blue hanya ingin belkenalan dengan uncle itu. Lihat blue dapat hadia dari uncle itu" ucap blue dan memperihatkan boneka kelinci yang sangat lucu.
Kelinci itu berwarna putih.
Rasanya aku perna melihat boneka kelinci itu tapi dimana.
Ataukah aku perna melihat ditoko.
Hem mungkin saja.
"baiklah anak mom mau makan apa" kudekati blue yang sedang sibuk dengan boneka barunya.
Memeng karyawan disini sangat baik dengan blue.
Aku tak peduli mereka hanya mencari kelakuan baik atau tidak.
Yang jelas aku bahagia mereka bisa seperti itu, aku merasa disini blue dapat diterima dengan baik tidak seperti diluaran sana yang memandang blue dengan sebelah mata meraka.
"mom uncle itu yang membelikan blue boneka"
bukanya dia pegawai baru, mungkin aku harus berterima kasih padanya karna bisa membuat blue senang.
"maaf apa kami bisa duduk disini" sapaku padanya. Ia berdiri
"silahkan, silahkan "
dia menarik kusri untukku dan blue
"hy uncle kita beltemu lagi"
"hy juga sayang, hy kau suka boneka yang uncle berikan yah"
"ia" kulihat pria ini sangat akrab dengan blue,
padahal blue bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain selain aku dan dia tak perna berani menerima pemberian orang tanpa seizinku, tapi kenapa dia bisa sedekat dengan pria ini.
"maaf nama anda siapa ?" tanyaku pada pria ini
"oh iya maaf, saya belum memperkenalkan namaku.
Perkenalkan namaku justin drew bieber tapi karyawan yang lain biasa menmangilku justin"
"oh baiklah salam kenal justin."
justin memperhatikan setiap lekuk wajah williana ia semakin yakin willi yang dulu ia kenal sudah melupakanya.
Bahkan ia tak bisa mengenali justin setelah ia menyebutkan namanya.
Setelah makan siang williana pulung karna blue tertidur dan itu sedikit membuatnya mengawatirkan kalau blue harus tidur tertelungkup disofa
ia menaruh tubuh mungil putrinya ditempat tidur.
Lalu mengecup puncak kepala anaknya dan melepas boneka yang sedari tadi digenggam oleh putrinya.
Saat williana akan menaruh boneka itu,
ia semakin yakin perna melihat boneka ini tapi buka dietalase toko,
"boneka ini kenap begitu membuatku penasaran" williana menaruh boneka itu dan menutup pintu kamar putrinya.
Ia kedapur untuk membuat makan malam.
Karna ia tahu blue pasti lapar saat bangun.
Williana berkutat dengan berbagai bumbu yang akan ia masak.
Malam ini williana ingin membuat steak sous kentang keju.
Blue sangat suka steak itu.
30 menit kemudia masakn yang dibuat williana sudah masak dan ia juga sudah menata meja makan agar menarik dan membuat blue makan dengan lahap.
Williana melangkahkan kakinya kekamar.
Ia melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi, dia ingin menyegarkan badanya yang lelah seharian kerja dan pulang masih harus menguru urusan rumah tangga,
tapi williana menyukai hal itu ia sama sekali tak perna mengeluh akan keadaan hidupnya.
Sedangkan seorang pria masih betah berdiri didepan rumah williana.
Ia dapat melihat williana memasak didaparnya.
Ia masih tak bisa menyerna dengan baik-baik apa yang sudah ia dengar dari teman sekantornya.
Ia merasa hal inilah yang membuat williana berubah dan menjadi wanita yang dingin .
Apa yang membuatnya bisa menjadi seorang wanita yang sangat dingin, dan yang membuatku heran dia tak mengenaliku lagi.
Apa dia sudah melupakan masa lalunya.
Dan aku dengar dari karyawan-karyawan yang lain ia mempunyai anak diluar perkawina.
Apa dia mencoba menutup hatinya karna sakit yang ia rasa, tapi sakit apa itu, sesakit itukah yang ia rasakan sampai mengubahnya menjadi seseorang yang sangat dingin dan seperti tak punya hati dengan orang lain.
Tapi pagi tadi aku melihat williana yang dulu saat ia tersenyum bersama putri kecilnya,
anak itu sangat mirip dengan williana.
Semenjak pagi tadi aku merasa perasaan yang dulu kukubur kembali tumbuh dan bersemi.
Apa aku masih sangat, mencintainya bahkan aku ingin mengembalikanya menjadi williana yang kukenal walaupun itu akan melalui jalan yang begitu terjal dan sulit.
Kulihat malaikat kecil williana berjalan kearahku, ia tersenyum bahkan senyumnya sangat mirip.
"hy aku boleh memengilmu uncle?"
kusejajarkan tubuhku dengan putri kecil williana
"boleh sayang, siapa namamu gadis cantik?"
"pelkenalkan namaku blue. Nama ini mom yang membelikanya, momku cantikan uncle?"
"ia dia sangat cantik, tapi kau lebih cantik sayang. Sebagai hadia perkenalan uncle punya hadia untukmu"
kuberika blue boneka kelinci padanya.
Boneka ini pemberian williana sebelum ia pergi dan tak perna kembali.
"maksih uncle, blue keluangan mom dulu yah. Dah"
putri kecil willian menjauh dan hilang dibalik pintu ruangan ibunya.
Kudengan decitan pintu yang dibuka oleh blue
"hy mom, aku dapat hadia dali uncle"
"blue mom kan sudah bilang sayang kau tak boleh mengganggu uncle-uncle dan aunty kalau mereka sedang kerja"
blue duduk disofa dekat pintu.
"blue tak mengganggu, blue hanya ingin belkenalan dengan uncle itu. Lihat blue dapat hadia dari uncle itu" ucap blue dan memperihatkan boneka kelinci yang sangat lucu.
Kelinci itu berwarna putih.
Rasanya aku perna melihat boneka kelinci itu tapi dimana.
Ataukah aku perna melihat ditoko.
Hem mungkin saja.
"baiklah anak mom mau makan apa" kudekati blue yang sedang sibuk dengan boneka barunya.
Memeng karyawan disini sangat baik dengan blue.
Aku tak peduli mereka hanya mencari kelakuan baik atau tidak.
Yang jelas aku bahagia mereka bisa seperti itu, aku merasa disini blue dapat diterima dengan baik tidak seperti diluaran sana yang memandang blue dengan sebelah mata meraka.
"mom uncle itu yang membelikan blue boneka"
bukanya dia pegawai baru, mungkin aku harus berterima kasih padanya karna bisa membuat blue senang.
"maaf apa kami bisa duduk disini" sapaku padanya. Ia berdiri
"silahkan, silahkan "
dia menarik kusri untukku dan blue
"hy uncle kita beltemu lagi"
"hy juga sayang, hy kau suka boneka yang uncle berikan yah"
"ia" kulihat pria ini sangat akrab dengan blue,
padahal blue bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain selain aku dan dia tak perna berani menerima pemberian orang tanpa seizinku, tapi kenapa dia bisa sedekat dengan pria ini.
"maaf nama anda siapa ?" tanyaku pada pria ini
"oh iya maaf, saya belum memperkenalkan namaku.
Perkenalkan namaku justin drew bieber tapi karyawan yang lain biasa menmangilku justin"
"oh baiklah salam kenal justin."
justin memperhatikan setiap lekuk wajah williana ia semakin yakin willi yang dulu ia kenal sudah melupakanya.
Bahkan ia tak bisa mengenali justin setelah ia menyebutkan namanya.
Setelah makan siang williana pulung karna blue tertidur dan itu sedikit membuatnya mengawatirkan kalau blue harus tidur tertelungkup disofa
ia menaruh tubuh mungil putrinya ditempat tidur.
Lalu mengecup puncak kepala anaknya dan melepas boneka yang sedari tadi digenggam oleh putrinya.
Saat williana akan menaruh boneka itu,
ia semakin yakin perna melihat boneka ini tapi buka dietalase toko,
"boneka ini kenap begitu membuatku penasaran" williana menaruh boneka itu dan menutup pintu kamar putrinya.
Ia kedapur untuk membuat makan malam.
Karna ia tahu blue pasti lapar saat bangun.
Williana berkutat dengan berbagai bumbu yang akan ia masak.
Malam ini williana ingin membuat steak sous kentang keju.
Blue sangat suka steak itu.
30 menit kemudia masakn yang dibuat williana sudah masak dan ia juga sudah menata meja makan agar menarik dan membuat blue makan dengan lahap.
Williana melangkahkan kakinya kekamar.
Ia melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi, dia ingin menyegarkan badanya yang lelah seharian kerja dan pulang masih harus menguru urusan rumah tangga,
tapi williana menyukai hal itu ia sama sekali tak perna mengeluh akan keadaan hidupnya.
Sedangkan seorang pria masih betah berdiri didepan rumah williana.
Ia dapat melihat williana memasak didaparnya.
Ia masih tak bisa menyerna dengan baik-baik apa yang sudah ia dengar dari teman sekantornya.
Ia merasa hal inilah yang membuat williana berubah dan menjadi wanita yang dingin .
Attente (part 3)
Sebuah
kata mempunya arti, sebuah kisah memiliki makna dan ketika seseorang
merasakan kebahagian pasti natinya akan merasakan sakit.
Kulihat setiap bintang yang menyinari bumi dan bertabur dengan indah dihamparan langit yang maha luas.
Tuhan begitu maha kuasa ia mampu mengebuh apa yang ia inginkan, ia bisa melakukandi luar nalar manusia.
Kenapa..kenapa..kenapa ia bisa menderita seperti itu, dulu ia gadis yang sangat periang lalu mempunya hati yang begitu hangat dan mempunyai pandangan mata yang menyejukan hati setiap orang yang memandang dalam bola matanya,
kututup mataku membiarkan semua spekulasi-spekulasi yang berputar didalam kepalku.
Mungkin dengan tidur aku bisa membuang sedikit beban yang menyelimuti hatiku.
Ditempat lain seorang wanita terbangun dari tidurnya,
mimpi itu kembali muncul.
Mimpi itu seakan membuatnya kembali mengingat hal terburuk dalam dirinya, apakah ia akan terus diselimuti mimpi-mimpi buruk itu.
Wanita ini(williana) melangkahkan kakinya kedalam kamar anaknya, ia ingin memastikan anaknya baik-baik saja.
Ia mengecup puncak kepala anaknya.
Bahkan ia memeluk tubuh mungil anaknya, ia membiarkan hatinya tenang dalam pelukan anaknya.
Bahkan ia tertidur didalam
pelukan hangat anaknya.
......
Kicauan burung membangunkan gadis kecil yang terlelap dalam dekapan hangat ibunya
ia sedikit merenggangkan badanya lalu mengecup puncak kepala ibunya,
hal itu membuat ibunya sedikit merenggangkan badannya.
"pagi mom, kenapa mom bisa tidur disini?"
"hem mom hanya ingin tidur denganmu saja, kenapa apa ada yang salah putri cantik mom"
"tidak hanya saja kan mom tak biasa seperti ini"
kukecup kedua pipi blue "ayo sekarang mandi, cepat.cepat.cepat sana"
blue melangkahkan kaki mungilnya kedalam kamar mandi,
kulihat badan blue menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Kukuncir asal rambutku lalu membereskan tempat tidur blue dan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan blue,
kembali kuperiksa tas blue.
Aku tak ingin ia melupakan buku-buku pelajaranya.
Setelah selesai aku keluar tapi sebelum aku benar-benar pergi "sayang mom tunggu dibawah, jangan lupa kau harus menyikat gigimu"
"baik mom"
kututup pintu kamar blue lalu melangkahkan kakiku .
Kubuka lemari es.
Aku harus buat apa, aku bingung.
Hem lebih baik roti isi selai saja itu lebih peraktis.
30 menit kemudian aku sudah siap hari ini hanya ada rapat pembahasan proposal, dan selebihnya aku bisa lebih santai.
Kulihat blue sudah rapi ia terlihat sangat cantik,
kalian tahu walaupun umurnya baru 5 tahun lebih tapi ia sudah bisa mengurus dirinya sendiri.
Mungkin ia tak ingin menyusahkanku yang mempunyai dua peran sekaligus,
kadang aku berperan sebagai ayah yang melindunginya dan kadang aku menjadi seorang ibu yang memberikanya kasih sayang yang sangat melimpah untuknya.
"hy peri cantik mom, sekarang kita makan atau langsung kesekolah"
"hem lebih baik kita langsung belangkat mom dan aku ingin roti buatan mom jadi bekalku.
Aku tak suka makanan dikanti sekolah, lasanya sangat menjijikan mom"
ucap blue tanpa henti aku hanya tersenyum melihat tingkah malaikat kecilku.
"mom. Mom mendegalku atau tidak"
"mom dengar sayang, kau ini lebih cerewet dari mom" kucubit kedua pipinya, kalian tahu blue tak suka diperlakukan seperti ini karan ia menganggap bahwa pipinya bertambah tembeb karna aku selalu menyubutnya.
Kubukakan pintu mobil untuk blue
"makasih mom"
"sama-sama sayang"
setelah mengantar blue kembali kujalankan mobilku kekantor,
aku tak perlu membahas apa yang terjadi disekolah blue karna kalian pasti sudah tahu dan juga aku tak ingin membahasnya itu membuat kepalaku pusing.
Kubuka pintu rapat.
Kemana mereka kan sudah kubilang rapat diadakan jam 08: 3m tepat dan lihat hanya karyawan baru itu yang ada.
Kutaruh proposal-proposal yang sedari kupengang
"mana rekan-rekan mu?"
"hem aku tak tahu, aku sudah menelpon mereka tap tak ada yang menjawab."
"baiklah kau sampaikan pada meraka rapat ditunda sampai minggu depan."
kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan rapat
sedangkan didalam ruangan williana para karyawan mereka menyiapakan kejutan untuknya.
Ia sendiri tak lagi mengingat bahwa hari ini ulang tahunya.
Saat williana membuka pintu ia sempat terkejut.
"selamat ulang tahu bu. Semoga semua yang anda inginkan terkabul" sebuah kue dengan lilin berbentuk angkah yang menunjukan umur williana.
Sekarang umurnya tak muda lagi,
22 umur yang sangat muda untuk menjadi seorang single mom dan seorang pebisnis yang sukse dikota metropolita.
Ia meniup lilin itu
"astaga aku saja melupa bahwa hari ini ulang tahunku.
Tapi kalian mengingatnya terima kasih atas perhatian kalian. Hari ini kita libur dan aku akan meneraktir kalian.
Kalian mau dimana?"
semua karyawan menatap justin
"kenapa kalian menatap justin"
"ini ide justin will, dan yang tepat untuk menentukan tempatnya sebaikya dia"
" hem bagaiman klu kita makan dicafe limion disa makananya eneka-enak" itu adalah cafe yang biasa justin datangin dan williana.
Kulihat setiap bintang yang menyinari bumi dan bertabur dengan indah dihamparan langit yang maha luas.
Tuhan begitu maha kuasa ia mampu mengebuh apa yang ia inginkan, ia bisa melakukandi luar nalar manusia.
Kenapa..kenapa..kenapa ia bisa menderita seperti itu, dulu ia gadis yang sangat periang lalu mempunya hati yang begitu hangat dan mempunyai pandangan mata yang menyejukan hati setiap orang yang memandang dalam bola matanya,
kututup mataku membiarkan semua spekulasi-spekulasi yang berputar didalam kepalku.
Mungkin dengan tidur aku bisa membuang sedikit beban yang menyelimuti hatiku.
Ditempat lain seorang wanita terbangun dari tidurnya,
mimpi itu kembali muncul.
Mimpi itu seakan membuatnya kembali mengingat hal terburuk dalam dirinya, apakah ia akan terus diselimuti mimpi-mimpi buruk itu.
Wanita ini(williana) melangkahkan kakinya kedalam kamar anaknya, ia ingin memastikan anaknya baik-baik saja.
Ia mengecup puncak kepala anaknya.
Bahkan ia memeluk tubuh mungil anaknya, ia membiarkan hatinya tenang dalam pelukan anaknya.
Bahkan ia tertidur didalam
pelukan hangat anaknya.
......
Kicauan burung membangunkan gadis kecil yang terlelap dalam dekapan hangat ibunya
ia sedikit merenggangkan badanya lalu mengecup puncak kepala ibunya,
hal itu membuat ibunya sedikit merenggangkan badannya.
"pagi mom, kenapa mom bisa tidur disini?"
"hem mom hanya ingin tidur denganmu saja, kenapa apa ada yang salah putri cantik mom"
"tidak hanya saja kan mom tak biasa seperti ini"
kukecup kedua pipi blue "ayo sekarang mandi, cepat.cepat.cepat sana"
blue melangkahkan kaki mungilnya kedalam kamar mandi,
kulihat badan blue menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Kukuncir asal rambutku lalu membereskan tempat tidur blue dan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan blue,
kembali kuperiksa tas blue.
Aku tak ingin ia melupakan buku-buku pelajaranya.
Setelah selesai aku keluar tapi sebelum aku benar-benar pergi "sayang mom tunggu dibawah, jangan lupa kau harus menyikat gigimu"
"baik mom"
kututup pintu kamar blue lalu melangkahkan kakiku .
Kubuka lemari es.
Aku harus buat apa, aku bingung.
Hem lebih baik roti isi selai saja itu lebih peraktis.
30 menit kemudian aku sudah siap hari ini hanya ada rapat pembahasan proposal, dan selebihnya aku bisa lebih santai.
Kulihat blue sudah rapi ia terlihat sangat cantik,
kalian tahu walaupun umurnya baru 5 tahun lebih tapi ia sudah bisa mengurus dirinya sendiri.
Mungkin ia tak ingin menyusahkanku yang mempunyai dua peran sekaligus,
kadang aku berperan sebagai ayah yang melindunginya dan kadang aku menjadi seorang ibu yang memberikanya kasih sayang yang sangat melimpah untuknya.
"hy peri cantik mom, sekarang kita makan atau langsung kesekolah"
"hem lebih baik kita langsung belangkat mom dan aku ingin roti buatan mom jadi bekalku.
Aku tak suka makanan dikanti sekolah, lasanya sangat menjijikan mom"
ucap blue tanpa henti aku hanya tersenyum melihat tingkah malaikat kecilku.
"mom. Mom mendegalku atau tidak"
"mom dengar sayang, kau ini lebih cerewet dari mom" kucubit kedua pipinya, kalian tahu blue tak suka diperlakukan seperti ini karan ia menganggap bahwa pipinya bertambah tembeb karna aku selalu menyubutnya.
Kubukakan pintu mobil untuk blue
"makasih mom"
"sama-sama sayang"
setelah mengantar blue kembali kujalankan mobilku kekantor,
aku tak perlu membahas apa yang terjadi disekolah blue karna kalian pasti sudah tahu dan juga aku tak ingin membahasnya itu membuat kepalaku pusing.
Kubuka pintu rapat.
Kemana mereka kan sudah kubilang rapat diadakan jam 08: 3m tepat dan lihat hanya karyawan baru itu yang ada.
Kutaruh proposal-proposal yang sedari kupengang
"mana rekan-rekan mu?"
"hem aku tak tahu, aku sudah menelpon mereka tap tak ada yang menjawab."
"baiklah kau sampaikan pada meraka rapat ditunda sampai minggu depan."
kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan rapat
sedangkan didalam ruangan williana para karyawan mereka menyiapakan kejutan untuknya.
Ia sendiri tak lagi mengingat bahwa hari ini ulang tahunya.
Saat williana membuka pintu ia sempat terkejut.
"selamat ulang tahu bu. Semoga semua yang anda inginkan terkabul" sebuah kue dengan lilin berbentuk angkah yang menunjukan umur williana.
Sekarang umurnya tak muda lagi,
22 umur yang sangat muda untuk menjadi seorang single mom dan seorang pebisnis yang sukse dikota metropolita.
Ia meniup lilin itu
"astaga aku saja melupa bahwa hari ini ulang tahunku.
Tapi kalian mengingatnya terima kasih atas perhatian kalian. Hari ini kita libur dan aku akan meneraktir kalian.
Kalian mau dimana?"
semua karyawan menatap justin
"kenapa kalian menatap justin"
"ini ide justin will, dan yang tepat untuk menentukan tempatnya sebaikya dia"
" hem bagaiman klu kita makan dicafe limion disa makananya eneka-enak" itu adalah cafe yang biasa justin datangin dan williana.
Attente (part 4)
Selama makan malam ini berlangsu blue trus bermain sama dengan justin, aku merasa justin begitu menyanyangi anakku.
Dan blue juga begitu bahagia saat bersama dengan justin,
kudekati blue yang sedang bermain dengan justin,
"hy sayang ayo kita pulang, besok kau akan pergi berwisatakan.?"
"tapi mom aku tak ingin pelgi, aku takut semua olang kembali menghinaku kalna tak menpunyai seolang ayah"
" ayolah sayang kan mom ada, kau tak butuh itu mom lebih baik dari seorang ayah" kutarik lembut tangan blue yang ada dipangkuan justin
"baiklah aku pulang duluanya,
blue harus istirahat"
"baiklah, semoga harimu menyenangkan blue" blue hanya tersenyum dan melambaikan tanganku.
Saat kubuka pintu mobilku seseorang menarik lenganku dengan lembut.
"ada apa?"
"tidak aku hanya ingin mengatakan,
aku bersediah menamanimu dan blue dalam wisatan kebun itu" aneh sekalai kenapa ia bisa selancang itu denganku, memang aku yang menyuruhnya untuk formal didepanku tapi tidak seperti ini juga.
"maaf bukanya aku menolah tapi kau harus ingat siapa aku dan siapa kau,
kita atasan dan karyawan"
"aku tahu itu ill tapi"
apa yang barusan diucapkan justin ill kenapa dia bisa tahu nama itu padahal hanya satu orang yang memanggilku dengan sebutan itu.
"apa yang barusan kau ucapakan?" justin terlihat kikuk
"apa yang kuucapkan"
"baiklah, lupakan saja. Teruskan apa yang ingin kau katakan"
"aku hanya ingin blue bisa bahagia, apa kau tak ingin melihat anakmu merasakan kasi sayang seorang ayah walaupun itu bukan ayah kandungnya.
Aku hanya ingin ia tahu bagaiman rasanya memiliki seorang ayah walaupun itu hanya sehari."
"bukan aku tak mau itu just, hanya saja aku tak ingin ia terlalu mengharapkan kasih sayang itu karna aku tak bisa memberikanya seorang ayah yang ia inginka"
justin menarik nafas dalam-dalam
"aku bisa will, aku menyanyagi putrimu. Aku juga bingung kenapa aku begitu menyanyagi putrimu tapi ini kenyataanya.
Kau jangan berfikir aku mau mengambil keutunggan dari hal ini"
williana manghembuskan nafas berat.
"kenapa, kenapa kau bisa mengucapkan hal itu. Apa kau bisa menyanyanginya dan menjaganya seperti seorang ayah "
"mungkin aku tak bisa berjanji apa-apa, tapi aku bisa membuktikanya padamu bahwa aku menyanyangi putri dengan tulus bukan karna hal yang lain"
"baiklah, aku akan melihat apa itu benar. Tapi ketika aku tahu kau mempunya maksud dan tujuan lain aku tak segan-segan menyingkirkan mu dari hidupku untuk selamanya"
"lakukansaja aku tak takut karna aku menyanyanginya dari dalam hatiku"
kubenarkan posisi cardiganku
"baiklah aku tunggu kau jan 5 pagi,karna besok kita berangkat jam 5 lewat 15"
"baiklah. Aku titip salam untuk blue"
"baiklah; sebaiknya kau pulang ini sudah malam dan kau butuh tenangah untuk besok."
justin melangkahkan kakinya kemotornya ia berlalu akupun kembali masuk kedalam mobil.
Kulihat blue sudah tidur mungkin ia lelah karna tak biasanya ia tak tidur sianga,
kupasangkan sabuk pengaman dibadanya.
Lalu menjalankan mobilku dengan kecepatan yang sedang.
Kugendong tubuh munggil blue dan menaruhnya dengan hati-hati dikasurnya,
kukecup kedua pipi tembeb blue
"semoga tidurmunyenyang sayang"
kututup pintu kamar blue,
semuanya masih berkutat dalam fikiranku.
Aku tak tahu apa yang membuat justin melakukan itu, apa tak tahu ia mempunyai maksud apa dari janjinya tadi padaku,
tapi yang jelas aku tak mempercayainya masih banyak hal yang terlintas dalam fikiranku tentangnya.
Tapi ada yang membuatku mencoba untuk menepis semua fikiran buruk terhadap justin.
Di tatapan matanya aku menemukan kesjukan yang sudah lama tak kulihat, setelah aku berpisah dengan teman masa kecilku.
Sebenarnya aku merindukanya tapi aku tak ingin bertemu denganya. aku tak ingin ia tahu bagaiman kondisi dan nasibku saat ini,
kubiarkan hembusan angin menerpa kulit wajahku dan badanku.
Kubiarkan fikiranku kembali kemasa yang lalau,
saat aku masih bersama bieber dibegitu membuatku nyaman didekatnya dan merasa sangat dihargai sebagai wanita.
Hy bieber apa kau baik-baik saja,
kau tahu hidupku tak seindah dulu lagi tapi kau tahu aku mempunyai seorang malaikat kecil yang membuatku bertahan dan kuat dalam badai ini.
Kuharap hidupmu tak seburuk hidupku.
Kupejamkan mataku dan membiarkan butiran air membasahi pipiku.
Sebenarnya ada kemiripan antar justin dan bieber.
Tatapan matanya itu sangat menyejukanku seperti saat bieber menatapku.
Dan ada hal yang membuatku kembali berfikir justin adalah bieber.
Ia memanggilku ill itu adalah panggilan sayang dari bieber.
Tapi apa itu mungkin, fikiran itu kembali kubuang karna aku tahu itu tak mungkin,
bieber bukan pria seperti justin yang ikut campur dalam urusan orang lain.
Kututup jendela kamarku.
Lalu membaringkan badanku dan membiarkaanku melayang kealam mimpi yang sangat indah.
Aku mohon malam ini jangan buat aku memimpikah hal itu.
Williana sudah memasuki alam mimpinya.
Sedangkan justin masih betah memandanhgi indahnya lagit yang bertaburan bintang.
Dan blue juga begitu bahagia saat bersama dengan justin,
kudekati blue yang sedang bermain dengan justin,
"hy sayang ayo kita pulang, besok kau akan pergi berwisatakan.?"
"tapi mom aku tak ingin pelgi, aku takut semua olang kembali menghinaku kalna tak menpunyai seolang ayah"
" ayolah sayang kan mom ada, kau tak butuh itu mom lebih baik dari seorang ayah" kutarik lembut tangan blue yang ada dipangkuan justin
"baiklah aku pulang duluanya,
blue harus istirahat"
"baiklah, semoga harimu menyenangkan blue" blue hanya tersenyum dan melambaikan tanganku.
Saat kubuka pintu mobilku seseorang menarik lenganku dengan lembut.
"ada apa?"
"tidak aku hanya ingin mengatakan,
aku bersediah menamanimu dan blue dalam wisatan kebun itu" aneh sekalai kenapa ia bisa selancang itu denganku, memang aku yang menyuruhnya untuk formal didepanku tapi tidak seperti ini juga.
"maaf bukanya aku menolah tapi kau harus ingat siapa aku dan siapa kau,
kita atasan dan karyawan"
"aku tahu itu ill tapi"
apa yang barusan diucapkan justin ill kenapa dia bisa tahu nama itu padahal hanya satu orang yang memanggilku dengan sebutan itu.
"apa yang barusan kau ucapakan?" justin terlihat kikuk
"apa yang kuucapkan"
"baiklah, lupakan saja. Teruskan apa yang ingin kau katakan"
"aku hanya ingin blue bisa bahagia, apa kau tak ingin melihat anakmu merasakan kasi sayang seorang ayah walaupun itu bukan ayah kandungnya.
Aku hanya ingin ia tahu bagaiman rasanya memiliki seorang ayah walaupun itu hanya sehari."
"bukan aku tak mau itu just, hanya saja aku tak ingin ia terlalu mengharapkan kasih sayang itu karna aku tak bisa memberikanya seorang ayah yang ia inginka"
justin menarik nafas dalam-dalam
"aku bisa will, aku menyanyagi putrimu. Aku juga bingung kenapa aku begitu menyanyagi putrimu tapi ini kenyataanya.
Kau jangan berfikir aku mau mengambil keutunggan dari hal ini"
williana manghembuskan nafas berat.
"kenapa, kenapa kau bisa mengucapkan hal itu. Apa kau bisa menyanyanginya dan menjaganya seperti seorang ayah "
"mungkin aku tak bisa berjanji apa-apa, tapi aku bisa membuktikanya padamu bahwa aku menyanyangi putri dengan tulus bukan karna hal yang lain"
"baiklah, aku akan melihat apa itu benar. Tapi ketika aku tahu kau mempunya maksud dan tujuan lain aku tak segan-segan menyingkirkan mu dari hidupku untuk selamanya"
"lakukansaja aku tak takut karna aku menyanyanginya dari dalam hatiku"
kubenarkan posisi cardiganku
"baiklah aku tunggu kau jan 5 pagi,karna besok kita berangkat jam 5 lewat 15"
"baiklah. Aku titip salam untuk blue"
"baiklah; sebaiknya kau pulang ini sudah malam dan kau butuh tenangah untuk besok."
justin melangkahkan kakinya kemotornya ia berlalu akupun kembali masuk kedalam mobil.
Kulihat blue sudah tidur mungkin ia lelah karna tak biasanya ia tak tidur sianga,
kupasangkan sabuk pengaman dibadanya.
Lalu menjalankan mobilku dengan kecepatan yang sedang.
Kugendong tubuh munggil blue dan menaruhnya dengan hati-hati dikasurnya,
kukecup kedua pipi tembeb blue
"semoga tidurmunyenyang sayang"
kututup pintu kamar blue,
semuanya masih berkutat dalam fikiranku.
Aku tak tahu apa yang membuat justin melakukan itu, apa tak tahu ia mempunyai maksud apa dari janjinya tadi padaku,
tapi yang jelas aku tak mempercayainya masih banyak hal yang terlintas dalam fikiranku tentangnya.
Tapi ada yang membuatku mencoba untuk menepis semua fikiran buruk terhadap justin.
Di tatapan matanya aku menemukan kesjukan yang sudah lama tak kulihat, setelah aku berpisah dengan teman masa kecilku.
Sebenarnya aku merindukanya tapi aku tak ingin bertemu denganya. aku tak ingin ia tahu bagaiman kondisi dan nasibku saat ini,
kubiarkan hembusan angin menerpa kulit wajahku dan badanku.
Kubiarkan fikiranku kembali kemasa yang lalau,
saat aku masih bersama bieber dibegitu membuatku nyaman didekatnya dan merasa sangat dihargai sebagai wanita.
Hy bieber apa kau baik-baik saja,
kau tahu hidupku tak seindah dulu lagi tapi kau tahu aku mempunyai seorang malaikat kecil yang membuatku bertahan dan kuat dalam badai ini.
Kuharap hidupmu tak seburuk hidupku.
Kupejamkan mataku dan membiarkan butiran air membasahi pipiku.
Sebenarnya ada kemiripan antar justin dan bieber.
Tatapan matanya itu sangat menyejukanku seperti saat bieber menatapku.
Dan ada hal yang membuatku kembali berfikir justin adalah bieber.
Ia memanggilku ill itu adalah panggilan sayang dari bieber.
Tapi apa itu mungkin, fikiran itu kembali kubuang karna aku tahu itu tak mungkin,
bieber bukan pria seperti justin yang ikut campur dalam urusan orang lain.
Kututup jendela kamarku.
Lalu membaringkan badanku dan membiarkaanku melayang kealam mimpi yang sangat indah.
Aku mohon malam ini jangan buat aku memimpikah hal itu.
Williana sudah memasuki alam mimpinya.
Sedangkan justin masih betah memandanhgi indahnya lagit yang bertaburan bintang.
Attente (part 5)
Dunia begitu indah kala bunga-bunga berbekaran dan dunia seakan menangis saat hujan turun dan membasahi bumi ini.
Kurasa ill dalam keadaan terpuruk dan membutuhkan seseorang untuk mengangkatnya dari jurang keterpurukanya itu.
Aku tahu ia wanita yang kuat, buktinya ia bisa menjalankan hidupnya sesempurna itu. Ia menjadi seorang ibu yang baik dan pebisnis yang handal diusisnya yang terbillang sangat muda
tapi ia tak bisa menutupi kesedihanya dariku, semuanya tergambar jelas dikesua bola matanya.
Mungkin ia sangat pintar menutupinya dari orang lain tapi tidak denganku, aku mengenalnya sejak dulu ia memang bukan pembohong yang panadai saat didepanku.
Dan hal itu yang saat ini ia lakukan.
Kurapikan pakaian yang kupakai, sekarang aku harus kerumah ill untuk pergi bersamanya,
kan kubuat kau ingat siapa aku ill.
Aku sudah mencarimu dari dulu sampai sekarang,
dan kali ini aku menemukanmu,
tak kubiarkan kau pergi tanpa tahu siapa aku dan bagaimana isi hatiku padamu.
Terlalu sakit memendam cintai ini,
melihatmu terluka dan melalui hal yang begitu berat tanpa ada yang menopanggmu membuatku merasa aku adalah pria yang bodo tak bisa menahanmu saat dia mengucapkan akan pergi.
Aku kira ia hanya mempermainkanku. Tapi ternyata ia benar-benar pergi dan tak perna menenggok kebelakang untuk melihatku.
Kujalankan mobilku dengan kecepatan renda.
Kuparkirkan mobilku dihalaman rumah ill.
Kulihat blue sudah rapi ia terlihat sangat cantik dengan pakaian itu.
Saat aku keluar dari mobil senyum mereka dikedua sudut bibir putri kecil ill,
ia sangat mirip dengan ill saat dulu,
pancaran matanya membawa kesejukan dan senyumnya mampu menenangkan hati siapapun yang melihatnya.
Kulangkahkan kakiku mendekat kearah blue "hy putri cantik, kenapa kau berdiri disini sendiri mana mommu?"
"mom menyiapakan bekal untuk kita uncle."
"baiklah uncle lihat kau lebih cantik dari mommu" aku berbisik ditelinga blue karna ill sudah keluar
"hayo kalian membicarakan apa?"
"rahasia, mom mau tahu saja"
"baiklah putri kecil mom sekarang sudah dewasa rupanya." kugenggam tangan mungil putriku
"kita naik mobilku atau mobilmu wil?"
"mobilmu saja, ini bisa kau tarus dibagasi atau manapun" kusodorkan kotak makanan pada justin.
Dengan segerah ia berjalan kemobilnya dan menaruh kotak makanan itu dibagasinya.
"ayo sayang kita akan bersenag-senang hari ini. Apa kau siap?"
"siap mom."
aku sangat berterima kasih pada tuhan ia memang adil,
andaikan tuhan tak memberiku blue mungkin aku sudah jatuh kedasr jurang yang sangat jauh.
Kusandarkan kepala blue didadaku,
mungkin karna ia terlalu pagi bangun blue tertidur.
Justin memandangi blue,
"apa ia selalu seperti itu saat diatas mobil,?"
"tidak juga, mungkin blue hanya ngantuk karna bangun terlalu pagi."
"oh sebaiknya kau taruh dia dibelakang, itu lebih baik untuknya.
Karna tidur dalam posisi itu tidak baik untuk pertumbuhan putrimu"
"dari mana kau tahu hal itu?"
"hem internet, kemarin saat aku melihatblue didalam mobilmu,
aku mencari diinternet apa posisisnya sudah aman atau tidak"
"baiklah, tolong pinggirkan mobilmu aku ingin memindahkan blue" justin segara menpikan mobilnya.
Aku turun dan menaroh blue dibelakang.
Aku menaruh kepala bllue dipangkuanku.
"aku disini saja, aku tak mau ia terbentur"
"baiklah, sekarang aku boleh menjalankan mobilnya?"
"silahkan"
30 menit kemudian kami sampai disekolah blue.
Disini sudah banyak anak-anak seumuran blue dan orang tua mereka.
Blue sudah bangun saat kami akan sampai digerbang sekolahnya.
Kugendong blue dan membiarkannya merasakan bagaimana nyamanya digendong oleh seorang ayah.
Walaupun aku tahu aku buka ayahnya tapi aku menyenyanginya,
aku tak habis fikir kenapa pria itu bisa meninggalkan ill dalam keadaan seperti ini.
"blue apa mereka teman-temanmu?" aku menunjuk anak-anak yang sedang berbaris.
"ia meleka teman kelasku, tapi melaka bukan temanku"
"maksudmu sayang!"
"maksudku, meleka tak mau berteman denganku."
astaga kenapa mereka mengucilkan blue. Apa karna mereka mengetahui blue tak punya seorang ayah seperti mereka.
"tenanglah mereka itu hanya tak mengenalmu sayang"
"kuhalap juga begitu uncle"
seorang wanita mendekat kearah kami.
"hy nyonya will, apa dia suami anda" ill terlihat sangat bingung
"ia saya suaminya dan ayah dari blue.apa anda punya masalah nyonya"
kukedipkan seblah mataku saat ill terus memandangiku, tapi ia masih terkejut dengan ucapanku yang spontan ini.
"tidak aku hanya heran nyonya will tak perna membawa pria kesini dan kabar yang beredar dia seorang ibu tunggal tanpa suami"
"baiklah kuharap itu hanya berita burung karna buktinya aku suami williana dan ayah dari blue.
Dengan ini kuharap kalian tak lagi bergosip dibelakang tentang will dan blue putriku. Kurasa itu sangat jelas nyonya." aku menarik tangan will dan manjauh dari wanita tadi.
"hy kau ini apa-apa kenapa kau bisa selanancang itu!"
"aku hanya ingin mereka tak membicarakanmu dan blu lagi"
"tapi buka begitu just kau.."
Kurasa ill dalam keadaan terpuruk dan membutuhkan seseorang untuk mengangkatnya dari jurang keterpurukanya itu.
Aku tahu ia wanita yang kuat, buktinya ia bisa menjalankan hidupnya sesempurna itu. Ia menjadi seorang ibu yang baik dan pebisnis yang handal diusisnya yang terbillang sangat muda
tapi ia tak bisa menutupi kesedihanya dariku, semuanya tergambar jelas dikesua bola matanya.
Mungkin ia sangat pintar menutupinya dari orang lain tapi tidak denganku, aku mengenalnya sejak dulu ia memang bukan pembohong yang panadai saat didepanku.
Dan hal itu yang saat ini ia lakukan.
Kurapikan pakaian yang kupakai, sekarang aku harus kerumah ill untuk pergi bersamanya,
kan kubuat kau ingat siapa aku ill.
Aku sudah mencarimu dari dulu sampai sekarang,
dan kali ini aku menemukanmu,
tak kubiarkan kau pergi tanpa tahu siapa aku dan bagaimana isi hatiku padamu.
Terlalu sakit memendam cintai ini,
melihatmu terluka dan melalui hal yang begitu berat tanpa ada yang menopanggmu membuatku merasa aku adalah pria yang bodo tak bisa menahanmu saat dia mengucapkan akan pergi.
Aku kira ia hanya mempermainkanku. Tapi ternyata ia benar-benar pergi dan tak perna menenggok kebelakang untuk melihatku.
Kujalankan mobilku dengan kecepatan renda.
Kuparkirkan mobilku dihalaman rumah ill.
Kulihat blue sudah rapi ia terlihat sangat cantik dengan pakaian itu.
Saat aku keluar dari mobil senyum mereka dikedua sudut bibir putri kecil ill,
ia sangat mirip dengan ill saat dulu,
pancaran matanya membawa kesejukan dan senyumnya mampu menenangkan hati siapapun yang melihatnya.
Kulangkahkan kakiku mendekat kearah blue "hy putri cantik, kenapa kau berdiri disini sendiri mana mommu?"
"mom menyiapakan bekal untuk kita uncle."
"baiklah uncle lihat kau lebih cantik dari mommu" aku berbisik ditelinga blue karna ill sudah keluar
"hayo kalian membicarakan apa?"
"rahasia, mom mau tahu saja"
"baiklah putri kecil mom sekarang sudah dewasa rupanya." kugenggam tangan mungil putriku
"kita naik mobilku atau mobilmu wil?"
"mobilmu saja, ini bisa kau tarus dibagasi atau manapun" kusodorkan kotak makanan pada justin.
Dengan segerah ia berjalan kemobilnya dan menaruh kotak makanan itu dibagasinya.
"ayo sayang kita akan bersenag-senang hari ini. Apa kau siap?"
"siap mom."
aku sangat berterima kasih pada tuhan ia memang adil,
andaikan tuhan tak memberiku blue mungkin aku sudah jatuh kedasr jurang yang sangat jauh.
Kusandarkan kepala blue didadaku,
mungkin karna ia terlalu pagi bangun blue tertidur.
Justin memandangi blue,
"apa ia selalu seperti itu saat diatas mobil,?"
"tidak juga, mungkin blue hanya ngantuk karna bangun terlalu pagi."
"oh sebaiknya kau taruh dia dibelakang, itu lebih baik untuknya.
Karna tidur dalam posisi itu tidak baik untuk pertumbuhan putrimu"
"dari mana kau tahu hal itu?"
"hem internet, kemarin saat aku melihatblue didalam mobilmu,
aku mencari diinternet apa posisisnya sudah aman atau tidak"
"baiklah, tolong pinggirkan mobilmu aku ingin memindahkan blue" justin segara menpikan mobilnya.
Aku turun dan menaroh blue dibelakang.
Aku menaruh kepala bllue dipangkuanku.
"aku disini saja, aku tak mau ia terbentur"
"baiklah, sekarang aku boleh menjalankan mobilnya?"
"silahkan"
30 menit kemudian kami sampai disekolah blue.
Disini sudah banyak anak-anak seumuran blue dan orang tua mereka.
Blue sudah bangun saat kami akan sampai digerbang sekolahnya.
Kugendong blue dan membiarkannya merasakan bagaimana nyamanya digendong oleh seorang ayah.
Walaupun aku tahu aku buka ayahnya tapi aku menyenyanginya,
aku tak habis fikir kenapa pria itu bisa meninggalkan ill dalam keadaan seperti ini.
"blue apa mereka teman-temanmu?" aku menunjuk anak-anak yang sedang berbaris.
"ia meleka teman kelasku, tapi melaka bukan temanku"
"maksudmu sayang!"
"maksudku, meleka tak mau berteman denganku."
astaga kenapa mereka mengucilkan blue. Apa karna mereka mengetahui blue tak punya seorang ayah seperti mereka.
"tenanglah mereka itu hanya tak mengenalmu sayang"
"kuhalap juga begitu uncle"
seorang wanita mendekat kearah kami.
"hy nyonya will, apa dia suami anda" ill terlihat sangat bingung
"ia saya suaminya dan ayah dari blue.apa anda punya masalah nyonya"
kukedipkan seblah mataku saat ill terus memandangiku, tapi ia masih terkejut dengan ucapanku yang spontan ini.
"tidak aku hanya heran nyonya will tak perna membawa pria kesini dan kabar yang beredar dia seorang ibu tunggal tanpa suami"
"baiklah kuharap itu hanya berita burung karna buktinya aku suami williana dan ayah dari blue.
Dengan ini kuharap kalian tak lagi bergosip dibelakang tentang will dan blue putriku. Kurasa itu sangat jelas nyonya." aku menarik tangan will dan manjauh dari wanita tadi.
"hy kau ini apa-apa kenapa kau bisa selanancang itu!"
"aku hanya ingin mereka tak membicarakanmu dan blu lagi"
"tapi buka begitu just kau.."
Attente (part 6)
"tapi just kau akan mempersulitku."
"sudahlah yang sulit nantinya bukan kau tapi aku, jadi kau tak usah susah-susah memikirkan itu. Sekarang kau hanya duduk dengan manis melihatku sebagai ayah dari blue putrimu" justin menatap mataku tuhan itu tatapan mata bieber, apa benar firasatku selama ini kalau justin itu bieberku.
Baiklah aku akan cari tahu itu.
"jadi kau setujuh?" ucapan justin membuatku sadar
"ia..ia terserah kaulah, tapi aku tak ingin kau macam-macam denganku"
"baik bos, masa iya aku akan macam-macam dengan bosaku sendri." kuketok kepala justin
"aw. Itu sakit ill" kubalikan badanku saat justin kembali membanggilku dengan sebutan itu. Itu sebutan yang diberikan bieberku dan hanya dia yang tahu akan hal itu.
"ada apa?"
"tidak, kau barusan memanggilku dengan sebutan "ill"?"
"baiklah aku harus menjawab apa sekarang ini bukan waktu yang tepat, aku harus mengeles dulu"
ucap justin dalam hati.
"ah kau salah dengar, aku memanggilmu dengan panggilan "will"emng kenapa dengan panggilan itu" williana langsung membalikan badannya.
Dan justin mengejarnya.
"kenapa will?"
"itu bukan urusanmu, sana kau urus blue, sebentar lagi kita akan berangkat"
"baiklah" justin meninggalkan williana yang masih betah menatap punggu belakang justin.
Ia masih terus berfikir bahwa firasatnya pasti benar.
Tapi saat williana mencari justin dikanada orang terdekatanya mengatakan ia sudah menikah dan pergi bersama istrinya kekampung halama wanita itu.
Kugelang-gelengkan kepalaku, justin tak mungkin bieberku.
Kalau iya justin adalah bieberku pasti dia akan mengenaliku hanya dengan satu tatapan tapi ini dia seakan tak mengenalku.
## setelah perjalanan yang panjang akhirnya sampai juga.
Mukaku dan muka blue sangat berbeda. Ia sangat bersamangat sedangkan aku sangat lesu dan tak bersemangat..
Justin menrunkan bekal yang sudah kubuatkan dan karpet yang sudah ada didalam mobil justin.
"will kita dibawa sini saja, ini lebih baik"
"iya terserah kaulah aku lelah, bisahkan aku istirahat sebentar dimobilmu?"
"lalu blue bagaiman?"
"kan kau sudah janji akan menemaninya. Nanti aku menyusul setelah perasaanku sudah lebih baik"
"baiklah. Ini jangan lama-lama nanti blue mencarimu" justin memberikan kunci mobilnya kepadaku.
Kutinggalkan justin yang masih sibuk mencari tempat untuk menaruh tikar yang ia bawa.
Williana sudah terlelap sedangkan justin baru selesai dengan kesibukanya.
Sedangkan blue sibuk menemani justin mengatur bekal yang dibuat oleh momnya.
"uncle mom dimana?"
"sayang ada yang uncle ingin katakan padamu, sini mendekatlah dulu" justin menepuk-nepuk pahanya agar blue duduk disana
"apa uncle?"
"uncle mau kau memanggil uncle dengan sebutan dad kalau didepan teman-temanmu dan ibu mereka, kau mengertikan maksud uncle"
"hem jadi mulai hali ini aku punya dad" blue berdiri dan melompat-lompat karna senang mendengar justin menyuruhnya memnggil dirinya dengan sebutan "dad"
"iya sayang, ayo panggil dengan sebutan dad"
"baiklah, dad.dad.dad.dad.."
"anak pintar, ini baru anak dad yang cantik dan pintar"
blue memeluk leher justin dan mengecup berulang-ulang wajah justin.
"ayo sekarang kita harus melakukan hal apa?"
"hem blue mau foto belsama dad"
"ok" justin merogoh ponselnya dari dalam saku celananya.
"ayo blue yang cantik 1.2.3"
"dad ayo lagi"
"baiklah"
"1.2.3, 123"
sudah cukup lama mereka berfoto,karna terlalu asyik dengan dunia mereka. Kehadiran williana pun tak mereka rasakan.
"hy sepertinya mom ketinggalan, mom mau dong ikut"
"ayo mom, aku dan dad sudah sedali tadi berfoto belsama"
williana menatap justin, seakan justin menyadari itu ia langsung angkat bicara
"aku yang menyuruhnya menyebutku seperti itu,"
"baiklah"
"ayo mom, mom foto dengan dad dan nanti kita foto baleng"
justin dan williana kikuk mereka tak tahu harus seperti apa.
"dad ayo cium pipi mom, seperti dad mencium pipiku tadi"
"blue kau ini tak pantas bicara seperti itu sayang"
"ayolah mom"
"sudahlah will, ini demi kebaikan anakmu"
"baikalh" dalam hati justin sangat bahagia, untuk pertama kalinya setelah mereka berpisah.
Ia bisa mencium pipi ill lagi.
Justin mencium pipi will dan will tersenyum.
"baik, mom dan dad 123. Ok selesai sekarang mom yang mencium pipi dad" dengan segera williana mengikuti mau anaknya itu.
Akhirnya setelah berbagai pose yang williana dan justin lakukan, blue akhirnya menyudahi sesi foto bersama.
Ada kelegahan dihati williana
ia sempat berfikir anaknya ini banyak sekali maunya,
tapi ia kembali menipis itu, karna ia tahu untuk pertama kalinya blue merasakan kasih sayang sesungguhnya dri seorang pria yng ia sebut dengan sebutan "dad".
Kulihat blue tertidur dipangkuan justin,
terlihat ia sangat bahagia.
"just seni berika blue padaku, kau pasti lelah seharian bermain bersamanya"
justin menepis tanganku.
"tak usah nanti....."
"tapi just kau akan mempersulitku."
"sudahlah yang sulit nantinya bukan kau tapi aku, jadi kau tak usah susah-susah memikirkan itu. Sekarang kau hanya duduk dengan manis melihatku sebagai ayah dari blue putrimu" justin menatap mataku tuhan itu tatapan mata bieber, apa benar firasatku selama ini kalau justin itu bieberku.
Baiklah aku akan cari tahu itu.
"jadi kau setujuh?" ucapan justin membuatku sadar
"ia..ia terserah kaulah, tapi aku tak ingin kau macam-macam denganku"
"baik bos, masa iya aku akan macam-macam dengan bosaku sendri." kuketok kepala justin
"aw. Itu sakit ill" kubalikan badanku saat justin kembali membanggilku dengan sebutan itu. Itu sebutan yang diberikan bieberku dan hanya dia yang tahu akan hal itu.
"ada apa?"
"tidak, kau barusan memanggilku dengan sebutan "ill"?"
"baiklah aku harus menjawab apa sekarang ini bukan waktu yang tepat, aku harus mengeles dulu"
ucap justin dalam hati.
"ah kau salah dengar, aku memanggilmu dengan panggilan "will"emng kenapa dengan panggilan itu" williana langsung membalikan badannya.
Dan justin mengejarnya.
"kenapa will?"
"itu bukan urusanmu, sana kau urus blue, sebentar lagi kita akan berangkat"
"baiklah" justin meninggalkan williana yang masih betah menatap punggu belakang justin.
Ia masih terus berfikir bahwa firasatnya pasti benar.
Tapi saat williana mencari justin dikanada orang terdekatanya mengatakan ia sudah menikah dan pergi bersama istrinya kekampung halama wanita itu.
Kugelang-gelengkan kepalaku, justin tak mungkin bieberku.
Kalau iya justin adalah bieberku pasti dia akan mengenaliku hanya dengan satu tatapan tapi ini dia seakan tak mengenalku.
## setelah perjalanan yang panjang akhirnya sampai juga.
Mukaku dan muka blue sangat berbeda. Ia sangat bersamangat sedangkan aku sangat lesu dan tak bersemangat..
Justin menrunkan bekal yang sudah kubuatkan dan karpet yang sudah ada didalam mobil justin.
"will kita dibawa sini saja, ini lebih baik"
"iya terserah kaulah aku lelah, bisahkan aku istirahat sebentar dimobilmu?"
"lalu blue bagaiman?"
"kan kau sudah janji akan menemaninya. Nanti aku menyusul setelah perasaanku sudah lebih baik"
"baiklah. Ini jangan lama-lama nanti blue mencarimu" justin memberikan kunci mobilnya kepadaku.
Kutinggalkan justin yang masih sibuk mencari tempat untuk menaruh tikar yang ia bawa.
Williana sudah terlelap sedangkan justin baru selesai dengan kesibukanya.
Sedangkan blue sibuk menemani justin mengatur bekal yang dibuat oleh momnya.
"uncle mom dimana?"
"sayang ada yang uncle ingin katakan padamu, sini mendekatlah dulu" justin menepuk-nepuk pahanya agar blue duduk disana
"apa uncle?"
"uncle mau kau memanggil uncle dengan sebutan dad kalau didepan teman-temanmu dan ibu mereka, kau mengertikan maksud uncle"
"hem jadi mulai hali ini aku punya dad" blue berdiri dan melompat-lompat karna senang mendengar justin menyuruhnya memnggil dirinya dengan sebutan "dad"
"iya sayang, ayo panggil dengan sebutan dad"
"baiklah, dad.dad.dad.dad.."
"anak pintar, ini baru anak dad yang cantik dan pintar"
blue memeluk leher justin dan mengecup berulang-ulang wajah justin.
"ayo sekarang kita harus melakukan hal apa?"
"hem blue mau foto belsama dad"
"ok" justin merogoh ponselnya dari dalam saku celananya.
"ayo blue yang cantik 1.2.3"
"dad ayo lagi"
"baiklah"
"1.2.3, 123"
sudah cukup lama mereka berfoto,karna terlalu asyik dengan dunia mereka. Kehadiran williana pun tak mereka rasakan.
"hy sepertinya mom ketinggalan, mom mau dong ikut"
"ayo mom, aku dan dad sudah sedali tadi berfoto belsama"
williana menatap justin, seakan justin menyadari itu ia langsung angkat bicara
"aku yang menyuruhnya menyebutku seperti itu,"
"baiklah"
"ayo mom, mom foto dengan dad dan nanti kita foto baleng"
justin dan williana kikuk mereka tak tahu harus seperti apa.
"dad ayo cium pipi mom, seperti dad mencium pipiku tadi"
"blue kau ini tak pantas bicara seperti itu sayang"
"ayolah mom"
"sudahlah will, ini demi kebaikan anakmu"
"baikalh" dalam hati justin sangat bahagia, untuk pertama kalinya setelah mereka berpisah.
Ia bisa mencium pipi ill lagi.
Justin mencium pipi will dan will tersenyum.
"baik, mom dan dad 123. Ok selesai sekarang mom yang mencium pipi dad" dengan segera williana mengikuti mau anaknya itu.
Akhirnya setelah berbagai pose yang williana dan justin lakukan, blue akhirnya menyudahi sesi foto bersama.
Ada kelegahan dihati williana
ia sempat berfikir anaknya ini banyak sekali maunya,
tapi ia kembali menipis itu, karna ia tahu untuk pertama kalinya blue merasakan kasih sayang sesungguhnya dri seorang pria yng ia sebut dengan sebutan "dad".
Kulihat blue tertidur dipangkuan justin,
terlihat ia sangat bahagia.
"just seni berika blue padaku, kau pasti lelah seharian bermain bersamanya"
justin menepis tanganku.
"tak usah nanti....."
Attente (part 7)
Siang
berganti malam, justin masih betah sesekali memandangi wajah williana
dicermin mobil. Senyumpun terus tersunggi dikedua sudut bibirnya.
Hal terindah yang sudah lama tak ia temua sekarang tengan ia nikmati dalam diamnya.
"kuharap tuhan tak memisahkan kami lagi, aku begitu mencintainya. Aku
tak peduli bagaiman masa lalunya yang jelas aku mencintainya dan
mencintai putrinya." ucap justin dalam hatinya.
Justin melirik jam tangan yang melingkar indah dilengannya.
"ternyata sudah semalam ini"
justin memarkirkan mobilnya tepat didepan halaman rumah williana. Dengan hati-hati justin membangunka williana
"ayo bangun will, kita sudah sampai."
"hem. Maaf aku ketiduran dan tidak menemanimu"
"tak apa, oh iya kau jangan bergerak dulu"
"kenapa?"
"nanti blue bangun dan membuatmu repot" justin mengangkat blue dan
mengendongnya, kemudian williana turun lalu mengikuti justin yang
berjalan didepannya.
"ayo buka pintunya" justin menengok menunggu reaksi williana
"maaf" dengan langkah cepat williana membuka pintu rumahnya.
"dimana kamar blue?"
"tak usah, sini berikan blue padaku. Kau sudah terlalu lelah"
"tak apa will, aku adalah ayah blue dan inilah yang dilakukan seorang ayah"
"tapi just"
"tak apa, ayo nanti blue bangun"
"baiklah, diatas kau blok kanan diujung ada kamar tertulis nama blue"
"baiklah" williana trus menatap punggu justin.
Kulangkahkan kakiku kedapur, aku tahu justin belum makan dan pasti ia
sangat lapar seharian menemani blue bermain dan ia juga berjam-jam
membawa mobil.
Kubuatkan spageti saos keju.
Dan segelas susu hangat.
Kulihat ia masuk kedalam dapur
"kenapa?"
"aku haus "
"oh, tunggu biar aku yang ambilkan.
Kau mau minum apa air putih atau jus"
"air hangat saja"
"baiklah"
aku menggambilkan justin air hangat, tunggu bieber jugakan suka minum air hangat apa ini hanya kebetulan semata.
Tapi masa ia begitu banyak kemiripan dan kebetulan yang terjadi.
"ini, sebaiknya kau makan saja dulu dan kau bermalam disini saja.
Ini sudah larut malam dan kau butuh istirahatkan"
"tapi will aku tak enak dengan tanggapan orang lain"
"sudahlah lagian kitakan tak melakukan apa-apa, aku tak peduli dengan omongan orang ."
"baiklah kalau kau memaksa"
"haha kau pede sekali kalau aku memaksamu, aku hanya menawarkan saja inikan tergantung dari kau"
"baiklah, mana makananya?"
"tunggu aku belum melelhkan kejunya."
"kau buat apa?"
"spageti saos keju"
"wah kau sangat tahu apa yang kusuka."
"jadi kau suka spageti saos keju?"
"ia bahkan sangat suka."
"wah kau dan blue ternyata satu selerah, lain kali kau datang kesini lagi dan kita makan bersama"
"ia "
aku tak berselerah melihat justin makan, astga ia seperti orang yang tak menemukan makana selama setahun.
Kalian tahu ia seperti blue saat makan.
Saos spgetinya ada dimana-mana.
Bahkan sampai diwajahku, padahal jarak kami agak jauh.
"just kau ini makan ko berantakan seperti ini, lihat sampai kena wajahku."
"maaf masakan mu enak, seperti masakan momku.
Kalau begini aku tak akan menolak kalau kau mengajakku makan dirumahmu,"
"ia..ia habiskan dulu makanamu.
Sebentar baru kau bicara lagi"
kutinggalkan justin dan berjalan kewc untuk membersihkan saos yang ada dibaju dan wajahku.
"dasar, sudah besar seperti itu tapi lebih jorok dari blue"
"will cepat aku sudah tak tahan."
"kau pakai saja wc dikamar tidurku,aku masih lama. Tapi ingat jangan macam-macam" teriakku dalam kamar mandi
"baiklah"..
Dengan langkah cepat justin masuk kedalam kamar tidur williana.
Ia langsung membuka pintu kamar mandi williana.
Ada kelengahan diwajah justin,
15 menit kemudia ia keluar, sebelum ia benar-benar pergi dari kamar williana, ia melihat foto yang sangat ia kenal.
Justin melangkahkan kakinya kemeja dekat pintu kamar williana.
Ia semakin yakin ini fotonya dan williana saat dikanada dulu
"aku tak tahu kau masih mencimpanya ill, aku tahu kau juga tak bisa melupakanku.
Tapi kenapa dia tak mengenaliku,
apa karna aku tak seperti dulu lagi.
Kalian harus tahu dulu aku pria yang sangat kuper dan mengenakan kacamata,
bahkan bajuku selalu rapi.
Dan sekarang aku sudah berubah,
kaca mataku sudah kulepas dan rambutku sudah kupotong pendek lalu bajuku seperti anak muda jaman sekarang.
Apa mungkin karna itu.
Apa kau harus berpenampilan seperti itu dan membuat ill kembali
mengingatku, tidak just kau tak boleh kemali seperti dulu. Masih banyak
cara yang bisa kau lakukan agar ill kembali mengingatmu,
semangat" tanpa justin sadari williana sedari tadi mempeerhatikanya
"apa-apa dia mengacak barang orang seenaknya" ucap will dalam hati.
Dengan cepat ia merebut foto yang digenggam justin.
"kau ini lancang sekali. Sudah kubilang jangan macam-macam"
"tidak will, aku hanya penasaran dengan pria yang disampingmu, dia begitu kuno dalam foto ini"
will yang mendengar justin bicara seperti itu seakan ingin langsung melahap justin bulat-bulat.
"walaupun dia tak segaul kau dan sekerenkau tapi dia segalanya bagiku tak ada yang bisa mengantikanya.."
Attente (part 8)
"memng dia tak sekeren dirimu tapi dia sangat berarti bagiku dan tak ada yng bisa mengatikanya"
ada rasa puas dalam hati justin saat ia mendengar ucapan williana tentang dirinya.
Mungkin saatnya untuk mengungkapkan siapa sebenarnya dirinya.
Tapi ada terbersik rasa takut dalam hatinya, ia takut saat ia mengucapkanya williana tak akan percaya.
Justin mnegerungkan niatnya, dan mencoba cara lain agar williana dapat mengetahu dengan sendirinya.
"maaf will bukan maksudku seperti itu, aku hanya heran kenapa kau menyimpan foto yang sudah tua itu."
"tak apa, aku juga minta maaf karna terbawa emosi. Ini foto pertama dan terakhir kami,"
"maksudmu kau tak perna bertemu dengannya lagi?"
"tidak"
"apa kau tak perna mencoba mencarinya?"
"aku sudah mencarinya tapi hasilnya membuatku sakit dan jatuh kedalam lubang yang menganggah"
justin cukup heran dengan ungkapan williana barusan.
"maksudmu apa?"
"waktu itu aku mencarinya kekanda dan orang terdekatnya mengatakan bahwa
dia telah menikah dan tinggal dikampung halaman wanita itu"
"astaga siapa yang melakukan itu, apa ini ucapan ryan, karna kesal
padaku. tuhan selama ini aku salah, williana tidak benar-benar pergi
meninggalkanku. Bahkan ia menengok saat ia pergi."
kedua sudut bibir justin terangkat, senyum merekah dikedua ujung bibirnya.
Sedangkan willian menahan air mata yang sedari tadi ia tahan,
mungkin justin menyadari hal itu dan mendekat kearag williana.
"kau kenapa?"
"tidak. Aku tidak apa-apa"
"sudahlah will kau bukan pembohong yang baik. Menegislah kalau kau ingin
menangis. Aku akan menemanimu." justin mendudukan tubuh williana
dikasurnya.
Tak terasa buliran air mata yang sedari tadi ia tahan membasahi pipinya,
justin membiarkan williana menangis dalam diamnya.
Ia sangat tahu beginilah williana saat ia menangis ia tak ingin orang lain mengetahui jerita hatinya...
Setelah sejam williana menangis.
Akhirnya justin tak mendengar isakan tangis wiliana lagi.
"bagaimana, apa sekarang lebih baik?" williana hanya menganggukan kepalanya.
"baiklah, kurasa kau istirahat saja, itu yang kau butuhkan sekarang.
Tak usah kawatir aku yang akan membersihkan meja makanya."
justin membimbing tubuh williana kedalam selimutnya,
justin juga membenarkan posisi selimut williana.
"tidurlah, besok akan lebih baik will." justin mematikan lampu utama
kamar williana dan membiarkan lampu meja menyalah agar memberi sedikit
sinar diruangan ini.
Justin membalikan badanya saat williana menarik tanganya.
Dengan sabar justin mengenggam kedua tangan wiliana,
"ada apa will?" justin menatap kedua bola mata williana.
"bisakah kau disini sampai aku terlelap, aku membutuhkan pelukan saat ini"
justin terkejut dengan ucapan williana.
"apa kau maua just?"
"ia aku mau" justin nai keatas tempat tidur williana tapi ia tak masuk dalam selimut williana.
Segara ia menarik tubuh munggil williana kedalam dekapan hangatnya.
"tidurlah aku disini untukmu ill" justin mengusap-usap rambut williana.
Ia mencoba untuk membuat williana tenang dan bisa tidur dengan nyenyak.
"terima kasih just, aku tak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu,
kau membuat semuanya lebih muda untukku dan blue putriku." ucap williana
dalam dekapan justin.
Justin menundukan kepalanya dan mata mereka saling beradu.
Mungkin inilah namanya suatu takdir yang tak bisa diingkari oleh manusia,
ketika seseorang berpisah pasti tuhan akan mempertemukan mereka lagi.
Justin semakin mempererat pelukanya,
"tenanglah aku disini aku akan membuatmu merasa nyaman"
dalam hitungan menit williana sudah masuk kedalam alam mimpinya.
Justin memberikan sedikit ruangan agar williana dapat mengambil nafas.
Ia sangat bahagia karna williana dapat menerimanya dengan hangat. Ia mengecup puncak kepala williana..
Justin mencoba melepas pelukanya dari tubuh hangat williana.
Saat justin akan turun kembali williana menahanya.
"tetaplah disini, aku membutuhkanmu"
"tenang aku hanya ingin mengambil air putih, apa kau mau wil?"
"tak usah, aku minta tolong bisakah kau melihat blue. Aku takut ia terbangun!"
"ia, kau tidur saja dulu."
justin melangkahkan kakinya keluar dari kamar williana.
Sebelum ia kedapur, ia membuka pintu kamar blue.
Ia memperhatikan blue.
"baik dibaik-baik saja" justin menutup pintu kamar blue dengan pelan agar tak menimbulkan bunyi yang bisa membangunkan blue.
Justin menuruni setiap anak tangga dirumah williana.
Ia melihat dinding-dinding rumah williana, "kenapa hanya foto blue dan will,
apa will tak ingin memberitahukan siapa ayah kandung blue" justin
melangkahkan kakinya kedapur dan mengambil segelas air putih lalu
meneguknya.
Ia membereskan sisi makan mereka tadi, dengan hati-hati justin mencuci piring-piring kotor.
Setelah selesai. Ia membalikan badanya.
Piring-piring ditangan justin hampir jatuh karna ia terkejut dengan kehadiran tiba-tiba williana.
"astaga will, kau membuatku terkejut untung aku tak punya sakit jatung"
"aku sudah memanggilmu tapi kau terlalu asyik..,"
Attente (part 9)
"aku sudah memanggilmu tapi kau saja yang terlalu asyik"
"haha, ia" justin mengaruk-garuk belakang lehernya.
Williana duduk dikursi meja makanya," apa kau sudah terbisa melakukan hal-hal itu ?"
"ia, kau tahukan aku disini hanya sendiri, beginilah yang kulakukan saat pulang bekerja"
"kau tak perna mencari seorang istri?"
justin membalikan badanya, dan duduk didepan williana. Ia menatap dalam mata williana
"aku sudah mempunya seseorang yang sudah memnuhi hatiku sejak dulu, tapi ia mengehilang dan setelah begitu lama aku mencarinya akhirnya aku menemukanya.
Walaupun ia bukan gadis kecil yang dulu aku kenal, "
"maksudmu, dia berubah just?"
"ia dia berubah, aku tahu yang membuatnya seperti itu karna keadan yang memaksanya.
Aku mengenalnya bahkan sangat mengenal bagaimana ia."
williana menghela nafas panjang.
"kau beruntung just dapat menemukanya sedangkan aku sama sekali tak bisa melihat atau mendengar namanya lagi"
"ill ini aku, ini aku biebermu.
Apa matamu terlalu buta dan tak bisa melihatku disini didepanmu"
"tapi will, wanita itu tak mengenalku.
Bagaimanapun caranya aku menunjukana bahwa aku adalah pria yang dulu sempat bersamanya"
williana menatapa jutin, lalu dengan hangat mengenggam hangat tangan justin.
"kau harus menggapainya just, buat dia tahu akan hadirmu.
Jangan buat ia kembali meninggalkanmu karna sangat sakit saat orang yang kita cintai pergi dan tak kembali lagi"
justin menaruh tanganya diatas tangan williana
"ia will, aku akan berusaha menyadarkan wanitaku itu.
Aku tak ingin dia pergi dan meninggalkanku lagi"
"aku harap kau dapat menggapainya just"
"terima kasih will, kau memang wanita yang sangat baik"
justin melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi.
"baik will, mulai malam ini aku akan mati-matian agar kau bisa mengetahui siapa aku.
Aku tak akan membiarkan siapaun mengambilmu lagi dariku" justin menutup pintu kamar mandi.
Dan berjalam kearah williana.
"ayo will sebaiknya kau istirahan, nanti kesehatanmu terganggu" justin memengang kedua bahu williana...
Terima kasih just karna kau bisa membuatku meresa masih ada yang memmerhatikan aku dan blu.
Aku tak tahu bagaiman hidupku akan berjalan tapi kau datang seakan menjauhan awan mendung dari kehidupanku dan terganti matahari yang menyinari setiap lekuk kehidupanku bersan malaikat kecilku.
Justin menaruh tubuhku dengan hati-hati diatas kasur "tidurlah ini sudah larut malam. Besok kitakan akan bekerja"
"ia, kau juga istirahatlah. Aku sudah lebih baik"
justin mengelengkan kepalnya,
lalu ia duduk disofa dekat jendelaku,.
"aku akan menemanimu, aku tidur disini "
"baiklah, mimpi yang indah yah just" kubaringkan badanku, lalu kutatap justin yang menutup kedua matanya.
Apa dia sudah tidur.
Akau juga tak tahu tapi wajahnya begitu tenang, diwajahnya terpancar ketulusan yang membuat semua orang menatapnya dapat menarik simpatik.
Mungkin karna mataku sudah sangat berat, aku mencoba menutupnya dan beralih kedalam alam mimpi yang mampu menerbangkan awan-awangku. Dan bertemu dengan bieberku.
***
kicauan burung membangunkan seorang gadis kecil dari tidur panjangnya.
"selamat pagi dunia, kau tahu hari ini aku akan dijemput oleh dadku dan ia juga akan mengantarku kesekolah."
dengan berlari kecil blue membukan pintu kamar ibunya.
Ia sempat terkejut saat melihat ibunya tidur dalam pelukan justin disofa dekat jendela .
Dengan cepat blue duduk diatas tubuh justin dan williana.
Mungkin williana sudah terbisa dengan tindakan blue ini.
Ia hanya mengerang dan kembali mendekapa tubuh justin dan begitupun justin.
Blue kesal dengan tindakan kedua orang dewasa ini.
Ia mengambil keputusan untuk berterial ditelingah justin dan williana
"mom.. Dad ayao bangun.
Ini sudah pagi"
"blue, sayang diamlah mom baru tidur, sebentar lagi mom bangun.bisakan kau beri waktu mom 5 menit saja" ucap williana tanpa membuka kedua matanya.
"mom bangun, mom bangun.
Dan lihat kenapa mom bisa tiidul belsama dad disofa ini,"
seakan dikomando tubuh williana segera duduk dan metapan blue.
"maksudmu apa sayang, mom tak mengerti"
"lihat mom tidul belsama dad. Dan kalian juga saling belpelukan yang erat."
"ha" williana segera menyadari sebuah tangan memeluk perutnya.
Dengan cept ia menghentakan tangan justin dan membangunkan justin yang masih dialam mimpinya.
"just ayo bangun.
Kenapa kau bisa tidur dikasurku."
justin segera bangun dan menatap williana dengan bingung.
Ia melihat kebelakang will.
"hy lihat kau yang datang kesini,
ini bukan kasurmu. Tapi sofa"
"apa kau pasti salah just, aku tak mungkin berjalan dan pindah kesofa"
"kalau begitu balikan badanmu dan lihat apa yang ada dibelakangmu"
dengan cepat williana membalikan badanya.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tanganya.
"sekarang yang harus bertanya aku. Kenapa kau bisa ada disini.
Apa kau punya penyakit saat tidur"
williana hanya menggaruk lenganya,
"aku tak tahu tapi seingatku. Sepertinya tidak.
Tapi bagaimanaku bisa ada disini dan tidur bersamamu.."
"haha, ia" justin mengaruk-garuk belakang lehernya.
Williana duduk dikursi meja makanya," apa kau sudah terbisa melakukan hal-hal itu ?"
"ia, kau tahukan aku disini hanya sendiri, beginilah yang kulakukan saat pulang bekerja"
"kau tak perna mencari seorang istri?"
justin membalikan badanya, dan duduk didepan williana. Ia menatap dalam mata williana
"aku sudah mempunya seseorang yang sudah memnuhi hatiku sejak dulu, tapi ia mengehilang dan setelah begitu lama aku mencarinya akhirnya aku menemukanya.
Walaupun ia bukan gadis kecil yang dulu aku kenal, "
"maksudmu, dia berubah just?"
"ia dia berubah, aku tahu yang membuatnya seperti itu karna keadan yang memaksanya.
Aku mengenalnya bahkan sangat mengenal bagaimana ia."
williana menghela nafas panjang.
"kau beruntung just dapat menemukanya sedangkan aku sama sekali tak bisa melihat atau mendengar namanya lagi"
"ill ini aku, ini aku biebermu.
Apa matamu terlalu buta dan tak bisa melihatku disini didepanmu"
"tapi will, wanita itu tak mengenalku.
Bagaimanapun caranya aku menunjukana bahwa aku adalah pria yang dulu sempat bersamanya"
williana menatapa jutin, lalu dengan hangat mengenggam hangat tangan justin.
"kau harus menggapainya just, buat dia tahu akan hadirmu.
Jangan buat ia kembali meninggalkanmu karna sangat sakit saat orang yang kita cintai pergi dan tak kembali lagi"
justin menaruh tanganya diatas tangan williana
"ia will, aku akan berusaha menyadarkan wanitaku itu.
Aku tak ingin dia pergi dan meninggalkanku lagi"
"aku harap kau dapat menggapainya just"
"terima kasih will, kau memang wanita yang sangat baik"
justin melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi.
"baik will, mulai malam ini aku akan mati-matian agar kau bisa mengetahui siapa aku.
Aku tak akan membiarkan siapaun mengambilmu lagi dariku" justin menutup pintu kamar mandi.
Dan berjalam kearah williana.
"ayo will sebaiknya kau istirahan, nanti kesehatanmu terganggu" justin memengang kedua bahu williana...
Terima kasih just karna kau bisa membuatku meresa masih ada yang memmerhatikan aku dan blu.
Aku tak tahu bagaiman hidupku akan berjalan tapi kau datang seakan menjauhan awan mendung dari kehidupanku dan terganti matahari yang menyinari setiap lekuk kehidupanku bersan malaikat kecilku.
Justin menaruh tubuhku dengan hati-hati diatas kasur "tidurlah ini sudah larut malam. Besok kitakan akan bekerja"
"ia, kau juga istirahatlah. Aku sudah lebih baik"
justin mengelengkan kepalnya,
lalu ia duduk disofa dekat jendelaku,.
"aku akan menemanimu, aku tidur disini "
"baiklah, mimpi yang indah yah just" kubaringkan badanku, lalu kutatap justin yang menutup kedua matanya.
Apa dia sudah tidur.
Akau juga tak tahu tapi wajahnya begitu tenang, diwajahnya terpancar ketulusan yang membuat semua orang menatapnya dapat menarik simpatik.
Mungkin karna mataku sudah sangat berat, aku mencoba menutupnya dan beralih kedalam alam mimpi yang mampu menerbangkan awan-awangku. Dan bertemu dengan bieberku.
***
kicauan burung membangunkan seorang gadis kecil dari tidur panjangnya.
"selamat pagi dunia, kau tahu hari ini aku akan dijemput oleh dadku dan ia juga akan mengantarku kesekolah."
dengan berlari kecil blue membukan pintu kamar ibunya.
Ia sempat terkejut saat melihat ibunya tidur dalam pelukan justin disofa dekat jendela .
Dengan cepat blue duduk diatas tubuh justin dan williana.
Mungkin williana sudah terbisa dengan tindakan blue ini.
Ia hanya mengerang dan kembali mendekapa tubuh justin dan begitupun justin.
Blue kesal dengan tindakan kedua orang dewasa ini.
Ia mengambil keputusan untuk berterial ditelingah justin dan williana
"mom.. Dad ayao bangun.
Ini sudah pagi"
"blue, sayang diamlah mom baru tidur, sebentar lagi mom bangun.bisakan kau beri waktu mom 5 menit saja" ucap williana tanpa membuka kedua matanya.
"mom bangun, mom bangun.
Dan lihat kenapa mom bisa tiidul belsama dad disofa ini,"
seakan dikomando tubuh williana segera duduk dan metapan blue.
"maksudmu apa sayang, mom tak mengerti"
"lihat mom tidul belsama dad. Dan kalian juga saling belpelukan yang erat."
"ha" williana segera menyadari sebuah tangan memeluk perutnya.
Dengan cept ia menghentakan tangan justin dan membangunkan justin yang masih dialam mimpinya.
"just ayo bangun.
Kenapa kau bisa tidur dikasurku."
justin segera bangun dan menatap williana dengan bingung.
Ia melihat kebelakang will.
"hy lihat kau yang datang kesini,
ini bukan kasurmu. Tapi sofa"
"apa kau pasti salah just, aku tak mungkin berjalan dan pindah kesofa"
"kalau begitu balikan badanmu dan lihat apa yang ada dibelakangmu"
dengan cepat williana membalikan badanya.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tanganya.
"sekarang yang harus bertanya aku. Kenapa kau bisa ada disini.
Apa kau punya penyakit saat tidur"
williana hanya menggaruk lenganya,
"aku tak tahu tapi seingatku. Sepertinya tidak.
Tapi bagaimanaku bisa ada disini dan tidur bersamamu.."
Attente (part 10)
"baiklah.
Ini hanya masalah kecil, tak usah dipermasalahkan. Blue sini ikut dad.
Mommu masih butuh istirahat" justin mengendong blue dan meninggalkanku
yang masih diliputi rasa penasaran.
Apa justin benar aku punya masalah dalam tidur, tapi ini pertama kalinya aku jalan saat tidur.
Kulangkahkan kakiku kekamar mandi. Ngantuk yang tadi melndaku sudah sirna karna hal tadi.
Kubasuh wajahku dengan air dingin.
Baiklah ini hanya hal kecil dan bukan masalah yang besar, justin juga
tak mempermasalahkan hal ini jadi will kau tak usah repot sendiri.
Kulangkahkan kakiku kedapur, kulihat justin dan blue sedang bermain lempar teriguh.
Apa-apaan mereka, lihat semuanya jadi kotor karna ceceran teriguh.
"stop. Blue dan kau justin apa-apa kenapa kau mengajarkan blue hal
konyol seperti ini. Berhenti kalian berdua masuk kekamar mandi dan
bersihkan badan kalian setelah itu kalian bersihkan kekacauan yang
kalian perbuat." blue dan justin saling pandang dan tersenyum.
Aku takut melihat senyum mereka, firasa buruk sudah meliputi hatiku.
"123 ayo blue" ucap justin.
Dan sedetik kemudian dua lemparan tepung mengena wajah dan perutku.
"astaga just, blue apa yang kalian lakukan.
Mom baru ganti pakaian dan kalian membuat mom kembali kotor" baiklah kalian akan dapat balsanya.
Segera kuambil sekatung terigu dan melemparnya kearah justin.
"hahahha just mukamu lucu. Hahahha " tawaku berhenti ketika satu lemparan mengenai mulutku.
"huk.huk.huk.huk. " aku memuntahkan terigu yang masuk kedalam mulutku.
Blue tertawa melihatku menderita seperti ini, anak ini apa-apaan aku
akan ibunya tapi dia terlihat bahagia.
"blue jahat masa senang melihat mom menderita seperti ini"
"tidak mom blue hanya cenang kalna dad kita bica sepelti kelualga"
kutatap wajah malikat kecilku, lalu menghusap terisu yang mengotori wajah cantik putriku.
"apa kau senang karna memiliki dad sekarang?"
"aku sangat senang mom. Aku mau dad tlus ada untuk kita mom!"
justin lalu mendekat kearah kami.
Ia mensejajarkan badanya dengan
kami-blue-aku- ,
"dengar dad sayang. Dad akan selalu ada untuk kau dan mommu.
Pengang janji dad"
blue langsung mengalungkan tanganya dileherku dan leher justin.
Astaga aku tak perna menyadari bahwa anakku sangat membutuhkan sesok seorang ayah.
Apa karna aku melihatnya bahagia jadi tak perna terbersik dalam hatiku
bahwa blue memputuhkan seorang yang bisa ia panggil "dad".
Kurasakan tangan kekar menyekah air mataku yang jatuh membasahi kedua pipiku.
"blue sebaiknya kau mandi sayang"
"baiklah dad. Mom aku keatas dulu yah"
"ia sayang"
blue melangkahkan kakinya menjauh dari kami-justin-aku-.
"kenapa kau menangis?" tanya justin
" aku hanya merasa buka ibu yang baik untuk putriku,"
"kenapa kau bisa berfikir seperti itu.
Kau adalah ibu terbaik setelah momku, kau tahu tak banyak wanita seumuranmu dapat memberikan kebahagian yang nyata untuknya.
Jangan perna berfikir seperti itu will.
Kau ibu terbaik didunia ini.
Ingat itu kau ibu yang baik."
kutatap mata justin.
"apa itu benar just, aku ibu yang baik tapi kenapa aku tak perna
berfikir blue membutuhkan seorang ayah yang bisa menjadi tempat keluh
kesahnya saat ia sedang sedih.
Justin menyentuh kedua bahuku dan mengangkat daguku,
hal ini membuatku menatap mata justin. Serotan matanya kembali membuatku tenang.
"dengar aku kau wanita terbaik dan ibu yang baik untuk blue.
lalu apa yang kau takutkan sekarang aku disini, aku adalah dad blue
walaupun aku bukan ayah kandungnya tapi aku akan menyanyanginya melebih
apa yang bisa kau banyaknkan."
"tapi justin itu hanya sementara karna kau akan memiliki keluaraga
sendiri, dan saat itu kau tak akan mempunyai waktu untuk menyanyangi
ataupun memperhatikan blue lagi"
"itu tak akan terjadi will.
Karna aku mencintai ibu dari blue.
Ia membuatku jatuh cinta sejak dulu, sejak pertama kali aku dan ibu blue bertemu ditaman kota kanada.
Ia membuatku mengerti akan cinta sejati, ia pergi dariku saat aku akan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya.
Tapi sekarang aku sudah menemukanya.
Dari pertama aku bertemu denganya ia tak mengenaliku karna perubahanku yang sangat derastis.
Tapi aku tahu ia tak melupakanku bahkan ia menyimpan fotoku bersamanya.
Aku tak tahu bahwa dia datang mancariku dan mendapat kabar yang sama sekali tak benar.
Dan kau harus tahu ill aku mencintaimu, aku mencintai ibu blue, aku mencintai gadis kecilku.
Kaulah wanita yang selama ini menempati seluruh reluh hatiku.
Kau yang membuatku dapat bertahan dan sekarang aku lelah menutupi
semuanya aku ingin kau tahu ill aku bibermu aku pria kuper yang selalu
bersama dulu.
Aku pria yang ada didalam fotomu.
Aku pria yang membuatmu jatuh kedalam jurang yang dalam.
Maafkan aku andaikan waktu itu aku menahanmu, kau yakin kau tak akan menderita seperti ini.
Maaf kan aku ill. Maafkan aku"
astaga apa yang barusan kudengar, jadi benar dia bieberku dia bieberku yang selama ini kucari.
Ternya bieberku ada didepanku.
Segera kupelukan tubuh justin....
Attente (part 11)
Kupeluk tubuh justin dan membenamkan kepalaku didada bidangnya.
Tuhan ternyata bieberku ada didepanku.
Kenapa aku tak bisa menyakinka hatiku bahwa yang selama ini kurasa benar.
Will kau begitu bodoh, tak bisa mengenalinya.
"maafkan aku just, sebenarnya perasaanku selalu mengatakan bahwa kau
bieberku. Tapi aku menepis semua itu karna aku tahu kau sudah pergi dan
menjali hidupmu bersama wanita lain.
Maafkan aku yang tak bisa mengenalimu sejak awal pertemuankita waktu itu"
justin membals pelukanku dan mengelus rambutku.
Aku merindulkan mu bieber, sangat sangat merindukanmu.
"tak apa aku bisa menmaklumi itu.
Aku juga awalnya tak menyangkah ill yang kukenal ceria dan ramah sekarang berubah menjadi wanita yang tegas dan dingin.
Aku mau kau kembali ill kembali menjadi ill yang kukenal."
"aku selalu mencoba untuk menjadi diriku yang dulu just tapi bayangan
kelam dalam hidupku selalu mengusikku dan membuatku seperti ini" ucapku
masih salam dekapan hangat justin.
"aku akn merubahmu ill,
aku akan membuatmu kembali menjadi illku yang kukenal.
Aku janji akan membuatmu melupakan lembaran hitam masa lalumu.
Apa kau bersedia aku melakukan itu ill?" justin melepas pelukanya lalu menatapku.
Aku hanya menganggukan kepalku.
"baiklah aku rasa kita harus memulai semuanya mulai hari ini.
Aku harap kau bisa mengatakan pada blue aku adalah ayah kandungnya dan selamanya akan seperti itu,
aku mau kau juga menganggap akulah ayah dari putimu. Kau bisakan ill?"
"tapi jus apa kau sadar dengan ucapanmu itu, aku tak pantas menerima semua itu.
Kau terlalu baik untuk wanita hina sepertiku.
Aku mohon jangan lakukan itu just."
justin mengenggam kedua tanganku.
"kau bukan wanita hina, kau adalah wanita yang sangat baik dan ini bukan
salahmu tapi salah pria yang melakukan ini padamu dan membuatmu
menanggung semua rasa sakit akan hal itu.
Aku tak perna berfikir akan malu dengan keadanmu.
Kau jangan berfikir aku akan malu mengunggapkan pada dunia bahwa aku mencintamu.
Apasalahnya seorang wanita yang mempunya seorang putrin ingin merasakan kebahagian.
Tidak ill. Tidak tidak ada yang salah wanita itu juga membutuhkan kebahagian agar hidupnya dapat berjalan lagi."
"tapi just aku belum bisa membuat keputusan itu.
Kau tahu hatiku masih sakit karna pria itu"
"tak apa ill aku akan membatumu menyembuhkan luka yang dibuat oleh pria itu. Kau maukan?"
"ia aku mau just, aku mau."
"jadi sekarang kau milikku seutuhnya" ucap justin dengan senyum mengambang dikedua sudut bibirnya.
"ia aku milikmu, just"
sedetik kemudia kurasakan bibir lembut justin mengecupku.
Ini ciuman pertama kali,
ia sangat memperlakukan bibirku dengan lembut.
Ia memeng pria yang terbaik yang perna aku jumpai.
Bahkan ia tak malu mencintai seorang wanita hina sepertiku.
Aku tak habis fikir just kenapa kau bisa melakukan ini.
Mungkin cukup lama kami dalam posisi ini.
Aku tak ingin mengakhirinya begitupun dengan justin, bahkan ia menarik tubuhku agar semakin dalam ciuman kami...
Williana dan justin tak menyadaro kehadiran malaikat kecil mereka.
Dalam benak blue ia tak tahu apa yang dilakukan mom dan dadnya.
Ia hanya menatap mereka berdua.
Sampai akhirnya justin melepas bibirnya dari bibir williana.
Mereka saling melemparkan senyum satu sama lain.
"mom " williana tersentak saat ia mendengar putri kecilnya memanggil. Segera williana berdiri dan mendekat kearah putrinya.
"hy sayang sejak kapan kau disini" williana sangat takut kalau putrinya melihat adegan antara dia dan justin.
Williana menegok kearah justin dan justin hanya menaikkan kedua bahunya.
"hem tak begitulama, mom dan dad tadi kenapa. Apa mom sakit"
"astaga benar blue melihatnya aku harus bagaiman" ucap williana dalam hatinya.
Kecemasan semakin tergambar diraut wajah cantik williana.
Ia berfikir bagaimana cara menjelaskan apa yang barusan dilihat oleh blue.
Justin menyadari kegelisahan williana,
ia segera berdiri dan memeluk tubuh blue dan mengendongnya.
"tadi dad menolong mom meniup mulutnya karna ada seranggah didalam mulut mom.
Ayo tanya mommu apa seranggah itu sudah keluar atau tidak!"
belu langsung menatap momnya kawatir
"mom apa selanggahnya sudah kelual.?"
"sdah sayang, ini semua karna dadmu" williana menyunggingkan senyum canggung pada anaknya.
"syukul selanggahnya sudah pelgi.
Dasar selanggah nakal."
"ia sanyang" williana mengelus-elus punggung belakang blue.
Dan sesekali ia juga mengelus-elus telapak tangan justin.
Dan hal itu membuat justin tersenyum.
Ia bahkan menarik tangan williana lalu menciumnya.
"dad aku mau nonton"
"baiklah putri cantik dad.
Masih kita nonton" justin melangkahkan kakinya kearah ruang keluarga.
Saat ayik-asyik nonton williana datang dan menaruh senampan makanan kecil dan minuman kaleng.
Justin mencegat saat blue akan meminum minuman kaleng itu.
"jangan sayang itu tak baik"
justin menatap williana.
"ada apa kenapa kau menatapku seperti itu just? Apa ada yang salah.
Ayolah jangan menatapku seperti itu, ....!
Attente (part 12)
"kau kenapa just, aku sudah bilang jangan menatpku seperti itu"
"kau ini,apa kau selalu memberikan blue minuman kaleng bersoda.?"
"ia, dia suka" jawabku enteng dan kembali melihat acara yang ditayangkan stasiun tv
"ill kau ini." justin berkasak pinggang didepanku.
"awas just kau menghalangiku." aku menarik-narik lengan justin.
Tapi ia tak juga mau menyingkir.
"sebenarnya kenapa?" aku mengalah dan menatap justin.
Ia kemudia duduk diseblahku
"itu tak baik untuk kesehatan blue ill.
Akibatnya bisa fatal,
dan yang terburuk bisa membuat anak kecil kehilangan nyawa mereka.
Apa kau mau blue mengalami itu?"
aku tersentak keget saat justin mengucapkan hal tadi.
"aku tak perna tahu hal itu,
aku kira tak apa kalau dia hanya minum satu atau dua kaleng sehari"
aku menatap justin dengan wajah yang tak bisa diartikan.
"tak apa itu sudah terjadi. Tapi ingat jangan ulangi hal itu sayang.
Kau tak maukan blue meninggalkan kita secepat itu?"
"aku tak mau,
aku janji tak akan mengulanginya.
Kau mau bantu aku membantu aku menjaga dan merawat blue bersamaku just."
"ia aku mau sayang." justin mendekatkan wajahnya kewajahku aku tahu ia
inginkan itu tapi blue masih disini dengan cepat kutahan dada justin.
Lalu mendekatkan kepalaku ketelingah justin.
"kau tutup mata blue dulu sayang".
Justin segera melakukan apa yang kukatakan.
"dad, apa yang dad lakukan.
Aku tak bisa melihat"
"tunggu sayang hanya sebentar"
justin langsung menrengkuh wajahku dengan satu tanganya.
Sedetik kemudia kurasakan bibir justin melumat bibirku.
Kulepaskan tautan bibir kami
"sudah cukup, kasihan blue" justin segera melepas tanganya dari mata blue
"dad kenapa. Emang dad sedang apa sampai halus menutup mataku."
" tidak sayang, hanya sedikit urusan orang dewasa dan anak kecil tak boleh tahu."
"baiklah blue tau."
justin tersenyum saat mendengar ucapan blue yang sangat terdengar dewasa.
"baiklah dad bosan bagaimana kalau kita jalan-jalan kemall,
ada yang mau?"
blue terlihat sangat bersemangat.
"tak usah kita santai-santai dirumah saja.blue lebih baik kau keatas dan buat prmu,
kau punya prkan."
"tapi mom "
"ayo naik" ucapku lalu menganti canel tv.
"ill kau ini.
Itu tak baik. Ayo kau ganti baju mu sayang"
blue segera berlari kekamarnya.
Aku menetap justin.
"ayolah ill kau ini diakan sangat ingin kesana,
kau juga sana ganti pakaianmu" justin menarik tanganku tapi dengan kuat aku menahan berat tubuhku agar justin susuh.
Tak kusangka justin mengendongku,
caranya bukan seperti ia mengendong seorang wanita tapi ia mengendongku dengan cara kepalaku sibelakang dan kakiku didepan.
"just.just turunka aku, apa yang kau lakukan ini tak lucu"
justin tak mendengar ucapanku, dia terus membawaku kedalam kamar dan membaringkan badanku dikasur.
"kau mau ganti baju sendiri atau aku yang mengantikannya untukmu."
aku segera bangkit dan membenarkan posisiku.
"tidak jangan, aku yang akan melakukannya sendiri, sebaiknya kau keluar
dan melihat blue apa dia sudah selesai" aku segera mendorong tubuh
justin keluar dari kamarku.
"apa kau yakin tak mau aku bantu."
"tak usah just, aku bukan blue "
"baiklah," justin mengecup sebentar bibirku lalu ia menutup pintu kamarku.
15 menit kemuadia aku keluar dan melihat justin dan blue sudah berdiri didepan pintu rumah,
"ayo, kau ini lama sekali sayang"
"maaf tadi aku juga mandi"
"baiklah tak apa,
oh iya kau terlihat cantik dengan dress itu"
mukaku memerah mendengar ucapan justin, baru kali ini aku malu karna pujian seorang pria.
***
tiga puluh menit kemudian kami sampai dipusat perbelanjaan terkenal.
"dad kita makan dulu yah aku lapal"
"ia, kau will"
"ia just aku juga lapar
"bailah, ayo kita cari tempat makan" justin mengenggap tangan blue dan memeluk pinggangku.
Inilah yang kuharapkan ada seorang pria yang menemaniku seperti ini,
aku merasa sekarang hidupku lengkap.
Ada seorang pria yang menemaniku dan blue bahkan ia mencintaiku dan
menyanyangi blue tanpa melihat kenapa blue bisa hadir didunia ini.
"kau mau pesan apa sayang"
"hem samakan saja dengan pesana kalian"
"baiklah, aku pesan tiga spegeti dan jus melon"
"baik tuan"
kuedarkan pandangan mataku melihat seisi cafe ini.
Mataku membulat dan seakan aku tak bisa bernafas.
Apa yang kulihat ini nyata, aku tak perna berharap melihatnya lagi.
Tuhan aku harap pandangan mataku ini taknyata.
Tapi semuanya sirna saat orang itu mendekat kearahku.
"hy will" ucapnya, segera kutarik tangan blue dan menaruhnya dipangkuan justin.
aku tak menjawab pertanya orang ini, dan berharap ia segera pergi.
"apa kau masih membenciku, ayolah ini sudah berlalu, dan apa dia anakku" seketika aku berdiri dan menatapnya tajam
"dia bukan anakmu dia anakku dan justin,
aku dulu keguguran saat mengandung ankmu.
Dan kenalkan dia suamiku dan putri dari anakku.
Dia bukan ankmu ingat anakmu sudah mati, "
"aku tak percaya will, walaupun kau menutupi hal itu aku yakin kau berbohong"
"apa maksudmu, aku tak berboho", ucapanku terpotong karna..."
Attente (part 13)
"apa
aku tak bohong.." perkataanku terhenti karna justin menahan tanganku
dan langsung mengendong blue dengan satu tanganya dan satu tangan yang
lainya memeluk pinggangku.
"hy perkenalkan namaku justin drew bieber, dan kau harus tahu aku adalah
suami dari williana dan ayah kandung dari anak williana.
Dan kau siapa ?" tunjuk justin pada cody.
Kulihat cody menyunggingkan senyum liciknya yang perna kulihat saat aku
mendatanginya untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatanya yang
membuatku harus menanggung malu dan juga mendapatkan malikat kecil yang
mampu membuatku bangkit dan membuktikan padanya bahwa aku bisa bangkit
tanpa bantuan darinya ataupun belas kasih dari keluarganya yang sangat
melecehkanku.
"sudahlah will kau tak bisa menipuku, kau tak tahu aku selalu mengikuti
perkembanganmu dan juga anak itu" cody menjuk blue yang masih dalam
gendongan justin.
Sekarang aku benar-benar takut. Seluruh tubuhku bergetar dan keringat mulei membasahi tanganku yang digenggam oleh justin.
Mungkin justin menyadari apa yang kurasakan dengan cepat ia mengeluarkan beberap lembar uang dan menaruhnya diatas meja.
Lalu ia menarikku menjauh dari cody. Yang masih tersenyum.
Justin mendudukanku dikursi belakang mobilnya, sebelumnya ia sudah menaruh blue dikursi samping pengemudi.
"tenanglah sayang , kau akan baik-baik saja.aku disinia kenapa kau begitu ketakutan saat pria itu mendekatimu"
"just..just..just aku takut. Aku takut ia datang untung merampas blue dariku.
aku takut just, aku tak mau hal itu terjadi.
Ia bukan siapa-siapa blue. Dia hanya bajingan yang tak menginginka kehadirah blue didunia ini"
segera justin menarik williana kedalam dekapanya, ia mencoba menenangkan
williana yang masih diliputi rasa takut yang amat besar, yang ada
dikepala williana adalah kenapa cody bisa menemukanya.
Bagaimana caranya agar ia bisa menjauhkan blue dari cody yang setiap saat dapat membahayakan blue.
"tenang lah will. Aku akan melindungimu, tak kubiarkan dia menganggu
hidupmu dan hidup blue. Kau harus percaya janjiku ill" justin mencoba
menenangkan williana yang masih terguncang dan takut karna kehadiran
cody yang sangat tiba-tiba.
Sejam telah berlalu. Isakan dan getaran tubuh williana berkuran bahkan tak terasa oleh justin.
Juatin segera melepas pelukanya.
Dan dengan penuh kasih menyekah setiap butiran air mata yang membasahi wajah williana.
"bagaimana apa sekarang kau sudah tenang, apa kau mau kita langsung
pulang atau kau mau kita ketaman dulu untuk melepaskan beban
dipundakmu?"
"just bisahkan kau pindahkan blue kesini?" williana tidak menjawab pertanyaan justin.
Justin mengangguk kecil dan segera turun lalu ia membuka pintu depan mobilnya.
Dengan satu gerakan justin menidurkan tubuh munggil blue didekat williana.
Williana meraih kepala blue dan menaruhnya diatas pahanya dan ia sesekali membelai rambut malaikat kecilnya,
"bisakah kau membawaku pulang kerumahmu just?
Aku tak ingin kerumahku dulu, aku takut cody sudah mengetahui rumahku dan mendatangiku"
"baiklah sayang asal itu membuatmu tenang "
justin menjalankan mobil kerumahnya yang sudah ia tinggalkan selama dua hari.
Dengan cepat justin memerkirkan mobilnya.
Dan membuka pintu mobil untuk williana "tak usah biara aku yang
menggendongnya" justin meraih tubuh mungil blue dan membantu williana
turun.
Dengan cepat justin memberikan kunci rumah kewilliana.
Dan tanpa komando membuka pintu rumah justin.
"kau lurus kedepan pintu warna putih itu kamar utamanya." williana segera membuka kara tidur justin.
Saat ia masuk ia dapat melihat isi kamar justin dan kalian tahu williana
terkejut karna melihat kamar justin yang dipenuhi oleh tulisan nama
williana dan beberapa carikatur dirinya dan juga foto-foto saat ia
sedang bekerja atau bermain dengan blue.
Williana dikejutkan dengan sentuhan dibahunya,
"apa kau suka?"
"ia just, bagaimana kau bisa melakukan semua ini?"
"aku sudah yakin suatu saat penantianku padamu akan terwujud dan
sekarang kau sudah melihatnya, kau jusa harus tahu aku sudah menyiapakan
kamar untuk blue putri kita." justin mengecup puncak kepala williana.
Williana tersenyum dan dengan cepat mengecup bibir justin.
Justin terkejut dengan tingkah spontan dari williana.
Justin mencubit hidung mancung williana
"kau nakal"
"just terima kasih atas semuanya, kau benar-benar pria yang bisa membuatku memberika seluruh hatiku."
"aku juga sama ill. Kau wanita pertama yang membuatku gila dan hampir
mati karna memikirkanmu yang meninggalkanku tanpa satu katapun darimu."
williana segera menghambur kedalam dekapan hangat justin.
"tidurlah sayang ini sudah malam.
Kau butuh istirahat begitu banyak yang sudah kau lalui hari ini" justin
membawa tubuh williana ketempat tidur dan menidurkanya lalu membenarkan
posisi selimut williana.
"tidurlah, semoga kau mimpi ini.
Jangan lupa berdoa dan mimpikan aku juga yah" justin tersenyum dan mengecup berulang-ulang puncak kepala williana.
Justin menutup pintu kamarnya.....
Attente (part 14)
Justin
menyusuri setiap anak tangah. Ia msih terus berfir bagaimana caranya
agar blue tak bisa dirampas atau diambil paksa oleh pria yang bernama
cody itu.
Justin berdiri di tersa ruhamnya ia terus memikirkan jalan keluar dari
masalah yang sedang menimpah wanita yang sangat ia cintai.
"apa aku harus menikahi williana secepatnya dan mencamtumkan blue sabagai anak kandungku dalam akte kelahiranya.
Ia mungkin dengan cara seperti itu blue tak akan mendapat gangguan dari pria bangsat itu.
Justin menutup pintu rumahnya dan kembali mengecek keamana yang sedia kala ia pasang disetiap sudut rumahnya.
Ia tak ingin sesuatu yang ditakutkan williana terjadi pada blue.
"Ini bukti aku sangat menyanyangi putrimu ill, aku tak perna memendang bagaiman cara dan kehadiran blue didunia ini"
justin menbaringkan tubuhnya disofa depan tvnya.
Ia mencoba menutup kedua matanya dan membiarkan semua spekulasi-spekulasi dalam otak terbang dan melayang.
**
kurenggangkan kedua tanganku dan mengumpulkan nyawaku yang sempat menghilang entah kemana.
Kubuka pintu kamar justin dan kulangkahkan kedua kakiku kekamar yang dimaksud justin.
Kubuku pintu kamar yang tertulis nama blue didepan pintu yang berwarna putih tulang.
Terlihat ia mesih terlelap dan terbuai dalam mimpi indahnya.
Kembali kututup pintu kamar blue dengan sangat lembut agar tak menimbulkan suara yang mampu membangunkan blue.
Kulangkahkan kakiku keruangan tv.
Saat akan duduk, kudapati justin tertidur disofa depan tv.
Kupandangi setiap lekuk wajah justin.
Kau benar-benar pria yang sangat baik just bahkan hatimu begitu baik.
Aku tak menyangkah kau masih mau denganku saat kau sudah tahu betul siapa diriku dan bagaiman masalaluku,
kupasangkan selimut ditibuh justin ini masih telalu pagi untuk membangunka justin,
lebih baik aku menyiapkan mereka sarapan pagi.
Blue dan justinkan satu selera jadi aku tak repot harus memasak makan.
10 menit lebih aku berkutat dengan bumbu-bumbu masakan yang akan kebuat.
Ternyata lemari es justin sangat lengkap lebih lengkap dari punyaku.
Saat aku sedang asyik memasak, kurasakan sebuah tangan kekar melingkar
dipinggangku dan kecupan hangat mendarat ditengkuk leherku.
Aku tahu ini justin jadi aku membiarkannya, aku tak ingin mengakhirinya.
"sayang kau sedang masak apa?" justin bertanya disela-sela kegiatanya mencium tengkuk dan elusan tanganya diperutku.
"aku sedang membuat sarapan pagi untuk kita. Oh iya kenapa kau bisa bangun secepat ini?"
"aku mencium aroma masakan yang enak, jadi tidurku tergangu dan aku mendapatimu disini"
"oh, apa kau tadi kekamar blue?"
"ia. Tenanglah dia tak bangun bahkan masih terbuai dalam mimpinya"
justin masih memelukku dan mencium tengkuk leherku berulang ulah bahkan elusan tanganya semakin nakal.
Segera kutepis tangan justin.
"hy kau ini sangat nakal, sudah just aku mau konsen memasak nanti masakannya gorong."
"aku masing ingin sayang, baiklah aku tak ingin mengulanginya tapi biarkan aku memelukmu seperti ini"
"baiklah just"
aku tetap melanjutkan masakaku dengan justin masih memelukku.
"just tolong kau coba apa bumbunya sudah pas" aku menyuapi justin
"hem ia sudah"
"baiklah kalau begitu, bisakah kau membantuku sayang" kubalikan badanku
dan mengalungkan kedua tanganku dilher justin dan tersenyum aku tak tahu
artinya apa bahkan aku tak bisa mengartikannya.
"membantu apa sayang?" justin mengosok-gosokkan ujung hidungnya diujung hidungku.
"bisakah kau membantuku" kudekatkan mulutku ditelingah justin
"membantu apa sayang" bals justin
"membantuku merapikan meja makan. Agar terlihat lebih rapi sayang" segera kulepas tanganku dari leher justin...
Terlihat justin sedikit kesal karna tingkah williana yang mengerjainya.
Justin mengirah williana akan memintanya mencium tau mengendong tubuhnya kekamar.
Tapi semuanya diluar duganya.
Dengan mals justin melepas plukanya ditubuh williana.
Dan segera merapikan meja makan, ia menaruh tiga piring dan tiga gelas.
Bahkan ia mengisi setiap gelas dengan just jeruk.
Williana mendekat kearah justin yang masih menekuk wajahnya.
"just tolong ini juga" williana memberikan spageti yang tadia ia buat.
Dengan terpaksa justin menerimanya dan mengisi piring yang masih kosong:
setelah selesai justin segera menarik kusri untuknya.
Saat justin akan duduk blue datang dan langsung naik keatas panggkuan justin
"pagi dad, mom kemana?"
"pagi juga sayang putri cantik dad.
Mommu sedang mencuci tangan dikamar mandi, apa kau mau dad menyuapimu sayang?"
blue mengelengkan kepalanya
"tak usah dad aku bisa sedilih"
"baiklah kalau begitu sayang" justin mengangkat dan mendudukan blue disamping justin.
Tak lama williana datang.
"hy anak mom ternyata sudah bangun?"
"hy juga mom. Spageti mom sangat enak"
williana menarik kursi didepan justin
"bagaimana sayang apa kau menyukai masakanku kali ini?" tanya williana pada justin
"ia masih sangat enaka. Kalau begini aku akan betah makan masakanmu yang enak seperti ini"
"maksih just"......
Attente 15
Setelah
sarapan justin mengantar blue kesekolahnya.selama perjalanan blue tak
henti-hentinya menanyakan pada justin kapan ia dan ibunya akan menikah.
Justin bingung dengan pertanyaan blue, ia sempat berfikir kenapa anak seusia blue sudah mengerti dengan hal-hal seperti itu.
Justin hanya bisa bilangdalam waktu dekat.
"ayo sayang turun"
"baik dad" justin menurunkan blue dan mensejajarkan badanya,
"dengar dad kau harus belajar yang bai, jangan nakal." justin mengecup punyak kepala blue dan mengacak sebentar poni anak itu.
Setelah mengantar blue justin kembali kerumahnya.
Saat ia membuka pintu rumahnya,
justin mendapati williana tak sadarkan diri diujung tangah,
dengan berlari kecil justin mendekat kearah williana.
"will.will kau kenapa sayang, bangunlah" dengan hati-hati justin mengendong tubuh williana dan mmbaringkanya disofa depan tv.
10 menit kemudia.
Kurasakan kepalaku sangat sakit dan ruangan ini sedikit berputar.
Samar-samar kulihat justin.
"hy will,"
sapa justin, kepalaku masih sangat berat untuk mengangkatnya , aku hanya
menyunggingkan senyumku walaupun itu tidak bisa dibilang senyum
terbaikku.
"jangan bangun tetaplah seperti itu" ucap justin saat aku ingin membenarkan posisiku.
"aku kenapa sayang?"
"aku juga tak tahu sayang, aku menemukanmu pinsan diujung tangga"
"oh, aku tak bisa mengingat apa-apa"
"tak apa, ill sebenarnya aku ingin mengetakan sesuatu padamu!"
"apa itu? Katakanlah just"
"begini tadi saat aku mengantar blue, ia bertanya padaku kapan kita menikah. Itu katanya.
Aku juga sebentarnya memikirkan ini sejak pertemuan kita dengan pria
yang bernama cody itu. Maukah kau menikah denganku ill" astaga apa yang
barusan kudengar justin melamarku, tuhan jangan bangunkan aku seandainya
ini hanya mimpi. Biarkan aku menikmatinya.
"ill apa kau mau menikah denganku dan menghabiskan waktumu denganku."
"just, apa aku mimpi" justin tidak menjawab pertanyaanku ia hanya
mendekatkan mukanya dan sedetik kemudian kurasakan bibirku dilumat oleh
justin.
Kurasa ini nyata ini bukan mimpi.
Kurasakan lumatan-lumatan lembut dari bibir justin, ia sangat lembut memperlakukan bibirku.
Aku tak tahu sudah berapa lama kami dalam adegan ini yang jelas aku tak ingin mengekhirinya.
Sesaat kemudian justin melepas bibirnya dari bibirku, kalian tahu posisi kami sekarang aku diatas justin dan dia memelukku.
"bagaiman apa kau mau sayang?"
"tapi just, apa kau sudah memikirkannya dengan baki-baik?"
"ia aku sudah memikirkannya bahkan aku sudah menyiapkan tempat dimana kita akan melangsungkan pernikahan kita"
"ia aku menerimamu just.
Aku sangat-sangat menerimamu"
sedetik kemudian justin menarikku kedalam dekapan hangatnya.
"ill aku mau tanya, blue bergolongan darah apa?"
"dia sama denganku a, emang ada apa just?"
"baiklah. Semalam aku menelpon temanku. Aku bertanya padanya mengenai hal ini.
Ia mengatakan aku bisah menjadi ayah sahnya blue asalkan blue bergolongan darah sama dengan momnya.
Dan untungnya golongan darah kalian sama jadi sekarang kau tak perlu memusingkan dengan gangguan-gangguan cody.
Kau harus tahu aku disini, aku akan menjagamu dan melindungimu dari
semua yang bisa mengancam keselamatanmu dan blue anak kita" aku hanya
bisa menyunggikan senyum pada justin. Kalian tahu aku tak bisa
mengucapkan sepatakatapun bibirku seakan kaku.
Tapi yang harus kalian tahu aku sangat bahagia, bayangkan saja pria yang
selama ini sangat kucintai akhirnya mengatakan kata yang sangat ingin
kudengar.
Ia memintaku menjadi bagian dari hidupnya.
"baiklah ill aku rasa kita harus berangkat kerja"
"aku masih pusing just, kau saja yang pergi. Nanti aku mengabari skertarisku mengenai hal ini"
"baikla kalau begitu, kau hati-hati dirumah. Kalau terjadi sesuatu
telponaku. Oh iya aku yang akan menjemput blue." ucap justin sebelum ia
benar-benar pergi.
Kututup pintu rumah justin dan segera kulangkahkan kakiku kekar yang nantinya menjadi kamarku dan justin.
Kulihat setiap sudut kamar ini,
mungkin hanya sedikit yang harus aku ruba.
Kurasakan getaran ponselku tapi aku lupa menaruhnya dimana.
Akhirnya.
Dengan cepat aku menngangkatnya.
"hallo " cukup lama tak ada jawaban dari sebrang.
"hallo" kuulangin ucapanku. Tapi kembali orang ini tak menjawabnya.
"hallo, kalau kau mau bercanda.
Aku akan mematikan panggilan ada.
Karna anda menganggu kerjaanku."
saat aku akan mematikan panggilan dari orang aneh ini.
"tunggu, kau ini kenapa begitu saja sudah marah sayang" siapa orang ini
kenapa dia begitu lancang memenggilku dengan sebutan itu.
"maaf mungkin anda salah sambung,
aku tak mengenal anda dan anda juga tak mengenalku"
"ayolah will masa kau tak mengenalku, "
"baiklah mungkin kau mengenalku tapi aku tak mengenalmu. Maaf aku masih
banyak urusan dan kurasa ini hanya membuang-buang waktuku" segera
kumatikan panggilan dari orang aneh ini.
Kududukan badanku dikasur,
siapa orang ini kenapa dia bisa tau namaku dan no ponselku.
Aku tak yakin dengan nama yang muncul dibenakku.
Apa mungkin?..
Attente (part 16)
Setelah kejadian dua minggu yang lalu, aku terus mendapat teror-teror dari penelpon misterius itu.
Dan aku juga tak perna lagi kembali kerumahku masih ada rasa takut dan gelisah,
karna cody sudah tahu alamat rumahku dan aku juga memberhentikan blue skolah disekolah normal.
Aku memilih mendatangkan guru pribadi kerumah justin untuk mengajar blue.
Tentang pernikahan kamu,
semuanya sudah beres tinggal menunggu gau pengantinya selesai.
Kami akan melangsungkan janji suci kami dikampung halaman kami, yap betul kanada.
Kalian tahu mom pattie tak henti-hentinya menlpon kapan kami akan kesana.
Dan ia juga sangat menyanyangi blue.
Ia tak perna tahu kalau blue bukan anak justin.
Ia mengirah blue adalah hasil cinta aku dan justin,
sebenarnya aku mau menceritakan semuanya dengan jujur tapi justin
melarangku dan membiarkan semuanya seperti apa yang diketahui momnya.
Hal ini semakin menyakinkanku bahwa justin 8enar-benar mencintai blue
bukan karna ia mencintaiku, tapi karna ia menyanyangi putriku.
Bahkan blue tak perna lagi bertanya siapa ayahnya semenjak justin datang dan mengatakan padanya bahwa dialah ayah kandungnya.
Hari ini hari terakhir kami disini,
besok adalah hari yang sangat-sangat aku tunggu.
Aku sampai gugup bila mengingat besok adalah hari dimana aku sah menjadi seorang istri dari pria yang sangat-sangat aku cintai.
Kulangkahkan kakiku keruang kerja justin,
semenjak justin melmarku aku memberikan semua kuasa atas perusahanku padanya.
Jadi sekarang aku hanya memantaunya dari rumah saja.
Kulirik jam sudah menunjukan pukul 4 sore tapi blue juga belum pulang.
Aku menelpon justin.
"hallo sayang apa kau menjemput blue ditaman bermain?"
"tidak, kenapa apa blue belum pulang?"
"ia, dia belum pulang,baiklah aku yang akan menjemputnya. Kau tenang
saja, cepat pulang yah aku akan membuatkanmu makanan yang enak."
"baiklah aku akan pulang cepat. Dan sayang." ucap justin sebelum aku mengakhiri panggilanku.
Dengan cepat kusambar cardinganku dan melangkahkan kakiku ketaman komplek.
Kulihat disana masih banyak anak-anak bermain.
Tapi aku tak bisa melihat dimana blue.
Dengan cepat kulangkahkan kakiku.
Kucari dari ujung keujung, aku tak bisa menemukan blue.
Sayang kau kemana, mom takut.
Air mataku jatuh membasahi pipiku.
Ini pertama kalinya blue pergi sebelum ada yang mengambilnya.
Dengan tangan gemetar kutindis nomor justin.
"hallo.hallo justin aku mohon hik.hik. Cepat ketaman kompleh blue
menghilang. Aku takut. Aku taku sayang" seakan tulangku tak bisa
menopang berat badanku dan sedetik kemudian aku jatuh tersungkur diatas
reremputan.
15 menit kemudia justin sudah datang.
"sayang kau kenapa, apa kau sudah menemukan blue" dengan cepat kupeluk
tubuh justin dan kubenamkan kepalaku didada bidang justin.
"tenang sayang mungkin blue sedang bermain kerumah temanya"
"aku tak yakin just blue tak perna seperti ini sebelumnya,
aku takut cody menambilnya dan membawanya pergi." tangisku kembali pecah didada bidang justin.
"tenang sayang, cody tak tahu dimana rumahku dan dia tak mungkin membawa blue pergi,
kau tahukan blue anak yang pintar ia tak akan pergi dengan orang yang tidak ia kenal"
aku terus menangis didada bidang justin, aku takut yang ada difikiranku benar.
Cody membawa blue dan aku tak bisa melihatnya lagi.
Blue dimana kau sayang mom mengawatirkanmu.
Setelah cukup lama aku dan justin dalam posisi ini,
seorang anak datang mendekat kearahku.
"maaf tante mencari blue yah?" ucap anak itu.
Dengan cepat aku menbenarkan posisiku.
"ia sayang tante mencari blue, kau tahu blue diman?" aku memengang bahu anak itu.
"ia tante, tadi blue dijemput oleh seorang pria dan ia membawa blue
kukadai es cream yang disebrang jalan sana" ia menunjuk kedai yang biasa
aku tempati untuk membelikan blue es cream.
"terima kasih sayang"
dengancepat aku berdiri dan berlari kekedai yang dimaksud anak itu.
Kubuka pintu kedai cukup keras.
Kuedarkan pandanganku dan akhirnya aku menemukan blue, tuhan aku mohon yang kulihat tidak nyatakan.
Dengan berlari kecil kuambil blue dan mengendongnya.
"sudah kubilang padamu jangan menganggu aku dan ankku, dia bukan anakmu dia anak justin,
klau kau tidak percaya kau bisa cari tahu semua ini.
Jangan perna dekati anakku lagi.
Pria jalang." aku mengeluarka nbeberapan lembar uang dan menaruhnya diatas meja .
Kubalikan kepalu dan terlihat peria itu sangat kesal.
Kau fikir aku tak bisa kasar denganmu.
Kau salah besar aku bisa melakukan apa saja kalau kau menbahayakan anakku.
Segera kuhampiri justin.
"just ayo kita pergi"
mungkin justin tahu dan ia tak banyak bertanya.
Kududukan blue diatas pangkuanku.
"sayang mom tak mau kau pergi dengan orang yang kau kenal,
kau mengerti"
"tapi mom dia bilang dia,
dia teman mom."
"kau dengar mom dia bukan temanmom,
dan jangan pergi dengan orang-orang yang tidak kau kenal, kau mengerti"
"ia mom aku mengerti" justin hanya melihatku heran.
Aku hanya menyunggingkan senyum padanya dan ia membalsnya dengan senyum tipis.
Attente (part 17)
Justin memarkirkan mobilnya dan segera turun, ia mengambil blue dari pangkuanku.
"just maaf aku selalu merepotkanmu dengan hal-hal yang sebenranya bisa
kutangani sendiri" justin membalikan badanya dan menatapku.
"tak apa, kenapa kau harus merasa seperti ini,
aku mencintaimu dan juga menyanyangi blue,"
"aku tahu tapi aku terlalu merepotkanmu" ucapku terpoton karna dengan cepat justin mengecupku.
Setelah itu ia melanjutkan lengkah kakinya,
tak lama ia membalikan badanya.
"tak usah merasa bersalah seperti itu, itu sudah kewajibanku sebagain
calon suami dan ayah dari seorang anak" justin menerunkan blue dan
membaringkanya dikasurnya.
Justin menarik tanganku.
"maaf sayang aku tak bisa menapati janjiku akan membuatkanmu makanan,"
"tak apa, kau duduk saja biar aku yang memasak, kau mau makan apa sayang?"
"aku mau kentang panggang saos keju."
"baiklah, kau tunggu saja dulu.
Itu gampang"
aku tau ditak tahu masak,
kau terlalu percaya diri just.
Aku memperhatikanya dengan seksama.
Terlihat dari wajahnya ia bingung cara mengunakan oven itu.
Justin menyerah dan mendekat kearahku.
"kenapa?" dengan senyum mengambang dikedua ujung bibirku.
"kau mengejekkukan karna tak bisa mengunakan oven itu" ia menenjuk oven"
"tidak, mukamu lucu jadi aku tertawa, apa tak boleh?"
"ia. Ia .ia. Boleh,"
"jadi sekarang kita makan apa?"
"kita pesana saja.
Apa kau mau masak?"
"lebih baik aku yang masak, dari pada pesan itu membuang-buang uang saja" ktaku serasa bangkit dari duduku.
Dan melanjutkan apa yang tadi sudah dikerjakan justin.
Justin memelukku dan mengecup pipiku berulang-ulang.
Aku hanya tersenyum.
"kenapa kalau melihatmu masak, terlihat sangat muda?"
"makanya belajar, biar kau tahu"
"aku tak ingin belajar, aku hanya ingin melihat mu masak,
kau terlihat lebih cantik saat masak"
kubalikan badanku lalu menatapnya tajam.
"kau ini, jadi aku hanya cantik saat memasak,
kau bohong sekalai mana ada orang cantik saat masak."
justin mencubit hidungku.
"ada buktinya yang berdiri didepanku ini terlihat lebih canti dari wanit-wanita lain."
kucubit pinggul justin.
"kau ini ada-ada saja just" ting, bunyi oven menandakan kentangnya sudah masak.
Kubalikan badanku dan melepas pelukan justin.
Kuhidangkan masakan yang sudah kubuat.
"coba, apa enak atau tidak?"
justin mengambil garpu dan mencoba masakanku.
"enak, apa aku sudah bisa makan sekarang sayang"
"makanlah, aku ingin melihat blue dulu. Apa dia sudah bangun atau masih tidur"
kulangkahkan kakiku kekamar blue,
buka pelan pintu kamar blue. Kulihat ia masih terlelap, kudekati tubuh mungil anakku.
Kuusap wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman dikeningnya.
Maafkan mom sayang karna sudah membentakmu tadi,
sebenarnya mom tak mau melakukan itu hanya saja mom sudah kalut dan melakukan hal tadi.
Mom sangat takut kehilanganmu, kau tahu sayang kau kekuatan mom dan juga hidup mom.
Klu kau sampai kenapa-kenapa mungkin mom bisa mati karna hal itu.
Jadi mom harap hal ini tak terjadilagi,
mom hanya mau kau tahu justinlah ayahmu, kau tak pantas memiliki seorang
ayah bajingan seperti pri itu. Dia terlalu kotor untuk kau sebut
sebagai dad mu.
Kembali kukecup bibir blue lalu membenarkan posisi selimut yang sedikit tersingkap.
Kututup pelna pintu kamar blue agar tak menimbulkan bunyi yang bisa menggangku tidur nyanyak putriku.
Kuturuni setiap anak tangah, kulirih kearah dapur. Justin sudah tidak ada kembali kulangkahkan kakiku keruang keluar.
Kulihat justin tengah sibuk menonton acara tv kesukaannya.
Kuposisikan bdanku diseblah juatin dan menaruh kepalaku dilengan kekarnya.
Sesekali kuelus telapak tangan justin.
Aku tak bisa melihat wajah justin karna posisiku tak memungkinkan hal itu.
"wiil" justin memotong keheningan yang tercipta diatara kami.
"yah"
"aku mau kau jangan melakukan hal itu lagi pada blue, dia blum tahu apa yang terjadi,
aku tak ingin ia menyangkah kau menyakitinya karna berteman dengan sembarang orang.
Kau tahu ia sangat menyanyangimu"
"aku tahu aku salah just, tapi aku terlalu takut just.
Aku takut cody merebut blue dariku,
kau tak tahu bagaiman sifat cody, ia menghalakkan segala cara agar keinginannya dapat terwujud dan sesuai kehendaknya."
"tapi tidak dengan cara seperti tadi, jangan kau limpahkan keblu dia masih terlalu kecil sayang" justin mengusap kedua pipiku.
"ia aku tahu, aku salah.
Aku terlalu terbawa emosi"
"terima kasih karna sudah menyadari semuanya.
Aku mohon jangan lakukan itu lagi, sebagaimanpun kau marah padanya. Apa kau mau berjanji sayang?"
"ia aku berjaji just"
kembali justin menarikku kedalam pelukanya,
benar yang dikatakan justin aku terlalau kasar pada blue hari ini.
Ia tak punya salah kenapa aku bisa meluapkan kekesalanku pada anak itu.
Maafkan mom sayang, moafkan mom sayang.
Kupererat pelukanku pada tubuh justin, kuhirup setia aroma tubuhnya yang dapat memmbuantku tersenyum dan tenang.
Kami masih dalam posisi ini,
aku tak ingin melepasnya dan kubiarkan justin yang melepasnya sendiri.
Attente (part 18)
Semenjak
aku sampai dikanada mom pattie tak henti-hentinya tersenyum karna sudah
bisa memiliki seorang cucu perempuan yang sangat cantik.
Bahkan aku sempat mendapat cubitan dari mom pattie karna mengitu lama menyembunyikan kehadiran blue darinya.
Bahkan mom pattie juga menangis.
Aku yang melihatnya tak tega karna semua yang diketahui mom pattie bukanlah kenyataan.
Aku sempat ingin memberitahukan hal ini padanya, tapi justin selalu melarangku.
Dan ia ingin semuanya seperti apa yang terjadi.
Pagi ini semuanya sudah siap mulai dari dekorasi tempat perjanjian suci kami, gaun pengantin juga sudah tergantung dilemari.
Aku bahkan tak menyangkah gaun buatan mom pattie sangat luar biasa,
tak begitu mewah tapi cukup anggun untuk digunakan.
Dan sangat cocok dengan selerahku yang tak begitu menyukai hal-hal yang berlebihan.
Pandangan mataku menerawang keluar jendela,
aku sangat bahagia melihat blue tak henti-hentinya tertawa dalam gendongan ayah justin.
Memang justin dan ayahnya sudah berpisah dari justin masih bayi,
tapi hubungan mereka tetap terjalin dengan baik.
Sebenarnya terbersik perasaan apa blue bisa seperti itu dengan ayah kandungnya,
tapi aku mengingat kembali bagaiman ia membuangku kejalan depan rumahnya yang mewah.
Pada saat itu aku sangat merasa diriku leih hina dari seekor binatang.
Aku bagaikan pakaian yang sudah ia kenakan dan seenaknya membuangnya ketempat sampah.
Setiap mengingat hal itu hatiku terasa terbakar amarah dan dendam pada pria berengsek itu,
air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya membasahi kedua pipiku.
Kututup jendela kamar, lalu membalikan badanku.
Astaga aku hampir pinsan karna justin berdiri didepanku.
"astaga sayang kau hampir membunuhku, apa yang kau lakukan berdiri disitu?"
"kau saja yang begitu serius .
Sampai-sampai kehadiranku tak kau sadari, lihat kenapa kau menangis.
Apa ada yang merisaukan hatimu?"
"tidak, aku hanya senang melihat blue bisa akrab dan bahagis mersama kedua orang tuamu."
"hanya itu apa kau tak senang karna sebentar lagi kita akan menjadi
suami-istri" justin menatapku dengan tatapan mengoda dan menarikku dalam
pelukanya.
Dengan cepat kutahan dadanya saat ia ingin menciumku.
"kau ini malukan begitu banyak orang yang berlalu-lalang nanti mereka melihat kita" aku menunjuk orang-orang yang lewat
justin mengikuti tunjukan tanganku.
"sudahlah kau tak usah malu, sebentar lagi kitakan sah,
ayolah will aku merindukan mu sayang" justin memajukan wajahnya tapi dengan cepat kutan wajahnya.
"nantiyah, aku akan meberikanmu bahkan yang lebih.
Tapi nanti ok sayang" ucapku mengecup pipi justin dan meninggalkanya.
Kurasa justin mengikutiku.
Tapi kupercepat langkahku aku tak peduli ia berteriak memanggil namaku.
Aku yakin saat aku berhenti ia akan menanyakan maksudku tadi.
Aku masih malu mengungkapkanya.
Walaupun aku perna melakukannya sekalai tapi itu sudah lama sekali.
Kuhentikan langkahku saat tiba digasebo taman belakang justin.
Blue turun dari pangkuan dad justin.
Segera kurentangkan kedua tanganku.
"hap, anak mom sekrang sudah semakin berat yah.
Mom rasa hanya dadmu saja yang bisa mengendongmu lama"
"akh, mom payah masa mom kalah dari granma,
granma saja bisa mengendongku bahkan semalam aku tertidur dalam
gendongan grandma" ucap blue dengan selingan menatap mom pattie.
"apa itu benar sayang?
Klu itu benar jangan ulangi lagi.
Kau tak boleh seperti itu, kau sudah besar dan jangan repotkan granma.
Ok anak mom"
"ia mom blue tak akan mengulanginya." kulihat mom pattie hanya tertawa saat aku akan menurunkan blue,
tiba-tiba tanganku ditarik.
Alhasil badanku terhuyung kepelakang.
"just kau itu.
Kau hampir membuat williana terjatun.
Apa kau tak bisa lebih lembut pada calon istrimu?" ucap dada justin.
"maaf dad,
ada urusan yang harus kuselesaikan dengan iil.
Aku pergi dulu yah." setelah itu justin menarik tanganku alhasil aku mengikuti langkah justin dari belakang.
"just, kau mau membawaku kemansih.
Kau ini aku masih ingin gobrol dengan blue dan orang tuanmu."
"tidak aku masih ingin tahu maksudmu tadi" astaga bagaiman ini apa yang harus aku katakan padanya,
aku belum siapa menjelaskan padanya.
Tuhan kumohon ada keajaiban untukku kali ini.
Justin merapatkan tubuhku ketembok dan ia menaruh satu tanganya ditembok.
Jarak antara kami begitu dekat bahkan hembusan nafasnya bisa kurasakan begitupun justin bisa merasakan hembusan nafasku.
"ayo jelaskan apa maksud dari ucapanmu tadi, aku tak mengerti kenapa kau bisa berucap seperti itu.
Cepat jelaskan padaku" justin semakin mendekatkan wajahnya dan wajah kami semakin tak ada jarah.
Kucoba mendorong wajahnya tapi ia menahan tanganku.
Kalian pasti tahu kekuatanya lebih besar dariku.
Jadi aku mengalah dan menatapnya.
"baiklah aku akan menjelaskannya tapi kau harus berjanji jangan memikirkannya dan membahasnya didepanku.
Aku malu."
"baiklah, aku janji sayang"
"maksudku aku akan memberikanmu lebih dari sekedar ciuman tapi setelah kita menikah,
kau bisa memilikiku"
Attente (part 19)
"memilikimu, maksudmu apa? Aku tak mengerti"
"sudahlah just pasti kau tahu,
tak usah seperti itu. Atau kau mau aku tak melakukan itu denganmu."
kumajukan wajahku dan menatapnya dengan tatapan yang sangat serius.
Justin memundurkan wajahnya lalu melipat kedua tanganya dibawa dadanya.
"ia.ia aku mengerti,
kau ini aku hanya bercanda.
Kenapa kau mudah sekali marah"
kudekati justin dan memberikan
"makanya jangan main-main denganku, kau tahukan aku tak suka" kutiup
telinganya dan membiarkan merasakan sensa gli yang diakibatkan deru
nafasku yang meniup daun telingahnya.
Justin mendekapku lalu mengelus puncak kepalku.
Dan sesekali mendaratkan kecupan-kecupan disana.
"ill, kau tahu aku tak perna memimpikan bahwa aku akan memilikimu seutuhnya,
kau tahu saat pertama bertemu denganmu aku sudah berikra bahwa kau lah
yang bisa membuatku jatuh cinta dan mengembil seluruh hatiku.
Sekarang tak kuabiarkan kau pergi dan meninggalkanku untuk kedua kalinya.
Aku bisa mati kalau kau meninggalkanku lagi.
Kau harus tahu kau dan blue adalah hidupku dan tempatku untuk kembali
saat aku lelah dan membutuhkan sebuah penguat yang dihasilkan dari cinta
kalian."
kubalas dekapan hangat justin dan mengecup bahunya berulang-ulang.
"aku tak akan meninggalkanmu,
kau bisa menmenggang janjiku.
Kau tahu jugakan aku begitu mencintaimu mana mungkin aku akan meningggalkanmu.
Kau hidupku dan juga sebagian dari hatiku.
Kau tahu itukan"
justin menganggukan kepalnya.
Kuleps dekapan justin dan menatap matanya,
"ayo kita masuk orang tuamu dan blue sudah menunggu kita,
aku tak ingin mereka berfikir kita sedang bertengkar"
"baiklah" justin memeluk pinggulku dan aku hanya mengalungkan tanganku dilengan kekar justin dan sesekali mengelus lenganya,
hal itu membuat justin tersenyum dan beberapakali mendaratkan kecupan hangat dipuncak kepalaku.
Saat sampai dihalaman belakang.
Kulihat mom pattie dan dad justin tengah menyuapi blue.
Aku duduk didepan mom pattie dan menyinggungkan senyum padanya.
"hy sayang sekarang kita harus istirahat, mom yakin kau pasti lelah"
"ia mom, dah grandma dan grandpa.
Nanti kita main lagi yah. Dah aku sayang kalian" kugendong blue dan meninggalkan justin dan kedua orang tuanya.
Kutidurkan blue dikamar tamu,
"ayo tutup matamu sayang"
"mom aku mau tanya sesuatu?"
kubalikan badanku dan kembali menatap putri kecilku.
"apa sayang,"
"mom masih ingat waktu aku pergi bersama teman mo" kenapa blue masih mengingat hari itu,
ataukah cody mengucapkan sesuatu kata yang membuat blue selalu mengingat hari itu.
"ia mom ingat. Kenapa?"
"waktu itu paman itu bilang padaku,
kalu dad bukan dad blue tapi dia yang dad blue.
Sebenarnya blue binggung mom.
Apa yang dikatakan paman itu benar atau tidak"blue membenarkan posisinya menjadi duduk.
Kugenggam kedua tangan putriku.
"kau harus dengar mom.
Dad adalah ayahmu, ayah kandungmu.
Dan paman itu hanyalah penipu dan hanya ingin menipumu,
kau tahu paman itu membenci mom dan kau tahukan maksud mom sayang. Kuelus pipinya.
"iya mom aku mengerti. Baiklah mom blue lelah.
Bisakah mom menemaniku aku merindukan mom"
"apapun sayang mom pasti lakukan asal itu bisa membuatmu senang" segera
kubaringkan badanku diseblah blue dan mendekapnya hangat,
kubiarkan blue memelukku walaupun hal itu membuatku sesak nafas.
Kuelus-elus rambut blue, hal itu sangat disukai oleh blue karna ia akan cepat terlelap.
Mungkin karna lelah dan terbawa suasan kamar yang sangat nyaman williana ikut terbawa kedalam mimpinya.
Decitan pintu kamar terbuka.
Justin masuk dan melihat kedua orang yang sangat ia cintai tengah terlelap dan terbuai dengan mimpi-mimpi mereka masing-masing.
Justin mengecup puncak kepala blue dan puncak kepala williana.
"mimpi yang indah."
kembali justin menutup pintu kamar dengan hati-hati agar keduanya tak terbangun,
justin melangkahkan kakinya menjau dari kara itu.
Ia sudah memperingatkan pekerja-pekerja dirumahnya jangan ada yang ribut didepan kamar yang ditempati blue dan williana.
Justin duduk disampim momnya.
"mom, apa mom senang dengan pernikahanku?" tanya justin pada ibunya.
"ia sayang mom sangat senang dan juga inikah yang kau inginka sejak dulu.
Dan kau tahu mom sangat beruntung diusia yang tak sebentar lagi mom sudah bisa mengendong cucu mom yang sangat canti,
ia sangat persisi dengan ibunya.
Mom merasa mereka seperti kembar tak ada satupun dari wajahnya yang ikut denganmu." ibu justin menatap justin.
Dengan cepat justin menjawab agar ibunya tak curiga.
"ia memang kami tak mirip tapi mom harus tahu sifat dan selerah blue 100
% mirip denganku, momya saja sampai heran kenapa blue bisa semirip itu
denganku"
"untunglah sayang,
mom kira blue sama sekali tak memiliki sifat atau kemiripan denganmu." mom justin mencium puncak kepala anaknya.
Justin tersenyum.
"itu tak mungkin mom dia anakku,
yah tentu dia pasti memiliki sifat denganku. Mom ini aneh-aneh saja.
Mom juga tahukan aku tak begitu mirip dengan dad tapi sifatnya sama denganku" pattie hanya tersenyum..
Attente (part 20)
Kubuka kedua mataku dan menggumpulkan nyawaku yang sempat melayang entaj kemana.
Kuperhatikan malaikat kecilku masih tertidur dan terbuai dalam mimpinya.
Kumenarkan posisi selimut yang menutupi tubuh malaikat kecilku.
Besok adalah bulan pertama musin gugur,
aku sudah memimpikan saat aku menikah dimusi gugur aku menyukai musim
gugur karna aku merasa disanalah semua awal kebangkitanku dan kelahiran
malaikat kecilku yang membuatku dapat bertahan dan melanjutkan hidupku.
Kubuka jendela kamar ini.
Kubirkan angin musim dingin menerpa wajahku. Kulihat begitu banyak orang
berlalu lalang mengatur dekorasi altar yang akan aku dan justin gunakan
sebagian tampat yang akan menyaksikan ucapan janji suci kami nanti.
Aku tak melibatkan diri dalam hal-hal menyangkut pernikahanku besok.
Kata mom pattie aku harus menyiapkan diri dan staminaku agar saat acara aku tak terlihat lelah dan kurang tidur.
Kuedarkan pandanganku dan berjalan keluar kebalkon kamar, kuperhatikan
begitu banyak dedaunan jatuh dikolam renang dekat gasebo.
Rumah justin tergolong mewah dan klasik.
Bayangkan saja jaman sekarang mom pettie masih menyimpan gasebo itu .
Katanya itu kenang-kenangan dari ayah justin saat mereka pertama membeli rumah ini.
Sebenarya aku sempat bertanya kenama mom pattie dan ayah justin bercerai,
justin hanya bilang ada kesalah pahaman diatara mereka berdua.
Dan tak ada diantara mereka yang ingin meminta maaf duluan jadi beginilah buah dari keegoisan mereka.
Aku bersyukur karna justin bukanlah orang yang mementingkan egonya kepada orang lain,
dia tipe pria yang lebih memilih mengalah dan diam dari pada terjadi salah paham.
Aku menyukai orang seperti dia.
Karna aku adalah orang dengan ego besar dan tak mau meminta maaf walaupun aku tahu aku yang salah.
Kusunggingkan senyum saat dad justin melambaikan tanganya padaku.
Dia tipe pria yang berwibawah dan tenang,
dia tak banyak bicara hanya sekali bicara dan pasti justin langsung mengikuti apa perkataan ayahnya.
Kudengar decitan pintu terbuka, dengan segera kubalikan badanku dan melihat siapa yang masuk.
"hy will, mom kira kau masih tidur. Bagaiman dengan malaikat kecil kita apa dia sudah bangun?"
"belum mom dia masih terlelap.
Sebaiknya kita keluar, nanti blue bangun dan membuat semua orang repot."
"tunggu mom mau mencium malaikat kecilku dulu" mom melangkah mendekat kearah blue dan mengecup puncak kepalanya.
Kuturuni setiap anak tangah lalu mom pattie mengajakku duduk dikebun bunga.
Kududukan badanku didepan mom pattie.
Ia menunggkan teh hangat digelas ku dan gelas depan mom pattie.
"sayang mom mau tanya, apa kau bahagia dengan perkawinanmu?"
"mom mengapa menanyakan itu,
tentu aku bahagia dengan pernikahan ini,
bahkan ini sudah kunantikan sejak dulu dan sekarang aku sudah selangkah lagi mendapat kebahagianku yang lebih nyata."
"baiklah kalau begitu mom yakin justin tak salah pilih,
kau wanita yang baik dan dapat mengerti justin dan tak tertarik karna kekayaan justin".
"aku tak menikahi justin karna hartanya mom,
aku mencintainya melebihi nyawaku sendiri."
"mom tau itu sayang, justin sudah menceritakan bagaimana hidupmu setelah
justin meninggalkanmu dan membiarkanmu membesarkan cucuku seorang diri.
Aku tahu bagaiman rasanya membesarkan seorang anak tanpa sosok seorang pria disampingmu,
kau terlalu muda sayang untuk merasakan itu semua.
Maafkan anakku karna dia membuatmu merasakan sakit yang sangat"
kupandangi mom pattie aku tak percaya justin menceritakan pada ibunya bahwa dia yang melakukan semua ini.
Just kau semakin membuatku merasa bersalah.
Kenapa kau bisa mempertarukan semuanya demiku."
kurasakan air mataku kembali jatuh.
Segera kusekah air mataku agar tak terlihat oleh mom pattie.
"kau kenapa sayang?" kupalingkan wajahku menghadap mom pattie.
"tak apa mom!
Tadi sedikit debu masuk kedalam mataku."
dengan cepat mom peti memberikanku sapu tangan.
"jangan kau gosoh,
tapi pakai ini"
"terima kasih mom"
"wiil andaikan mom dan dadmu masih ada disini,
mungkin ia juga akan bahagia sepertiku saat ini"
"aku juga merasa begitu mom.
Tapi aku yakin mereka pasti melihatku dari atas sana."
"mom juga yakin itu sayang., apa kau sudah mengunjungi merekan?"
"belum mom sore ini aku akan kesana sekalian mengenalkan blue pada mereka"
"mom juga rasa itu yang tepat,
agar blue juga tahu bahwa tentang mereka."
"ia mom"
kuhabiskan teh yang masih tersisa dicangkirku.
Mom pattie berdiri dan melangkahkan kakinya ketaman dan sedikit membuang daun-daun yang sudah berubaj menjadi coklat.
Sesaat kemudia, seorang pelayan datang menghambiriku.
"maaf nyonya non blue bangun dan ia menangis mencari anda."
"baiklah tolong kau buatkan dulu coklat panas dan bawakan kekamar yah
"
"baik nyonya,
“mom aku kekamar dulu yah, blue bangun dan ia menangis"
"sudah cepat kau kesana dan tenangkan dia.
"baikmom."
kulangkahkan kakiku menjau dari mom
dan memasuki rumah kediaman justin.
Dari sini aku bisa mendengar suara tangisan blue........!!
Attente Part 21
Kubuka pintu kamar, dengan langkah cepat kugendong tubuh blue.
"cup..cup..cup diam sayang, mom disini"
tak lama suara tangisan blue meredah.
Kusodorkan segelas coklat panas keblue.
"ayo minum, kau pasti suka" aku tersenyum dan dengan segera blue meminumnya.
****
kukerjapkan kedua mataku dan kembali melihat tubuh yang terpantul dicermin,
mom, dad sekarang aku sudah melangkah kekehidupan yang lain.
Apakah ini langkah yang tepat, kuharap mom dan dad disana dapat melihatku dan merestui apa yang akan aku lakukan.
Seorang wanita hina sepertiku yang memiliki seorang putri, sekarang akan
mengapai kebahagian yang nyata bersama pria yang sangat mencintaiku.
Tuhan kuharap inilah akhir dari kesedihanku.
"bagaiman apa kau suka dengan model rambutmu?" pertanyaan tatarias membuat lamunanku buyar,
"oh iya, iya sangat bagus, tapi bisakah kau tambahkan ini "
"bisa" dengan cekatan dia menaruh hiasan rambut yang dulu dipakai mom saat ia menikah dengan dad.
Kembali kutatap pantulan diriku dicermin,
kurasa semuanya sudah beres,
"kau cantik sayang" ucap dad justin, sesaat sebelum dia mengantarku kealtar yang disana sudah ada justin dan para undangan.
Kulingkarkan tanganku dilengan dad justin.
Kurasa akulah wanita paling beruntung didunia ini.
Bayangkan saja aku seorang wanita yang sudah memiliki seorang putri dan
mempunyai masalalu yang kelam dapat mendapatkan seorang pria seperti
justin yang tidak melihat bagaimana putriku hadir didunia ini.
Kulihat justin berdiri dengan jas putih, ia terlihat sangat tampan lebih tampan dari biasanya.
Kulemparkan senyum saat semua tamu tersenyum padaku.
Kulihat juga blue mengenakan pakaian yang sama dengan mom pattie.
Aku sangat bahagia melihat blue bisa merasakan kebahagian yang akan kami lakukan.
"ayo will jangan melamun, pengantinmu sudah menunggu"
dengan segera kupalingkan wajahku kenatap wajam pria yang membuatku menlupakan bagaimana rasa sakitnya hatiku,
ia menepati janji, ia membuatku bisa merasakan bagaimana rasanya cinta itu .
"ayo just jangan buat wanitamu menunggu" dengan cepat justin mengapai tanganku dan membantuku naik keatas altar.
Ia tersenyum dan berbisik ditelingahku.
"kau sangat cantik, "
aku hanya tersenyum dan kurasa mukamu merah merona karna pujian justin,
walaupun aku tahu ini bukan pujian pertamanya tapi mampu membuatku tersipu..
"baiklah apa sekarang kita bisa memulainya"
"ia" jawab aku dan justin bersamaan.
"baiklah, kau justin drew bieber mampu menerima williana lucyana dalam sakit maupun sehat dalam suka maupun duka,
dalam senang maupun sedih" justin menatapku sebentar lalu kembali menatap pastur.
"ia aku bersedia"
"kau williana lucyana apakah kau bersedia menerima justin drew bieber
dalam sehat maupun sakit, dalam senang maupun sakit, dalam suka maupun
senang"
aku bersedia,
"baiklah atas nama bapa, bunda mariah dan roh kudus.
Aku mempersatukan kalian dalam ikatan suami-istri.
Baiklah pengantin pria bisa menyium penganti wanitanya"
kubalikan badanku dan menatap justin.
Baiklah will ini bukan ciuman pertamamu, ayolah jangan gugup dia justin, dia bisa melakukan ini padamu.
Sekuat hatiku kubuat diriku tak tegang.
Tapi tetap aku masih saja tegang.
Justin membuka penutup wajahku.
Dengan gugup kumajukan wajahku dan sedetik kemudian kurasakan lumatan halus dibibirku
lumatanya ini sangat lembut bahkan sangat lembut.
Beda dengan ciuman justin yang biasa.
Kudorong pelan badan justin,
tapi justin tak menghiraukan apa yang aku lakukan.
Ayolah just kau membuat kita jadi bahan sorakan oleh para tamu.
Selang beberapa menit justin melepas bibirnya dan tersenyum.
"kau memang wanitaku" aku kembali tersenyum.
Justin menarik tanganku dan hal ini membuatku mengikuti langkahnya.
Ia berjalan kearah mom dan dadnya.
"hy sayang," ucap justin pada blue.
"hy dada, bagaimana apa dad bahagia?"
"sangat sayang, apakau juga bahagia dengan pernikahan dad dan mom"
"sangat, bahkan blue sekarang tak perlu takut lagi"
"taku, takut kenapa?"
"ia aku takut kalau dad pergi dan tak kembali."
"hahah anak dad ini ternyata mempunya ketakutan yang sama dengan momnya"
"hy kalian ayo. Mobil yang akan membawa kalian sudah menunggu" aku menatap justin dan mom pattie bergantian.
Mereka hanya tersenyum.
Aku tak bisa menggambarkan senyum mereka,
"kau tak usah bingung will, kalian akan melaksanakan apa yang menjadi
tugas sebagai penganti baru" aku tak bisa berkata apa-apa lagi,
aku sudah mengerti dengan ucapan dad justin.
"dad sayang mom dan dad akan menjaga blue, kalian tak usah kawatir.
Jangan lupa kalian harus membawa hasil yang bisa menyenangkan kami.
Ingat harus ada bieber kecil yang kedua" ucap mom pattie sebelum
menutup pintu mobil.
Aku dan justin hanya tersenyum mendengar ucapan mom justin,
kutatap justin saat mobil sudah dilajukan.
"sayang kenapa kau tak bilang tentang ini?" ucapku dan sesekali mengelus dada bidang justin yang hanya tertutup pakain santai,
"hem ini semua hadia dari mom,dad dan blue."
aku tersenyum saat mendengar ucapan justin.
Attente Part 22
Kusandarkan kepalaku didada justin,
dan sesekali mengelus lengan justin.
Dan justin hanya mengelus belakang pungguku dan sesekali mendaratkan kecupan hangat dipuncak kepalaku.
Justin membenarkan posisiku dan menjadi berhadapan dengan justin,
sesaat kemudian justin menarik tengkuk kepalku dan membuat wajah kami semakin tak mempunyai jarak.
Hembusan hangat nafs justin menerpa kulit wajahku.
Sedetik kemudia kurasakan hangatnya ciuman justin dan kurasakan sesekali ia mengigit kecil bibirku.
Bahkan sekarang tangan justin tak dileherku lagi tapi menyentuh setiap lekuk tubuhku,
kubiarkan ia melakukan itu karna aku juga menginginkanya.
Aku tak lagi malu membals perlakukan justin.
Toh tak ada yang lihat juga.
Semakin dalam ciuman kami,
semakin luas juga jangkauan tangan justin pada tubuhku.
Bahkan ia sesekali menyentuh bagian depan tubuhkan dan hal itu membuatku sedikit meraskan hal aneh dalam aliran darahku.
Mungkarna terlalu asyik dengan kegiatan yang kami lakukan,
kami tak menyadari kalau kami sudah sampai ditujuan.
Dengan tergesah-gesah kami merapikan pakiaan yang kemi kenakan saat supir.
Membukakan pintu mobil.
Dengan hati-hati aku mengikuti justin yang berjalan santai kedalam sebuah villa yang cukup mewah dan bergaya klasik.
Aku yakin ini villa keluarga justin.
Ia membukakan pintu villa untukku.
"ayo kita lanjutkan didalam, disini tak akan ada yang mengganggu kita sayang" ucap justin dan mengedipkan seblah matanya,
aku langsung menyubit pelan perutnya.
"kau ini, aku lapar apa tak ada makanan just" ucapku saat duduk disofa depam perapian.
Justin berjalan ke dapur dan melihat isi kulkas,
"tak ada sayang, bagaiman kalau kita cari makan diluar.
Disini banyak makanan enak lo" ucap justin saat mendudukan badanya disampingku.
Kusandarkan badanku.
"baiklah" tapi justin tak juga berdiri atau mengerakan badanya.
Ia terus melihatku dan mengelus rambutku dan bahkan tangan kananya mendorong tubuhku semakin kedepan.
Hal ini membuat jarak kami tak ada.
Bahkan tubuh bagian depanku sudah terhimpit diataran dada bidang justin.
Kututup mataku dan sedetik kemudian justin menurunka reslting dressku
dan hal ini membuat dressku terjatuh dan memperlihatkan tubuhku yang
tersisa pakaina dalam.
Ia membarikan badanku lalu berdiri ia melepas sendiri kemeja dan celana jeans yang ia kenakan.
Walaupun ini bukan yang pertama tapi ada rasa gugup dan malu, saat
justin memperhatikan setiap lekuk tubuhku yang hanya terbalut pakaina
dalam.
Justin meindih tubuhkan dan sesekali kurasakan hembusan nafasnya dibelakang telingahku.
"kau sangat cantik sayang,
masih kita lakukan apa yang tertunda tadi." justin melumat kecil dau
telingahku, dan sesekali ia meninggalkan kissmark dileherku.
Hal ini membuatku medikit mendesah dan melengguh.
Perlakuan justin padaku sangat lembut bahkan tak sama saat cody menyentuhku,
ia dengan cekatan melepas pakaian dalam yang tersisa ditubuhku.
Ia melupat bibirku dan memguakanya bahkan mendesakan lidahnya kedalam mulutkan dan hal ini menambah gelora dalam tubuhku.
Kudua sejoli yang tegah memadu kasih,
saling memberikan cinta dan memuaskan satu sama lain,
bahkan sesekali erangan keluar dari keduanya.
Rasa lapar yang tadi dirasakan williana,
terlupakan dan bahkan terganti dengan hal yang lebih menyenangkan hatinya.
Setalah sejam mereka saling memberi dan merasakan cinta sutu sama lain,
sakarng tubuh williana diatas tubuh justin.
Williana tertidur dan mendekat erat leher justin.
Sedangkan justin menikmati sisi-sisa pengalaman yang untuk pertama kalinya ia rasakan.
Bahkan ia mendekap erat tubuh williana.
Mungkin karna justin takut williana mask angin, justin menurunkan
williana dari atas tubuhnya dan membaringkan tubuh willian disofa,
dengan cepat ia mengambil selimut didepat perapian dan menyelimuti tubuh polos williana
justin mengenakan pakaianya,
dan melangkahkan kakinya menjauh dari tubuh williana.
Ia membuka pintu balkon villa dan membiarkan angin musim gugur masuk dan menyegarkan seisi ruangan.
Ia menatap lurus kepantai,
"tuhan terima kasih karna kau telah mengabulkan segala doaku,
kau tahu ini kebahgian yang sangat aku inginka,
kau membuat wanita yang sangat kucintai kini menjadi miliku seutuhnya.
Begitu banyak halangan yang kami tempuh untuk menjalin hubungan kami,
kuharap tak ada lagi halangan yang berat kami lalui.
Kuharap dengan ini aku dapat menatap lurus hidupkami"
justin masih tetap dalam spekulasi-spekulasi dalam fikiranya berkecambuk
dan terbang bersama angin yang berhembus disekitar tubuhnya,
ia bahkan merentangkan kedua tanganya.
Sesaat kemudia lengan mungil mendekap tubuh justin.
Justin membiarkan tangan mungil itu memeluknya,
ia tahu bahwa itu istrinya bahkan justin menarik tangan williana agar semakin erat mendekap tubuh polos justin.
"apa yang kau lakukan disini sayang?" ucapku pada justin
"sedang menikmati angin musim dingin,
sejak kapan kau bangun?" justin membalikan kepalnya dan mengecup puncak kepalaku"
"sejak tadi" kuelus dada justin.
Attente Part 23
"sejak kapan kau bangun sayang"
ucap justin lalu mengecup puncak kepalaku.
"baru saja, hem just aku sangat bahagia bisamemilikimu seutuhnya,
bahkan aku merasa semua ini hanya mimpi,
tapi semuanya sirna saat aku merasakan bagaiman besarnya cintamu padaku
sayang" kukecup punggu polos justin dan kubiarkan ia semakin menarik
tubuhku dan tubuh depanku kini tergencet dan menempel dipunggu belakang
justin.
Sesekali kuelus dada bidangnya dan membuat justin tersenyum.
Bahkan ia menarik telapk tanganku dan mengecupnya bebarapakali.
Lama kami dalam posisi ini, bahkan aku belum mengenti selimut yang tadi kututupi untuk menutupi tubuh polosku,
bahkan aku melepas ikatanya dan juga melilitkan ditubuh justin.
Sekarang tubuh kami tak memiliki jarak dan penhghalang lagi.
Kubiarkan lilitan selimut itu terikat didada bidang justin.
"hy, ternyata kau blum mengenakan pakaianmu yah" tanya justin dan mencubit sedikit perutku.
"ia, kenapa?"
"apa kau masih ingin melanjutkan pertempuran kita tadi.?"
"maaf sayang bukanya aku tak ingin bahkan aku menginginkan itu,
tapi selangkanganku masih sakit,
kau tahukanwalaupun aku sudah melakukan itu sekali dan melahirkan
seorang putri tapi ini pertama kalinya semenjak 7 tahun yang lalu"
justin membalikan badanya dan membuat kami berhadapan.
Ia mengelus dahiku dan menyekah keringat yang masih tersisah dari tempuran tadi.
"maafkan aku karna ulahku tadi,
menggakibatkan selangkanganmu sakit,
apa sangat perih sayang?" justin memelukku dan mengelus kepalaku.
"ia masih sakit, tapi agak berkurang kalau aku tak bergerak.
Tapi saat berjalan pasti akan sangat sakit" ucapku dan mengecup dada bidang justin.
Justin melilitkan kembali selimut kebadanku dan melepaskan pelukanku dari tbuhnya,
aku menatapnya heran baru kali ini dia seperti ini.
Apa karna aku tak melaksanakan keinginanya.
Oh maafkan aku just.
Segera kugenggam tangan justin,
tapi diluar dugaanku ia mengendong tubuhku dan membawaku kedalam kamar yang terletak disamping perapian.
"just kukira kau marah,karna aku menolah keinginanmu"
"haha kau ini.
Aku tak akan marah karna hal itu.
Kau kan masih merasakan sakit dan hal itu juga karna aku,
masa iya aku marah karna perbuatan aku juga yang mengakibatkanmu seperti ini." justin mencubit pelan hidungku.
Aku melepaskan nafas lega saat mendengar jawaban justin,
akukira ia marah karna hal itu ternyata tidak sama sekalai.
Ia membaringkan tubuhku lalu membenarkan selimut yang tadi melilit tubuh polosku.
Dia mengecup pncak kepalaku.
"mau mau makan apa?"
"hem aku mau makan udang madu bakar"
"baiklah kau tunggu disini dulu,
aku akan menelpon pelayanan villa"
justin berdiri tapi dengan cepat kutari tanganya dan alhasil ia berbalik lalau kembali menatapku.
"kenapa?" ia tersenyum.
"bisakah kau ambilkan aku dress dan pakian dalam dikoper kita,
lalu punggut dress dan pakaian dalamku yang berserakan diluar,
nanti ada yang melihat"
"baiklah sayang".
Justin melangkahkan kakinya kekoper yang aku maksud,
ia mengambilkan sepasang pakaian dalam dan dress berlengan tali.
Ia memberikan pakaian dalamku dulua.
Dengan hati-hati aku membenarkan posisiku.
Kupasang pakaian dalam yang bagian atas.
"sini biar aku yang mengaitkanya,
kau telihat kesusahan"
"terima kasih" justin berjalan dan kebelakangku dengan hati-hati ia mengaitkanya "selesai"
"just bisakah kau pasangkan yang bawah juga?" rasnya badanku semua remuk karna pertempuran tadi.
Kembali justin mengangkat kakiku dan memasukkan kedalam kakiku lalu hati-hati menaikannya kemudia ia membenarkan posisinya.
"sekarang sudah selesai,
apa kau juga perlu bantuan memasang dressmu sayang?" ucap justin dan menaikan sebelah alisnya.
Aku tersenyum dan menganggukan kepalaku.
Ia mengambil dress yang kusimpan disebelahku dan mengenakannya dibadanku.
"kau cantik,
tunggu lebih canti kalau rambutmu disisir,
sayang sisirmu dimana"
"didalam tasku yang warna hijau"
justin mengeluarkan setas alat-alat kewanitaanku.
Justin menyisir rambutku dan memoles sedikit wajahku dengan bedak.
"yap ini baru istriku yang sangat cantik" justin mengecup puncak kepalaku lagi.
Aku hanya bisa tersenyum melihat tindakan justin padaku.
Ia benar-benar pria yang baik dan sangat mencintaiku,
saat aku dan cody selesai melakukan ini,
ia hanya mengucapkan terima ksih dan tertidur.
Perbedaan ini saat mencolok,
justin memeperlakukan aku sangat baik bahkan sangat-sangat baik.
"baiklah kau tunggu disini saja,
aku akan memesan makan malam kita,
atau kau mau kita makan dipinggir pantai?" justin kembali tersenyum
"kita makan diluar saja aku ingin menikmati makan dipinggir pantai bersamamu sayang" ucapku menyakinkan justin.
Justin terlihat senang dengan ucapanku tapi sedetik kemudia ia memandangku dengan tatapan aneh.
"tapi bagaiman dengan itumu?" aku tersenyum.
"semuanya akan baik.
Sekarang saja sudah mendingan.
Apa lagi kalau sebentar malam pasti akan sembuh sayang" justin tersenyum untuk kesekian kalinya saat mendengar ucapanku..
Attente Part 24
Kurasakan bagaiman indahnya cinta itu, bagaiman rasanya dicintai seseorang yang begitu kudiharapkan.
hati yang dulu kelam sekarang dan sekarang telah berubah menjadi hamparan bunga yang mereka dengan indahnya.
Kubiarkan semua rasaku tertumpah hanya untuk pria yang sangat aku cinta.
Ia mampu membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya bahkan itu pada dirinya lagi.
Kurasakan sesuatu menyentuk pinggangku.
Dan hembusan nafas menyentuh kulit kepalaku.
"kau sedang memikirkan apa sayang?"
"hanya memikirkan begitu beruntungnya aku bisa memiliki peria sebaik kau just" aku tersenyum diakhir kalimatku.
"aku juga sama will, aku sangat beruntung bisa memilikimu dan juga memiliki gadis kecil yang sangat cantik."
justin menarikku kepinggi laut dan ia menulis sesuatu diatas pasir,
aku duduk didepan justin.
"kau menulis apa sayang?" tanyaku sambil melihat justin yang masih sibuk dengan urusannya.
"menulis nama kita".
Seorang pelayan menghampiri kami
"maaf tuan dan nyonya makanan kalian sudah siapa"
aku hanya tersenyum dan sesaat kemudia pelayaan itu pergi.
Aku kembali melihat justin yang masih sibuk.
"sayang ayo, makanan kita sudah siap"
"hem,
baiklah. Ayo" justin berdiri dan menarikku agar berdiri bersamanya.
Ia menarik pinggulku dan membuat kami semakin dkat.
Selama makan malam berlangsung justin terus menceritakan tentang keluarganya,
dan akhirnya aku tahu yang membuat ibu dan ayahnya bercerai karna,
ayah justin berselingku dengan seorang wanita dan sekarang sudah memiliki seorang putri dan seorang putar,
justin juga bilang ia tak perna membenci ibu tiri dan adik-adik tirinya.
Bahkan ia mengatakan bahwa sangat dekat dengan mereka.
Aku semakin bisa menilai justin adalah pria yang benar-benar baik,
ia tak memiliki rasa dendam sedikitpun dalam hatinya walaupun orang itu sudah melukainya dan juga melukai momya.
Dan mom pattie sampai saat ini tak perna menjalin hubungan karna ia tak ingin anaknya merasa tak memiliki seorang ibu yang untuh karna terbagi dengan suami ibunya.
Justin mengajakku pulang karna besok kami akan kembali keatlanta.
Yah biasalah masalah pekerjaan yang tertunda karna persiapan pernikahan kami.
***
saat ini aku dah justin sudah menyiapkan semua dokumen-dokumen yang akan ia bahas dirapat,
aku meminya olive mengirimkan dokumenya.
Jadi justin masih bisa mempelajarin sebelum masuk ruangan rapat.
"sayang ayo 30 menit lagi pesawat kita akan take off"
"tunggu just,
blue masih memakai pakaiannya" ucapku dari dalam kamar.
5menit kemudian aku sudah keluar dengan blue.
"dad, aku masih ingin disini bersama grandma dan grandpa." regek blue pada justin.
Aku tahu justin tak bisa melihat blue seperti ini.
Ia mensejajarkan tubuhnya lalu mengendong blue.
"kita akan kesini setelah pekerjaan dad selesai dan saat kau liburan.
Kau tahukan kau sudah bolos begitu lama sayang" ucap justin menyakinkan blue.
"baiklah, tapi dad janjika!"
"ia sayang, apa perna dad membohongimu?"
"tidak" ucap blue.
Dari luar mobil mom pattie tak henti-hentinya meleparkan ciuman untuk blue dan aku.
"dah mom, sampai jumpa lain waktu"
"iya,
mom akan datang kerumahmu lusa.
Mom mau kalian sudah pnya kabar yang baik untukku.
Saat mom kesana"
aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mom pattie.
"just aku tak tahu kenapa mom begitu menginginkan bieber kecil dalam perutku"
"kau tahulah mom sangat menyukai anak kecil"
"tapi just aku merasa tak enak,
bagaiman kalau dalam waktu dekat ini tak bisa juga menghasilkan bieber kecil dalam perutku?"
"tenanglah asal kita selalu melakukanya dan berdoa pada tuhan,
pasti akan ada jagoan kecil dalam perutmu.
Kau tak usah seperti itu"
aku mersa lega saat justin tak mempermasalahkan hal ini,
padahal aku sudah takut ia juga menginginkan anak secepatnya,
ia sangat mengerti dengan apa yang sedang kurasakan.
Kusandarkan badanku didada justin,
dan kalian tahu blue masih tertidur.
Saat ini kami sudah sampai diatlanta dan sekarang kami menuju kantor,
taxi menmarkirkan mobilnya dengan baik.
Aku keluar dan mengambil blue dari pangkuan justin.
Justin sehera membayar dan berlari kedalam gedung perusahaanku.
Aku berjalan santai dengan mengendong blue dan menenteng tas perlengkapan rapat justin,
aku tahu ia ia pasti kembali karna melupakan tasnya.
Benar saja justin sudah berlari menghampiriku.
"will kenapa kau begitulam,
karyawan yang lai sudah menunggu kita"
"biarkan saja kitakan bosnya jadi biarkan mereka menunggu" aku berjalan dengan santai diikuti dengan justin.
Ai mengambil blue dari gendonganku.
Kubuka pintu ruangan rapat.
Dan semua karyawan tersenyum.
"pagi, maaf kami terlamat biasalah pasti kalian sudah tahu."
"ia bu"
"baiklah kalian bisa mempersentasikan apa yang ingin kalian sampaikan.
Dan pak justin yang akan memimpin rapat ini dan selanjutnya.
Aku juga memutuskan mundur dan membiarkan suamiku menangani semua urusan kantar ini" ucapku sesaa sebelum pergi meninggalkan ruangan rapat ini.
Kubuka pintu ruangan kerjaku...
hati yang dulu kelam sekarang dan sekarang telah berubah menjadi hamparan bunga yang mereka dengan indahnya.
Kubiarkan semua rasaku tertumpah hanya untuk pria yang sangat aku cinta.
Ia mampu membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya bahkan itu pada dirinya lagi.
Kurasakan sesuatu menyentuk pinggangku.
Dan hembusan nafas menyentuh kulit kepalaku.
"kau sedang memikirkan apa sayang?"
"hanya memikirkan begitu beruntungnya aku bisa memiliki peria sebaik kau just" aku tersenyum diakhir kalimatku.
"aku juga sama will, aku sangat beruntung bisa memilikimu dan juga memiliki gadis kecil yang sangat cantik."
justin menarikku kepinggi laut dan ia menulis sesuatu diatas pasir,
aku duduk didepan justin.
"kau menulis apa sayang?" tanyaku sambil melihat justin yang masih sibuk dengan urusannya.
"menulis nama kita".
Seorang pelayan menghampiri kami
"maaf tuan dan nyonya makanan kalian sudah siapa"
aku hanya tersenyum dan sesaat kemudia pelayaan itu pergi.
Aku kembali melihat justin yang masih sibuk.
"sayang ayo, makanan kita sudah siap"
"hem,
baiklah. Ayo" justin berdiri dan menarikku agar berdiri bersamanya.
Ia menarik pinggulku dan membuat kami semakin dkat.
Selama makan malam berlangsung justin terus menceritakan tentang keluarganya,
dan akhirnya aku tahu yang membuat ibu dan ayahnya bercerai karna,
ayah justin berselingku dengan seorang wanita dan sekarang sudah memiliki seorang putri dan seorang putar,
justin juga bilang ia tak perna membenci ibu tiri dan adik-adik tirinya.
Bahkan ia mengatakan bahwa sangat dekat dengan mereka.
Aku semakin bisa menilai justin adalah pria yang benar-benar baik,
ia tak memiliki rasa dendam sedikitpun dalam hatinya walaupun orang itu sudah melukainya dan juga melukai momya.
Dan mom pattie sampai saat ini tak perna menjalin hubungan karna ia tak ingin anaknya merasa tak memiliki seorang ibu yang untuh karna terbagi dengan suami ibunya.
Justin mengajakku pulang karna besok kami akan kembali keatlanta.
Yah biasalah masalah pekerjaan yang tertunda karna persiapan pernikahan kami.
***
saat ini aku dah justin sudah menyiapkan semua dokumen-dokumen yang akan ia bahas dirapat,
aku meminya olive mengirimkan dokumenya.
Jadi justin masih bisa mempelajarin sebelum masuk ruangan rapat.
"sayang ayo 30 menit lagi pesawat kita akan take off"
"tunggu just,
blue masih memakai pakaiannya" ucapku dari dalam kamar.
5menit kemudian aku sudah keluar dengan blue.
"dad, aku masih ingin disini bersama grandma dan grandpa." regek blue pada justin.
Aku tahu justin tak bisa melihat blue seperti ini.
Ia mensejajarkan tubuhnya lalu mengendong blue.
"kita akan kesini setelah pekerjaan dad selesai dan saat kau liburan.
Kau tahukan kau sudah bolos begitu lama sayang" ucap justin menyakinkan blue.
"baiklah, tapi dad janjika!"
"ia sayang, apa perna dad membohongimu?"
"tidak" ucap blue.
Dari luar mobil mom pattie tak henti-hentinya meleparkan ciuman untuk blue dan aku.
"dah mom, sampai jumpa lain waktu"
"iya,
mom akan datang kerumahmu lusa.
Mom mau kalian sudah pnya kabar yang baik untukku.
Saat mom kesana"
aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mom pattie.
"just aku tak tahu kenapa mom begitu menginginkan bieber kecil dalam perutku"
"kau tahulah mom sangat menyukai anak kecil"
"tapi just aku merasa tak enak,
bagaiman kalau dalam waktu dekat ini tak bisa juga menghasilkan bieber kecil dalam perutku?"
"tenanglah asal kita selalu melakukanya dan berdoa pada tuhan,
pasti akan ada jagoan kecil dalam perutmu.
Kau tak usah seperti itu"
aku mersa lega saat justin tak mempermasalahkan hal ini,
padahal aku sudah takut ia juga menginginkan anak secepatnya,
ia sangat mengerti dengan apa yang sedang kurasakan.
Kusandarkan badanku didada justin,
dan kalian tahu blue masih tertidur.
Saat ini kami sudah sampai diatlanta dan sekarang kami menuju kantor,
taxi menmarkirkan mobilnya dengan baik.
Aku keluar dan mengambil blue dari pangkuan justin.
Justin sehera membayar dan berlari kedalam gedung perusahaanku.
Aku berjalan santai dengan mengendong blue dan menenteng tas perlengkapan rapat justin,
aku tahu ia ia pasti kembali karna melupakan tasnya.
Benar saja justin sudah berlari menghampiriku.
"will kenapa kau begitulam,
karyawan yang lai sudah menunggu kita"
"biarkan saja kitakan bosnya jadi biarkan mereka menunggu" aku berjalan dengan santai diikuti dengan justin.
Ai mengambil blue dari gendonganku.
Kubuka pintu ruangan rapat.
Dan semua karyawan tersenyum.
"pagi, maaf kami terlamat biasalah pasti kalian sudah tahu."
"ia bu"
"baiklah kalian bisa mempersentasikan apa yang ingin kalian sampaikan.
Dan pak justin yang akan memimpin rapat ini dan selanjutnya.
Aku juga memutuskan mundur dan membiarkan suamiku menangani semua urusan kantar ini" ucapku sesaa sebelum pergi meninggalkan ruangan rapat ini.
Kubuka pintu ruangan kerjaku...
Attente part 25
Kubuka pintu ruang kerjaku,
kulangkahkan kakiku kemeja yang membuatku menggapai semua yang kubiliki sekarang.
Bahkan dari sini jugalah aku dipertemukan dengan pria yang selama ini memenuhi hatiku,
dengan hati-hati kutaruh blue disofa dekat jendela,
kubuka jendela agar ruangan ini mendapatkan sedikit angin segar.
Kututup semua lembaran hitam dan kelam dalam hidupku,
mulai hari ini dan seterusnya hidupku akan lebih bahgia dan dipenuhi dengan goresan-goresan tinta kebahagiaan yang berwarna-warni meluki jalan hidupku bersama orang-orang yang kucintai.
Kubalikan badanku,
aku tak ingin melihat orang yang berdiri dibawah pohon itu.
Aku tahu hal ini mampu mengembalikan segerjap ingatanku tentang sakitnya dibuang dan dihempaskan begitu saja setela ia meraih kenikmatanya yang ia inginka.
Tuhan bisakah aku meminta agar orang itu menghilang dari kehidupanku,
dia membuatku takut dan selalu risau.
Dia monster yang setiap saat dapat merusak kebahgianku yang baru saja kubangun dengan justin dan blue.
Dengan cepat kututup jendela dan menutup gorden jendela.
Kuanggkat gagang telpon.
"hallo, ada will?"
"bisakah kau menegok kejendela"
"ia, kenapa?"
"kau lihat pria dibawah pohon itu?"
"ia aku lihat, bukanka dia cody simpson anak pengusaha kaya itu"
"ia kau benar, aku ingin
Kau menyampaikan pada relasi bisnis kita jangan ada yang berkerja sama dengan perusahan yang ia kelola.
Kau ingat itu?"
"ia aku ingat wil"
"tunggu, aku juga ingin kau melarangnya memasukki semua perusahan-perusahaan kita.
Kau mengertikan"
"ia aku mengerti." kuakhiri panggilan telponku dan sedikit bernafas lega.
Tak kubiarkan kau merusak kebahgiannku untuk kedua kalinya,
kalau ini yang kau inginkan mari kita saling menjatuhkan.
Aku buka wanita lemah yang tak memiliki apa-apa cody.
Aku williana aku bisa membuatmu jatuh dan terhempas kejurang kesakitan untuk selamanya.
Kukepalkan kedua tanganku.
Baiklah mungkin ini yang terbaik melawannya dengan cara menjatuhkan nama baiknya dikalangan relasi-relasi bisnisku.
Kau harus hati-hati cody begitu banyak kartu as yang aku penggang,
sekali kau menyentuh putriku atau suamiku,
kau akan merasakan bagaimana sakitnya tak memiliki apa-apa
kubuka sedikit gorden,
aku ingin memastikan apa dia sudah pergi atau masih betah disana.
Astaga dia masih disana.
Tapi ia menganggat telpon sesaat ia menghempaskan telpon,
aku dapat mendengar ini tentang bisnisnya.
Tak berapa lama pintu ruanganku terbuka.
Kubalikan badanku.
Sesaat kulihat sekertarisku tersenyum.
"ada apa?"
"will aku sudah memberitahu beberapa relasi bisnis kita agar tak berkerja sama dengan perusahaan yang dipenggang oleh orang yang bernama cody,
dan ada beberapa yang memutuskan kerja sama mereka."
baiklah mungkin ini yang membuat cody marah dan melampiaskanya keponselnya.
"wiil apa aku sudah bekerja dengan baik?"
"ia kau sudah bekerja dengan sangat baik,
sebagai hadia kau akan dapat bonus dan hari ini kau libur.
Tapi ingat ini rahsia kita" olive berlari kearahku dan secepat kilat ia menarikku kedalam dekapanya.
"terima kasih will,
apa aku bisa menerima bonusku sekarang.
Kau tahukan ibuku sedang dirawat" aku hanya tersenyum dan mengeluarkan cek dari dalam lasi meja kerjaku.
Kutulis nilai yang akan aku berika,
aku sedikit menambahkan dengan uang tunai.
"ini kau harus menggunakanya sebaikmungkin" ia sangat bahagia itu terpancar dari sorot matanya dan ada butiran kecil mengalir dikedua matanya.
Dengan segera kuseka dan menghapusnya.
"terima kasih banyak will,
aku beruntung bisa mengenalmu.
Kau benar-benar wanita yang sangat baik." aku mengetuk kepalnya.
"aw will sakit."
"kau ini kenapa kau bersikap seperti itu,
kau ingat kau yang menolongku saat tak seorangpun mau melihatku dan ibumu adalah ibuku kau jangan melupakan itu.
Aku akan mengadukan hal ini pada mom"
olive tersenyum lalu mendaratkan sebuah ciuman dipipiku.
"baiklah cepat jengguk mom,
ia pasti merindukanmu.
Bahkan ia sangat merindukan blue dan juga ia ingin melihat suamimu.
Saat aku menceritakan tentang justin ia sangat antusias" cerocok olive padaku.
"ia besok aku akan menemui mom,
sampaikan salamku dan justin padanya,
ingat kalau kau butuh sesuatu atau terjadi hal yang membuatmu takut cepat hubungi aku"
"ia aku akan melakukan itu." olive keluar dan dengan segera membereskan tasnya.
Aku melihatnya sangat bahagia,
kalian tahu olivelah yang membuatku dapat melahirkan blue didunia ini.
Ia merawatku sampai blue dapat terlahir dan besar seperti ini.
"hati-hati, oh iya besok kau kerumah aku ada hadia untukmu"
olive hanya mengancungkan jarinya dan segera berlalu.
Aku ingin memberikanya sebuah mobil agar ia dapat pergi dan pulang dengan cepat.
Aku kasih padanya ia selalu naik kendaraan umum.
Kembali kututup pintu ruangan kerjaku yang nantinya milik justin.
Aku memberikan jabatan ini karna aku yakin justin punya potensi yang besar.
Aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang utuh.
Dimana hanya mengurus rumah, suami dan anak saja...
kulangkahkan kakiku kemeja yang membuatku menggapai semua yang kubiliki sekarang.
Bahkan dari sini jugalah aku dipertemukan dengan pria yang selama ini memenuhi hatiku,
dengan hati-hati kutaruh blue disofa dekat jendela,
kubuka jendela agar ruangan ini mendapatkan sedikit angin segar.
Kututup semua lembaran hitam dan kelam dalam hidupku,
mulai hari ini dan seterusnya hidupku akan lebih bahgia dan dipenuhi dengan goresan-goresan tinta kebahagiaan yang berwarna-warni meluki jalan hidupku bersama orang-orang yang kucintai.
Kubalikan badanku,
aku tak ingin melihat orang yang berdiri dibawah pohon itu.
Aku tahu hal ini mampu mengembalikan segerjap ingatanku tentang sakitnya dibuang dan dihempaskan begitu saja setela ia meraih kenikmatanya yang ia inginka.
Tuhan bisakah aku meminta agar orang itu menghilang dari kehidupanku,
dia membuatku takut dan selalu risau.
Dia monster yang setiap saat dapat merusak kebahgianku yang baru saja kubangun dengan justin dan blue.
Dengan cepat kututup jendela dan menutup gorden jendela.
Kuanggkat gagang telpon.
"hallo, ada will?"
"bisakah kau menegok kejendela"
"ia, kenapa?"
"kau lihat pria dibawah pohon itu?"
"ia aku lihat, bukanka dia cody simpson anak pengusaha kaya itu"
"ia kau benar, aku ingin
Kau menyampaikan pada relasi bisnis kita jangan ada yang berkerja sama dengan perusahan yang ia kelola.
Kau ingat itu?"
"ia aku ingat wil"
"tunggu, aku juga ingin kau melarangnya memasukki semua perusahan-perusahaan kita.
Kau mengertikan"
"ia aku mengerti." kuakhiri panggilan telponku dan sedikit bernafas lega.
Tak kubiarkan kau merusak kebahgiannku untuk kedua kalinya,
kalau ini yang kau inginkan mari kita saling menjatuhkan.
Aku buka wanita lemah yang tak memiliki apa-apa cody.
Aku williana aku bisa membuatmu jatuh dan terhempas kejurang kesakitan untuk selamanya.
Kukepalkan kedua tanganku.
Baiklah mungkin ini yang terbaik melawannya dengan cara menjatuhkan nama baiknya dikalangan relasi-relasi bisnisku.
Kau harus hati-hati cody begitu banyak kartu as yang aku penggang,
sekali kau menyentuh putriku atau suamiku,
kau akan merasakan bagaimana sakitnya tak memiliki apa-apa
kubuka sedikit gorden,
aku ingin memastikan apa dia sudah pergi atau masih betah disana.
Astaga dia masih disana.
Tapi ia menganggat telpon sesaat ia menghempaskan telpon,
aku dapat mendengar ini tentang bisnisnya.
Tak berapa lama pintu ruanganku terbuka.
Kubalikan badanku.
Sesaat kulihat sekertarisku tersenyum.
"ada apa?"
"will aku sudah memberitahu beberapa relasi bisnis kita agar tak berkerja sama dengan perusahaan yang dipenggang oleh orang yang bernama cody,
dan ada beberapa yang memutuskan kerja sama mereka."
baiklah mungkin ini yang membuat cody marah dan melampiaskanya keponselnya.
"wiil apa aku sudah bekerja dengan baik?"
"ia kau sudah bekerja dengan sangat baik,
sebagai hadia kau akan dapat bonus dan hari ini kau libur.
Tapi ingat ini rahsia kita" olive berlari kearahku dan secepat kilat ia menarikku kedalam dekapanya.
"terima kasih will,
apa aku bisa menerima bonusku sekarang.
Kau tahukan ibuku sedang dirawat" aku hanya tersenyum dan mengeluarkan cek dari dalam lasi meja kerjaku.
Kutulis nilai yang akan aku berika,
aku sedikit menambahkan dengan uang tunai.
"ini kau harus menggunakanya sebaikmungkin" ia sangat bahagia itu terpancar dari sorot matanya dan ada butiran kecil mengalir dikedua matanya.
Dengan segera kuseka dan menghapusnya.
"terima kasih banyak will,
aku beruntung bisa mengenalmu.
Kau benar-benar wanita yang sangat baik." aku mengetuk kepalnya.
"aw will sakit."
"kau ini kenapa kau bersikap seperti itu,
kau ingat kau yang menolongku saat tak seorangpun mau melihatku dan ibumu adalah ibuku kau jangan melupakan itu.
Aku akan mengadukan hal ini pada mom"
olive tersenyum lalu mendaratkan sebuah ciuman dipipiku.
"baiklah cepat jengguk mom,
ia pasti merindukanmu.
Bahkan ia sangat merindukan blue dan juga ia ingin melihat suamimu.
Saat aku menceritakan tentang justin ia sangat antusias" cerocok olive padaku.
"ia besok aku akan menemui mom,
sampaikan salamku dan justin padanya,
ingat kalau kau butuh sesuatu atau terjadi hal yang membuatmu takut cepat hubungi aku"
"ia aku akan melakukan itu." olive keluar dan dengan segera membereskan tasnya.
Aku melihatnya sangat bahagia,
kalian tahu olivelah yang membuatku dapat melahirkan blue didunia ini.
Ia merawatku sampai blue dapat terlahir dan besar seperti ini.
"hati-hati, oh iya besok kau kerumah aku ada hadia untukmu"
olive hanya mengancungkan jarinya dan segera berlalu.
Aku ingin memberikanya sebuah mobil agar ia dapat pergi dan pulang dengan cepat.
Aku kasih padanya ia selalu naik kendaraan umum.
Kembali kututup pintu ruangan kerjaku yang nantinya milik justin.
Aku memberikan jabatan ini karna aku yakin justin punya potensi yang besar.
Aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang utuh.
Dimana hanya mengurus rumah, suami dan anak saja...
Attente Part 26
Kubenarkan posisi tubuh blue.
Hari ini aku menikmati bagaiman rasanya menjatuhkan orang yang sangat kita benci.
Baiklah cody ini hanya awal kau harus bertahan sampai akhir.
Kau fikir aku tak bisa melakukan hal yang kejam dan sadis padamu.
Aku buka wanita yang lemah begitu banyak pelajaran yang membuatku dapat bertahan dibadai dan gelombang.
Setelah sejam rapat direksi akhirnya selesai.
Kulihat justin muncul dengan senyum yang mengambang dikedua sudut bibirnya.
"apa semuanya lancra"
ia mendekat kearahku dan membantuku berdiri.
"ia sangat lancar,
kau tahu kita yang memnangkan tender ini.
Aku tak menyangkah bisa mengalahkan perusahaan cody sayang" aku juga tersenyum.
Baiklah justin aku harap kau bisa menjalankanya dengan baik.
"baiklah aku juga bahagia mendengarnya sayang" aku mengecup bibirnya sebentar lalu kembali membenamkan kepalaku didadanya.
Ia melepas pelukanya.
"apa kau yakin akan mundur dari jabatanmu sayang?"
"ia aku yakin bahkan sangat yakin,
aku hanya ingin mengurusmu dan blue saja.
Akukan sudah punya kau dan juga lihat baru sehari kau kerja kau sudah mendapat tender yang lumayan ok"
justin mengecupku dan melumat kecil bibirku.
"kau memang wanita yang kucintai"
"aku juga mencintaimu" justin menganggkat tubuhku lalu mendudukanya dimeja kerja ia membuka sedikit kancing kemejaku.
Lalu menyentuh bagian depan tubuhku.
Aku membiarkanya kan blue juga tidur ia pasti tak tahu apa yang sedang mom dan dadnya lakukan.
Semakin jauh tangan justin menjalar ditubuhku,
bahkan sekarang bibirnya tak lagi mencium bibirku.
Bahkan sekarang ia meninggalkan bekas-bekas gigitan dileherku.
Aku merasa sangat geli saat justin menyentuh tubuh bagian belakangku dengan tanganya.
Aku bahkan mengingit daun telingahnya dan membuat telingah justin memerah akibat gigitanku....
Selang beberapa menit meraka dalam kegiatan itu,
tanpa disadari seseorangmembuka pintu kerja williana.
"maaf-maaf" suara orang itu membuat justin dan williana berhenti dengan aktifitas mereka.
Williana segera merapikan kemjenya yang sempat tersingkap dan membenarkan juga dalamnya.
Williana turun dari meja.
"hy seharusnya kau mengetok pintu dulu janganlangsung masuk"
"maaf wiil, tadi aku sudah mengetok berulan-ulang tapi kau tak mendengarnya,
kufikir kau tidur dengan blue jadi aku berniat menaruh berkas ini dimejamu" ucap salah satu karyawan williana,
ia terlihat sangat ketakutan.
Justin menyadari hal ini,
ini juga salah mereka tak seharusnya melakukan adegan ini disini.
Justin menarik tangan williana.
"baiklah kau boleh pergi,
tapi ingat ini tak perna kau lihat.
Kau mengertikan?" ucap justin tegas,
dan terlihat kartawan itu hanya menganggukan kepalnya.
Pintu ruangan kerja williana kembali tertutup,
raut kekesalan masih tergambar jelas diwajah williana.
Justin tak tahu apa yang membuat williana kesal.
Apa karna ia dilihat atau karna kegiatan mereka terhenti.
Justin memeluk tubuh istrinya lalu menaruh dagunya di bahu istrinya.
"kau kenapa? Apa yang membuatmu marah seperti ini"
"aku hanya sedikit kesal, tak marahko"
"apa kau kesal karna kegiatan kita terhenti?"
williana membalikan badanya.
Segera ia mencubit perut justin.
"kau ini dasar otak mesum.
Aku tak marah karna itu,
tapi karna dia masuk dan melihat kita"
"oh aku kira kau marah karna kegiatan kita terhenti"
muka williana memerah dan sangat tergambar jelas malu yang disembunyikan williana.
"kan kita bisa meanjutkannya dirumah," ucap williana ditelingah justin.
Justin yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan kembali mendaratan sebuah kecupan hangat dipipi istrinya.
****
"jus tolong aku,
blue semakin berat aku tak bisa mengangkatnya" dengan cepat justin mengambil blue dari pangkuan williana.
Dengan segera justin masuk dan menaruh blue dikasurnya.
Justin melangkah kakinya kedapur.
Ia yakin williana sedang disana karna saat turun justin mencium aroma masakan.
Kudengan langkah kaki mendekat kearahku.
"just ambilkan aku kentang dikulkas" justin berhenti dan mengambil apa yang kusuruhkan.
"ini sayang,
kau mau masak apa?"
"hem hanya salat sayur dan steak,
apa kau suka"
"ia tapi jangan pakain baun bawang yah"
"ok.
Apa kau juga tak suka dengan daun bawang"
"ia "
"hem kurasa kau benar-benar ayah blue,
begitu banyak hal yang sam dengan kalian" justin menatapku seakan tak percaya dengan yang barusan kuucapkan"
"apa itu benar"
"ia aku berkata yang sebenarny"
"baiklah,
kan aku memang ayah blue,
aku harap kau bisa mengatakan hal itu pada semua orang sayang" justin mengecup sebentar pipiku.
Lalu ia melanjut memotong kentang yang tadi ia ambil.
"ia pasti,
sejak awal ia memang putrimu.
Mukan putri orang lain"
"terima kasih ill.
Kau bisa menerima bahwa akulah ayah dari blue"
aku hanya tersenyum,
dan kembali menyelesaikan apa yang tadi tertunda,
setelah sejam berkutat dengan bumbu dan sedikit mendapat gangguan dari justin.
Aku menyuruh justin membereskan meja makan dan menaruh masakan yang sudah kami buat.
Justin tersenyum saat melihat hasil karyanya.
Hari ini aku menikmati bagaiman rasanya menjatuhkan orang yang sangat kita benci.
Baiklah cody ini hanya awal kau harus bertahan sampai akhir.
Kau fikir aku tak bisa melakukan hal yang kejam dan sadis padamu.
Aku buka wanita yang lemah begitu banyak pelajaran yang membuatku dapat bertahan dibadai dan gelombang.
Setelah sejam rapat direksi akhirnya selesai.
Kulihat justin muncul dengan senyum yang mengambang dikedua sudut bibirnya.
"apa semuanya lancra"
ia mendekat kearahku dan membantuku berdiri.
"ia sangat lancar,
kau tahu kita yang memnangkan tender ini.
Aku tak menyangkah bisa mengalahkan perusahaan cody sayang" aku juga tersenyum.
Baiklah justin aku harap kau bisa menjalankanya dengan baik.
"baiklah aku juga bahagia mendengarnya sayang" aku mengecup bibirnya sebentar lalu kembali membenamkan kepalaku didadanya.
Ia melepas pelukanya.
"apa kau yakin akan mundur dari jabatanmu sayang?"
"ia aku yakin bahkan sangat yakin,
aku hanya ingin mengurusmu dan blue saja.
Akukan sudah punya kau dan juga lihat baru sehari kau kerja kau sudah mendapat tender yang lumayan ok"
justin mengecupku dan melumat kecil bibirku.
"kau memang wanita yang kucintai"
"aku juga mencintaimu" justin menganggkat tubuhku lalu mendudukanya dimeja kerja ia membuka sedikit kancing kemejaku.
Lalu menyentuh bagian depan tubuhku.
Aku membiarkanya kan blue juga tidur ia pasti tak tahu apa yang sedang mom dan dadnya lakukan.
Semakin jauh tangan justin menjalar ditubuhku,
bahkan sekarang bibirnya tak lagi mencium bibirku.
Bahkan sekarang ia meninggalkan bekas-bekas gigitan dileherku.
Aku merasa sangat geli saat justin menyentuh tubuh bagian belakangku dengan tanganya.
Aku bahkan mengingit daun telingahnya dan membuat telingah justin memerah akibat gigitanku....
Selang beberapa menit meraka dalam kegiatan itu,
tanpa disadari seseorangmembuka pintu kerja williana.
"maaf-maaf" suara orang itu membuat justin dan williana berhenti dengan aktifitas mereka.
Williana segera merapikan kemjenya yang sempat tersingkap dan membenarkan juga dalamnya.
Williana turun dari meja.
"hy seharusnya kau mengetok pintu dulu janganlangsung masuk"
"maaf wiil, tadi aku sudah mengetok berulan-ulang tapi kau tak mendengarnya,
kufikir kau tidur dengan blue jadi aku berniat menaruh berkas ini dimejamu" ucap salah satu karyawan williana,
ia terlihat sangat ketakutan.
Justin menyadari hal ini,
ini juga salah mereka tak seharusnya melakukan adegan ini disini.
Justin menarik tangan williana.
"baiklah kau boleh pergi,
tapi ingat ini tak perna kau lihat.
Kau mengertikan?" ucap justin tegas,
dan terlihat kartawan itu hanya menganggukan kepalnya.
Pintu ruangan kerja williana kembali tertutup,
raut kekesalan masih tergambar jelas diwajah williana.
Justin tak tahu apa yang membuat williana kesal.
Apa karna ia dilihat atau karna kegiatan mereka terhenti.
Justin memeluk tubuh istrinya lalu menaruh dagunya di bahu istrinya.
"kau kenapa? Apa yang membuatmu marah seperti ini"
"aku hanya sedikit kesal, tak marahko"
"apa kau kesal karna kegiatan kita terhenti?"
williana membalikan badanya.
Segera ia mencubit perut justin.
"kau ini dasar otak mesum.
Aku tak marah karna itu,
tapi karna dia masuk dan melihat kita"
"oh aku kira kau marah karna kegiatan kita terhenti"
muka williana memerah dan sangat tergambar jelas malu yang disembunyikan williana.
"kan kita bisa meanjutkannya dirumah," ucap williana ditelingah justin.
Justin yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan kembali mendaratan sebuah kecupan hangat dipipi istrinya.
****
"jus tolong aku,
blue semakin berat aku tak bisa mengangkatnya" dengan cepat justin mengambil blue dari pangkuan williana.
Dengan segera justin masuk dan menaruh blue dikasurnya.
Justin melangkah kakinya kedapur.
Ia yakin williana sedang disana karna saat turun justin mencium aroma masakan.
Kudengan langkah kaki mendekat kearahku.
"just ambilkan aku kentang dikulkas" justin berhenti dan mengambil apa yang kusuruhkan.
"ini sayang,
kau mau masak apa?"
"hem hanya salat sayur dan steak,
apa kau suka"
"ia tapi jangan pakain baun bawang yah"
"ok.
Apa kau juga tak suka dengan daun bawang"
"ia "
"hem kurasa kau benar-benar ayah blue,
begitu banyak hal yang sam dengan kalian" justin menatapku seakan tak percaya dengan yang barusan kuucapkan"
"apa itu benar"
"ia aku berkata yang sebenarny"
"baiklah,
kan aku memang ayah blue,
aku harap kau bisa mengatakan hal itu pada semua orang sayang" justin mengecup sebentar pipiku.
Lalu ia melanjut memotong kentang yang tadi ia ambil.
"ia pasti,
sejak awal ia memang putrimu.
Mukan putri orang lain"
"terima kasih ill.
Kau bisa menerima bahwa akulah ayah dari blue"
aku hanya tersenyum,
dan kembali menyelesaikan apa yang tadi tertunda,
setelah sejam berkutat dengan bumbu dan sedikit mendapat gangguan dari justin.
Aku menyuruh justin membereskan meja makan dan menaruh masakan yang sudah kami buat.
Justin tersenyum saat melihat hasil karyanya.
Attente Part 27
Setelah kejadia seminggu yang lalu,
tersebar kabar anak perusahaan yang dipengang cody mengalami kerisis keuangan dan membutuhkan relasi untu menyuntikan dana kepurusaannya.
Aku sudah menyuruh olive untuk menyamar sebagai penyuntik dana dan juga.
Setelah pertemuan mereka olive menyetujui untuk menyuntik dana ke perusaan cody dengan syarat,
olive memiliki setengah dari sahan diperusaan itu dan arti katanya olive yang memiliki dan mengendalikan perusaan itu.
Karna terdesak oleh beberapa hal cody menyetujuinya.
Baiklah tahap pertama sudah kugenggam dan sekarang tahap kedua akan kulaksanakan.
Kalu cody kembali mengancam kehidupanku bersama keluarga barauku.
Aku tak lagi bekerja,
seperti yang kubilang aku menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Yang kukerjakan bukan lagi dokumen-dokumen dan rapat.
Tapi mengurus keperluan justin dan blue.
Setiap pagi aku bagun bukan lagi untuk merapikan pekerjaan yang tertunda tapi untuk membambangunkan dan menyiapakan makanan untuk justin dan blue.
Dan untuk masalah cody aku merahasiakan hal ini dari justin,
aku yakin ia akan melarangku melakukan ini karna akan membahayakan diriku sendiri,
aku yakin ia akan berkata seperti itu.
Jadi aku yang menyusun semuanya.
Bahkan aku yang menyuruh olive mendekati cody dan membuatnya jatuh cinta.
Dan sekarang aku rasa itu berhasil, bahkan olive bilang cody sudah mengajak olive kencan dan makan malam.
Tapi aku menyuruh olive untuk tak menanggapi hal ini,
dan membiarkan cody penasaran dengan olive.
Baiklah kuharap ini cukup tentang masalah yang kubuat untuk cody.
Dan hasilnya ia sedikit terpuruk dan jatuh.
Baiklah kita tinggalkan tentang cody.
Malam ini aku sedikit merasa tak enak badan dan hasilnya aku tak menyiapkan makan untuk putriku dan suami tercintaku.
Bahkan untuk berdiri aku sangat sulit,
kudengar langkah kakinya yang sudah sangat aku hafal,
itu langkah kaki justin dan blue.
Tapi kenapa ada langkah lain dibelakang justin.
Aku coba membenarkan posisiku.
Tapi tak bisa,
segera justin memenggang tubuhku.
"hy sayang, kau kenapa?
Astga lihat wajahmu sangat pucat" justin menyentuk dahiku dengan telapak tanganya.
Kulihat samar-sama seorang wanita paru bayah,
sebelum aku kehilangan kesadaran.
Mungkin cukup lama aku tak sadarkan diri,
tapi saat aku mengerjapkan kedua matakau.
Aku mendengar samar-samar suara kegembiraan yang tak tahu dari siapa.
Saat kubuka mataku,
aku dapat melihat dengan jelsa disini sudah ada justin, mom pattie dan bue disampingku.
Segera blue memeluk tubuhku yang masih lemah.
"mom tak apakan,
kata dad tak sakit,
tapi kenapa mom pinsan dan wajah mom pucat?" aku juga sedikit binggung kenapa justin tersenyum saat melihatku,
tak biasanya ia seperti ini.
Saat aku teriris pisau ia lebih panik dariku, tapi ini ia sedikit acuh padaku.
"dad benar sayang mom tak apa-apa hanya sedikit lelah,
besok akan lebih baik.
Kau darimana tadi?" kutatap terus wajah blue.
Aku sedikit kesal dengan tingkah justin,
bahkan saat ia menyentuh punggu tanganku aku sedikit mngesernya dan mengelus pipi blue.
Mom pattie dan blue sudah keluar.
Terdengar mom pattie memberikan sesuatu yang aku tak tahu itu apa.
Kubalikan badanku dan membelakangi justin. Ia mencoba memelukku dan mengelus perutku,
aku menghempaskan tanganya dan mencoba menutup mataku.
Kubiarkan kesalku sedikit menghilang dari otakku.
"sayang kau kenapa!,
apa kau tak mau mendengar kabar yang sangat membahagiakan ini?"
"hem"
justin membalikan badanku dan membuatku harus menatapnya,
"ada apa? Ayo cepat katakan, aku lelah dan ingin istirahan.
Kau tahukan kerjaan sebagai ibu rumah tangga."
"ia,
maaf karna aku kau harus seperti ini,
seharusnya aku menyewah seorang pekerja untuk membantumu.
Bagaiman kalau kita mencari seorang pelayan, apa kau mau?" ucap justin dan sesekali menatap mataku dalam ada sinar kekawatiran dari matanya.
"tak usah, aku bisa menanganinya sendiri.
Trus apa yang ingin kau katakan padaku?" ku menatapnya dan sedikit memajukan badanku,
agar ia yakin aku tak marah atau kesal padanya.
Justin menarikku kedalam dekapanya.
Bahkan ia berulang-ulang mengecup puncak kepalaku.
"ayo just katakan aku penasaran"
"baiklah sayang,
kau pinsan bukan karna capek atau kelelahan.
Ini bukan penyakit tapi anugrah yang selama ini kita tunggu,
kau tahu sekarang dalam rahimmu ada janin yang akan tumbuh dan menjadi seorang bayi yang kelah akan menambah kebahagiaan kita" justin kembali mengecup puncak kepalaku.
Tuhan apa ini,
ini kah hasil dari doa dan usaha yang kulakukan bersama justin.
Terimah kasih tuhan kau mengabulkan semua yang kuminta padamu.
Aku membenarkan posisiku dan tak terasa air mataku jatuh.
Justin menyekahnya dan kembali mendekapku.
"just, apa ini benar sayang?" aku kembali menanyakan hal ini.
"ia, tadi saat kau pinsan,
aku dan mom memenggil dokter.
Dan kata dokter dalam rahimmu ada janin.
Dan kata dokter kau harus menjaga kesehatan dan tidak melakukan pekerjaan rumah yang mampu membuatmu lelah"
tersebar kabar anak perusahaan yang dipengang cody mengalami kerisis keuangan dan membutuhkan relasi untu menyuntikan dana kepurusaannya.
Aku sudah menyuruh olive untuk menyamar sebagai penyuntik dana dan juga.
Setelah pertemuan mereka olive menyetujui untuk menyuntik dana ke perusaan cody dengan syarat,
olive memiliki setengah dari sahan diperusaan itu dan arti katanya olive yang memiliki dan mengendalikan perusaan itu.
Karna terdesak oleh beberapa hal cody menyetujuinya.
Baiklah tahap pertama sudah kugenggam dan sekarang tahap kedua akan kulaksanakan.
Kalu cody kembali mengancam kehidupanku bersama keluarga barauku.
Aku tak lagi bekerja,
seperti yang kubilang aku menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Yang kukerjakan bukan lagi dokumen-dokumen dan rapat.
Tapi mengurus keperluan justin dan blue.
Setiap pagi aku bagun bukan lagi untuk merapikan pekerjaan yang tertunda tapi untuk membambangunkan dan menyiapakan makanan untuk justin dan blue.
Dan untuk masalah cody aku merahasiakan hal ini dari justin,
aku yakin ia akan melarangku melakukan ini karna akan membahayakan diriku sendiri,
aku yakin ia akan berkata seperti itu.
Jadi aku yang menyusun semuanya.
Bahkan aku yang menyuruh olive mendekati cody dan membuatnya jatuh cinta.
Dan sekarang aku rasa itu berhasil, bahkan olive bilang cody sudah mengajak olive kencan dan makan malam.
Tapi aku menyuruh olive untuk tak menanggapi hal ini,
dan membiarkan cody penasaran dengan olive.
Baiklah kuharap ini cukup tentang masalah yang kubuat untuk cody.
Dan hasilnya ia sedikit terpuruk dan jatuh.
Baiklah kita tinggalkan tentang cody.
Malam ini aku sedikit merasa tak enak badan dan hasilnya aku tak menyiapkan makan untuk putriku dan suami tercintaku.
Bahkan untuk berdiri aku sangat sulit,
kudengar langkah kakinya yang sudah sangat aku hafal,
itu langkah kaki justin dan blue.
Tapi kenapa ada langkah lain dibelakang justin.
Aku coba membenarkan posisiku.
Tapi tak bisa,
segera justin memenggang tubuhku.
"hy sayang, kau kenapa?
Astga lihat wajahmu sangat pucat" justin menyentuk dahiku dengan telapak tanganya.
Kulihat samar-sama seorang wanita paru bayah,
sebelum aku kehilangan kesadaran.
Mungkin cukup lama aku tak sadarkan diri,
tapi saat aku mengerjapkan kedua matakau.
Aku mendengar samar-samar suara kegembiraan yang tak tahu dari siapa.
Saat kubuka mataku,
aku dapat melihat dengan jelsa disini sudah ada justin, mom pattie dan bue disampingku.
Segera blue memeluk tubuhku yang masih lemah.
"mom tak apakan,
kata dad tak sakit,
tapi kenapa mom pinsan dan wajah mom pucat?" aku juga sedikit binggung kenapa justin tersenyum saat melihatku,
tak biasanya ia seperti ini.
Saat aku teriris pisau ia lebih panik dariku, tapi ini ia sedikit acuh padaku.
"dad benar sayang mom tak apa-apa hanya sedikit lelah,
besok akan lebih baik.
Kau darimana tadi?" kutatap terus wajah blue.
Aku sedikit kesal dengan tingkah justin,
bahkan saat ia menyentuh punggu tanganku aku sedikit mngesernya dan mengelus pipi blue.
Mom pattie dan blue sudah keluar.
Terdengar mom pattie memberikan sesuatu yang aku tak tahu itu apa.
Kubalikan badanku dan membelakangi justin. Ia mencoba memelukku dan mengelus perutku,
aku menghempaskan tanganya dan mencoba menutup mataku.
Kubiarkan kesalku sedikit menghilang dari otakku.
"sayang kau kenapa!,
apa kau tak mau mendengar kabar yang sangat membahagiakan ini?"
"hem"
justin membalikan badanku dan membuatku harus menatapnya,
"ada apa? Ayo cepat katakan, aku lelah dan ingin istirahan.
Kau tahukan kerjaan sebagai ibu rumah tangga."
"ia,
maaf karna aku kau harus seperti ini,
seharusnya aku menyewah seorang pekerja untuk membantumu.
Bagaiman kalau kita mencari seorang pelayan, apa kau mau?" ucap justin dan sesekali menatap mataku dalam ada sinar kekawatiran dari matanya.
"tak usah, aku bisa menanganinya sendiri.
Trus apa yang ingin kau katakan padaku?" ku menatapnya dan sedikit memajukan badanku,
agar ia yakin aku tak marah atau kesal padanya.
Justin menarikku kedalam dekapanya.
Bahkan ia berulang-ulang mengecup puncak kepalaku.
"ayo just katakan aku penasaran"
"baiklah sayang,
kau pinsan bukan karna capek atau kelelahan.
Ini bukan penyakit tapi anugrah yang selama ini kita tunggu,
kau tahu sekarang dalam rahimmu ada janin yang akan tumbuh dan menjadi seorang bayi yang kelah akan menambah kebahagiaan kita" justin kembali mengecup puncak kepalaku.
Tuhan apa ini,
ini kah hasil dari doa dan usaha yang kulakukan bersama justin.
Terimah kasih tuhan kau mengabulkan semua yang kuminta padamu.
Aku membenarkan posisiku dan tak terasa air mataku jatuh.
Justin menyekahnya dan kembali mendekapku.
"just, apa ini benar sayang?" aku kembali menanyakan hal ini.
"ia, tadi saat kau pinsan,
aku dan mom memenggil dokter.
Dan kata dokter dalam rahimmu ada janin.
Dan kata dokter kau harus menjaga kesehatan dan tidak melakukan pekerjaan rumah yang mampu membuatmu lelah"
aku hanya tersenyum..
Attente Part 28
Sebulan setelah hari itu,
benih dalam rahimku sudah berumur 1 bulan 10 hari.
Bahkan sekarang mom pattie tinggal disini untuk menemaniku dan mengerus urusan rumah.
Aku sedikit legah dengan adanya mom pattie,
aku sedikit merasa aneh dengan kehamilanku yang kedua ini,
aku sering merasa mual dan tak bisa lama kena matahari.
Sedangkah waktu menghamilkan blue biasa-biasa saja bahkan tak ada yang namanya ngidam kurasakan.
Mungkin karna dulu begitu banyak masalah dan tekanan sehingga aku tak lagi merasakan hal itu,
yah bisa saja, sekarang akukan lebih banyak diam dan semuanya mom pattie yang mengerjakanya.
Kulangkahkan kakiku meneruni anak tangah,
kulihat blue sedang nonton dan mom pattie didapur menyiapkan makanan untuk makan malam.
Hari ini olive akan datang bersama mom,
oh iya aku lupa mom olive sudah sembuh dan aku mengundangnya datang kerumahku.
Aku merindukanya karna kehamilanku ini justin tak membiarkanku terlalu banyak kegiatan, jadi aku tak perna mengunjungi mom sampai ia sembuh.
Aku duduk diseblah blue.
"hy sayang, sepertinya anak mom ini sangat menyukai acara ini"
aku menoleh ke blue dan ia hanya tersenyum.
"ia mom aku suka, oh iya bagaimana dengan adikku apa dia sudah bisa mendengar kita mom?"
"mom rasa ia, coba kau elus perut mom." blue menyingkap kaos yang aku kenakan.
Ia mengelus lalu menempelkan kepalanya keperutku.
"hy,
aku blue .
Kau tahukan aku kakakmu, hem apa kau pria atau wanita.
Aku harap kau wanita" blue mengecup perutku lalu kembali membetulkan posisi kaosku.
Suara bel beberapa kali berbunyi,
"sayang mom buka pintunya sebentar yah," blue hanya mengangguk, dan kembali melihat tv ".
Kulangkahkan kakiku kearah pintu,
dan membuka pintu,
seulas senyum tergambar jelas diwajahku.
Pria yang kucintai sudah pulang.
Dengan segerah aku berhambur kedalam pelukanya,
aku mengitu merindukanya ia sudah seminggu keluar kota untuk urusan kerja.
"bagaiman apa semuanya berjalan lancar sayang," ucapku masih didalam dekapan justin.
"ia sangat baik, bahkan aku kembali mengalahkan cody.
Aku senang sekali sayang bisa mengalahkan cody untuk kedua kalinya." aku hanya tersenyum. walaupun justin tak tahu bahwa aku yang melakukan ini,
agar semua relasi bisnis yang bekerja sama dengan cody lebih memudahkan langkah justin.
"ayo masuk, sebentar lagi olive dan mom akan datang."
"baiklah, blue dan mom mana?"
"hem blue nonton dan mom sedang menyiapkan makanan untuk menjamu olive dan ibunya."
aku mengantar justin kekamar,
beginilah kerjaanku setelah justin datang aku pasti membantunya melepaskan pakaian kerjanya.
"sini biar aku bantu," aku membuka jas dan dasi justin.
Dengan hati-hati aku menaruh jas dan dasi justin.
Lalu membuka kemeja dan melangkahkan kakiku kelemari untuk memilihkan pakaian untuk justin.
"ini kenakan,
aku rasa cocok." justin mendekatiku, tapi aneh dia tak mengambil pakaian yang kuberikan padanya.
Ia malahan menarik tanganku dan membuatku semakin dekat denganya.
Wajah kami sangat dekat,
bahkan aku merasakan deruh nafasnya menerpa kulit wajahku.
Sedetik kemudia kurasakan bibirnya melumat bibirku.
Dan semakin lama semakin dalam ciuman justin.
Bahkan sekarang justin membalikan badanku dan ia menjatuhkan bandanya dikasur.
Saat ini posisi kami.
Aku diatas dan justin dibawahku,
ia semakin mendekap tubuhku dan membuatku sedikit sesak karna tangan justin mendekapku sangat erat.
Kucoba melepas pelukan justin tapi ia tak menghiraukanku dan bahkan ia semakin menarik tenggkuk leherku,
hal ini membuatku semakin sesak dan seakan kehabisan nafas.
Kucoba kembal menekan tubuh justin tapi hasilnya sama.
Baiklah ini jalan terakhir, kugigit bibir justin dan hasilnya ia melepas bibirku dan juga dekapanya melonggar,
segera kubenarkan posisiku.
Dan mengambil nafs dalam-dalam.
"just kau ini gila yah.
Kau hampir membuatku mati karna kehabisan nafas."
"kau juga sama, kenapa kau mengingint bibirku sangat kuat,"
"kau juga sih yang salah.
Aku sudah mencoba melepaskan tubuhku darimu tapi kau malah semakin mendekapku dan membuatku hampir kehabisan nafas."
justin menganti pakainya dengan pakain yang lebih santai.
Kami keluar dari kamar dan melangkahkan kaki kami kearah ruang tamu.
"hy sayang,
apa kau tak merindukan dad?" justin mengendong tubuh blue dan tersenyum
"hem aku sangat merindukan dad.
Kenapa dad sangat lama? "
"hem maaf, dad banyak tugas disana."
"baiklah permintaan maaf diterima,
tapi dad harus janji besok kita kepantai,
aku ingin kesana"
"hem tapi blue musim sangat tak baik sayang,
lebih baik kita kemall dan berbelanja mainan atau boneka kesukaanmu.
Apa kau setuju?"
"baiklah, aku setujuh.
Tapi dad janji kita kesana besok."
"ia dad janji sayang,
oh iya mom mana?"
"mom disana " justin mengikuti arah tunjuka blue
ting tong ting tong.
Suara be beberapa kali berbunyi.
Dengan tergesah-gesah blue membuka pintu rumahnya.
Ia tersenyum saat melihat siapa dibalik pintu itu.
"hy sayang, apa dad dan mommu ada?"
"ia aunty mom ada, ayo masuk.
Hy grandma"
.......
benih dalam rahimku sudah berumur 1 bulan 10 hari.
Bahkan sekarang mom pattie tinggal disini untuk menemaniku dan mengerus urusan rumah.
Aku sedikit legah dengan adanya mom pattie,
aku sedikit merasa aneh dengan kehamilanku yang kedua ini,
aku sering merasa mual dan tak bisa lama kena matahari.
Sedangkah waktu menghamilkan blue biasa-biasa saja bahkan tak ada yang namanya ngidam kurasakan.
Mungkin karna dulu begitu banyak masalah dan tekanan sehingga aku tak lagi merasakan hal itu,
yah bisa saja, sekarang akukan lebih banyak diam dan semuanya mom pattie yang mengerjakanya.
Kulangkahkan kakiku meneruni anak tangah,
kulihat blue sedang nonton dan mom pattie didapur menyiapkan makanan untuk makan malam.
Hari ini olive akan datang bersama mom,
oh iya aku lupa mom olive sudah sembuh dan aku mengundangnya datang kerumahku.
Aku merindukanya karna kehamilanku ini justin tak membiarkanku terlalu banyak kegiatan, jadi aku tak perna mengunjungi mom sampai ia sembuh.
Aku duduk diseblah blue.
"hy sayang, sepertinya anak mom ini sangat menyukai acara ini"
aku menoleh ke blue dan ia hanya tersenyum.
"ia mom aku suka, oh iya bagaimana dengan adikku apa dia sudah bisa mendengar kita mom?"
"mom rasa ia, coba kau elus perut mom." blue menyingkap kaos yang aku kenakan.
Ia mengelus lalu menempelkan kepalanya keperutku.
"hy,
aku blue .
Kau tahukan aku kakakmu, hem apa kau pria atau wanita.
Aku harap kau wanita" blue mengecup perutku lalu kembali membetulkan posisi kaosku.
Suara bel beberapa kali berbunyi,
"sayang mom buka pintunya sebentar yah," blue hanya mengangguk, dan kembali melihat tv ".
Kulangkahkan kakiku kearah pintu,
dan membuka pintu,
seulas senyum tergambar jelas diwajahku.
Pria yang kucintai sudah pulang.
Dengan segerah aku berhambur kedalam pelukanya,
aku mengitu merindukanya ia sudah seminggu keluar kota untuk urusan kerja.
"bagaiman apa semuanya berjalan lancar sayang," ucapku masih didalam dekapan justin.
"ia sangat baik, bahkan aku kembali mengalahkan cody.
Aku senang sekali sayang bisa mengalahkan cody untuk kedua kalinya." aku hanya tersenyum. walaupun justin tak tahu bahwa aku yang melakukan ini,
agar semua relasi bisnis yang bekerja sama dengan cody lebih memudahkan langkah justin.
"ayo masuk, sebentar lagi olive dan mom akan datang."
"baiklah, blue dan mom mana?"
"hem blue nonton dan mom sedang menyiapkan makanan untuk menjamu olive dan ibunya."
aku mengantar justin kekamar,
beginilah kerjaanku setelah justin datang aku pasti membantunya melepaskan pakaian kerjanya.
"sini biar aku bantu," aku membuka jas dan dasi justin.
Dengan hati-hati aku menaruh jas dan dasi justin.
Lalu membuka kemeja dan melangkahkan kakiku kelemari untuk memilihkan pakaian untuk justin.
"ini kenakan,
aku rasa cocok." justin mendekatiku, tapi aneh dia tak mengambil pakaian yang kuberikan padanya.
Ia malahan menarik tanganku dan membuatku semakin dekat denganya.
Wajah kami sangat dekat,
bahkan aku merasakan deruh nafasnya menerpa kulit wajahku.
Sedetik kemudia kurasakan bibirnya melumat bibirku.
Dan semakin lama semakin dalam ciuman justin.
Bahkan sekarang justin membalikan badanku dan ia menjatuhkan bandanya dikasur.
Saat ini posisi kami.
Aku diatas dan justin dibawahku,
ia semakin mendekap tubuhku dan membuatku sedikit sesak karna tangan justin mendekapku sangat erat.
Kucoba melepas pelukan justin tapi ia tak menghiraukanku dan bahkan ia semakin menarik tenggkuk leherku,
hal ini membuatku semakin sesak dan seakan kehabisan nafas.
Kucoba kembal menekan tubuh justin tapi hasilnya sama.
Baiklah ini jalan terakhir, kugigit bibir justin dan hasilnya ia melepas bibirku dan juga dekapanya melonggar,
segera kubenarkan posisiku.
Dan mengambil nafs dalam-dalam.
"just kau ini gila yah.
Kau hampir membuatku mati karna kehabisan nafas."
"kau juga sama, kenapa kau mengingint bibirku sangat kuat,"
"kau juga sih yang salah.
Aku sudah mencoba melepaskan tubuhku darimu tapi kau malah semakin mendekapku dan membuatku hampir kehabisan nafas."
justin menganti pakainya dengan pakain yang lebih santai.
Kami keluar dari kamar dan melangkahkan kaki kami kearah ruang tamu.
"hy sayang,
apa kau tak merindukan dad?" justin mengendong tubuh blue dan tersenyum
"hem aku sangat merindukan dad.
Kenapa dad sangat lama? "
"hem maaf, dad banyak tugas disana."
"baiklah permintaan maaf diterima,
tapi dad harus janji besok kita kepantai,
aku ingin kesana"
"hem tapi blue musim sangat tak baik sayang,
lebih baik kita kemall dan berbelanja mainan atau boneka kesukaanmu.
Apa kau setuju?"
"baiklah, aku setujuh.
Tapi dad janji kita kesana besok."
"ia dad janji sayang,
oh iya mom mana?"
"mom disana " justin mengikuti arah tunjuka blue
ting tong ting tong.
Suara be beberapa kali berbunyi.
Dengan tergesah-gesah blue membuka pintu rumahnya.
Ia tersenyum saat melihat siapa dibalik pintu itu.
"hy sayang, apa dad dan mommu ada?"
"ia aunty mom ada, ayo masuk.
Hy grandma"
.......
Attente Part 29
Kulihat dari balik dinding kaca yang memisahkan ruang makan dan ruang keluarga mom dan olive sudah datang.
"mom aku kedepan dulu,
tamunya sudah datang" mom pettie hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Kulangkahkan kakiku keruang tamu,
aku menyunggingkan senyum pada kedua orang yang sudah membantuku melalui hari-hari yang berat.
"hy mom maaf aku tak bisa menjenggukmu karna kau tahukan aku juga sedang sakit" ucapku masih dalam dekapan ibu olive.
Ia hanya mengelus puncak kepalaku, lalu melepas dekapanku.
"sekarang kandunganmu menginjak bulan keberapa?" ucap ibu olive dan sesekali mengelis perutku yang belum buncit.
"hem baru 1 bulan 10 hari"
"baiklah ini bulan awal dan kau tahukan tak boleh terlalu lelah,
jangan seperti saat kau mengandung blue"
"ia mom" aku hanya mengangguk.
Kuantar ibu olive dan olive kemeja makan.
Disana justin, blue dan mom pattie sudah menunggu.
"mom perkenalkan ini yang kubaksud dengan ibu angkatku"
mom pattie menjulurkan tanganya dan dibals oleh ibu olive.
"rose"
"pattie ibu justin"
mom rose mengambil kursi yang berhadapan dengan blue dan mom pattie disampingku.
"silahkan dinikmati maaf kalau kurang enak" ucap mom pattie.
Dalam acara makan malam ini tak banyak yang kami bahas,
bahkan yang terdengar hanya decitan sendok dan garpu yang terbentur dengan piring.
Aku ingin memecah keheningan ini tapi mom rose yang mendahuluiku.
"will bagaiman kabar ayah blue?" astaga kenapa mom rose bisa bercupa itu.
Kulihat justin langsung memberhentikan kegiatan makanya begitu juga dengan mom pattie dan olive.
Justin akan mengangkat bicara tapi olive mendahuluinya.
"mom ayah blue ini justin,
dan dia baik-baik saja.
Mom kenapa ?apa mom lupa lagi"
olive menutupi kesalahan mom rose dengan bercupa seperti itu,
mom pattie menatapku dan justin bergantian.
"mom rasa ada yang salah disini,
kenapa ibu rose bisa berucap seperti itu,
apa dia tak tahu siapa ayah kandung blue" mom pattie memandangku.
Baiklah aku harus kembali membohongimu mom.
"begini mom,
mom rose memiliki penyakit pikun dan itu sering terjadi.
Dia tahuko ayah blue yang justin.
Tapi kau tahulah mom bagaiman orang yang mengalami kepikunan?"
"mom hanya sedikit heran,
karna saat dia mengucapkan itu terlihat sangat yakin "
"mom kau harus tahu aku ayah blue dan ill tak perna melakukan hal itu dengan orang lain selain aku.
Jadi tak mungkin ayah blue orang lain." justin kembali menyakinkan mom.
"baiklah, tapi mom tak ingin mendengar hal itu lagi"
semuanya kembali melanjutkan makan yang telah tertundah.
Kubuang nafs panjang, untunglah semuanya dapat diatasi.
Aku tak bisa membayangkan seandainya mom rose tak menghentikan ucapanya.
Mungkin mom pattie akan tahu semua kebohongan aku dan justin.
Inilah yang aku takutkan,
aku takut mom pattie tahu ini dari orang lain dan dia akan salah paham.
Lalu marah dan membenciku dan blue.
Aku tak bisa membayangkan seandainya itu benar-benar terjadi.
Aku lebih memilih mati dari pada terjebak disituansi seperti itu...
Setelah mengantar mom rose dan olive kedepan.
Sempat aku membesikkan sesuatu pada olive tentang rencana kedepan kami, mengenai balas dendam ku pada cody.
Kututup pintu rumah dan menguncinya.
Kulihat mom pattie membereskan meja makan.
Aku menghapirinya.
"mau aku bantu?"
"tak usah sayang, sebaiknya kau istirahat.
Kau dengarkan kata dokter kemarin,
kandunganmu tak sekuat saat mengandung blue."
"tapikan mom aku tak enak,
selama aku hamil mom yang mengantikan tugasku." mom pattie mendekat kearahku.
Dan menmengangg kedua bahuku.
"ingat yang membuatmu seperti ini anak mom,
jadi mau tak mau mom juga harus bertanggu jawab dengan hasil kenakalan putraku" mom pattie mencoel hidungku dan membuatku tersenyum.
"kau mengerti sekarang nona manis?"
"ia mom, mom ada-ada saja inikah karna aku juga"
"ia.
Lebih baik kau bawa ini kejustin dan blue,
mereka sudah menunggu ini dari tadi"
"baijlah" ku ambil senampan makana ringan dan dua coklat panas.
Kulangkahkan kakiku mendekat kearah justin dan blue.
"ayo silahkan dimakan " aku duduk disamping justin dan mendekapnya,
ia membals dengan menaruh satu tanganya diatas tanganku dan sesekali mengelusnya.
Blue menatap kami-aku dan justin-
"kenapa sayang?"
"mom dan dad berpelukan kenapa blue tak diajak"
aku hanya tersenyum mendengat ucapan blue
"ayo sini," aku mengeser tubuhku dari tubuh justin.
Kemudia blue masuk diatara kami.
Sekarang aku dan justin sama-sama memeluk blue tapi tetap saja tangan justin yang atu memeluk pinggangku.
"ill,
kenapa mom rose bisa keceplosan seperti itu?"
"aku tak tahu just, tadi seakan jantungku berhenti berdetak karna ucapan mom rose,
untung kau bisa menyankinkan mom pattie."
"aku juga sama sayang".
"itulah just,
kan sedari dulu sudah kubilang sebaiknya mom pattie mengetahui semua ini dari pada nantinya ia tahu dari orang lain sayang."
"aku yakin mom tak akan tahu,
klu kau tak memberitahukanya.
Aku sudah bilang biarkan semuanya seperti yang diketahui mom,
kau mengertikan"
"baiklah"
"mom aku kedepan dulu,
tamunya sudah datang" mom pettie hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Kulangkahkan kakiku keruang tamu,
aku menyunggingkan senyum pada kedua orang yang sudah membantuku melalui hari-hari yang berat.
"hy mom maaf aku tak bisa menjenggukmu karna kau tahukan aku juga sedang sakit" ucapku masih dalam dekapan ibu olive.
Ia hanya mengelus puncak kepalaku, lalu melepas dekapanku.
"sekarang kandunganmu menginjak bulan keberapa?" ucap ibu olive dan sesekali mengelis perutku yang belum buncit.
"hem baru 1 bulan 10 hari"
"baiklah ini bulan awal dan kau tahukan tak boleh terlalu lelah,
jangan seperti saat kau mengandung blue"
"ia mom" aku hanya mengangguk.
Kuantar ibu olive dan olive kemeja makan.
Disana justin, blue dan mom pattie sudah menunggu.
"mom perkenalkan ini yang kubaksud dengan ibu angkatku"
mom pattie menjulurkan tanganya dan dibals oleh ibu olive.
"rose"
"pattie ibu justin"
mom rose mengambil kursi yang berhadapan dengan blue dan mom pattie disampingku.
"silahkan dinikmati maaf kalau kurang enak" ucap mom pattie.
Dalam acara makan malam ini tak banyak yang kami bahas,
bahkan yang terdengar hanya decitan sendok dan garpu yang terbentur dengan piring.
Aku ingin memecah keheningan ini tapi mom rose yang mendahuluiku.
"will bagaiman kabar ayah blue?" astaga kenapa mom rose bisa bercupa itu.
Kulihat justin langsung memberhentikan kegiatan makanya begitu juga dengan mom pattie dan olive.
Justin akan mengangkat bicara tapi olive mendahuluinya.
"mom ayah blue ini justin,
dan dia baik-baik saja.
Mom kenapa ?apa mom lupa lagi"
olive menutupi kesalahan mom rose dengan bercupa seperti itu,
mom pattie menatapku dan justin bergantian.
"mom rasa ada yang salah disini,
kenapa ibu rose bisa berucap seperti itu,
apa dia tak tahu siapa ayah kandung blue" mom pattie memandangku.
Baiklah aku harus kembali membohongimu mom.
"begini mom,
mom rose memiliki penyakit pikun dan itu sering terjadi.
Dia tahuko ayah blue yang justin.
Tapi kau tahulah mom bagaiman orang yang mengalami kepikunan?"
"mom hanya sedikit heran,
karna saat dia mengucapkan itu terlihat sangat yakin "
"mom kau harus tahu aku ayah blue dan ill tak perna melakukan hal itu dengan orang lain selain aku.
Jadi tak mungkin ayah blue orang lain." justin kembali menyakinkan mom.
"baiklah, tapi mom tak ingin mendengar hal itu lagi"
semuanya kembali melanjutkan makan yang telah tertundah.
Kubuang nafs panjang, untunglah semuanya dapat diatasi.
Aku tak bisa membayangkan seandainya mom rose tak menghentikan ucapanya.
Mungkin mom pattie akan tahu semua kebohongan aku dan justin.
Inilah yang aku takutkan,
aku takut mom pattie tahu ini dari orang lain dan dia akan salah paham.
Lalu marah dan membenciku dan blue.
Aku tak bisa membayangkan seandainya itu benar-benar terjadi.
Aku lebih memilih mati dari pada terjebak disituansi seperti itu...
Setelah mengantar mom rose dan olive kedepan.
Sempat aku membesikkan sesuatu pada olive tentang rencana kedepan kami, mengenai balas dendam ku pada cody.
Kututup pintu rumah dan menguncinya.
Kulihat mom pattie membereskan meja makan.
Aku menghapirinya.
"mau aku bantu?"
"tak usah sayang, sebaiknya kau istirahat.
Kau dengarkan kata dokter kemarin,
kandunganmu tak sekuat saat mengandung blue."
"tapikan mom aku tak enak,
selama aku hamil mom yang mengantikan tugasku." mom pattie mendekat kearahku.
Dan menmengangg kedua bahuku.
"ingat yang membuatmu seperti ini anak mom,
jadi mau tak mau mom juga harus bertanggu jawab dengan hasil kenakalan putraku" mom pattie mencoel hidungku dan membuatku tersenyum.
"kau mengerti sekarang nona manis?"
"ia mom, mom ada-ada saja inikah karna aku juga"
"ia.
Lebih baik kau bawa ini kejustin dan blue,
mereka sudah menunggu ini dari tadi"
"baijlah" ku ambil senampan makana ringan dan dua coklat panas.
Kulangkahkan kakiku mendekat kearah justin dan blue.
"ayo silahkan dimakan " aku duduk disamping justin dan mendekapnya,
ia membals dengan menaruh satu tanganya diatas tanganku dan sesekali mengelusnya.
Blue menatap kami-aku dan justin-
"kenapa sayang?"
"mom dan dad berpelukan kenapa blue tak diajak"
aku hanya tersenyum mendengat ucapan blue
"ayo sini," aku mengeser tubuhku dari tubuh justin.
Kemudia blue masuk diatara kami.
Sekarang aku dan justin sama-sama memeluk blue tapi tetap saja tangan justin yang atu memeluk pinggangku.
"ill,
kenapa mom rose bisa keceplosan seperti itu?"
"aku tak tahu just, tadi seakan jantungku berhenti berdetak karna ucapan mom rose,
untung kau bisa menyankinkan mom pattie."
"aku juga sama sayang".
"itulah just,
kan sedari dulu sudah kubilang sebaiknya mom pattie mengetahui semua ini dari pada nantinya ia tahu dari orang lain sayang."
"aku yakin mom tak akan tahu,
klu kau tak memberitahukanya.
Aku sudah bilang biarkan semuanya seperti yang diketahui mom,
kau mengertikan"
"baiklah"
Attente Part 30
"baiklah sayang" williana menyandarkan kepalanya kebahu suaminya.
Tanpa mereka sadari seorang wanita paru bayah mendengar percakapan itu, walaupun tak sedetail yang dibicarakan sepasang suami istri itu...
"apa yang tak boleh kudengar dan apa yang seharusnya seperti itu,
katakan pada mom" astaga itu suara mom pattie,
tanpa dikomando aku dan justin berdiri dan menatap mom pattie yang berdiri dibelakang sofa dan melipat kedua tanganya dibawah dada.
"ayo katakan apa yang kalian ucapkan tadi?" astaga tuhan bagaiman ini,
apa semuanya harus terungkap sekarang.
Tadi kurasa akan baik-baik saja.
Tapi sekarang aku dihadapkan masalah ini lagi.
Lebih baik kau ambil nyawaku tuhan aku tak ingin semua kebahagian ini berakhir disini, aku baru memulai kebahagianku.
Justin melangkah mendekat kearah mom.
Dan memeluknya," mom kami tadi membicarakan tentang hadia yang akan kami kasih saat malam natal.
Tapi karna mom mendengarnya,
jadi sekarang semuanya harus mom tahu."
"mom yakin bukan ini yang kalain maksud,
mom tak percaya, just jangan berbohong, mom tau kau berbohong"
"tidak mom aku tak bohong, apa perna aku membohongin mom selama ini"
mom pattie terlihat tak percaya tapi dengan cepat aku memeluknya.
"ayolah mom kami tak membohongimu,
kau tahukan aku tak perna berbohon selama ini,"
aku melepas pelukanku dan mengecup pipi mom pattie.
Mungkin mom pattie yakin dengan ucapanku.
Dia tersenyum, dan kembali memelukku
"baiklah mom harap yang kalian ucapakan itu benar dan tak membohongiku"
"iya mom kami tak membohongimu" ucapa justin dan memeluk kami-aku dan mom pattie-.
***
kejadian malam tadi membuatku lebih hati-hati untuk mengucapkan tentang blue.
Bahkan kami tak lagi membahasnya,
kupikir itu yang terbaik untuk suamanya,
aku tak perna lagi mempermasalahkan kalau justin tak mau mengungkapnya.
Kubuka jundela kamarku dan sedikit menghirup udara segara yang tertiup angin.
Seminggu lagi musim dingin datang,
blue sangat suka musim dingin katanya musim dingin merupakan musim paling indah dimana salju turun dan natal juga dibulan itu.
Aku sudah mempersiapakan kada untuk justin, blue dan mom pattie.
Dan kandunganku sekarang sudah kuat karna sudah menginjak usia 2 bulan 3 hari.
Kata dokter kami bisa melakukan kewajiban kami,
sebenarnya aku malas melakukan kegiatan itu, tapi justin menginginkanya.
Jadi aku mau tak mau harus melaksanakan tugasku sebagai seorang istri.
Subuh tadi pertempuran kami berhenti dan justin tertidu karna lelah sedangkan aku terus tergaja sampai pagi.
Kulangkahkan kakiku kearah justin dan menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut.
Kemudia mengecup pipinya sebentar.
Blue dan mom pattie masih tidur.
Aku rindu ingin membuat sarapan untu keluargaku.
Jadi aku memutuskan pagi ini aku yang membuat sarapan pagi.
Kulangkahkan kakiku dan membuat roti isi selai sesuai dengan kesukaan mereka.
Setelah selesai aku sedikit membereskan dapur dan ruang tamu yang semalam digunakan oleh blue bermain.
Saat akan mengambil mainan blue.
Sepucuk surat jatuh dari buku blue.
Aku membuka surat itu.
Isi surat:
blue sayang aku hanya ingin kau tahu,
orang yang bersamamu dan kau sebut dad bukanlah ayah kandungmu.
Apa kau masih ingat dengan paman yang ditaman dulu,
klu kau masih ingat.
Akulah dadmu" astaga cody berani melakukan itu,
baiklah cody aku sudah tidak mengusikmu tapi kau yang memaksaku melakukan hal yang lebih jau padamu.
Segera kurobek-robek surat itu dan membakrnya.
Kuharap semuanya menghilang dengan terbakarnya surat dari bajingan itu.
Aku harap blue tak perna membaca ini,
will kau harus yakin dia tak membacanya.
Berfikirlah kalau dia sudah membacanya pasti dia akan menanyakan hal itu padamu.
Dengan cepat kurogoh ponselku.
"hallo olive, aku ingin kau melakukan rencana kita yang kedua.
Kau mengertikan?"
"ia will aku mengerti, jadi aku harus melakukannya sekarang?" jawab olive dari sebrang sana,
dasar tak perna berubah,
"tahun depan"
"apa kan masih lama will,
kalau masih tahun depan kenapa kau menelponku sepagi ini."
"oliveeee, yah besok.
Kenapa kau tak berubah-beruba olive"
"astga will,
aku tak tuli. Ia ,ia,ia aku akan melakukanya besok"
"besok aku akan megirimkan yang kau butuhkan".
Aku memutuskan panggilanku pada olive.
Aku bisa tambah stres kalau terus berbicara padanya,
dia itu bukan bodoh tapi sedikit kurang bisa mencerna perkataan kita.
Tapi biarpun seperti itu dia sahabat yang sangat baik dan bisa menerima aku apa adanya.
Aku menyanyanginya bahkan menyanyanginya seperti menyanyangi adik kandungku sendiri.
Dia adik yang tak kumiliki selama ini.
Kulangkahkan kakiku kekamar karna sekarang tuan pemals harus bangun.
Kubuka pintu kamarku dan membiarkanya terbuka.
"sayang ayo bangun ini sudah pagi, apa kau tak ingin kerja."
"hem" justin hanya mengerang dan sedikit merubah posisi tidurnya.
"ayo just kau harus bangun"
aku tak menyangkah gerakan tiba-tiba justin dan membuatku jatuh ketubuhnya,
"biarkan kita seperti ini,
hanya lima menit"
Tanpa mereka sadari seorang wanita paru bayah mendengar percakapan itu, walaupun tak sedetail yang dibicarakan sepasang suami istri itu...
"apa yang tak boleh kudengar dan apa yang seharusnya seperti itu,
katakan pada mom" astaga itu suara mom pattie,
tanpa dikomando aku dan justin berdiri dan menatap mom pattie yang berdiri dibelakang sofa dan melipat kedua tanganya dibawah dada.
"ayo katakan apa yang kalian ucapkan tadi?" astaga tuhan bagaiman ini,
apa semuanya harus terungkap sekarang.
Tadi kurasa akan baik-baik saja.
Tapi sekarang aku dihadapkan masalah ini lagi.
Lebih baik kau ambil nyawaku tuhan aku tak ingin semua kebahagian ini berakhir disini, aku baru memulai kebahagianku.
Justin melangkah mendekat kearah mom.
Dan memeluknya," mom kami tadi membicarakan tentang hadia yang akan kami kasih saat malam natal.
Tapi karna mom mendengarnya,
jadi sekarang semuanya harus mom tahu."
"mom yakin bukan ini yang kalain maksud,
mom tak percaya, just jangan berbohong, mom tau kau berbohong"
"tidak mom aku tak bohong, apa perna aku membohongin mom selama ini"
mom pattie terlihat tak percaya tapi dengan cepat aku memeluknya.
"ayolah mom kami tak membohongimu,
kau tahukan aku tak perna berbohon selama ini,"
aku melepas pelukanku dan mengecup pipi mom pattie.
Mungkin mom pattie yakin dengan ucapanku.
Dia tersenyum, dan kembali memelukku
"baiklah mom harap yang kalian ucapakan itu benar dan tak membohongiku"
"iya mom kami tak membohongimu" ucapa justin dan memeluk kami-aku dan mom pattie-.
***
kejadian malam tadi membuatku lebih hati-hati untuk mengucapkan tentang blue.
Bahkan kami tak lagi membahasnya,
kupikir itu yang terbaik untuk suamanya,
aku tak perna lagi mempermasalahkan kalau justin tak mau mengungkapnya.
Kubuka jundela kamarku dan sedikit menghirup udara segara yang tertiup angin.
Seminggu lagi musim dingin datang,
blue sangat suka musim dingin katanya musim dingin merupakan musim paling indah dimana salju turun dan natal juga dibulan itu.
Aku sudah mempersiapakan kada untuk justin, blue dan mom pattie.
Dan kandunganku sekarang sudah kuat karna sudah menginjak usia 2 bulan 3 hari.
Kata dokter kami bisa melakukan kewajiban kami,
sebenarnya aku malas melakukan kegiatan itu, tapi justin menginginkanya.
Jadi aku mau tak mau harus melaksanakan tugasku sebagai seorang istri.
Subuh tadi pertempuran kami berhenti dan justin tertidu karna lelah sedangkan aku terus tergaja sampai pagi.
Kulangkahkan kakiku kearah justin dan menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut.
Kemudia mengecup pipinya sebentar.
Blue dan mom pattie masih tidur.
Aku rindu ingin membuat sarapan untu keluargaku.
Jadi aku memutuskan pagi ini aku yang membuat sarapan pagi.
Kulangkahkan kakiku dan membuat roti isi selai sesuai dengan kesukaan mereka.
Setelah selesai aku sedikit membereskan dapur dan ruang tamu yang semalam digunakan oleh blue bermain.
Saat akan mengambil mainan blue.
Sepucuk surat jatuh dari buku blue.
Aku membuka surat itu.
Isi surat:
blue sayang aku hanya ingin kau tahu,
orang yang bersamamu dan kau sebut dad bukanlah ayah kandungmu.
Apa kau masih ingat dengan paman yang ditaman dulu,
klu kau masih ingat.
Akulah dadmu" astaga cody berani melakukan itu,
baiklah cody aku sudah tidak mengusikmu tapi kau yang memaksaku melakukan hal yang lebih jau padamu.
Segera kurobek-robek surat itu dan membakrnya.
Kuharap semuanya menghilang dengan terbakarnya surat dari bajingan itu.
Aku harap blue tak perna membaca ini,
will kau harus yakin dia tak membacanya.
Berfikirlah kalau dia sudah membacanya pasti dia akan menanyakan hal itu padamu.
Dengan cepat kurogoh ponselku.
"hallo olive, aku ingin kau melakukan rencana kita yang kedua.
Kau mengertikan?"
"ia will aku mengerti, jadi aku harus melakukannya sekarang?" jawab olive dari sebrang sana,
dasar tak perna berubah,
"tahun depan"
"apa kan masih lama will,
kalau masih tahun depan kenapa kau menelponku sepagi ini."
"oliveeee, yah besok.
Kenapa kau tak berubah-beruba olive"
"astga will,
aku tak tuli. Ia ,ia,ia aku akan melakukanya besok"
"besok aku akan megirimkan yang kau butuhkan".
Aku memutuskan panggilanku pada olive.
Aku bisa tambah stres kalau terus berbicara padanya,
dia itu bukan bodoh tapi sedikit kurang bisa mencerna perkataan kita.
Tapi biarpun seperti itu dia sahabat yang sangat baik dan bisa menerima aku apa adanya.
Aku menyanyanginya bahkan menyanyanginya seperti menyanyangi adik kandungku sendiri.
Dia adik yang tak kumiliki selama ini.
Kulangkahkan kakiku kekamar karna sekarang tuan pemals harus bangun.
Kubuka pintu kamarku dan membiarkanya terbuka.
"sayang ayo bangun ini sudah pagi, apa kau tak ingin kerja."
"hem" justin hanya mengerang dan sedikit merubah posisi tidurnya.
"ayo just kau harus bangun"
aku tak menyangkah gerakan tiba-tiba justin dan membuatku jatuh ketubuhnya,
"biarkan kita seperti ini,
hanya lima menit"
Attente Part 31
"biarkan kita seperti ini,
lima menit saja"
"ayolah just, kan semalam kita sudah melakukannya. Masa kau masih menginginkanya"
"aku bukan menginginkan itu sayang,
hanya ingin merasakan detak jantuk janin kita"
baiklah aku mengalah dan membiarkan justin melakukan apa yang dia inginka.
Aku sedikit mual, semakin kutahan semakin kuat rasa mual yang kuaras.
"just, lepaskan aku harus kekamar mandi perutku mual, aku rasa aku ingin muntah" dengan cepat justin melepas pelukanya dan membatuku masuk kedalam kamar mandi.
Segera kubuka penutup keloset dan memuntahkan apa yang ada diperutku.
Tapi sama hanya air yang keluar,
justin mencoba mengerut-urut belakang leherku, hal itu sediki membuatku merasa nyaman.
"bagaimana? Apa sebaiknya kita kedokter dan menyuruh dokter memberikanmu obat peredah rasa mual!"
aku mengeleng lemeh.
"ayolah ill,
apa kau tak melihat wajahmu sangat pucat "
"tak usah sayang, aku baik-baik saja sebentar setelah makan mungkin semuanya membaik"
aku tersenyum walaupun itu senyum lemah.
Justin membantuku kekasur dan membaringkan badanku.
"ayolah ill aku takut nant kau kenapa-kenapa sayang"
"tak apa just,
kan kau juga tahu kalau terlalu sering mengkomsumsi obat nanti akan membahayakan janin kita.
Aku tak menginginkan itu,
apa kau mau itu terjadi?"
"baiklah,
sebaiknya kau istirahat saja,
aku yang akan menyiapkan makan dan membereskan rumah."
saat justin akan membalikan badanya aku menahanya,
ia kembali berbalik.
"tak usah sayang, aku sudah menyelesaikannya tadi,
sebaiknya kau kebawa dan menemani mom serta blue sarapan."
"apa kau yakin tak apa kutinggalkan sendiri?"
"tak apa.
Pergila"...
justin menutup pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya, masih tergambar jelas wajah tampanya kekawatiran karna kondisi williana yang tiba-tiba drop.
Ia bahkan sempat melihat williana menikmati cinta mereka semalam.
Tapi kenapa ia bisa seperti ini.
Tak sadar justin menabra ibunya,
dan hampir saja membuat ibunya terjatuh.
Dengan sigap ibu justin menarik lengan anaknya.
Sehingga ia tak jadia jatuh karna justin sadar dan menahan tangan ibunya.
"mom kenapa ?"
"seharusnya mom yang bertanya,
kenapa kau melamun pagi-pagi begini?, dan kau hampir membuat mom jatuh"
"maaf mom,
aku sedang memikirkan kesehatan will,
ia pagi ini kembali drop,
aku tak tahu kenapa padagal semalam ia baik-baik saja mom!" jusin terlihat sangat kalut dan kawatir.
Mungkin pattie mengetahui kekaltan anaknya,
dengan sigap a membawa justin kedalam dekapan hangatnya.
"tenang lah, kau harus tenang begitulah kalu orang sedang mengandung."
"apa mom seperti itu saat mengandungku"
"iya sayang mom juga seperti itu,
malahan lebih parah mom harus menerima suntikan beberapa kali."
"astaga, mom kenapa tak menceritakan itu padaku."
"yah mom hanya tak punya waktu memberitahukanmu,
sebaiknya kau makan dan kekantor.ayo sana blue sudah menunggumu." pattie membenarkan dasi anaknya.*sebelumnya justin sudah mandi*.
Justin dan blue sudah bersiapa-siap kekantor dan sekolah.
Saat mereka akan pergi,
williana turun denga tampang yang lebih segar dari sebelumnya.
Ia menyungingkan senyumnya dan menghampiri blu dan justin yang sudah ada dalam mobil.
Ia mengecup pipi blue dan beralih kejustin ia mengecup bibir justin sebentar dan melepasnya.
"hati-hati dijalan,
jangan lupa jemput blue"
"ia sayang, dah kau bai-baik dirumahnya.
Kalau terjadi sesuatu kabarkan aku"
"ia"
justin menjalankan mobilnya sedangkan williana menunggu mobil suaminya benar-benar pergi dan menghilang dari pandangan matany.
"ayo sayang kita masuk.
Angin tak begitu bersahabat" williana berjalan bersama mom pattie kedalam rumah.
Ia duduk didepan perapian dan pattie menyalakan perapian itu.
Api diperapian membuat kedua orang itu sedikit hangat dan nyaman.
"bagaiman, apa semuanya baik,?"
"ia mom,
aku juga kurang tahu kenapa seperti ini, padahal semalam aku baik-baik saja".
"tak apa sayang,
hal itu biasa terjadi pada orang hamil.
Kau tenang saja semuanya baik-baik saja"
"aku juga berharap seperti itu mom"
"baiklah mom rasa kau butuh sesuatu untuk mengisi perutmu"
pattie berjalan dan meninggalkan williana diam didepan perapain.
Ia mengambil dua cangkir coklat panas dan kembali keperapian.
"ini sayang mungkin dengan ini kau akan lebih baik" pattie menyodorkan secangkir coklat panas pada williana,
dengan senyum williana mengambilnya.
Sesaat setelah williana menghabiskan coklat pansnya.
Ponselnya bergetar.
"maaf mom aku harus menerima panggilan ini"
"baiklah, silahkan sayang"..
Aku sedikit menjauh dari mom dan menerima panggilan dari olive.
"hallo ol,
ada apa? Apa semuanya berjalan sesuai rencana"
"ia" olive terdengar sangat gembira.
"maksudmu,
jelskan lebih jelas"
"begini tadi aku melakukan apa yang kau suruhkan padaku.
Dan cody menyetujuinya,
bahkan dia memberikan semua sahnya diperusaan induknya."
"baiklah ol,
aku rasa selangkah lagi kita bisa membals semuanya"
"aku rasa juga seperti itu will,
aku tak sabar menanti itu"
kumatikan panggilan olive..
lima menit saja"
"ayolah just, kan semalam kita sudah melakukannya. Masa kau masih menginginkanya"
"aku bukan menginginkan itu sayang,
hanya ingin merasakan detak jantuk janin kita"
baiklah aku mengalah dan membiarkan justin melakukan apa yang dia inginka.
Aku sedikit mual, semakin kutahan semakin kuat rasa mual yang kuaras.
"just, lepaskan aku harus kekamar mandi perutku mual, aku rasa aku ingin muntah" dengan cepat justin melepas pelukanya dan membatuku masuk kedalam kamar mandi.
Segera kubuka penutup keloset dan memuntahkan apa yang ada diperutku.
Tapi sama hanya air yang keluar,
justin mencoba mengerut-urut belakang leherku, hal itu sediki membuatku merasa nyaman.
"bagaimana? Apa sebaiknya kita kedokter dan menyuruh dokter memberikanmu obat peredah rasa mual!"
aku mengeleng lemeh.
"ayolah ill,
apa kau tak melihat wajahmu sangat pucat "
"tak usah sayang, aku baik-baik saja sebentar setelah makan mungkin semuanya membaik"
aku tersenyum walaupun itu senyum lemah.
Justin membantuku kekasur dan membaringkan badanku.
"ayolah ill aku takut nant kau kenapa-kenapa sayang"
"tak apa just,
kan kau juga tahu kalau terlalu sering mengkomsumsi obat nanti akan membahayakan janin kita.
Aku tak menginginkan itu,
apa kau mau itu terjadi?"
"baiklah,
sebaiknya kau istirahat saja,
aku yang akan menyiapkan makan dan membereskan rumah."
saat justin akan membalikan badanya aku menahanya,
ia kembali berbalik.
"tak usah sayang, aku sudah menyelesaikannya tadi,
sebaiknya kau kebawa dan menemani mom serta blue sarapan."
"apa kau yakin tak apa kutinggalkan sendiri?"
"tak apa.
Pergila"...
justin menutup pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya, masih tergambar jelas wajah tampanya kekawatiran karna kondisi williana yang tiba-tiba drop.
Ia bahkan sempat melihat williana menikmati cinta mereka semalam.
Tapi kenapa ia bisa seperti ini.
Tak sadar justin menabra ibunya,
dan hampir saja membuat ibunya terjatuh.
Dengan sigap ibu justin menarik lengan anaknya.
Sehingga ia tak jadia jatuh karna justin sadar dan menahan tangan ibunya.
"mom kenapa ?"
"seharusnya mom yang bertanya,
kenapa kau melamun pagi-pagi begini?, dan kau hampir membuat mom jatuh"
"maaf mom,
aku sedang memikirkan kesehatan will,
ia pagi ini kembali drop,
aku tak tahu kenapa padagal semalam ia baik-baik saja mom!" jusin terlihat sangat kalut dan kawatir.
Mungkin pattie mengetahui kekaltan anaknya,
dengan sigap a membawa justin kedalam dekapan hangatnya.
"tenang lah, kau harus tenang begitulah kalu orang sedang mengandung."
"apa mom seperti itu saat mengandungku"
"iya sayang mom juga seperti itu,
malahan lebih parah mom harus menerima suntikan beberapa kali."
"astaga, mom kenapa tak menceritakan itu padaku."
"yah mom hanya tak punya waktu memberitahukanmu,
sebaiknya kau makan dan kekantor.ayo sana blue sudah menunggumu." pattie membenarkan dasi anaknya.*sebelumnya justin sudah mandi*.
Justin dan blue sudah bersiapa-siap kekantor dan sekolah.
Saat mereka akan pergi,
williana turun denga tampang yang lebih segar dari sebelumnya.
Ia menyungingkan senyumnya dan menghampiri blu dan justin yang sudah ada dalam mobil.
Ia mengecup pipi blue dan beralih kejustin ia mengecup bibir justin sebentar dan melepasnya.
"hati-hati dijalan,
jangan lupa jemput blue"
"ia sayang, dah kau bai-baik dirumahnya.
Kalau terjadi sesuatu kabarkan aku"
"ia"
justin menjalankan mobilnya sedangkan williana menunggu mobil suaminya benar-benar pergi dan menghilang dari pandangan matany.
"ayo sayang kita masuk.
Angin tak begitu bersahabat" williana berjalan bersama mom pattie kedalam rumah.
Ia duduk didepan perapian dan pattie menyalakan perapian itu.
Api diperapian membuat kedua orang itu sedikit hangat dan nyaman.
"bagaiman, apa semuanya baik,?"
"ia mom,
aku juga kurang tahu kenapa seperti ini, padahal semalam aku baik-baik saja".
"tak apa sayang,
hal itu biasa terjadi pada orang hamil.
Kau tenang saja semuanya baik-baik saja"
"aku juga berharap seperti itu mom"
"baiklah mom rasa kau butuh sesuatu untuk mengisi perutmu"
pattie berjalan dan meninggalkan williana diam didepan perapain.
Ia mengambil dua cangkir coklat panas dan kembali keperapian.
"ini sayang mungkin dengan ini kau akan lebih baik" pattie menyodorkan secangkir coklat panas pada williana,
dengan senyum williana mengambilnya.
Sesaat setelah williana menghabiskan coklat pansnya.
Ponselnya bergetar.
"maaf mom aku harus menerima panggilan ini"
"baiklah, silahkan sayang"..
Aku sedikit menjauh dari mom dan menerima panggilan dari olive.
"hallo ol,
ada apa? Apa semuanya berjalan sesuai rencana"
"ia" olive terdengar sangat gembira.
"maksudmu,
jelskan lebih jelas"
"begini tadi aku melakukan apa yang kau suruhkan padaku.
Dan cody menyetujuinya,
bahkan dia memberikan semua sahnya diperusaan induknya."
"baiklah ol,
aku rasa selangkah lagi kita bisa membals semuanya"
"aku rasa juga seperti itu will,
aku tak sabar menanti itu"
kumatikan panggilan olive..
Attente Part 32
Baiklah semuanya sudah ada digenggamanku, bahkan untuk menjatuhkanmu kedalam jurang kesakitan sangat mudah cody.
Sudah kuperingati sebelumya jangan usik keluargaku tapi kau melanggarnya dan membuat semuanya lebih sulit untukmu.
****
3 BULAN KEMUDIAN
hari kandunganku berusiah 5 bulan 1 hari dan perutku juga sudah membesar, dan juga berat badanku bertambah,
setiap melihat tubuhku dicermin rasanya tubuhku terlihat sangat jelek.
Ada sebersik fikiran yang timbul dalam otakku,
bagaimana kalau justin tak menyukai bentuk tubuhku yang sekarang.
Dan bagaimana kalau ia melirik wanita lain, karna hal ini.
Semua fikiran itu terus berputar diotakku selama bentuk tubuhku berubah deratis.
Lamunanku berhenti saat kurasakan sentuhan lembut perutku,
aku tahu ini tangan justin.
Jadi aku membiarkanya melakukan itu, aku juga menyukai saat dia mengelus perutk.
Kalian harus tahu saat justin menyentuh perutku seakan janin dalam perutku tahu kalau yang menyentuhnya dalam ayahnya,
orang yang membuatnya dan menginginkanya hadir didunia ini.
Kupandangi wajah justin yang menempel diperutku.
Aku tak membayangkan seandainya benar apa yang selama ini berkecambuk difikiranku.
Segera kubuang fikiran itu dan tersenyum saat justin melihatku.
"kau kenapa? Aku merasa ada yang membuatmu risau akhir-akhir ini sayang!" ucap justin seraya membenarkan tubuhnya.
Aku tak mungkin memberitahukanmu just, tak mungkin aku hanya ingin kau yang menyadari kegelisahanku ini.
Aku taku itu terjadi.
"tak apa" aku membenarkan dressku yang tersingkap karna ulah justin,
lalu meninggalkan justin yang masih betah memendangi punggu belakangku.
Saat akan meneruni anak tangga,
tanganku ditarik dan alhasil tubuhku berbalik.
Aku menatapnya dan justin pun sama.
"kau kenapa? Tak biasanya kau sseperti ini.!"
ku tepis pelan tangan justin lalu menatapanya.
"tak apa, aku baik-baik saja"
"aku bisa merasakannya sayang,
kau sangat berbeda"
"sudahlah just, aku tak apa-apa.
Kau saja yang berfikir seperti itu"
kembali kulangkahkan kakiku,
ayolah just sadari aku mau kau tahu kerisauanku.
Aku terus berharap justin mendekapku,
dasar pria tak peka.
Kuambil ponselku.
"hallo olive, bisakah kau menjemputku.?
Aku ingin keluar"
"iya bisa,
apa aku menjemputmu sekarang"
"ia sekarang."
"baiklah" olive mengakhiri panggilanku.
Dasar akukan belum menyelesaikan ucapanku tapi dia langsung mematikanya.
Kubereskan rambutku dan sedikit memoles wajahku.
Kuambil tas lalu melangkah kearah justin.
Walaupun aku kesal padanya tapi ia tetap suamiku aku harus hormat padanya,
"just, aku akan pergi kemall bersama olive" saat aku akan membalikan badanku, kembali justin menarikku.
Karna tak siapa dengan gerakan justin tubuhku jatuh diats tubuhnya.
"aku tahu sayang,
pasti ada yang merisaukan fikiranmu.
Maaf kalau aku tak bisa menemukan apa yang membuatmu seperti ini. Tapi yang harus kau tahu aku tak suka saat kau memperlakukan aku seperti ini. Kau tahu hal ini menyiksa fikiranku.
Katakanlah sayang apa yang membuatmu seperti ini.
Kalau akau bisa aku akan membantumu"
"maafkan aku sayanag bukan maksudku melakukan ini atau menyiksamu karna sifatku yang berubah.
Aku juga tak tahu kenapa aku seperti ini,
tapi kau harus tahu aku sedikit risau karna perubahan bentuk badanku,
aku takut kau tak lagi menyukaiku karna bentuk badanku dan kau lebih memilik melirik wanit-wanita yang lebih dariku." kutundukan wajahku aku tak berani memendang wajah justin.
Sesaat setelah mengucapkan itu,
justin membenarkan posisiku dan pisisinya.
Dia mengangkat daguku.
Mau tak mau aku harus menatapnya.
Sedetik kemudian kurasakan lumatan lembut dibibirku dan semakin lama semakin dalam dan lembut justin menyentuh setiap rongga mulutku.
Bahkan sesekali ia menyedot bibirku.
Aku tak tahu maksud justin,
apa ia ingin mengatakan bahwa yang kufikirkan itu salah dengan memciumku.
Cukup lama kami dalam adengan ini,
bahkan aku tak memperdulikan getaran dihpku.
Aku tahu itu olive tapi maaf olive ada hal yang lebih penting.
Justin mengakhiri ciumanya pada bibirku dengan mengecup puncak kepalaku dan mengecup perutku cukup lama.
Dan ia kembali menatapku.
Lalu tersenyum.
"kau harus tahu,
bagaimanapun bentuk tubuhmu,
aku akan selalu mencintaimu.
Kau tahukan aku mencintai williana bukan tubunya.
Aku tak perna berfikir akan melakukan apa yang ada difikiranmu itu, semuanya masih sama ill.
Hati ini masih sepenuhnya untukmu dan selamnaya akan seperti itu.
Kau harus tahu kau wanita pertama yang mengisi hatiku dan kau yang terakhir,
kumohon jangan perna berfikir seperti itu.
Kau mau berjanji padakukan?"
astaga kenapa aku bisa berfikir seperti itu, padahal justin saja tak perna terlintas dalam benaknya.
Aku tak mengaitkan tanganku.
Tapi kembali melumat bibir justin,
aku tak memperdlikan lagi.
Ini pertama kalinya aku menciumnya.
Saat pertama melumat bibirnya justin tak membals,
tapi sedetik kemudian ia membalsnya dan menarikku semakin dekat,
tapi karna peutku kami tak bisa sedekat seperti dulu....
Sudah kuperingati sebelumya jangan usik keluargaku tapi kau melanggarnya dan membuat semuanya lebih sulit untukmu.
****
3 BULAN KEMUDIAN
hari kandunganku berusiah 5 bulan 1 hari dan perutku juga sudah membesar, dan juga berat badanku bertambah,
setiap melihat tubuhku dicermin rasanya tubuhku terlihat sangat jelek.
Ada sebersik fikiran yang timbul dalam otakku,
bagaimana kalau justin tak menyukai bentuk tubuhku yang sekarang.
Dan bagaimana kalau ia melirik wanita lain, karna hal ini.
Semua fikiran itu terus berputar diotakku selama bentuk tubuhku berubah deratis.
Lamunanku berhenti saat kurasakan sentuhan lembut perutku,
aku tahu ini tangan justin.
Jadi aku membiarkanya melakukan itu, aku juga menyukai saat dia mengelus perutk.
Kalian harus tahu saat justin menyentuh perutku seakan janin dalam perutku tahu kalau yang menyentuhnya dalam ayahnya,
orang yang membuatnya dan menginginkanya hadir didunia ini.
Kupandangi wajah justin yang menempel diperutku.
Aku tak membayangkan seandainya benar apa yang selama ini berkecambuk difikiranku.
Segera kubuang fikiran itu dan tersenyum saat justin melihatku.
"kau kenapa? Aku merasa ada yang membuatmu risau akhir-akhir ini sayang!" ucap justin seraya membenarkan tubuhnya.
Aku tak mungkin memberitahukanmu just, tak mungkin aku hanya ingin kau yang menyadari kegelisahanku ini.
Aku taku itu terjadi.
"tak apa" aku membenarkan dressku yang tersingkap karna ulah justin,
lalu meninggalkan justin yang masih betah memendangi punggu belakangku.
Saat akan meneruni anak tangga,
tanganku ditarik dan alhasil tubuhku berbalik.
Aku menatapnya dan justin pun sama.
"kau kenapa? Tak biasanya kau sseperti ini.!"
ku tepis pelan tangan justin lalu menatapanya.
"tak apa, aku baik-baik saja"
"aku bisa merasakannya sayang,
kau sangat berbeda"
"sudahlah just, aku tak apa-apa.
Kau saja yang berfikir seperti itu"
kembali kulangkahkan kakiku,
ayolah just sadari aku mau kau tahu kerisauanku.
Aku terus berharap justin mendekapku,
dasar pria tak peka.
Kuambil ponselku.
"hallo olive, bisakah kau menjemputku.?
Aku ingin keluar"
"iya bisa,
apa aku menjemputmu sekarang"
"ia sekarang."
"baiklah" olive mengakhiri panggilanku.
Dasar akukan belum menyelesaikan ucapanku tapi dia langsung mematikanya.
Kubereskan rambutku dan sedikit memoles wajahku.
Kuambil tas lalu melangkah kearah justin.
Walaupun aku kesal padanya tapi ia tetap suamiku aku harus hormat padanya,
"just, aku akan pergi kemall bersama olive" saat aku akan membalikan badanku, kembali justin menarikku.
Karna tak siapa dengan gerakan justin tubuhku jatuh diats tubuhnya.
"aku tahu sayang,
pasti ada yang merisaukan fikiranmu.
Maaf kalau aku tak bisa menemukan apa yang membuatmu seperti ini. Tapi yang harus kau tahu aku tak suka saat kau memperlakukan aku seperti ini. Kau tahu hal ini menyiksa fikiranku.
Katakanlah sayang apa yang membuatmu seperti ini.
Kalau akau bisa aku akan membantumu"
"maafkan aku sayanag bukan maksudku melakukan ini atau menyiksamu karna sifatku yang berubah.
Aku juga tak tahu kenapa aku seperti ini,
tapi kau harus tahu aku sedikit risau karna perubahan bentuk badanku,
aku takut kau tak lagi menyukaiku karna bentuk badanku dan kau lebih memilik melirik wanit-wanita yang lebih dariku." kutundukan wajahku aku tak berani memendang wajah justin.
Sesaat setelah mengucapkan itu,
justin membenarkan posisiku dan pisisinya.
Dia mengangkat daguku.
Mau tak mau aku harus menatapnya.
Sedetik kemudian kurasakan lumatan lembut dibibirku dan semakin lama semakin dalam dan lembut justin menyentuh setiap rongga mulutku.
Bahkan sesekali ia menyedot bibirku.
Aku tak tahu maksud justin,
apa ia ingin mengatakan bahwa yang kufikirkan itu salah dengan memciumku.
Cukup lama kami dalam adengan ini,
bahkan aku tak memperdulikan getaran dihpku.
Aku tahu itu olive tapi maaf olive ada hal yang lebih penting.
Justin mengakhiri ciumanya pada bibirku dengan mengecup puncak kepalaku dan mengecup perutku cukup lama.
Dan ia kembali menatapku.
Lalu tersenyum.
"kau harus tahu,
bagaimanapun bentuk tubuhmu,
aku akan selalu mencintaimu.
Kau tahukan aku mencintai williana bukan tubunya.
Aku tak perna berfikir akan melakukan apa yang ada difikiranmu itu, semuanya masih sama ill.
Hati ini masih sepenuhnya untukmu dan selamnaya akan seperti itu.
Kau harus tahu kau wanita pertama yang mengisi hatiku dan kau yang terakhir,
kumohon jangan perna berfikir seperti itu.
Kau mau berjanji padakukan?"
astaga kenapa aku bisa berfikir seperti itu, padahal justin saja tak perna terlintas dalam benaknya.
Aku tak mengaitkan tanganku.
Tapi kembali melumat bibir justin,
aku tak memperdlikan lagi.
Ini pertama kalinya aku menciumnya.
Saat pertama melumat bibirnya justin tak membals,
tapi sedetik kemudian ia membalsnya dan menarikku semakin dekat,
tapi karna peutku kami tak bisa sedekat seperti dulu....
Attente Part 33
Ketika semuanya sudah kugenggam bahkan membalskan sakit dan luka dihatiku juga sudah,
dan yang membuatku lebih bahagian, pria bajingan itu sekarang benar-benar hancur dan jatuh kedasar jurang kesakitan,
begitu juga dengan orang tuanya yang dulu memperlakukanku sangat tak manusiawi.
Bahkan sekarang ia harus bekerja sebagai bawahanku agar bisa melunasi utangnya padaku.
Kalian pasti masih ingat tentang penyuntikan dana itu,
ia semuanya adalah hutang dan sekarang telah melilit keluarga cody.
Bahkan seminggu yang lalu aku mendapat kabar ibu cody gantung diri karna tak menerima kenyataan bahwa perusahaan dan semua hartanya lenyap dalam semalam.
Aku sangat bahagia mendengar dan melihat semuanya dengan mata kepalaku,
dan juga menghancurkanya dengan tanganku sendiri.
Orang tua cody perna berucap"hanya uang dan kekuasaan yang menang" baiklah kurasa kata-kata itu sekarang berbalik pada mereka.
Lihatlah cody kau membuatku hancur dan sakit, sekarang aku membuatmu merasakan sakit dan hancur itu dengan beribu-ribu kali lipat dari rasa yang dulu kau berikan padaku.
Semuanya impas luka harus dibayar dengan luka.
Sakit dan luka dihatiku sekarang sudah hilang, bahkan terganti dengan bunga-bunga yang bermekaran dan mengeluarkan aroma kebahgian dan kau tahu aku bahagia bukan karna melihatmu hancur tapi karna seorang pria yang membuatku kembali membuka hati ku dan membiarkanya menyembuhkan dan membuat badai dihatiku berubah.
Yah pria itu sekarang telah menjadi sebagian dari hidupku,
bahkan skarang pria itu telah memberikan kehidupan didalam rahimku.
Aku bahagia, aku senang bisa mengenal dan mendapatkan pria itu.
Kau tahu dulu aku begitu berharap kau bisa menepati janjimu saat mengambil harta paling berharga dariku sebagai seorang wanita.
Tapi kau menyia-yiakan semuanya dan sekarang biar kau merasakan semuanya.
Ini dosamu, ini salahmu dan rasakanlah dengan lapang dada.
Musim sudah berganti dari musim dingin kemusim semi,
bahkan 3 hari lagi anak yang kunantikan akan lahir,
buah cintaku dan justin.
Hasil kerja sama kami.
Mom pattie tak perna meninggalkanku saat ia tahu 3 hari lagi aku akan melahirkan cucu keduanya.
Walaupun sebenarna ini cucu pertamanya dari justin,
tapi aku membiarkan mom pattie mengetahui bahwa blue memang cucunya dan bukan cucu atau anak orang lain.
Kubuka pintu balkon dan berjalan keluar,
saat menatap bunga-bunga yang mulai bermekaran.
Yah bungga-bungga itu ditanam dan dirawat oleh mom pattie.
Mataku terfokus pada seorang pria yang berdiri dipohon besar depan rumahku,
ia menatapku seakan ingin menelanku bulat-bulat.
Aku masih tak yakin,
mana mungkin ia berani datang dan menginjakan kakinya dirumahku.
Bahkan dulu ia sudah berjanji tak akan lagi datang dan mengusik kami,
setelah justin menghajarnya habis-habisa.
Kurasakan getaran pada ponselku,
segera kuangkat tanpa melihat siapa yang menelponku.
"hallo,kau melihatkukan will" ucap pria itu, baiklah aku tahu ini cody.
"ia aku melihatmu, ada apa?, cepat katakan apa yang kau inginkan.
Aku tak punya waktu lama dan membuang-buangnya"
"aku hanya ingin melihat blue untuk terakhir kalinya.
Tolong aku sebelum aku benar-benar menghilang dari kehidupan kalian berdua.
Aku berjanji biarkan aku menikmati hari ini bersama blue,
blue putriku."
"hahahahah, apa yang kau kata.
Apa aku tak salah dengar,
kau berucap blue putrimu,
kemana saja kau selama blue membutuhkanmu,
selama aku membutuhkan seseorang untuk menguatkanku saat berjuang melahirkan blue.
Dan sekarang dengan seenak jidatmu berucap seperti itu,
kau tak berhak mengatakan blue anakmu. Blue putri justin dan selamanya akan seperti itu.
Maaf aku tak bisa.
Kalau kau ingin pergi, pergila.
Aku juga tak peduli."
"tunggu will,
aku punya alasan dengan hal yang lalu"
"alasan apa,
aku tak perna menginginkan kau mengenal ataupun memperkenalkan dirimu sebagai ayahnya.
Apa kau perna memikirkan persaan blue saat kau menolaknya dan bahkan menginginkanya mati,
aku tak yakin kau punya alasan yang tepat,
aku mohon jangan berbohong lagi cody."
"will, aku mohon pertemukan aku dengan blue,
aku sangat ingin menyentuhnya,
dan mengecup puncak kepalnya.
Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya dikecup oleh seorang ayah.
"kau tak usah mengatakan hal itu,
blue sudah mendapatkan semuanya,
dia sudah mendapatkan seorang ayah bahkan ayah yang sangat menyanyanginya melebihi dirinya sendiri.
Apa kau perna rela mengorbanka nyawa demi keselamatan blue.
Perna, tidak kan jadi kau tak berhak mengatakan itu lagi,
kuharap ini terakhir kalinya kau menelponku dan mengucapkan hal konyol dan tak masuk akal lagi.
Baiklah kurasa sudah cukup pembicaraan kita.
Semoga kau bahagia dikehidupanmu." segera kumatikan panggilan dari cody,
sesaat sebelum aku masuk,
kutatap cody dan terlihat ia membating ponselnya.
Kututup pintu balkonku.
Lalau segera kebawa,
kudengan mobil justin sudah datang.
Kubka pintu rumah dan benar saja justin dan blue sudah berdiri dengan senyum mereka dikedua sudut bibir mereka...
dan yang membuatku lebih bahagian, pria bajingan itu sekarang benar-benar hancur dan jatuh kedasar jurang kesakitan,
begitu juga dengan orang tuanya yang dulu memperlakukanku sangat tak manusiawi.
Bahkan sekarang ia harus bekerja sebagai bawahanku agar bisa melunasi utangnya padaku.
Kalian pasti masih ingat tentang penyuntikan dana itu,
ia semuanya adalah hutang dan sekarang telah melilit keluarga cody.
Bahkan seminggu yang lalu aku mendapat kabar ibu cody gantung diri karna tak menerima kenyataan bahwa perusahaan dan semua hartanya lenyap dalam semalam.
Aku sangat bahagia mendengar dan melihat semuanya dengan mata kepalaku,
dan juga menghancurkanya dengan tanganku sendiri.
Orang tua cody perna berucap"hanya uang dan kekuasaan yang menang" baiklah kurasa kata-kata itu sekarang berbalik pada mereka.
Lihatlah cody kau membuatku hancur dan sakit, sekarang aku membuatmu merasakan sakit dan hancur itu dengan beribu-ribu kali lipat dari rasa yang dulu kau berikan padaku.
Semuanya impas luka harus dibayar dengan luka.
Sakit dan luka dihatiku sekarang sudah hilang, bahkan terganti dengan bunga-bunga yang bermekaran dan mengeluarkan aroma kebahgian dan kau tahu aku bahagia bukan karna melihatmu hancur tapi karna seorang pria yang membuatku kembali membuka hati ku dan membiarkanya menyembuhkan dan membuat badai dihatiku berubah.
Yah pria itu sekarang telah menjadi sebagian dari hidupku,
bahkan skarang pria itu telah memberikan kehidupan didalam rahimku.
Aku bahagia, aku senang bisa mengenal dan mendapatkan pria itu.
Kau tahu dulu aku begitu berharap kau bisa menepati janjimu saat mengambil harta paling berharga dariku sebagai seorang wanita.
Tapi kau menyia-yiakan semuanya dan sekarang biar kau merasakan semuanya.
Ini dosamu, ini salahmu dan rasakanlah dengan lapang dada.
Musim sudah berganti dari musim dingin kemusim semi,
bahkan 3 hari lagi anak yang kunantikan akan lahir,
buah cintaku dan justin.
Hasil kerja sama kami.
Mom pattie tak perna meninggalkanku saat ia tahu 3 hari lagi aku akan melahirkan cucu keduanya.
Walaupun sebenarna ini cucu pertamanya dari justin,
tapi aku membiarkan mom pattie mengetahui bahwa blue memang cucunya dan bukan cucu atau anak orang lain.
Kubuka pintu balkon dan berjalan keluar,
saat menatap bunga-bunga yang mulai bermekaran.
Yah bungga-bungga itu ditanam dan dirawat oleh mom pattie.
Mataku terfokus pada seorang pria yang berdiri dipohon besar depan rumahku,
ia menatapku seakan ingin menelanku bulat-bulat.
Aku masih tak yakin,
mana mungkin ia berani datang dan menginjakan kakinya dirumahku.
Bahkan dulu ia sudah berjanji tak akan lagi datang dan mengusik kami,
setelah justin menghajarnya habis-habisa.
Kurasakan getaran pada ponselku,
segera kuangkat tanpa melihat siapa yang menelponku.
"hallo,kau melihatkukan will" ucap pria itu, baiklah aku tahu ini cody.
"ia aku melihatmu, ada apa?, cepat katakan apa yang kau inginkan.
Aku tak punya waktu lama dan membuang-buangnya"
"aku hanya ingin melihat blue untuk terakhir kalinya.
Tolong aku sebelum aku benar-benar menghilang dari kehidupan kalian berdua.
Aku berjanji biarkan aku menikmati hari ini bersama blue,
blue putriku."
"hahahahah, apa yang kau kata.
Apa aku tak salah dengar,
kau berucap blue putrimu,
kemana saja kau selama blue membutuhkanmu,
selama aku membutuhkan seseorang untuk menguatkanku saat berjuang melahirkan blue.
Dan sekarang dengan seenak jidatmu berucap seperti itu,
kau tak berhak mengatakan blue anakmu. Blue putri justin dan selamanya akan seperti itu.
Maaf aku tak bisa.
Kalau kau ingin pergi, pergila.
Aku juga tak peduli."
"tunggu will,
aku punya alasan dengan hal yang lalu"
"alasan apa,
aku tak perna menginginkan kau mengenal ataupun memperkenalkan dirimu sebagai ayahnya.
Apa kau perna memikirkan persaan blue saat kau menolaknya dan bahkan menginginkanya mati,
aku tak yakin kau punya alasan yang tepat,
aku mohon jangan berbohong lagi cody."
"will, aku mohon pertemukan aku dengan blue,
aku sangat ingin menyentuhnya,
dan mengecup puncak kepalnya.
Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya dikecup oleh seorang ayah.
"kau tak usah mengatakan hal itu,
blue sudah mendapatkan semuanya,
dia sudah mendapatkan seorang ayah bahkan ayah yang sangat menyanyanginya melebihi dirinya sendiri.
Apa kau perna rela mengorbanka nyawa demi keselamatan blue.
Perna, tidak kan jadi kau tak berhak mengatakan itu lagi,
kuharap ini terakhir kalinya kau menelponku dan mengucapkan hal konyol dan tak masuk akal lagi.
Baiklah kurasa sudah cukup pembicaraan kita.
Semoga kau bahagia dikehidupanmu." segera kumatikan panggilan dari cody,
sesaat sebelum aku masuk,
kutatap cody dan terlihat ia membating ponselnya.
Kututup pintu balkonku.
Lalau segera kebawa,
kudengan mobil justin sudah datang.
Kubka pintu rumah dan benar saja justin dan blue sudah berdiri dengan senyum mereka dikedua sudut bibir mereka...
Attente Part 34
Hari ini justin tak kekantor katanya ia ingin menemaniku dirumah,
aku juga tak tahu kenapa ia seperti itu.
Atau karna sebentar lagi aku akan melahirkan jadi dia tak ingin meninggalkanku sendiri tapikan mom ada, dasar pria aneh.
Kulangkahkan kakiku kekamar mandi seharian ini aku belum mandi, rasanya mungkin lebih segr setelah membersihkan badan.
Kututup pintu kamar mandi dan menguncinya,
aku tak ingin justin mengangguku.
Dia itu sangat senang mengangguku saat mandi,
ada-ada aja alasanya sehingga dia mandi bersamaku.
Saat akan menyalahkan keran air panas,
rasanya perutku kembali kontraksi,
ini bukan kontraksi seperti biasanya ini sangat sakit.
"aww.akkhh..aww justttt.
Justtt tolong aku.
Justtttttttttin" aku berusaha berteriak dengan sisah tenangah yang kumiliki.
Tuhan tolong aku sakitnya sangat menyiksa.
Justin bangun, justin aku mohon kau bangun.
Dengan susuh payah aku mengapai pintu kamar mandi,
dengan kekuatan yang masih ada kugedor pintu kamar mandi dua kali,
dan aku tak tahu lagi selanjutnya.
Karna menahan sakit williana kehilangan kesadaranya,
sedangkan justin masih saja tertidur dikasurnya.
Saat ia berbalik dan menyentuh seblahnya barulah ia sadari strinya sudah tak ada,
dengan setengah sadar justin berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.
Ia mencoba membuka kamar mandi tapi tak bisa,
"ill, apa kau ada didalam sayang, tolong buka aku ingin buang air kecil" justin menyandarkan badanya ditembok dan menunggu istrinya membukakan pintu.
"ill aku mohon aku ingin buang air kecil, cepatlah sayang" justin berasa aneh tak biasanya williana mengunci pintu kamar mandi saat ia mandi,
dengan cepat justin mengambil kusri yan biasa ditempati williana saat memoles wajahnya
justin menaiki kursi itu dan melihat kedalam kamar mandi,
betapa kagetnya justin saat melihat istrinya tergeletak tak sadarkan diri dengan darah mengalir dikedua bela pahanya.
Dengan cepat justin melempar kursi yang tadi ia gunakan dan hal itu menimbuljan suara yang cukup menyakitkan telingah yang mendengarnya.
Justin mendobrak pintu kamar mandi berulang-ulang,
dan akhirnya pintu kamar mandi terbuka walaupun hal itu membuat pintu itu rusak parah. dengan cepat justin mengendong tubuh williana,
dengan cepat dan tergesah-gesah justin memasukkan williana kedalam mobil.
Bahkan ia tak memberitahu ibunya tentang keadaan williana.
Justin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dalam fikirannya saat ini hanya keselamatan istrinya,
"tuhan kenapa aku begitu bodoh,
pasti sejak tadi williana tak sadarkan diri dan juga pasti tadi ia meminta tolong padak."
diwajah tampan justin terlihat jelas kekawatiran yang melanda dirinya,
bahkan sesekali ia memukul kepalanya karna merasa williana tak akan seperti ini seandainya ia cepat bangun.
Dengan buru-buru justin memerkirkan mobilnya dan ia mengendong tubuh williana kedalam rumah sakit,
justin tak lagi memperdulikan penampilanya sangat berantakan,
bayangkan saja justin hanya mengenakan kos oblong dan boxer yang ia kenakan saat tidur.
"sus.suster tolong,
suster tolong istriku,
susterrrrrrr" justin berteriak memanggil suster yang berjaga
tanpa memakan waktu yang lama suster datang dengan membawa tempat tidur dorong.
"cepat tuang tidurkan istri anda" dengan cepat justin menindurkan tubuh williana.
Williana dibawah kedalam ruangan tindakan.
"maaf tusn anda harus menunggu diluar"
"tapi suster dia istriku,
dia membutuhkanku"
"maaf tuan kami tak bisa ,
ini sudah prosudernya. Kami tak bisa melakukan apa-apa kalau ada ada didalam,
ini juga demi kebaikan istri anda."
"baiklah, tapi tolong selamatan istriku"
"baik tuan kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri ada"..
Dengan lesu justin menunggu didepan ruangan tindakan.
Ia menrogoh ponselnya.
"hallo just kau dimana, kenapa rumah berceceran darah sayang, apa tadi terjadi sesuatu" ucapa ibu justin.
"ia mom , williana tadi pinsan dan sekarang ia sedang ditanganih dokter."
"astaga apa yang terjadi sayang?"
"mom bisa kesinikan, aku takut mom aku takut williana kenapa-kenap"
"baiklah aku jemput blue dulu,
kau tenang dan jangan panik.
Williana akan baik-baik sja dia wanita yang kuat."
justin kembali duduk dikusrdi tunggu,
sesaat kemudia seorang suster menghampiri justin,
ia memegan bahu justin
"maaf tuan kami harus mengoprasi istri anda,
apa anda menyetujui hal ini.
Kalau ia silahkan tanda tanggan dibawah sini" justin mengambil pulpen dan menandatangani surat peryataan itu.
Saat suster akan pergi justin menahanya,
"kenapa tuan?"
"tapi semuanya akan baik-baik sajakan suster"
"ia tuan,
sejauh ini istri anda sudah sudah dalam keadan normal,
tapi karna dia pinsan , kami harus mengeluarkan bayi anada dengan cara oprasi,
karna kalau tidak bayi dan dan istri anda tak akan selamat"
"baiklah lakukan yang terbaik untuk bayi dan anakku."
suster itu kembali kedalam ruang tindakan dan justin kembali duduk dengan wajah tertutup oleh kedua tanganya.
Air mata yang sedari tadia ia tahan akhirnya jatuh..
aku juga tak tahu kenapa ia seperti itu.
Atau karna sebentar lagi aku akan melahirkan jadi dia tak ingin meninggalkanku sendiri tapikan mom ada, dasar pria aneh.
Kulangkahkan kakiku kekamar mandi seharian ini aku belum mandi, rasanya mungkin lebih segr setelah membersihkan badan.
Kututup pintu kamar mandi dan menguncinya,
aku tak ingin justin mengangguku.
Dia itu sangat senang mengangguku saat mandi,
ada-ada aja alasanya sehingga dia mandi bersamaku.
Saat akan menyalahkan keran air panas,
rasanya perutku kembali kontraksi,
ini bukan kontraksi seperti biasanya ini sangat sakit.
"aww.akkhh..aww justttt.
Justtt tolong aku.
Justtttttttttin" aku berusaha berteriak dengan sisah tenangah yang kumiliki.
Tuhan tolong aku sakitnya sangat menyiksa.
Justin bangun, justin aku mohon kau bangun.
Dengan susuh payah aku mengapai pintu kamar mandi,
dengan kekuatan yang masih ada kugedor pintu kamar mandi dua kali,
dan aku tak tahu lagi selanjutnya.
Karna menahan sakit williana kehilangan kesadaranya,
sedangkan justin masih saja tertidur dikasurnya.
Saat ia berbalik dan menyentuh seblahnya barulah ia sadari strinya sudah tak ada,
dengan setengah sadar justin berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.
Ia mencoba membuka kamar mandi tapi tak bisa,
"ill, apa kau ada didalam sayang, tolong buka aku ingin buang air kecil" justin menyandarkan badanya ditembok dan menunggu istrinya membukakan pintu.
"ill aku mohon aku ingin buang air kecil, cepatlah sayang" justin berasa aneh tak biasanya williana mengunci pintu kamar mandi saat ia mandi,
dengan cepat justin mengambil kusri yan biasa ditempati williana saat memoles wajahnya
justin menaiki kursi itu dan melihat kedalam kamar mandi,
betapa kagetnya justin saat melihat istrinya tergeletak tak sadarkan diri dengan darah mengalir dikedua bela pahanya.
Dengan cepat justin melempar kursi yang tadi ia gunakan dan hal itu menimbuljan suara yang cukup menyakitkan telingah yang mendengarnya.
Justin mendobrak pintu kamar mandi berulang-ulang,
dan akhirnya pintu kamar mandi terbuka walaupun hal itu membuat pintu itu rusak parah. dengan cepat justin mengendong tubuh williana,
dengan cepat dan tergesah-gesah justin memasukkan williana kedalam mobil.
Bahkan ia tak memberitahu ibunya tentang keadaan williana.
Justin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dalam fikirannya saat ini hanya keselamatan istrinya,
"tuhan kenapa aku begitu bodoh,
pasti sejak tadi williana tak sadarkan diri dan juga pasti tadi ia meminta tolong padak."
diwajah tampan justin terlihat jelas kekawatiran yang melanda dirinya,
bahkan sesekali ia memukul kepalanya karna merasa williana tak akan seperti ini seandainya ia cepat bangun.
Dengan buru-buru justin memerkirkan mobilnya dan ia mengendong tubuh williana kedalam rumah sakit,
justin tak lagi memperdulikan penampilanya sangat berantakan,
bayangkan saja justin hanya mengenakan kos oblong dan boxer yang ia kenakan saat tidur.
"sus.suster tolong,
suster tolong istriku,
susterrrrrrr" justin berteriak memanggil suster yang berjaga
tanpa memakan waktu yang lama suster datang dengan membawa tempat tidur dorong.
"cepat tuang tidurkan istri anda" dengan cepat justin menindurkan tubuh williana.
Williana dibawah kedalam ruangan tindakan.
"maaf tusn anda harus menunggu diluar"
"tapi suster dia istriku,
dia membutuhkanku"
"maaf tuan kami tak bisa ,
ini sudah prosudernya. Kami tak bisa melakukan apa-apa kalau ada ada didalam,
ini juga demi kebaikan istri anda."
"baiklah, tapi tolong selamatan istriku"
"baik tuan kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri ada"..
Dengan lesu justin menunggu didepan ruangan tindakan.
Ia menrogoh ponselnya.
"hallo just kau dimana, kenapa rumah berceceran darah sayang, apa tadi terjadi sesuatu" ucapa ibu justin.
"ia mom , williana tadi pinsan dan sekarang ia sedang ditanganih dokter."
"astaga apa yang terjadi sayang?"
"mom bisa kesinikan, aku takut mom aku takut williana kenapa-kenap"
"baiklah aku jemput blue dulu,
kau tenang dan jangan panik.
Williana akan baik-baik sja dia wanita yang kuat."
justin kembali duduk dikusrdi tunggu,
sesaat kemudia seorang suster menghampiri justin,
ia memegan bahu justin
"maaf tuan kami harus mengoprasi istri anda,
apa anda menyetujui hal ini.
Kalau ia silahkan tanda tanggan dibawah sini" justin mengambil pulpen dan menandatangani surat peryataan itu.
Saat suster akan pergi justin menahanya,
"kenapa tuan?"
"tapi semuanya akan baik-baik sajakan suster"
"ia tuan,
sejauh ini istri anda sudah sudah dalam keadan normal,
tapi karna dia pinsan , kami harus mengeluarkan bayi anada dengan cara oprasi,
karna kalau tidak bayi dan dan istri anda tak akan selamat"
"baiklah lakukan yang terbaik untuk bayi dan anakku."
suster itu kembali kedalam ruang tindakan dan justin kembali duduk dengan wajah tertutup oleh kedua tanganya.
Air mata yang sedari tadia ia tahan akhirnya jatuh..
Attente Part 35
"
Semuanya terasa menekanku rasanya sangat sulit dalam posisi seperti ini
dimana istriku sedang bertarung nyawa sedangkan aku hanya diam menunggu
semuanya.
Aku mohon tuhan berika keselamatan pada wanita yang kucintai dan keselamatan padi bayiku." kata-kata dan doa itu berulang-ulang diujapkan oleh justin, semenjak lampu oprasi dinyalakan ia tak henti-henti berdiri dan kembali duduk.
Sedangkan dilain tempat seorang wanita yang mengendong seorang gadis.
Ia melangkahkan kakinya dengan berlari kecil,
yah ada dalam fikirannya sekarang adalah bagaimana keadaan mantu dan anaknya yang tengah dilandah kegelisahan.
Dengan cepat wanita paruh bayah itu memengang kedua bahu anaknya.
Sesaat kemudian justin berbalik dan segera berhambur kedalam dekapan ibunya.
Dengan penuh kasih ibu justin membals dekapan anaknya dan mengelus pelan rambut anaknya.
"tenanglah sayang kau jangan seperti ini kau akan mempersulit keadaan ini,
kau harus yakin williana wanita yang kuat dia tak akan kalah dengn ini,
kau tahukan dia sangat menginginkan anak ini.
Berdoalah hanya itu jalan terbaik sayang." justin kembali menumpahkan air matanya dihabu ibunya,
ia masih sangat tertekan dan takut hal yang tak diinginkannya..
Sedangkan didalam ruang oprasi.
Aku dapat mendengar suara seseorang memanggilku,
tapi aku tak tahu itu siapa, bahkan suara itu tak kukenali.
Kukerjab-kerjabkan kedua mataku, lalu melihat disekelilingku,
tuhan tempat ini sangat indah, disini begitu banyak bunga-bunga yang bermekaran.
Kusentu setiap bunga yang dapat kugapai,
kulangkahkan kakiku semakin kedlam dan disini terlihat lebih indah, bahkan aku seakan tak ingin meninggalkan tempat ini.
Kurasakan sentuhan dikedua bahuku,
dengan cepat kubalikan badanku,
betapa senangnya ketika kusadari yang menyentuhku adalah dad dan momku.
Dengan cepat aku mendekap kedua orang yang kucintai,
bahkan aku tak menyangkah aku bisa bertemu dengan mereka ditempat ini.
Aku menatap kedua orang yang sangat aku rindukan.
Tak kurasa air mataku jatuh, tuhan terima kasih kau sudah menginzinkanku bertemu dengan mereka.
"mom dad, apa yang kalian lakukan disini.?" aku menatapnya, mom tersenyum, mom aku sangat menrindukan senyum mu itu.
Aku beralih menatap dad, sunggu tak ada yang berubah dari mereka berdua bahkan mereka terlihat lebih tenang dan bahagia.
Mom kembali memelukku.
Lalu mengecup puncak kepalaku,
"wiil, kau harus pulang sayang disini bukan tempatmu.
Kau harus pulang masih banyak orang yang menyanyangimu didunia.
Mom hanya ingin kau menghilangkan dendam yang ada dihatimu,
kau berjanji akan melakukan itukan sayang?" aku menatap mom,berarti selama ini mom tahu apa yang kulakukan.
"mom maaf kan aku kalau hal yang kulakukan membuatmu sedih, tapi hatiku begitu sakit.
Baiklah aku akan melupakan dendamku.
Tapi mom aku masih ingin disini,
masih ingin bersama kalian.
Aku begitu merindukan kalian.
Aku mau disini mom dad " aku kembali melihat dad
"dad tahu sayang, dad dan mom pun begitu sangat merindukanmu,
tapi ini bukan saatnya kau masih harus menjalanka tugasmu.
Suatu saat nanti kita akan berkumpul dan kembali bahagia,
kau mengerti sayang.
Ayo sekarang pulanglah, mereka sudah menunggumu"
setelah dad mengatakan itu semuanya seakan berputar dan menelanku kedalam pusaran yang begitu besar.
Saat aku membuka kedua mataku kulihat disini begitu terang bahkan lampu itu diatas mataku.
Aku dimana, kenapa disini begitu menyengat dan banyak orang dengan baju aneh.
Seseorang bahkan menyekah keringat yang membasahi wajahku.
"syukurlah nyonya anda sadar diwaktu yang tepat" aku menoleh dan menatap orang itu.
Sempat aku diam dan berkutat dengan fikiranku.
"maaf aku dimana?"
"nyonya sedang diruangan oprasi,
sejam yang lalu anda datang dengan keadan tak sadarkan diri,
dan kami melakukan tindakan untuk menyelamatkan anda dan bayi-bayi anda"
aku tersentak dan sadar aku sedang dirumah sakit,
dan membuatku kembali terkejut adalah saat suster itu mengatakan bahwa dia menyelamatkan aku dan bayi-bayiku.
Aku kembali menatap suster itu,
mungkin dia mengerti dengan maksud tatapanku.
Dia tersenyum dan kembali menyekah keringatku.
"maksudku anada melahirkan bayi kembar, selamat atas kelahiran putra dan putri anda.
Oh iya sebentar aku harus mengabarkan suami anda dulu" akhirnya aku sadar.
Mungkin inilah yang dimaksud mom aku masih mempunyai tugas disini.
Inilah tugas membesarkan dan merawat kedua bayi dan keluargaku.
Sesaat kemudia seorang suster membawa bayi-bayiku.
Suster itu meletakan bayiku diseblah kanan dan kirihku.
Tak lama suara lankah mendekat kudongakan kepalaku,
sesaat kemudia kulihat justin mengendong blue dan dibelakangnya ada mom pattie.
Justin segera mengecup bibirku dan mengelus rambutku.
"will aku senang kau baik-baik saja sayang, dan lihat kita memmiliki dua bayi,
bagaiman keadaanmu apa semuanya baik-baik saja sayang?"
aku hanya tersenyum melihat justin, kualihkan pandanganku dan menatap blue yang sedang melihatku,
kembali kulemparkan senyumku padanya.
Aku mohon tuhan berika keselamatan pada wanita yang kucintai dan keselamatan padi bayiku." kata-kata dan doa itu berulang-ulang diujapkan oleh justin, semenjak lampu oprasi dinyalakan ia tak henti-henti berdiri dan kembali duduk.
Sedangkan dilain tempat seorang wanita yang mengendong seorang gadis.
Ia melangkahkan kakinya dengan berlari kecil,
yah ada dalam fikirannya sekarang adalah bagaimana keadaan mantu dan anaknya yang tengah dilandah kegelisahan.
Dengan cepat wanita paruh bayah itu memengang kedua bahu anaknya.
Sesaat kemudian justin berbalik dan segera berhambur kedalam dekapan ibunya.
Dengan penuh kasih ibu justin membals dekapan anaknya dan mengelus pelan rambut anaknya.
"tenanglah sayang kau jangan seperti ini kau akan mempersulit keadaan ini,
kau harus yakin williana wanita yang kuat dia tak akan kalah dengn ini,
kau tahukan dia sangat menginginkan anak ini.
Berdoalah hanya itu jalan terbaik sayang." justin kembali menumpahkan air matanya dihabu ibunya,
ia masih sangat tertekan dan takut hal yang tak diinginkannya..
Sedangkan didalam ruang oprasi.
Aku dapat mendengar suara seseorang memanggilku,
tapi aku tak tahu itu siapa, bahkan suara itu tak kukenali.
Kukerjab-kerjabkan kedua mataku, lalu melihat disekelilingku,
tuhan tempat ini sangat indah, disini begitu banyak bunga-bunga yang bermekaran.
Kusentu setiap bunga yang dapat kugapai,
kulangkahkan kakiku semakin kedlam dan disini terlihat lebih indah, bahkan aku seakan tak ingin meninggalkan tempat ini.
Kurasakan sentuhan dikedua bahuku,
dengan cepat kubalikan badanku,
betapa senangnya ketika kusadari yang menyentuhku adalah dad dan momku.
Dengan cepat aku mendekap kedua orang yang kucintai,
bahkan aku tak menyangkah aku bisa bertemu dengan mereka ditempat ini.
Aku menatap kedua orang yang sangat aku rindukan.
Tak kurasa air mataku jatuh, tuhan terima kasih kau sudah menginzinkanku bertemu dengan mereka.
"mom dad, apa yang kalian lakukan disini.?" aku menatapnya, mom tersenyum, mom aku sangat menrindukan senyum mu itu.
Aku beralih menatap dad, sunggu tak ada yang berubah dari mereka berdua bahkan mereka terlihat lebih tenang dan bahagia.
Mom kembali memelukku.
Lalu mengecup puncak kepalaku,
"wiil, kau harus pulang sayang disini bukan tempatmu.
Kau harus pulang masih banyak orang yang menyanyangimu didunia.
Mom hanya ingin kau menghilangkan dendam yang ada dihatimu,
kau berjanji akan melakukan itukan sayang?" aku menatap mom,berarti selama ini mom tahu apa yang kulakukan.
"mom maaf kan aku kalau hal yang kulakukan membuatmu sedih, tapi hatiku begitu sakit.
Baiklah aku akan melupakan dendamku.
Tapi mom aku masih ingin disini,
masih ingin bersama kalian.
Aku begitu merindukan kalian.
Aku mau disini mom dad " aku kembali melihat dad
"dad tahu sayang, dad dan mom pun begitu sangat merindukanmu,
tapi ini bukan saatnya kau masih harus menjalanka tugasmu.
Suatu saat nanti kita akan berkumpul dan kembali bahagia,
kau mengerti sayang.
Ayo sekarang pulanglah, mereka sudah menunggumu"
setelah dad mengatakan itu semuanya seakan berputar dan menelanku kedalam pusaran yang begitu besar.
Saat aku membuka kedua mataku kulihat disini begitu terang bahkan lampu itu diatas mataku.
Aku dimana, kenapa disini begitu menyengat dan banyak orang dengan baju aneh.
Seseorang bahkan menyekah keringat yang membasahi wajahku.
"syukurlah nyonya anda sadar diwaktu yang tepat" aku menoleh dan menatap orang itu.
Sempat aku diam dan berkutat dengan fikiranku.
"maaf aku dimana?"
"nyonya sedang diruangan oprasi,
sejam yang lalu anda datang dengan keadan tak sadarkan diri,
dan kami melakukan tindakan untuk menyelamatkan anda dan bayi-bayi anda"
aku tersentak dan sadar aku sedang dirumah sakit,
dan membuatku kembali terkejut adalah saat suster itu mengatakan bahwa dia menyelamatkan aku dan bayi-bayiku.
Aku kembali menatap suster itu,
mungkin dia mengerti dengan maksud tatapanku.
Dia tersenyum dan kembali menyekah keringatku.
"maksudku anada melahirkan bayi kembar, selamat atas kelahiran putra dan putri anda.
Oh iya sebentar aku harus mengabarkan suami anda dulu" akhirnya aku sadar.
Mungkin inilah yang dimaksud mom aku masih mempunyai tugas disini.
Inilah tugas membesarkan dan merawat kedua bayi dan keluargaku.
Sesaat kemudia seorang suster membawa bayi-bayiku.
Suster itu meletakan bayiku diseblah kanan dan kirihku.
Tak lama suara lankah mendekat kudongakan kepalaku,
sesaat kemudia kulihat justin mengendong blue dan dibelakangnya ada mom pattie.
Justin segera mengecup bibirku dan mengelus rambutku.
"will aku senang kau baik-baik saja sayang, dan lihat kita memmiliki dua bayi,
bagaiman keadaanmu apa semuanya baik-baik saja sayang?"
aku hanya tersenyum melihat justin, kualihkan pandanganku dan menatap blue yang sedang melihatku,
kembali kulemparkan senyumku padanya.
Attente Part 36
"mom, apa mom baik-baik saja?"
"iya sayang mom baik-baik saja,oh iya kau mau lihat adikmu?"
"iya mom" blue turun dari gendongan mom pattie dan mendekat kearahku.
"hy aku kakak kalian,
namaku blue dan kalian siapa?"
aku tersenyum saat blue menyapa adiknya.
Kulihat justin dan mom pattie juga tertawa.
"mom bersyukur kau bisa melwati semuanya sayang, mom kira kau tak akan melewatinya"
"aku juga mengira seperti itu mom,
tapi untung kalian menginginkanku disini"
"kau ini apa kau tahu aku hampir mati berdiri karna memikirkan keselamatanmu, sayang" justin terlihat sangat kesal dengan ucapanku barusan.
"maaf, oh iya just saat aku tak sadarkan diri, aku bertemu dengan mom dan dadku mereka menyuruhku menyelesaikan tugasku"
justin mendekat kearahku lalu mengecup puncak kepalaku dan mendekapku hangat.
Aku membutuhkan dekapan hangat ini,
dia terus mendekapku dan semakin membuatmu jatuh dalam dekapannya.
Dia benar-benar pria yang sangat mengerti dengan apa yang kubutuhkan.
Trima kasih tuhan karna kau telah memberikanku seorang yang mampu membuatku kembali menjadi seperti yang dulu.
Kukecup pipi justin dan kembali mendekapnya.
"terima kasih sayang atas semuanya" bisikku ditelinganya.
"aku juga ingin berterima kasih karna kau bisa kembali dan melahirkan anak-anak kita dengan selamat,
terima kasih kau bisa bertahan ill.
Aku tak membayangkan andaikan hal yang buruk terjadi padamu,
aku mungkin bisa gila karna ini.
Aku mencintaimu sangat-sangat mencintaimu, aku tak bisa kalau kau tak ada disampingku.
Menemaniku, mendampingiku.
Kau hidupku dan juga segalanya bagiku,
kuharap kau jangan seperti ini lagi.
Aku mohon tetaplah bersamaku ill"
kuanggukan kepalaku dan tersenyum.
"bagaiman dengan bayi kita, kau mau memberi nama mereka siapa.lihat mereka sangat persis denganmu just.
Kenapa meraka hanya mengikuti warna mata dan hidungku saja.
Ini tak adil" justin mengecup bibirku sebentar.
"yah jelaslah sayang yang membuatnya kan aku,
kau hanya menerima dan mengendung mereka,
kau tak usah iri seperti ini,
kan blue sudah sangat mirip denganmu,
saat blue lahir aku tak marah mengetahui blue mirip denganmu dari pada aku"
aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan justin,
memang blue mirip denganku tapi kenapa dia bisaberucap seperti itu, apa ini untuk menyakinkan mom,
karna sampai sekarang yang masih menganggap kami menyembunyikan sesuatu darinya.
"sayang kau kenapa!, apa ada yang kau fikirkan ?"
"hem tidak ada hanya sedang memikirkan nama yang cocok untuk anak kita just"
"aku sudah punya nama,
bagaimana kalau emma dan edward apa kau suka?"
" hem kurasa tak buruk,
baiklah kalau itu maumu kita akan beri nama mereka.
Edward drew bieber dan emme dre bieber.
Hy malaikat-malaikatku terima kasih karna kalian mom bisa kembali kesini dan menjaga kalian." kukecup puncak kepala kedua bayi kembarku.
Aku tak bohong mereka benar-benar mirip dengan justin,
dari ujung kepala sampai ujungkaki...
2 MINGGU KEMUDIAN.
Saat ini aku sudah pulang kerumah,
begitu juga dengan malaikat-malaikatku.
Mereka sekarang sudah berumur 2 minggu,
selama ini justin tak perna kekantor dia menyuruh semua karyawan melaporkan hasil kerjanya kerumah dan bila ada rapat itu juga dilakukan dirumah.
Aku perna bertanya kenapa ia melakukan itu,
justin menjawab karna dia tak ingin meninggalkanku sendiri disini, dia tak ingin kejadia saat aku melahirkan kembali terulang.
Aku bisa memahami kekawatirannya terhadapku tapi apa ini cara yang tepat,
tapi justin menyakinkanku dia bisa melakukanya dengan baik,
soal mom pattie ia sudah kembali kecanada karna pekerjaannya harus diselesaikan sekarang.
Itulah yang melandasi justin melkukan ini.
"just aku bisa minta tolong, tolong ambilkan popok untuk emma dia buang air"justin tersenyum dan mengambil apa yang kusuruhkan.
"sayang yang ini"
"ia tolong kau pakaikan,
jangan lupa sebelum kau pakaikan kau taburi dulu bedak diselangkangan emma"
"ia iil" kembali kulanjutkan memberi asi pada edward sedari tadi ia trus menangis dan berhenti bila kuberikan asi,
tapi saat dilepas ia akan kembali menangis.
"bagaiman just, apa semuanya sudah beres" aku berdiri saat edward sudah terlelap.
Aku melihat justin masih serius dengan kegiatanya,
aku mendekat kearah emma dan justin.
Astaga apa yang dilakukan justin,
aku segera mendorong tubuh justin,
"ill kau kenapa aku sedang" aku memotong ucapan justin.
"kau sedang apa, lihat apa yang kau lakukan akukan menyruhmu memasang popok kenapa kau malah memasangnya seperti ini,
ini salah just.
Kau ini kau mau menyakiti emma kalau seperti ini caranya." aku menoleh melihat justin,
ia hanya menggaruk-garuk tengkuk lehernya dan tersenyum tanggung.
"maafkan aku ill kau tahukan aku belum tau,ayolah maafkan aku"
"kau juga sih kalau tak bisa kenapa kau memasangnya,
kan kau bisa bilang padaku.
Aku tidak marah padamu hanya saja tadi aku spontan karna takut emma terluka."
aku mengecup pipi justin agar ia nyakin bahwa aku tak marah denganya.
Karna memang aku tak marah padanya..
"iya sayang mom baik-baik saja,oh iya kau mau lihat adikmu?"
"iya mom" blue turun dari gendongan mom pattie dan mendekat kearahku.
"hy aku kakak kalian,
namaku blue dan kalian siapa?"
aku tersenyum saat blue menyapa adiknya.
Kulihat justin dan mom pattie juga tertawa.
"mom bersyukur kau bisa melwati semuanya sayang, mom kira kau tak akan melewatinya"
"aku juga mengira seperti itu mom,
tapi untung kalian menginginkanku disini"
"kau ini apa kau tahu aku hampir mati berdiri karna memikirkan keselamatanmu, sayang" justin terlihat sangat kesal dengan ucapanku barusan.
"maaf, oh iya just saat aku tak sadarkan diri, aku bertemu dengan mom dan dadku mereka menyuruhku menyelesaikan tugasku"
justin mendekat kearahku lalu mengecup puncak kepalaku dan mendekapku hangat.
Aku membutuhkan dekapan hangat ini,
dia terus mendekapku dan semakin membuatmu jatuh dalam dekapannya.
Dia benar-benar pria yang sangat mengerti dengan apa yang kubutuhkan.
Trima kasih tuhan karna kau telah memberikanku seorang yang mampu membuatku kembali menjadi seperti yang dulu.
Kukecup pipi justin dan kembali mendekapnya.
"terima kasih sayang atas semuanya" bisikku ditelinganya.
"aku juga ingin berterima kasih karna kau bisa kembali dan melahirkan anak-anak kita dengan selamat,
terima kasih kau bisa bertahan ill.
Aku tak membayangkan andaikan hal yang buruk terjadi padamu,
aku mungkin bisa gila karna ini.
Aku mencintaimu sangat-sangat mencintaimu, aku tak bisa kalau kau tak ada disampingku.
Menemaniku, mendampingiku.
Kau hidupku dan juga segalanya bagiku,
kuharap kau jangan seperti ini lagi.
Aku mohon tetaplah bersamaku ill"
kuanggukan kepalaku dan tersenyum.
"bagaiman dengan bayi kita, kau mau memberi nama mereka siapa.lihat mereka sangat persis denganmu just.
Kenapa meraka hanya mengikuti warna mata dan hidungku saja.
Ini tak adil" justin mengecup bibirku sebentar.
"yah jelaslah sayang yang membuatnya kan aku,
kau hanya menerima dan mengendung mereka,
kau tak usah iri seperti ini,
kan blue sudah sangat mirip denganmu,
saat blue lahir aku tak marah mengetahui blue mirip denganmu dari pada aku"
aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan justin,
memang blue mirip denganku tapi kenapa dia bisaberucap seperti itu, apa ini untuk menyakinkan mom,
karna sampai sekarang yang masih menganggap kami menyembunyikan sesuatu darinya.
"sayang kau kenapa!, apa ada yang kau fikirkan ?"
"hem tidak ada hanya sedang memikirkan nama yang cocok untuk anak kita just"
"aku sudah punya nama,
bagaimana kalau emma dan edward apa kau suka?"
" hem kurasa tak buruk,
baiklah kalau itu maumu kita akan beri nama mereka.
Edward drew bieber dan emme dre bieber.
Hy malaikat-malaikatku terima kasih karna kalian mom bisa kembali kesini dan menjaga kalian." kukecup puncak kepala kedua bayi kembarku.
Aku tak bohong mereka benar-benar mirip dengan justin,
dari ujung kepala sampai ujungkaki...
2 MINGGU KEMUDIAN.
Saat ini aku sudah pulang kerumah,
begitu juga dengan malaikat-malaikatku.
Mereka sekarang sudah berumur 2 minggu,
selama ini justin tak perna kekantor dia menyuruh semua karyawan melaporkan hasil kerjanya kerumah dan bila ada rapat itu juga dilakukan dirumah.
Aku perna bertanya kenapa ia melakukan itu,
justin menjawab karna dia tak ingin meninggalkanku sendiri disini, dia tak ingin kejadia saat aku melahirkan kembali terulang.
Aku bisa memahami kekawatirannya terhadapku tapi apa ini cara yang tepat,
tapi justin menyakinkanku dia bisa melakukanya dengan baik,
soal mom pattie ia sudah kembali kecanada karna pekerjaannya harus diselesaikan sekarang.
Itulah yang melandasi justin melkukan ini.
"just aku bisa minta tolong, tolong ambilkan popok untuk emma dia buang air"justin tersenyum dan mengambil apa yang kusuruhkan.
"sayang yang ini"
"ia tolong kau pakaikan,
jangan lupa sebelum kau pakaikan kau taburi dulu bedak diselangkangan emma"
"ia iil" kembali kulanjutkan memberi asi pada edward sedari tadi ia trus menangis dan berhenti bila kuberikan asi,
tapi saat dilepas ia akan kembali menangis.
"bagaiman just, apa semuanya sudah beres" aku berdiri saat edward sudah terlelap.
Aku melihat justin masih serius dengan kegiatanya,
aku mendekat kearah emma dan justin.
Astaga apa yang dilakukan justin,
aku segera mendorong tubuh justin,
"ill kau kenapa aku sedang" aku memotong ucapan justin.
"kau sedang apa, lihat apa yang kau lakukan akukan menyruhmu memasang popok kenapa kau malah memasangnya seperti ini,
ini salah just.
Kau ini kau mau menyakiti emma kalau seperti ini caranya." aku menoleh melihat justin,
ia hanya menggaruk-garuk tengkuk lehernya dan tersenyum tanggung.
"maafkan aku ill kau tahukan aku belum tau,ayolah maafkan aku"
"kau juga sih kalau tak bisa kenapa kau memasangnya,
kan kau bisa bilang padaku.
Aku tidak marah padamu hanya saja tadi aku spontan karna takut emma terluka."
aku mengecup pipi justin agar ia nyakin bahwa aku tak marah denganya.
Karna memang aku tak marah padanya..
Attente Part 37
Kulepas bibirku dari pipinya,
"jadi kau tak marah denganku sayng?" kuanggukan kepalku dan tersenyum.
Sesaat kemudia justin menarik tengkuk kepalaku dan sedetik kemudian kurasakan kecupan dan lumatanya yang lembut dbibirku,
aku membals dengan melumat bibir bawahnya.
Semakin lama semakin dalam ciuman yang kami lakukan,
aku tak ingin mengakhirinya karna kuakui aku merindukan justin dan segala sentuhan hangatnya pada tubuhku.
Jadi kubiarkan dia menjama seluruh tubuhku bahkan dia sempat menyentuh bagian depan tubuhku, kutepis hal itu karna saat bagian itu disentuh pasti terrasa perih.
Mungkin justin menyadari akn hal itu jadi dia menarik tanganya dan kembali menekan tengkuk leherku dan sesekali dia melepas tautan bibir kami agar aku tak kehabisan nafas....
Tanpa mereka sadi sepasang mata menyaksikan kegiatan mereka,
dalam benak gadis kecil ini hanya kenapa mom dan dadnya saling memberikan nafas buatan,
dia perna melihat saat seseorang mengajarkan cara memberi nafas buatan sebagai pertolongan pertama.
Dengan cepat ia berlari dan menarik lengan baju ayahnya.
Mungkin karna asyik dengan kegiatan mereka,
mereka tak menyadari akan kehadiran putri mereka.
Kembali blue menarik lengan baju dadnya,
tapi kali ini berhasil dan membuat justin terkejut karna mengetahui blue yang menarik lengan bajunya.
Dengan cepat ia membenarkan tubuhnya dan tubuh williana yang sedang bersanda didada bidang justin.
"mom dad,
kalian kenapa.?" williana segera lompat dan memperhatikan wajah blue.
Terlihat justin dan williana sangat kikuk karan hala ini,
mereka tak tahu harus menjelaskan apa pada putrinya.
Dengan cepat williana menyenggol lengan justin.
Justin hanya bisa menaikan kedua alisnya...
Astaga bagaiman ini blue melihat apa yang kami lakukan barusan.
Dengan cepat kutarik blue kedalam dekapan hangatku,
"blue sayang yang tadi kau lihat jangan perna cerita atau ingat,
kau mengerti sayang"
"ia mom,
oh iya mom emma dan edward dimana.
Apa mereka sedang tidur?"
"ia sangat mereka sedang tidur, apa blue mau melihat emma dan edward?"
"ia mom aku rindu mereka,
oh iya aku juga punya lolipop untuk mereka, aku yakin mereka pasti suka" blue mengeluarkan lolipopnya dari dalam tasnya.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah anakku satu ini,
dia sangat menyanyangin adik-adiknya.
Kusejajarkan badanku denganya,
"sayang adikmu belum boleh makan lolipop,
bagaiamna kalau kau saja yang memakanya dan menceritakan bagaimana rasanya pada adikmu,
kau mau melakukan itu?"
"iya mom aku mau"
"baiklah kau naik saja keatas,
tapi ingat jangan membangunkan mereka karna mereka baru tidur."
"ia mom,
aku janji"
"baiklah kau naik saja dulu mom mau menganggat telpon dulu."
"baiklah, dad mau menemaniku keatas"
"iya, ayo.
Dad rindu mengendong anak dad yang satu ini." justin memang tak perna membedakan blue walaupun sekarang ia sudah memiliki anak kandung darinya..
Segera kuangkat panggilan dari olive.
"hallo will, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu"
"apa sampaikan saja"
"begini,
aku dapat berita dari sumber terpercaya,
bahwa cody sedang melakukan sesuatu gerakan untuk melawanmu,
katnya dia sudah tahu kaulah dibelakng semua masalah yang yang menimpah keluarga mereka."
"trus apa lagi"
"aku hanya ingin kau berhati-hati,
sepertinya semua ini akan melibatkan keluargamu,
aku hanya taku akan terjadi sesuatu yang buruk padamu dan keluargamu."
"apa kau bisa mengali infor masih lagi,
aku membutuhkan itu,
oh iya soalnya perusahan cody kau sudah membalikan namanya dengan nama bluekan.
Aku ingin semuanya seperti itu,
dan kau tak usah kawatir dengan keadaanku,
karna aku sudah memikirkan kemungkinan seperti ini.
Aku sudah membayar orang untuk melindungi keluargaku termasuk kau dan mom,
jadi jangan perna merasa tertekan dengan ini.
Kau mengertikan olive?"
"ia aku mengerti will,
baiklah kalau aku sudah mendapatkan informasi yang baru aku akan memberitahukannya padamu, yah sudah aku kirim salam buat keponakan-keponakanku yah.
Oh iya ingatkan justin sebentar ada rapat direksi.
Apa dia sudah sudah menyiapakan dokumenya.?"
"ia dia sudah menyiapkanya,
kan aku yang membantunya menyiapkannya."
"baiklah,
aku akan memnyiapkan ruangannya dulu,
yah sudah yah aku harus keatas dulu"
"baiklah will,
oh iya will terima kasih atas mobilnya.
Aku menyukai warna dan modelnya.
Kau benar-benar tau apa yang kusuka"
"sama-sama, jngan lupa informasinya,
awas kalau kau lupa.
Aku akan menarik mobil itu"
"ih kau ini will,
kaukan sudah memberikanya padaku,
masa kau mau mengambilnya lagi"
"hahahahah, kau ini aku hanya bercanda, jangan dimasukkan kedalam hati, yah sudah aku keatas dulu.
Kau kesini jam berapa"
"hem jam 9 : 30"
"oh baiklah, kalau kau kesini kau bawa makanan kecil untuk rapat"
"ia" setelah menjawab olive langsung mematikan panggilanya,
dia memang seperti itu,
aku kan masih ingin mengatakan sesuatu padanya,
tapi biarlah.
Aku juga ingin keats dulu.
Aku ingin melihat apa yang dia lakukan pada emma dan edward,
aku tak mempercayai dia.
"jadi kau tak marah denganku sayng?" kuanggukan kepalku dan tersenyum.
Sesaat kemudia justin menarik tengkuk kepalaku dan sedetik kemudian kurasakan kecupan dan lumatanya yang lembut dbibirku,
aku membals dengan melumat bibir bawahnya.
Semakin lama semakin dalam ciuman yang kami lakukan,
aku tak ingin mengakhirinya karna kuakui aku merindukan justin dan segala sentuhan hangatnya pada tubuhku.
Jadi kubiarkan dia menjama seluruh tubuhku bahkan dia sempat menyentuh bagian depan tubuhku, kutepis hal itu karna saat bagian itu disentuh pasti terrasa perih.
Mungkin justin menyadari akn hal itu jadi dia menarik tanganya dan kembali menekan tengkuk leherku dan sesekali dia melepas tautan bibir kami agar aku tak kehabisan nafas....
Tanpa mereka sadi sepasang mata menyaksikan kegiatan mereka,
dalam benak gadis kecil ini hanya kenapa mom dan dadnya saling memberikan nafas buatan,
dia perna melihat saat seseorang mengajarkan cara memberi nafas buatan sebagai pertolongan pertama.
Dengan cepat ia berlari dan menarik lengan baju ayahnya.
Mungkin karna asyik dengan kegiatan mereka,
mereka tak menyadari akan kehadiran putri mereka.
Kembali blue menarik lengan baju dadnya,
tapi kali ini berhasil dan membuat justin terkejut karna mengetahui blue yang menarik lengan bajunya.
Dengan cepat ia membenarkan tubuhnya dan tubuh williana yang sedang bersanda didada bidang justin.
"mom dad,
kalian kenapa.?" williana segera lompat dan memperhatikan wajah blue.
Terlihat justin dan williana sangat kikuk karan hala ini,
mereka tak tahu harus menjelaskan apa pada putrinya.
Dengan cepat williana menyenggol lengan justin.
Justin hanya bisa menaikan kedua alisnya...
Astaga bagaiman ini blue melihat apa yang kami lakukan barusan.
Dengan cepat kutarik blue kedalam dekapan hangatku,
"blue sayang yang tadi kau lihat jangan perna cerita atau ingat,
kau mengerti sayang"
"ia mom,
oh iya mom emma dan edward dimana.
Apa mereka sedang tidur?"
"ia sangat mereka sedang tidur, apa blue mau melihat emma dan edward?"
"ia mom aku rindu mereka,
oh iya aku juga punya lolipop untuk mereka, aku yakin mereka pasti suka" blue mengeluarkan lolipopnya dari dalam tasnya.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah anakku satu ini,
dia sangat menyanyangin adik-adiknya.
Kusejajarkan badanku denganya,
"sayang adikmu belum boleh makan lolipop,
bagaiamna kalau kau saja yang memakanya dan menceritakan bagaimana rasanya pada adikmu,
kau mau melakukan itu?"
"iya mom aku mau"
"baiklah kau naik saja keatas,
tapi ingat jangan membangunkan mereka karna mereka baru tidur."
"ia mom,
aku janji"
"baiklah kau naik saja dulu mom mau menganggat telpon dulu."
"baiklah, dad mau menemaniku keatas"
"iya, ayo.
Dad rindu mengendong anak dad yang satu ini." justin memang tak perna membedakan blue walaupun sekarang ia sudah memiliki anak kandung darinya..
Segera kuangkat panggilan dari olive.
"hallo will, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu"
"apa sampaikan saja"
"begini,
aku dapat berita dari sumber terpercaya,
bahwa cody sedang melakukan sesuatu gerakan untuk melawanmu,
katnya dia sudah tahu kaulah dibelakng semua masalah yang yang menimpah keluarga mereka."
"trus apa lagi"
"aku hanya ingin kau berhati-hati,
sepertinya semua ini akan melibatkan keluargamu,
aku hanya taku akan terjadi sesuatu yang buruk padamu dan keluargamu."
"apa kau bisa mengali infor masih lagi,
aku membutuhkan itu,
oh iya soalnya perusahan cody kau sudah membalikan namanya dengan nama bluekan.
Aku ingin semuanya seperti itu,
dan kau tak usah kawatir dengan keadaanku,
karna aku sudah memikirkan kemungkinan seperti ini.
Aku sudah membayar orang untuk melindungi keluargaku termasuk kau dan mom,
jadi jangan perna merasa tertekan dengan ini.
Kau mengertikan olive?"
"ia aku mengerti will,
baiklah kalau aku sudah mendapatkan informasi yang baru aku akan memberitahukannya padamu, yah sudah aku kirim salam buat keponakan-keponakanku yah.
Oh iya ingatkan justin sebentar ada rapat direksi.
Apa dia sudah sudah menyiapakan dokumenya.?"
"ia dia sudah menyiapkanya,
kan aku yang membantunya menyiapkannya."
"baiklah,
aku akan memnyiapkan ruangannya dulu,
yah sudah yah aku harus keatas dulu"
"baiklah will,
oh iya will terima kasih atas mobilnya.
Aku menyukai warna dan modelnya.
Kau benar-benar tau apa yang kusuka"
"sama-sama, jngan lupa informasinya,
awas kalau kau lupa.
Aku akan menarik mobil itu"
"ih kau ini will,
kaukan sudah memberikanya padaku,
masa kau mau mengambilnya lagi"
"hahahahah, kau ini aku hanya bercanda, jangan dimasukkan kedalam hati, yah sudah aku keatas dulu.
Kau kesini jam berapa"
"hem jam 9 : 30"
"oh baiklah, kalau kau kesini kau bawa makanan kecil untuk rapat"
"ia" setelah menjawab olive langsung mematikan panggilanya,
dia memang seperti itu,
aku kan masih ingin mengatakan sesuatu padanya,
tapi biarlah.
Aku juga ingin keats dulu.
Aku ingin melihat apa yang dia lakukan pada emma dan edward,
aku tak mempercayai dia.
Attente Part 38
5 BULAN KEMUDIAN. sekarang emma dan edward sudah menginjak usiah 5 bulan dan pertumbuhan mereka sangat baik dan cukup cerdas untuk bayi seusianya.
Tapi ada yang aneh ketikan emma sakit pasti edward akan rewel dan terus menanggis,
mungkin ini yang dimaksud mom rose ikatan anak kembar sangat peka dan tajam.
Kadang aku binggu membagi perhatianku antara emma,edward dan blue,
akhir-akhir ini blue seperti mencari perhatian dengan berbagai cara,
aku sudah mencoba membagi perhatianku dengan baik tapi tetap saja aku merasa blue kehilangan ksih sayangku seutuhnya.
Aku biasa merasa tak berguna karna membiarkan satu hati malaikatku sakit.
Hari ini aku menyuruh olive untuk menjaga emma dan edward,
aku ingin meluangkan waktuku bersama blue.
Seminggu ini justin menjengguk mom pattie dicanada karna mom pattie sedang tak enak badan.
Kulangkahkan kakiku kekamr blue,
kubuka sedikit pintu kamarnya.
Dan kulihat blue sedang sibuk dimeja belajarnya.
Dengan mengendap-endap aku masuk dan mendekap hangat tubuhnya dari belakang.
Aku merasa ia hanya tersenyum mengetahui siapa yang mendekapanya.
"hy sayang, kau sedang apa?
Apa mom menganggu malaikat mom yang satu ini.!" kucubit pelan pipinya.
Dia hanya mengelengkan kepalanya dan menengok kesamping.
"blue sedang menulis pr,
mom kenapa kesini?
Nanti adik-adikku menangis klu tak ada mom" setelah berucap seperti itu blue kembali membalikan badanya,
aku tahu ia sedang menyembunyikan kesedihanya dariku.
Tapi aku tahu kesedihanya itu.
Dengan cepat kubalikan badan blue, sehingga ia menatapku tapi tatapanya buka menatap mataku tapi menatap lantai.
Kuangkat dagu blue dan menyunggingkan senyumku padanya,
sedetik kemudian butiran air jatuh membasahi pipinya,
kusekah setiap butiran air yang membasahi pipi putri kecilku.
Segera kudekap blue dan membiarkanya menumpangkah semua kesedihan dan rasanya pada dadaku.
Tak ada lagi isakan tangisan dari blue,
kubenarkan posisi tubuhnya,
dan menyekah sisi air mata yang membekas dipipinya.
"bagaimana apa semuanya lebih baik sekarang?" diakhir kalimatku aku tersenyum.
Blue hanya menganggukan kepalanya.
"baiklah sayang, mom tau kau merasa mom tak lagi menyanyangimukan,
tapi kau harus tahu sayang,
kau adalah hidup mom jangan perna berfikir mom tak lagi menyenyangimu,
kau tahu saat mom mengandungmu mom hampir mati tapi karna kau mom dapat bertahan dan kembali bangkit lalu memperlihatkan pada orang-orang mom bisa.
Kau harus tahu kau segalanya bagi mom dan selamya akan seperti itu tak ada yang bisa mengantikanmu dalam hati dan fikiran mom.
Mom harap kau jangan berfikir seperti ini untuk kedua kalinya sayang.
Kau tahu mom menyanyangimukan?"
"maafkan aku mom,
aku hanya merasa mom tak seperti dulu lai padaku.
Mom lebih banyak meluangkan waktu dan kasih sayang mom pada adik-adikku.
Tapi sekarang aku yakin mom sangat menyanyangiku,
bahkan lebih.
Aku janji tak akan lagi seperti ini"
setelah mendengar ucapan blue hatiku serasa lega, selama ini hal ini yang membuatku pusing.
Kukecup puncak kepala blue berulang-ulang dan segera mendekapanya untuk kesekian kalinya.
Kulepas pelukanku dan menatap blue lagi,
"bagaiman kalau kita pergi berbelanja,
apa kau mau sayang?"
"iya aku mau,
tapi bagaimana dengan emma dan edward, siapa yang akan menjaganya?"
aku hanya tersenyum, walaupun ia merasa seperti ini tapi tetapa memperdulikan adiknya.
"tenanglan bibi olive yang akan menjaga mereka.
Andaikan dadmu sudah pulang,
mungkin kita akan pergi bersama"
"hem, mom aku ingin bertanya sesuatu dengan mom"
"apa itu sayang? Katakanlah."
"hem, begini kemarin aku bertemu dengan seorang pria yang seumuran dengan dad,
dia mengajakku ketaman dan memberitahukanku sesuatau." blue berhenti berbicara dan kembali menatap lantai kamarnya.
"orang itu mengatakan apa padamu,
ayo katakan pada mom."
"tapi mom janji akan berkata jujur padaku?"
kuanggukan kepalku
"begini orang itu mengatakan pada blue,
kalau dad bukanlah ayah kandung blue dan dia bilang orang yan sebenarnya ayah kandung blue bernama cody.
Dan orang itu juga memberikanku sebuah surat,
kata orang itu aku harus memberikan surat itu pada mom,
dan aku juga harus menanyakan hal ini pada mom.
Jadi mom apa semua yang dikatakan pria itu benar,
apa aku bukan anak dad, dan benarkah ayah kandungku bernama cody" astaga tuhan apa yang kudengar blue mengetahu hal ini,
siapa yang mengatakan itu padanya apa orang itu cody.
Tuhan tolong aku apa harus aku melakukan dan mengatakan semuanya sekarang.
Tapi justin sudah melarangku dan memintaku mengatakan bahwa blue adalah anaknya.
Tuhan bagaimana ini.
Bantu aku,
"mom ayo katakan apa semua yang kudengar semuanya benar?"
"hem,
semuanya salah sayang,
orang yang mengatakan itu hanya ingin membuatmu bingung dan tak yakin,
dengarlar kau dan dad banyak kesamaan dan katakan pada mom,
apa kau juga merasa dad bkan ayahmu?"
"tidak, aku merasa dad adalah ayah kandungku"
"baiklah mom rasa semuanya cukup sanpai disini,
kau mengertikan"
"iya mom"
aku tersenyum.
Attente Part 39
Mungkin
justin benar lebih baik blue tidak mengetahui kenyataan bahwa ayah
kandungnya adalah seorang bajingan dan pria pengecut.
Baiarkan blue tahu ayahnya adalah justin seorang proa yang baik dan bertanggung jawab.
Itu kan membuatnya lebih nyaman dan tenang.
"baiklah sayang sebaiknya sekarang kau ganti pakain" aku berdiri dan meninggalkan blue.
Kututup pintu kamar blue
Dan mencoba membuka surat yang diberikan blue padaku.
Isi surat:
jangan perna menganggap aku tak akan tahu bahwa kaulah dibelik semuan yang menimpahku,
aku tahu willi kau yang melakukan ini.
Apa maumu? Klu kau ingin membalsku dengan cara seperti ini kenapa kau melibatkan orang tuaku,
baiklah aku harap kau tak akan menyesal karna memperlakukanku seperti ini.
Kau tahukan aku seperti apa,
aku merelakan segelanya untuk mendapatkan yang kuamau.
Aku tahu blue dan keluargamu adalah hidupmu.
Aku hanya ingin kau menjaga mereka dengan baik.
Aku bisa kapan saja dan dimana saja melukai orang-orang yang kau cinta.
Baiklah aku rasa sekarang pertempuran kita akan lebih seru,
aku ingin melihat siapa yang akan menang diakhir cerita ini"
kuremas surat yang kupengang
dan membuangnya kelantai.
Baiklah cody kau ingin bermain-main denganku, aku akan melawanmu aku punya segalanya.
Dan kau sama semakil tak punya.
Masih bisa kau menantangku,
aku pastikan siapa yang akan tersenyum diakhir cerita ini.
Kuharap kau tak menyesal sudah mengusikku cody.
Kulangkahkan kakiku walaupun Dengan amarah yang membludak dikepalaku,
kubuka pintu kamarku
dan kulihat emma sedang digendong oleh olive.
Kudekati olive dan menyentuh bahunya..
Olive membalikan badanya dan tersenyum,
"dia kenapa?"
"usst, dia baru saja tidur,
tadi dia rewel.
Aku tak tahu kenapa tapi saat kugendong seperti ini dia langsung diam"
"memang dia suka saat digendong seperti itu,
oh iya asi mereka sudah kusiapkan dalam botol susu jadi kau tinggal memberikanya kalau dia lapar atau haus dan satu lagi klu ed bagus gendong dia dengan cara kau mengendongnya sandarkan pada dadmu dan taruh kepalanya dibahumu.
Kau mengertikan?" olive terlihat binggung dasar sudah tua masih saja tak bisa mencerna perkaatn dengan baik,
kuambil emma dalam gendonganya.
"begini, begini caranya,
apa kau masih tak mengerti?" aku menatapnya.
"hem sepertinya ia,
baiklah will. Aku pasti bisa,
pergila blue sudah menunggumu.
Balik lah blue sudah datang".
Kubalikan badanku dan benar saja blue sudah ada didepan pintu kamarku,
kuberikan emma pada olive.
"ingat jangan gendong ad dengan cara tidur.
Kau harus tahu itu.
Kalau terjadi sesuatu cepat beritahukan aku.
Kau mengertikan olive."
"ia will aku mengerti, sudah sana sebaiknya kau bersenang-senang" olive melambaikan tangan pada blue dan blue hanya tersenyum.
***
"bagaiman mom apa ini cocok denganku" blue menunjukan sebuah gelang padaku,
saat ini kami sudah ada dipusat perbelanjaan terkenal diatlanta.
"hem mom rasa iya sayang,
apa kau tak mau membeli satu stel dengan kalaung dan cincinya"
"hem aku mau mom" blue tersenyum.
"baiklah kami ambil satu stel, tolong dibungkus dan juga tolong berikan stel lagi yang sama dengan "
blue menarik lengan dressku.
Kutundukan badanku
"kenapa sayang?"
"apa mom akan membelikan untuk emma"
"bukan emma masih kecil,
mom beli untuk mom jadi nanti kita bisa memakainya bersamaan,
itu keren kan"
"ia mom "
"mom bagaimana klu kita belikan
dad dan edwatd kita belikan gelang yang sama,
dan emma juga"
"baiklah, usulan diterima."
"maag bisakan kalian membuatkan.
Aku gelang yang sama ?"
"baiklah anda ingin berapa buah"
"5, 2 untuk bayi usia 5 bulan,
dan satu untuk usia 8 tahun.
Dan 2 untuk umur 25."
"baiklah, anda bisa mengambilnya besok."
"terima kasih, ayo blue kita ketempat yang lain"
kugandeng tangan blue dan blue ingin berbelanja pakaian.
Kulangkahkan kakiku kedalam toko pakain anak-anak langgananku.
Dengan ramah para pelayan toko menyambutku dan blue.
"selamat datang nyonya williana,
ada yang bisa kami bantu."
"tolong anakku ingin membeli pakain,
bisakah kau membatun dia memilih pakain"
"baiklah nyonya...
Setelah memilih pakain blue ingin mengisi prutnya jadi kami.
Memilih restoran itali karna dia menyukai makanan itali.
Apa lagi dengan spageti.
"baiklah sayang kau mau ppesan apa?"
"hem spageti saj mom"
"baiklah kami pesan dua spageti dan jus melon"
"baik nyonya"
saat menunggu pesanan.
"mom itu orang yang memberitahuku soal dad"
kuikuti tangan blue.
Astaga bukankan itu cody,
jangan sampai dia melihatku dengan blue.
Dengan cepat kupindahkan blue kesamping tampat dudukku.
"sebaiknya kau duduk disamping mom sayang"
blue mengikuti saranku,
dengan cepat ia duduk diseblahku.
"kenapa mom,
apa orang itu berbahaya?"
"ia sayang dia sangat berbahaya,
mom peringatkanmu jangan perna mengikutinya,
kau mengertikan sayng"
"iya mom aku mengerti,
aku tak akan perna mengikutinya lagi.
Aku juga sebenarnya taku saat dia mengajak blue bersamanya."
"anak pintar, ini baru anak mom"
kukecup puncak kepala blue berulang-ulang...
Attente Part 40
Baiarkan blue tahu ayahnya adalah justin seorang proa yang baik dan bertanggung jawab.
Itu kan membuatnya lebih nyaman dan tenang.
"baiklah sayang sebaiknya sekarang kau ganti pakain" aku berdiri dan meninggalkan blue.
Kututup pintu kamar blue
Dan mencoba membuka surat yang diberikan blue padaku.
Isi surat:
jangan perna menganggap aku tak akan tahu bahwa kaulah dibelik semuan yang menimpahku,
aku tahu willi kau yang melakukan ini.
Apa maumu? Klu kau ingin membalsku dengan cara seperti ini kenapa kau melibatkan orang tuaku,
baiklah aku harap kau tak akan menyesal karna memperlakukanku seperti ini.
Kau tahukan aku seperti apa,
aku merelakan segelanya untuk mendapatkan yang kuamau.
Aku tahu blue dan keluargamu adalah hidupmu.
Aku hanya ingin kau menjaga mereka dengan baik.
Aku bisa kapan saja dan dimana saja melukai orang-orang yang kau cinta.
Baiklah aku rasa sekarang pertempuran kita akan lebih seru,
aku ingin melihat siapa yang akan menang diakhir cerita ini"
kuremas surat yang kupengang
dan membuangnya kelantai.
Baiklah cody kau ingin bermain-main denganku, aku akan melawanmu aku punya segalanya.
Dan kau sama semakil tak punya.
Masih bisa kau menantangku,
aku pastikan siapa yang akan tersenyum diakhir cerita ini.
Kuharap kau tak menyesal sudah mengusikku cody.
Kulangkahkan kakiku walaupun Dengan amarah yang membludak dikepalaku,
kubuka pintu kamarku
dan kulihat emma sedang digendong oleh olive.
Kudekati olive dan menyentuh bahunya..
Olive membalikan badanya dan tersenyum,
"dia kenapa?"
"usst, dia baru saja tidur,
tadi dia rewel.
Aku tak tahu kenapa tapi saat kugendong seperti ini dia langsung diam"
"memang dia suka saat digendong seperti itu,
oh iya asi mereka sudah kusiapkan dalam botol susu jadi kau tinggal memberikanya kalau dia lapar atau haus dan satu lagi klu ed bagus gendong dia dengan cara kau mengendongnya sandarkan pada dadmu dan taruh kepalanya dibahumu.
Kau mengertikan?" olive terlihat binggung dasar sudah tua masih saja tak bisa mencerna perkaatn dengan baik,
kuambil emma dalam gendonganya.
"begini, begini caranya,
apa kau masih tak mengerti?" aku menatapnya.
"hem sepertinya ia,
baiklah will. Aku pasti bisa,
pergila blue sudah menunggumu.
Balik lah blue sudah datang".
Kubalikan badanku dan benar saja blue sudah ada didepan pintu kamarku,
kuberikan emma pada olive.
"ingat jangan gendong ad dengan cara tidur.
Kau harus tahu itu.
Kalau terjadi sesuatu cepat beritahukan aku.
Kau mengertikan olive."
"ia will aku mengerti, sudah sana sebaiknya kau bersenang-senang" olive melambaikan tangan pada blue dan blue hanya tersenyum.
***
"bagaiman mom apa ini cocok denganku" blue menunjukan sebuah gelang padaku,
saat ini kami sudah ada dipusat perbelanjaan terkenal diatlanta.
"hem mom rasa iya sayang,
apa kau tak mau membeli satu stel dengan kalaung dan cincinya"
"hem aku mau mom" blue tersenyum.
"baiklah kami ambil satu stel, tolong dibungkus dan juga tolong berikan stel lagi yang sama dengan "
blue menarik lengan dressku.
Kutundukan badanku
"kenapa sayang?"
"apa mom akan membelikan untuk emma"
"bukan emma masih kecil,
mom beli untuk mom jadi nanti kita bisa memakainya bersamaan,
itu keren kan"
"ia mom "
"mom bagaimana klu kita belikan
dad dan edwatd kita belikan gelang yang sama,
dan emma juga"
"baiklah, usulan diterima."
"maag bisakan kalian membuatkan.
Aku gelang yang sama ?"
"baiklah anda ingin berapa buah"
"5, 2 untuk bayi usia 5 bulan,
dan satu untuk usia 8 tahun.
Dan 2 untuk umur 25."
"baiklah, anda bisa mengambilnya besok."
"terima kasih, ayo blue kita ketempat yang lain"
kugandeng tangan blue dan blue ingin berbelanja pakaian.
Kulangkahkan kakiku kedalam toko pakain anak-anak langgananku.
Dengan ramah para pelayan toko menyambutku dan blue.
"selamat datang nyonya williana,
ada yang bisa kami bantu."
"tolong anakku ingin membeli pakain,
bisakah kau membatun dia memilih pakain"
"baiklah nyonya...
Setelah memilih pakain blue ingin mengisi prutnya jadi kami.
Memilih restoran itali karna dia menyukai makanan itali.
Apa lagi dengan spageti.
"baiklah sayang kau mau ppesan apa?"
"hem spageti saj mom"
"baiklah kami pesan dua spageti dan jus melon"
"baik nyonya"
saat menunggu pesanan.
"mom itu orang yang memberitahuku soal dad"
kuikuti tangan blue.
Astaga bukankan itu cody,
jangan sampai dia melihatku dengan blue.
Dengan cepat kupindahkan blue kesamping tampat dudukku.
"sebaiknya kau duduk disamping mom sayang"
blue mengikuti saranku,
dengan cepat ia duduk diseblahku.
"kenapa mom,
apa orang itu berbahaya?"
"ia sayang dia sangat berbahaya,
mom peringatkanmu jangan perna mengikutinya,
kau mengertikan sayng"
"iya mom aku mengerti,
aku tak akan perna mengikutinya lagi.
Aku juga sebenarnya taku saat dia mengajak blue bersamanya."
"anak pintar, ini baru anak mom"
kukecup puncak kepala blue berulang-ulang...
Attente Part 40
Dengan cepat kutarik tangan blue saat ia selesai menghabiskan makananya.
Kukeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya diatsa meja.
"mom kenapa kita buru-buru?"
"ayo sayang mom takut bibi olive melakukan kesalahan"
"baiklah" blue mengikuti langkahku dan mengenggam tanganku.
Bukan karna takut olive membuat kesalahan tapi aku takut cody melihatku bersama blue.
Kubuka pintu mobilku dan mengenakan sabuk pengaman pada blue.
"mom kapan dad pulang?"
"hem mom rasa sore ini,
ada apa ? Apa kau sudah rindu dengan dad !"
"ia mom sangat rindu mom"
"mom juga sayang" kuelus pipi blue dan menjalankan mobilku.
"kau jangan berteriak atau membuat seseorang curiga,jalanakan saja mobilmu dan aku akan menunjukan dimana tempat yang kita akan datangin." seakan semua tubuhku kaku saat mendengar suara itu, suara itu suara cody.
Tuhan apa yang akan ia lakukan padaku.
"cepat jalankan mobilmu jangan buat seseorang curiga " suara cody masih datar tapi menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Seakan terhipnotis kulajukan mobilku sesuai petunjuk cody.
"aku sudah mengatakan padamu,
aku bisa melakukan apa saja.
Tapi kau masih melakukanya dan semakin menghancurkanku,jangan macam-macam kalau kau mau anakmu tetap merasakan indahnya dunia "
"aku mohon cody jangan libatkan anak itu, dia tak tahu apa-apa.
Ini masalah kita.
Aku mohon jangan lakukan itu"
"hahah kau tahu akukan will,
aku bisa melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang kuinginkan,"
"tapi cody dia masih terlalu kecil untuk mendapatkan perlakukan seperti ini"
"aku tak peduli,
yang kutahu aku ingin mendapatkan semuanya.
Tetap jalan jagan banyak bicara" nada suara cody tak lagi datar tapi sudah naik satu oktaf.
Saat ini dikepalaku hanya ada baaimana cara keluar dari masalah ini, cody adalah orang yang sangat nekat dan membahayakan, dia bisa melakukan apa saja demi apapun.
"kau belok disana" kulakukan apa yang dia katakan.
Kuparkirkan mobilku dan menunggu apa yang akan dilakukan cody selanjutnya.
"bukakan sabuk pengaman anakmu" dengan cepat kubukan sabuk pengaman yang melekat ditubuh blue.
Kulihat butiran air mata yang membasahi kedua pipi cabi anakku.
"tenang sayang semuanya akan baik-baik saja, jangan menangis " kusekah air mata blue .
Dengan cepat cody keluar dan menarik paksa blue dari pelukanku.
"cody kau menyakitinya, aku mohon jangan lakukan ini.
Apa kau tak lihat dia ketakutan.
Cody aku mohon jangan menyakiti dia."
"diam dan keluar dari mobilmu" nada suara cody kembali datar dan penekanan disetiap katanya.
Kulakukan apa yang diperintahkan cody padaku, aku tak ingin ia melukai malaikat kecilku.
"cody aku mohon jangan seperti ini, dia anakmu jangan perlakukan dia seperti itu,
apa kau tak kasihan melihatnya seperti itu" kurasa ini yang tepat kulakukan semoga saja cody bisa memahaminya.
Cody meleps blue dan menghempaskanya kelantai.
Ia mendekatiku, aku mundur dan mencoba menjaga jarak darinya.
Tapi tidak ia samakin dekat dan membuatku terpojok ketembok.
Cody mengenggem daguku dan memajukan wajahku,
alhasil wajahku dengan wajahnya sangat dekat,
bahkan deru nafasnya menerpa wajahku.
"aku merindukanmu will,
aku rindu saat bibirmu melumat bibirku, apa kau tak merindukan kehangatan tubuhku will" ucapnya dan sesekali tanganya mengelus pipiku.
"aku mohon cody jangan seperti ini,
aku sudah bersuami dan memiliki anak.
Kita tak seperti dulu lagi.
Tolong lepaskan kami"
"hahaha will sayang,
kau kenapa kau takut denganku?
Kukira kau bukan wanita biasa,
ayolah will aku merindukan cintamu dan permainamu diatas ranjang,
ayolah will" cody semakin mendekatkan wajahnya dan hidung kami semakin bersentuhan .
Sedetik kemudia kurasakan lumatan bibir cody dibibirku,
dia melumat sangat lembut aku hanpir terhanyu dalam ciumanya.
Tapi dengan cepat kesadaranku kembali.
Kugigit bibir cody cukup kerasa dan hasilnya cody melepaskan lumatanya pada bibirku.
Dengan cepat cody mendorong tubuhku ketembok.
Rasanya sangat sakit.
Cody mendekat karahku dengan tatapan tajam dan amarah yang memuncak itu semua dapat kulihat dari tatapan matanya padaku.
Plakk "dasar wanita jalang, beraninya kau melukai bibirku.
Apa yang kau inginkan apa kau inigin mati saat ini juga. Wanita jalang" plakk kembali cody menampar kedua pipiku.
Rasanya sangat peri dan sakit dikedua pipiku.
Cody kembali memengang kasar pipiku.
"kenapa? Kau mau melawanku sekarang ayo lawan,
aku menunggungya wanita jalang" cody kembali melumat bibirku.
Rasanya air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya mengalir,
maafkan aku just aku tak bisa menahanya untuk melakukan ini,
seharusnya ini hanya milikmu tapi maafkan aku juat, maafkan aku just..
Beberapakali kudorong tubuh cody tapi hansilnya nihil,
kekuatanku tak sebesar kekuatanya dan alhasil aku hanya bisa diam dan diam.
Kulihat blue trus menangis melihat ibunya diperlakukan seperti ini.
Kulihat ia mengambil pisau yang tadi digunakan cody untuk mengancam blue.
Kulihat blue samakin mendekat kearah kami- aku dan cody...!!!
Attente Part 41
Kukeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya diatsa meja.
"mom kenapa kita buru-buru?"
"ayo sayang mom takut bibi olive melakukan kesalahan"
"baiklah" blue mengikuti langkahku dan mengenggam tanganku.
Bukan karna takut olive membuat kesalahan tapi aku takut cody melihatku bersama blue.
Kubuka pintu mobilku dan mengenakan sabuk pengaman pada blue.
"mom kapan dad pulang?"
"hem mom rasa sore ini,
ada apa ? Apa kau sudah rindu dengan dad !"
"ia mom sangat rindu mom"
"mom juga sayang" kuelus pipi blue dan menjalankan mobilku.
"kau jangan berteriak atau membuat seseorang curiga,jalanakan saja mobilmu dan aku akan menunjukan dimana tempat yang kita akan datangin." seakan semua tubuhku kaku saat mendengar suara itu, suara itu suara cody.
Tuhan apa yang akan ia lakukan padaku.
"cepat jalankan mobilmu jangan buat seseorang curiga " suara cody masih datar tapi menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Seakan terhipnotis kulajukan mobilku sesuai petunjuk cody.
"aku sudah mengatakan padamu,
aku bisa melakukan apa saja.
Tapi kau masih melakukanya dan semakin menghancurkanku,jangan macam-macam kalau kau mau anakmu tetap merasakan indahnya dunia "
"aku mohon cody jangan libatkan anak itu, dia tak tahu apa-apa.
Ini masalah kita.
Aku mohon jangan lakukan itu"
"hahah kau tahu akukan will,
aku bisa melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang kuinginkan,"
"tapi cody dia masih terlalu kecil untuk mendapatkan perlakukan seperti ini"
"aku tak peduli,
yang kutahu aku ingin mendapatkan semuanya.
Tetap jalan jagan banyak bicara" nada suara cody tak lagi datar tapi sudah naik satu oktaf.
Saat ini dikepalaku hanya ada baaimana cara keluar dari masalah ini, cody adalah orang yang sangat nekat dan membahayakan, dia bisa melakukan apa saja demi apapun.
"kau belok disana" kulakukan apa yang dia katakan.
Kuparkirkan mobilku dan menunggu apa yang akan dilakukan cody selanjutnya.
"bukakan sabuk pengaman anakmu" dengan cepat kubukan sabuk pengaman yang melekat ditubuh blue.
Kulihat butiran air mata yang membasahi kedua pipi cabi anakku.
"tenang sayang semuanya akan baik-baik saja, jangan menangis " kusekah air mata blue .
Dengan cepat cody keluar dan menarik paksa blue dari pelukanku.
"cody kau menyakitinya, aku mohon jangan lakukan ini.
Apa kau tak lihat dia ketakutan.
Cody aku mohon jangan menyakiti dia."
"diam dan keluar dari mobilmu" nada suara cody kembali datar dan penekanan disetiap katanya.
Kulakukan apa yang diperintahkan cody padaku, aku tak ingin ia melukai malaikat kecilku.
"cody aku mohon jangan seperti ini, dia anakmu jangan perlakukan dia seperti itu,
apa kau tak kasihan melihatnya seperti itu" kurasa ini yang tepat kulakukan semoga saja cody bisa memahaminya.
Cody meleps blue dan menghempaskanya kelantai.
Ia mendekatiku, aku mundur dan mencoba menjaga jarak darinya.
Tapi tidak ia samakin dekat dan membuatku terpojok ketembok.
Cody mengenggem daguku dan memajukan wajahku,
alhasil wajahku dengan wajahnya sangat dekat,
bahkan deru nafasnya menerpa wajahku.
"aku merindukanmu will,
aku rindu saat bibirmu melumat bibirku, apa kau tak merindukan kehangatan tubuhku will" ucapnya dan sesekali tanganya mengelus pipiku.
"aku mohon cody jangan seperti ini,
aku sudah bersuami dan memiliki anak.
Kita tak seperti dulu lagi.
Tolong lepaskan kami"
"hahaha will sayang,
kau kenapa kau takut denganku?
Kukira kau bukan wanita biasa,
ayolah will aku merindukan cintamu dan permainamu diatas ranjang,
ayolah will" cody semakin mendekatkan wajahnya dan hidung kami semakin bersentuhan .
Sedetik kemudia kurasakan lumatan bibir cody dibibirku,
dia melumat sangat lembut aku hanpir terhanyu dalam ciumanya.
Tapi dengan cepat kesadaranku kembali.
Kugigit bibir cody cukup kerasa dan hasilnya cody melepaskan lumatanya pada bibirku.
Dengan cepat cody mendorong tubuhku ketembok.
Rasanya sangat sakit.
Cody mendekat karahku dengan tatapan tajam dan amarah yang memuncak itu semua dapat kulihat dari tatapan matanya padaku.
Plakk "dasar wanita jalang, beraninya kau melukai bibirku.
Apa yang kau inginkan apa kau inigin mati saat ini juga. Wanita jalang" plakk kembali cody menampar kedua pipiku.
Rasanya sangat peri dan sakit dikedua pipiku.
Cody kembali memengang kasar pipiku.
"kenapa? Kau mau melawanku sekarang ayo lawan,
aku menunggungya wanita jalang" cody kembali melumat bibirku.
Rasanya air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya mengalir,
maafkan aku just aku tak bisa menahanya untuk melakukan ini,
seharusnya ini hanya milikmu tapi maafkan aku juat, maafkan aku just..
Beberapakali kudorong tubuh cody tapi hansilnya nihil,
kekuatanku tak sebesar kekuatanya dan alhasil aku hanya bisa diam dan diam.
Kulihat blue trus menangis melihat ibunya diperlakukan seperti ini.
Kulihat ia mengambil pisau yang tadi digunakan cody untuk mengancam blue.
Kulihat blue samakin mendekat kearah kami- aku dan cody...!!!
Attente Part 41
Kumohon jangan sayang, mom mohon jangan lakukan itu blue (jeritku dalam hati) semakin deras air mata yang keluar dari mataku.
Aku tak membayangkan apa yang akan dilakukan blue,
dia masih terlalu kecil kenapa dia bisa berfikir melakukan itu.
Kugerakan tanganku tanda untuk melarang blue maju dan kembali ketempatnya semula.
Tapi blue tak bergeming dan mengelengkan kepalnya dengan keras dan ia mengecungkan telunjuknya dibibirnya.
Tanda ia memintaku untu diam.
Semakin keras tanganku bergerak saat blue semakin dekat dengan kami-aku dan cody.
Saat ia sudah dibelakang cody dengan cepat blue mengayungkan pisau itu,
tapi belum sempat blue menancapkan pisau itu kebelakang punggu cody.
Cody berbalik dan mengenggam kerasa lengan blue dan membuat pisau yang tadi ia genggam jatuh kelantai.
"apa yang ingin kau lakukan,
setan kecil," cody mengenggan kedua lengan blue dan membuat blue meringis kesakitan.
Sesaat kemudia cody menghempaskan tubuh blue kelantai dan membuat kepal blue terbentur cukup keras kelantai.
Dengan cepat aku berdiri dan berlari ketubuh mungil anakku.
Kuangkat tubuh blue yang berlumuran darah akibat kepalanya terbentur lantai cukup keras.
Dengan amarah yang sudah memuncak, aku berdiri dan menunjuk muka cody.
"apa yang kau lakukan,
apa kau tak punya hati melakukan hal sekeji ini pada seorang anak yang tak tahu apa,
dan juga kau telah melukai anakku sendiri.aku tak perna berfikir kau akan sekeji ini pada blue darah dagingmu sendiri.
Lihat apa yang kau lakukan padanya" semuanya sudah terungkap aku tak lagi memperdulikan janjiku pada justin,
yang ada dikepalaku hanyalah keselamatan putriku.
Kurengkuh tubuh munggil blue dan mengendongnya.
Kulihat cody masih dia mematung ditempatnya.
Aku tak tahu apa yang ia fikirkan yang jelas sekarang blue harus mendapatkan pertolongan.
"sabar sayang mom akan membawamu kerumah sakit, bertahanlah demi mom sayang .
Kau cinta momkan jadi bertahanlah sayang,
mom ada disini"
dengan cepat kujalankan mobilku.
Aku tak melihat berapa kecepatan mobil ini yang ada dikepalaku aku harus cepat membawa blue kerumah sakit dan mendapat pertolongan.
20 menit waktu yang aku tempuh untuk kerumah sakit,
dengan cepat kuparkir mobilku dan keluar.
Kubuka pintu tengah dan mengendong tubuh blue yang tak sadarkan diri,
darah segar masih mengalir dengan deras dari kepalnya.
Baju yang ia kenakan tidak berwarna putih lagi tapi berubah menjadi merah darah yang segarnya.
Kupercepat langkahku.
"sabar sayang kita sudah sampai dirumah sakit,
bertahanlah, bertahanlah blue malaikat mom.
Bertahanlah sayang" tangisanku semakinkencang dan deras keluar dari mataku.
Aku tak lagi membendungnya.
"suster,suster. Susster" seketika beberapa suster datang mengehampiriku.
"cepat nyonya tidurkan anak anda" dengan cepat kubaringkan tubuh blue dikasur dan susuter mendorongnya kedalam ruangan.
"nyonya sebaiknya menunggu diluar, kami akan menangani anak anda dengan baik dan sebisa kami"
"baiklah sus.
Tapi aku mohon selamatkan anakku,
tolong lakukan yang terbaik untuknya."
"ia nyonya kami akan melakukan yang bisa kami lakukan".
Kulihat pintu ruangan itu sudah tertutup dan lampu diatasnya sudah dinyalakan,
itu bertanda blue sudah mendapat pertolongan dari mereka.
Segera kurogoh ponselku dan menghubungi justin.
"ayo syang akangkat telponmu,
ayo just angkat telponmu"..
"hallo ill, maaf tadi aku dari toilet"
"kau dia mana hikk,hikk" belum sempat aku bicara justin memotongnya
"kau kenapa?kenapa kau mengasih.
Apa ada masalah sayan?"
"ia just ada masalh. Hiks.hikss.hikss.
Blue sayang, blue terluka parah dan sekarang ia didalam ruangan tindakan."
"kenapa?kenapa blue bisa masuk rumah sakit"
"nanti akan kuberitahu kalau kau sudah kesini,
kau sedang dimana?
Apa kau sudah sampai sini"
"ia aku sudah sampai, sekarang aku dikantor.
Tunggu aku, aku akan kesan,
tenanglah sayang aku yakin blue akan baik-baik saja dia anak kita yang kuat "
"ia aku tahu itu,
cepatlah kesini."
"ia aku akan kesana" segera kumatikan telponku pada justin dan segera menelpon olive.
"hallo, ol apa semuanya baik?"
"ia will, kau kenapa sepertinya kau menangis?"
"ia ol, blue masuk kedalam rumah sakit.
Apa kau bisa menjaga emma dan ed.
Aku masih harus menjaga blue.
Justin belum datang"
"baiklah, aku akan menjaga mereka.
Tenanglah will.
Kau harus yakin blue anak yang kuat dia akan baik-baik saja"
"terima kasih ol.
Kau memang yang terbaik"
kumatikan panggilanku dan kembali duduk dikursi yang disediakan.
20 menit sudah berlalu tapi dokter dan suster belum juga keluar memberitahukan keadaan blue.
Kututup mukaku dengan kedua telapak tanganku,
kurasakan sentuhan dibahuku,
segera kudongakan kepalaku.
Segra kupeluk tubuh pria yang selama ini kurindukan.
Kubenamkan kepalku didada bida suamiku, dan menumpahkan tangis ku didadanya.
Sesekali kurasakan ia mengelus punggung belakangku.
"tenang sayang semuanya akan baik-baik saja,
blue anak yang kuat sayang.
Ayo jangan menangis, tenang lah semuanya akan baik-baik saja"
Aku tak membayangkan apa yang akan dilakukan blue,
dia masih terlalu kecil kenapa dia bisa berfikir melakukan itu.
Kugerakan tanganku tanda untuk melarang blue maju dan kembali ketempatnya semula.
Tapi blue tak bergeming dan mengelengkan kepalnya dengan keras dan ia mengecungkan telunjuknya dibibirnya.
Tanda ia memintaku untu diam.
Semakin keras tanganku bergerak saat blue semakin dekat dengan kami-aku dan cody.
Saat ia sudah dibelakang cody dengan cepat blue mengayungkan pisau itu,
tapi belum sempat blue menancapkan pisau itu kebelakang punggu cody.
Cody berbalik dan mengenggam kerasa lengan blue dan membuat pisau yang tadi ia genggam jatuh kelantai.
"apa yang ingin kau lakukan,
setan kecil," cody mengenggan kedua lengan blue dan membuat blue meringis kesakitan.
Sesaat kemudia cody menghempaskan tubuh blue kelantai dan membuat kepal blue terbentur cukup keras kelantai.
Dengan cepat aku berdiri dan berlari ketubuh mungil anakku.
Kuangkat tubuh blue yang berlumuran darah akibat kepalanya terbentur lantai cukup keras.
Dengan amarah yang sudah memuncak, aku berdiri dan menunjuk muka cody.
"apa yang kau lakukan,
apa kau tak punya hati melakukan hal sekeji ini pada seorang anak yang tak tahu apa,
dan juga kau telah melukai anakku sendiri.aku tak perna berfikir kau akan sekeji ini pada blue darah dagingmu sendiri.
Lihat apa yang kau lakukan padanya" semuanya sudah terungkap aku tak lagi memperdulikan janjiku pada justin,
yang ada dikepalaku hanyalah keselamatan putriku.
Kurengkuh tubuh munggil blue dan mengendongnya.
Kulihat cody masih dia mematung ditempatnya.
Aku tak tahu apa yang ia fikirkan yang jelas sekarang blue harus mendapatkan pertolongan.
"sabar sayang mom akan membawamu kerumah sakit, bertahanlah demi mom sayang .
Kau cinta momkan jadi bertahanlah sayang,
mom ada disini"
dengan cepat kujalankan mobilku.
Aku tak melihat berapa kecepatan mobil ini yang ada dikepalaku aku harus cepat membawa blue kerumah sakit dan mendapat pertolongan.
20 menit waktu yang aku tempuh untuk kerumah sakit,
dengan cepat kuparkir mobilku dan keluar.
Kubuka pintu tengah dan mengendong tubuh blue yang tak sadarkan diri,
darah segar masih mengalir dengan deras dari kepalnya.
Baju yang ia kenakan tidak berwarna putih lagi tapi berubah menjadi merah darah yang segarnya.
Kupercepat langkahku.
"sabar sayang kita sudah sampai dirumah sakit,
bertahanlah, bertahanlah blue malaikat mom.
Bertahanlah sayang" tangisanku semakinkencang dan deras keluar dari mataku.
Aku tak lagi membendungnya.
"suster,suster. Susster" seketika beberapa suster datang mengehampiriku.
"cepat nyonya tidurkan anak anda" dengan cepat kubaringkan tubuh blue dikasur dan susuter mendorongnya kedalam ruangan.
"nyonya sebaiknya menunggu diluar, kami akan menangani anak anda dengan baik dan sebisa kami"
"baiklah sus.
Tapi aku mohon selamatkan anakku,
tolong lakukan yang terbaik untuknya."
"ia nyonya kami akan melakukan yang bisa kami lakukan".
Kulihat pintu ruangan itu sudah tertutup dan lampu diatasnya sudah dinyalakan,
itu bertanda blue sudah mendapat pertolongan dari mereka.
Segera kurogoh ponselku dan menghubungi justin.
"ayo syang akangkat telponmu,
ayo just angkat telponmu"..
"hallo ill, maaf tadi aku dari toilet"
"kau dia mana hikk,hikk" belum sempat aku bicara justin memotongnya
"kau kenapa?kenapa kau mengasih.
Apa ada masalah sayan?"
"ia just ada masalh. Hiks.hikss.hikss.
Blue sayang, blue terluka parah dan sekarang ia didalam ruangan tindakan."
"kenapa?kenapa blue bisa masuk rumah sakit"
"nanti akan kuberitahu kalau kau sudah kesini,
kau sedang dimana?
Apa kau sudah sampai sini"
"ia aku sudah sampai, sekarang aku dikantor.
Tunggu aku, aku akan kesan,
tenanglah sayang aku yakin blue akan baik-baik saja dia anak kita yang kuat "
"ia aku tahu itu,
cepatlah kesini."
"ia aku akan kesana" segera kumatikan telponku pada justin dan segera menelpon olive.
"hallo, ol apa semuanya baik?"
"ia will, kau kenapa sepertinya kau menangis?"
"ia ol, blue masuk kedalam rumah sakit.
Apa kau bisa menjaga emma dan ed.
Aku masih harus menjaga blue.
Justin belum datang"
"baiklah, aku akan menjaga mereka.
Tenanglah will.
Kau harus yakin blue anak yang kuat dia akan baik-baik saja"
"terima kasih ol.
Kau memang yang terbaik"
kumatikan panggilanku dan kembali duduk dikursi yang disediakan.
20 menit sudah berlalu tapi dokter dan suster belum juga keluar memberitahukan keadaan blue.
Kututup mukaku dengan kedua telapak tanganku,
kurasakan sentuhan dibahuku,
segera kudongakan kepalaku.
Segra kupeluk tubuh pria yang selama ini kurindukan.
Kubenamkan kepalku didada bida suamiku, dan menumpahkan tangis ku didadanya.
Sesekali kurasakan ia mengelus punggung belakangku.
"tenang sayang semuanya akan baik-baik saja,
blue anak yang kuat sayang.
Ayo jangan menangis, tenang lah semuanya akan baik-baik saja"
Attente Part 42
"tenanglah
sayang blue akan baik-baik saja, dia anak kita yang kuat, dia tak akan
meninggalkan kita" aku tak bisa mengucapkan apa-apa lagi bibirku seakan
kaku dan tak bisa digerakan.
Sesekali justin mengusap punggung belakangku. Aku tahu ia mencoba menenangkanku dengan cara itu tapi bagaimanapun caranya aku tak bisa tenang.
"sebaiknya kita duduk dulu, kau butuh istirahat sayang. Lihat dirimu begitu berantakan" justin medudukan badanku dikursi.
Lalu ia duduk diseblahku dan mendekap hangat tubuhku, ini yang aku butuhkan sebuah dekapan agar membuatnya lebih tenang dan baik-baik saja,
walaupun aku tahu dekapan justin tak mampu menenangkan hatiku..
Sunggu aku tak akan memaafkanmu cody,
apa bila terjadi sesuatu yang buruk pada putriku.
Aku akan membalsmu 100 kali lipat dari apa yang kau lakukan pada putriku.
Sunggu ini sumpahku sebagai mommu sayang.
Mungkin justin merasakan guncangan pada tubuh istrinya,
ia semakin mendekat hangat istrinya.
Dan sesekali mengucup puncak kepala istrinya.
Seorang suster keluar dari ruangan tindakan.
Dan mendekat kearah justin dan williana,
"maaf nyonya sebaiknya anda kedalam,
putri anda memanggil-mngil anda" tanpa komando tubuh williana segera berdiri dan mengikuti suster masuk kedalam ruang tindakan.
Itangisnya pecah saat melihat malaikat kecilnya terbaring leham tak sadarkan diri dengan darah yang masih mengalir dikepalnya.
"apa anda ibunya" tanya seorang dokter pada williana saat williana sampai didekat tubuh blue malaikatnya.
Williana hanya menganggukan kepalanya,
ia tak melihat ataupun menatap dokter,
tatapannya terpaku pada wajah pucat malaikatnya yang terbaring didepannya..
Williana menyentuh wajah pucat blue dengan kedua tangannya.
"baiklah nyonya sebaiknya anda mengenggap tangan putri anda,
dan tolong ajak dia berbicara ".
Williana kembali menganggukkan kepalnya.
"baik nyonya silahkan lakukan sebisa anda"
williana mencoba mengecup kedua telapak tangan anaknya.
"sayang ini mom,
ayolah bagun sayang.
Apa kau tak rindu dengan dad, mom, emma dan edward .
Mereka menunggumu dirumah sayang.
Ayolah bangun blue ini mommu sayng.
Kau bilang pada mom kau rindu dengan dadkan,
dad sekarang ada diluar dia menunggumu.
Ayolah bangun sayang mom sayng padamu.
Dad juga sangat menyayangimu.
Kau juga sayangkan pada mom.
Jadi bangunlah sayang" ucapan williana terhenti karna ia menyekah air mata yang keluar dari kedua bola matanya yang indah.
"anda bekerja dengan baik nyonya,
detak jantung anak anda mulai meninggin,
sebaiknya anda lakukan hal itu lagi.ataukah" ucapan dokter itu terhenti dan membalikan badanya kearah suster yang berada disamping williana.
"sus panggil ayah anak ini,
mungking dengan adanya anak ini bisa dengan cepat sadarkan diri"
"baik dok" suster itu berjalan keluar dan memenggil justin.
Williana masih saja mengecup telapak tangan blue,
ia tak bisa lagi menahan air matanya,
hatinya seakan teriris melihat anak yang ia besarkan dengan tangan dan usahanya sendiri,
terkulai lemah tak berdaya...
Rasanya semua memorie-memorie indah kembali berputar seperti rol film dikepalaku.
Kenangan indah bersama blue kembali terbayang.
Senyumnya, tangisnya, tawanya.
Masih sangat segar diingataku.
Aku masih ingat saat pertama kali melihat blue lahir dan mengendongnya untuk pertama kalinya.
Tuhan aku mohon berikan kekuatan padaku dan blue,
dia hidupku aku tak bisa kehilanganya dengan cara seperti ini.
Aku mohon ambil saja nyawaku untuk mengantikan blue .
Dia masih terlalu kecil dan masih membutuhkan hidup lebih lama.
Kurasakan sentuhan pada pundakku.
"tenanglah sayang blue akan kembali untuk kita."
kuanggukan kepalaku dan menaruh kepalku kedada bidang justin.
Justin mengikutiku ia menaruh tanganya diatas tanganku dan memberika sedikit kehangatan ditanganku dantangan malaikatku.
"baiklah silahkan anda kembali mengajaknya berbicara"
"kau duluan saja sayang" ucapaku pada justin.
"hy malaikat kecilku, ini dad sayang kau bilang pada dad tak akan meninggalkan dadkan.
Jadi tepatilah janjimu sayang.
Dan juga membawakanmu oleh-oleh yang kau minta,
dan kau tahu grandma dan grandpa merindukanmu.
Dad janji klu kau kembali dad akan membawamu kecanada untuk bertemu grandma, kau maukan.
Jadi bangunlah sayang"
"ia sayang bangunlah mom dan dan menyanyangimu.
Mom mohon blue bangunlah sayang,
dad disini.
Kau merindukanyakan ayo blue bangun sayang.
Mom tak bisa hidup tanpamu.
Mom janji akan memenuhi semua mau.
Ayo sayang bangunlah demi mom demi dad dan juga emma,edward.
Mom mohon blue" justin mengenggam erat tanganku dan tangan blue.
"tenang ill, kau harus tenang jangan seperti ini.
Blue pasti kembali untuk kita,
jadi tenanglah sayang, tenang"
"blue sayang ayolah bangun,
dad dan mom menunggumu disini,
dad menyayangimu."
"ia sayang bangunlah, kau tahu semua orang menyayangimu."
sesaat kemudia kurasakan gerakan tangan blue,
kudongakan kepalku.
"just tangan blue bergerak apa kau merasakanya?, dok tangan anakku bergerak" semyum mengambang diwajah dokter.
Sesekali justin mengusap punggung belakangku. Aku tahu ia mencoba menenangkanku dengan cara itu tapi bagaimanapun caranya aku tak bisa tenang.
"sebaiknya kita duduk dulu, kau butuh istirahat sayang. Lihat dirimu begitu berantakan" justin medudukan badanku dikursi.
Lalu ia duduk diseblahku dan mendekap hangat tubuhku, ini yang aku butuhkan sebuah dekapan agar membuatnya lebih tenang dan baik-baik saja,
walaupun aku tahu dekapan justin tak mampu menenangkan hatiku..
Sunggu aku tak akan memaafkanmu cody,
apa bila terjadi sesuatu yang buruk pada putriku.
Aku akan membalsmu 100 kali lipat dari apa yang kau lakukan pada putriku.
Sunggu ini sumpahku sebagai mommu sayang.
Mungkin justin merasakan guncangan pada tubuh istrinya,
ia semakin mendekat hangat istrinya.
Dan sesekali mengucup puncak kepala istrinya.
Seorang suster keluar dari ruangan tindakan.
Dan mendekat kearah justin dan williana,
"maaf nyonya sebaiknya anda kedalam,
putri anda memanggil-mngil anda" tanpa komando tubuh williana segera berdiri dan mengikuti suster masuk kedalam ruang tindakan.
Itangisnya pecah saat melihat malaikat kecilnya terbaring leham tak sadarkan diri dengan darah yang masih mengalir dikepalnya.
"apa anda ibunya" tanya seorang dokter pada williana saat williana sampai didekat tubuh blue malaikatnya.
Williana hanya menganggukan kepalanya,
ia tak melihat ataupun menatap dokter,
tatapannya terpaku pada wajah pucat malaikatnya yang terbaring didepannya..
Williana menyentuh wajah pucat blue dengan kedua tangannya.
"baiklah nyonya sebaiknya anda mengenggap tangan putri anda,
dan tolong ajak dia berbicara ".
Williana kembali menganggukkan kepalnya.
"baik nyonya silahkan lakukan sebisa anda"
williana mencoba mengecup kedua telapak tangan anaknya.
"sayang ini mom,
ayolah bagun sayang.
Apa kau tak rindu dengan dad, mom, emma dan edward .
Mereka menunggumu dirumah sayang.
Ayolah bangun blue ini mommu sayng.
Kau bilang pada mom kau rindu dengan dadkan,
dad sekarang ada diluar dia menunggumu.
Ayolah bangun sayang mom sayng padamu.
Dad juga sangat menyayangimu.
Kau juga sayangkan pada mom.
Jadi bangunlah sayang" ucapan williana terhenti karna ia menyekah air mata yang keluar dari kedua bola matanya yang indah.
"anda bekerja dengan baik nyonya,
detak jantung anak anda mulai meninggin,
sebaiknya anda lakukan hal itu lagi.ataukah" ucapan dokter itu terhenti dan membalikan badanya kearah suster yang berada disamping williana.
"sus panggil ayah anak ini,
mungking dengan adanya anak ini bisa dengan cepat sadarkan diri"
"baik dok" suster itu berjalan keluar dan memenggil justin.
Williana masih saja mengecup telapak tangan blue,
ia tak bisa lagi menahan air matanya,
hatinya seakan teriris melihat anak yang ia besarkan dengan tangan dan usahanya sendiri,
terkulai lemah tak berdaya...
Rasanya semua memorie-memorie indah kembali berputar seperti rol film dikepalaku.
Kenangan indah bersama blue kembali terbayang.
Senyumnya, tangisnya, tawanya.
Masih sangat segar diingataku.
Aku masih ingat saat pertama kali melihat blue lahir dan mengendongnya untuk pertama kalinya.
Tuhan aku mohon berikan kekuatan padaku dan blue,
dia hidupku aku tak bisa kehilanganya dengan cara seperti ini.
Aku mohon ambil saja nyawaku untuk mengantikan blue .
Dia masih terlalu kecil dan masih membutuhkan hidup lebih lama.
Kurasakan sentuhan pada pundakku.
"tenanglah sayang blue akan kembali untuk kita."
kuanggukan kepalaku dan menaruh kepalku kedada bidang justin.
Justin mengikutiku ia menaruh tanganya diatas tanganku dan memberika sedikit kehangatan ditanganku dantangan malaikatku.
"baiklah silahkan anda kembali mengajaknya berbicara"
"kau duluan saja sayang" ucapaku pada justin.
"hy malaikat kecilku, ini dad sayang kau bilang pada dad tak akan meninggalkan dadkan.
Jadi tepatilah janjimu sayang.
Dan juga membawakanmu oleh-oleh yang kau minta,
dan kau tahu grandma dan grandpa merindukanmu.
Dad janji klu kau kembali dad akan membawamu kecanada untuk bertemu grandma, kau maukan.
Jadi bangunlah sayang"
"ia sayang bangunlah mom dan dan menyanyangimu.
Mom mohon blue bangunlah sayang,
dad disini.
Kau merindukanyakan ayo blue bangun sayang.
Mom tak bisa hidup tanpamu.
Mom janji akan memenuhi semua mau.
Ayo sayang bangunlah demi mom demi dad dan juga emma,edward.
Mom mohon blue" justin mengenggam erat tanganku dan tangan blue.
"tenang ill, kau harus tenang jangan seperti ini.
Blue pasti kembali untuk kita,
jadi tenanglah sayang, tenang"
"blue sayang ayolah bangun,
dad dan mom menunggumu disini,
dad menyayangimu."
"ia sayang bangunlah, kau tahu semua orang menyayangimu."
sesaat kemudia kurasakan gerakan tangan blue,
kudongakan kepalku.
"just tangan blue bergerak apa kau merasakanya?, dok tangan anakku bergerak" semyum mengambang diwajah dokter.
Attente Part 43
"just, tangan blue bergerak sayang,
tangan anak kita bergerak."
"dokter bagaiman ini, anak kami mengerakan tanganya.
Apa ini ada kemajuan"
dokter itu mendekay kearah kami-aku dan justin-.
"baiklah aku harap ini reaksi dari anak kalian.
Berdoalah pada tuhan semoga tuhan mendegar doa kalian untuk keselamatan putri kalian"
justin memelukku dan mendekap erat tanganku dan tangan blue.
"sebaiknya kita berdoa sayang, semoga tuhan masih berpihak pada kita"
kuanggukan kepalaku dan tersenyum.
Terima kasih tuhan atas semuanya kau memang selalu mengabulkan doaku.
Aku tak tahu bagaimana hidupku andaikan kau mengambilnya,
mungkin aku bisa mati karna ini.
Dia hidupku dia jiwaku dia segala-galanya bagiku.
Kukecup berulang-ulang kali telapak tanganya.
Terima kasih sayang karna kau mendegar mom,
terima kasih karna kau masih mau melihat mom.
Mom menyanyangimu.
Mom yakin kau bisa mendengar isi hatimom.
Kau tahukan mom sangat menyayangimu.
Justin berjudut dan menutup kedua matanya lalu melipat tanganya.
Aku tak tahu apa yang ia lakukan tapi aku mengirah ia sedang berdoa dan meminta sesuatu pada tuhan.
Dokter mendekat kearahku,
"selamat nyonya anak anda sudah melewati masa komanya.
Apa diantara kalian ada yang mempunyai golongan darah yang sama."
"saya dok,
saya mempunya golongan darah yang sama dengan putri kami"
"baiklah sebaiknya anda ikut denganku karna anak anda membutuhkan donor darah,
anda taukan anak anda mengeluarkan banyak darah"
"ia dok, tunggu aku ingin memberitahukan ini pada suamiku dulu."
"baiklah aku akan menunggu anda diluar"
aku tersenyum, sesaat kemudia dokter itu menghilang dibalik pintu.
Kusentuh bahu justin.
Sesaat kemusia ia berbalik dan tersenyum padaku.
"ada apa sayang?"
"aku harus mendonorkan darahku untuk blue,
kau bisa menjaga blue dulu.
Oh iya sayang, blue sudah melewati masa komanya.
Aku mohon jada dia"
"ia sayang,pergila aku akan menjaga anak kita.aku kan dadnya mana mungkin aku mengabaikannya"
"baiklah" justin mengecup sebentar bibirku lalu beralih kekedua pipiku.
Aku hanya bisa tersenyum.
Aku tahu itu tanda justin mengharapkan aku tenang.
Kutinggalkan blue bersama justin,
sebelum benar-benar meninggalkan kamar ini aku terus berblik dan menatap blue.
Kututup pintu kamar blue "saya siap dok"
"baiklah mari ikut saya"
dokter membawaku ketempat pendonoran darah.
"baik sus,silahkan ambil darah nyonya ini"
"baiklah dokter" dokter meninggalkanku bersama suster yang akan mengambil darahku untuk menolong blue.
Rasanya aku bahagia saat blue membutuhkan darah ada aku yang memberikanya.
Bukan pria bajingan itu, aku bersumpah cody demi tuhan aku akan membalsmu.
Apapun akan kulakukan untuk membals semuanya,
aku akan membuatmu merasakan rasanya sakit yang amat sakit dan kau memilih mati dari pada mersakan sakit ini.
"baiklah nyonya semuanya sudah selesai."
"terima kasih suster"
"sama-sama nyonya"
kulangkahkan kakiku dengan cepat kerungan rose,
blue sudah dipindahkan kesana karna ia sudah melewati masa keritisnya.
Kubuka pintu kamar rawat blue dengan pelan aku tak ingin menganggu blue yang sedang istirahat,
walaupun aku tahu ia belum membuka matanya ataupun menyapa kami.
Aku duduk disamping justin,
"bagaimana, apa semuanya lancar"
aku hanya tersenyum dan kembali menatap setiap lekuk wajah putriku.
"ill, " justin memanggilku.
"apa just"
"aku ingin mengetahui kenapa blue bisa seperti ini.?"
bagaimana ini apa aku harus menceritakan semuanya dan membuat justin masuk kedalam pusaran ini.
Aku tak ingin semakin banyak orang yang kukasihi tersakiti karna hal ini.
Sebaiknya kau tak tahu yang sebenarnya jut.
"hem, sebenarnya begini.
Hem.tadi aku, tadi waktu aku dan blue kemall.
Blue terjatuh dan terbentur kelantai cukup keras dan membuatnya seperti ini"
"jadi semuanya karna itu,
aku fikir karna cody, aku mengirah dia lagi yang melakukan ini pada kalian.
Aku bersumpah ill tak membiarkannya melihat dunia lagi seandainya benar dia yang melakukan ini pada blue"
aku berharap ini benar, semoga ini jalan yang terbaik untuk blue dan justin.
Kukecup pipi justin, "tenanglah bukan dia yang melakukan ini,
aku psti mengatakannya andaikan benar dia yang melakukan ini sayang."
"baiklah ill,
bagaimana dengan emma dan edward sayang.?"
"astaga just aku melupakan mereka.
Sebaiknya kau pulang melihat keadaan anak-anak kita mereka bersama olive."
"baiklah aku akan melihat mereka,
kau membutuhkan apa?
Apa perlu aku meminta olive menemanimu,
tau kau mau sesuatu?"
"tak usah aku bisa sendiri,
kau cepat lah pulang, aku tak percaya dengan olive kau tahu sendirikan bagaiman olive"
"baiklah, kalau kau butuh sesuatu segera telpon aku." justin berdiri dan aku mengikutinya dari belakang.
"hati-hati dijalan sayang, kabarkan klu emma dan edward kehabisan asi."
"iya, kau juga hati-hati disini,
klu blue ada perkembangan segera hubungi aku" aku hanya tersenyum dan kemudia justin melumat bibirku sebentar dan mengecup puncak kepalaku berulang-ulang.
"pergila anak-anak kita menunggumu"..
tangan anak kita bergerak."
"dokter bagaiman ini, anak kami mengerakan tanganya.
Apa ini ada kemajuan"
dokter itu mendekay kearah kami-aku dan justin-.
"baiklah aku harap ini reaksi dari anak kalian.
Berdoalah pada tuhan semoga tuhan mendegar doa kalian untuk keselamatan putri kalian"
justin memelukku dan mendekap erat tanganku dan tangan blue.
"sebaiknya kita berdoa sayang, semoga tuhan masih berpihak pada kita"
kuanggukan kepalaku dan tersenyum.
Terima kasih tuhan atas semuanya kau memang selalu mengabulkan doaku.
Aku tak tahu bagaimana hidupku andaikan kau mengambilnya,
mungkin aku bisa mati karna ini.
Dia hidupku dia jiwaku dia segala-galanya bagiku.
Kukecup berulang-ulang kali telapak tanganya.
Terima kasih sayang karna kau mendegar mom,
terima kasih karna kau masih mau melihat mom.
Mom menyanyangimu.
Mom yakin kau bisa mendengar isi hatimom.
Kau tahukan mom sangat menyayangimu.
Justin berjudut dan menutup kedua matanya lalu melipat tanganya.
Aku tak tahu apa yang ia lakukan tapi aku mengirah ia sedang berdoa dan meminta sesuatu pada tuhan.
Dokter mendekat kearahku,
"selamat nyonya anak anda sudah melewati masa komanya.
Apa diantara kalian ada yang mempunyai golongan darah yang sama."
"saya dok,
saya mempunya golongan darah yang sama dengan putri kami"
"baiklah sebaiknya anda ikut denganku karna anak anda membutuhkan donor darah,
anda taukan anak anda mengeluarkan banyak darah"
"ia dok, tunggu aku ingin memberitahukan ini pada suamiku dulu."
"baiklah aku akan menunggu anda diluar"
aku tersenyum, sesaat kemudia dokter itu menghilang dibalik pintu.
Kusentuh bahu justin.
Sesaat kemusia ia berbalik dan tersenyum padaku.
"ada apa sayang?"
"aku harus mendonorkan darahku untuk blue,
kau bisa menjaga blue dulu.
Oh iya sayang, blue sudah melewati masa komanya.
Aku mohon jada dia"
"ia sayang,pergila aku akan menjaga anak kita.aku kan dadnya mana mungkin aku mengabaikannya"
"baiklah" justin mengecup sebentar bibirku lalu beralih kekedua pipiku.
Aku hanya bisa tersenyum.
Aku tahu itu tanda justin mengharapkan aku tenang.
Kutinggalkan blue bersama justin,
sebelum benar-benar meninggalkan kamar ini aku terus berblik dan menatap blue.
Kututup pintu kamar blue "saya siap dok"
"baiklah mari ikut saya"
dokter membawaku ketempat pendonoran darah.
"baik sus,silahkan ambil darah nyonya ini"
"baiklah dokter" dokter meninggalkanku bersama suster yang akan mengambil darahku untuk menolong blue.
Rasanya aku bahagia saat blue membutuhkan darah ada aku yang memberikanya.
Bukan pria bajingan itu, aku bersumpah cody demi tuhan aku akan membalsmu.
Apapun akan kulakukan untuk membals semuanya,
aku akan membuatmu merasakan rasanya sakit yang amat sakit dan kau memilih mati dari pada mersakan sakit ini.
"baiklah nyonya semuanya sudah selesai."
"terima kasih suster"
"sama-sama nyonya"
kulangkahkan kakiku dengan cepat kerungan rose,
blue sudah dipindahkan kesana karna ia sudah melewati masa keritisnya.
Kubuka pintu kamar rawat blue dengan pelan aku tak ingin menganggu blue yang sedang istirahat,
walaupun aku tahu ia belum membuka matanya ataupun menyapa kami.
Aku duduk disamping justin,
"bagaimana, apa semuanya lancar"
aku hanya tersenyum dan kembali menatap setiap lekuk wajah putriku.
"ill, " justin memanggilku.
"apa just"
"aku ingin mengetahui kenapa blue bisa seperti ini.?"
bagaimana ini apa aku harus menceritakan semuanya dan membuat justin masuk kedalam pusaran ini.
Aku tak ingin semakin banyak orang yang kukasihi tersakiti karna hal ini.
Sebaiknya kau tak tahu yang sebenarnya jut.
"hem, sebenarnya begini.
Hem.tadi aku, tadi waktu aku dan blue kemall.
Blue terjatuh dan terbentur kelantai cukup keras dan membuatnya seperti ini"
"jadi semuanya karna itu,
aku fikir karna cody, aku mengirah dia lagi yang melakukan ini pada kalian.
Aku bersumpah ill tak membiarkannya melihat dunia lagi seandainya benar dia yang melakukan ini pada blue"
aku berharap ini benar, semoga ini jalan yang terbaik untuk blue dan justin.
Kukecup pipi justin, "tenanglah bukan dia yang melakukan ini,
aku psti mengatakannya andaikan benar dia yang melakukan ini sayang."
"baiklah ill,
bagaimana dengan emma dan edward sayang.?"
"astaga just aku melupakan mereka.
Sebaiknya kau pulang melihat keadaan anak-anak kita mereka bersama olive."
"baiklah aku akan melihat mereka,
kau membutuhkan apa?
Apa perlu aku meminta olive menemanimu,
tau kau mau sesuatu?"
"tak usah aku bisa sendiri,
kau cepat lah pulang, aku tak percaya dengan olive kau tahu sendirikan bagaiman olive"
"baiklah, kalau kau butuh sesuatu segera telpon aku." justin berdiri dan aku mengikutinya dari belakang.
"hati-hati dijalan sayang, kabarkan klu emma dan edward kehabisan asi."
"iya, kau juga hati-hati disini,
klu blue ada perkembangan segera hubungi aku" aku hanya tersenyum dan kemudia justin melumat bibirku sebentar dan mengecup puncak kepalaku berulang-ulang.
"pergila anak-anak kita menunggumu"..
Attente Part 44
Kututup pintu kamar ruangan blue dan kulangkahkan kakiku kearah malaikat kecilku.
Kugenggam kedua tanganya dan sesekali mengecupnya,
"terima kasih sayang kau kembali pada mom,
mom janji pada mu akan membuat orang itu merasakan bagaimana sakitnya saat dalam keadaan seperti mu,
kau tahu sayang mom sangat mencintaimu, mom tak bisa membayangkan andaikan kau benar-benar pergi dan tak kembali pada mom mungkin mom akan mati sayang,
terima kasih blue, trima kasing malaikat mom" kembali kusekah air mata yang keluar dari mataku.
Kutatap lekat-lekat wajah blue yang tak sepucat semalam.
Kukecup puncak kepala blue.
"tidurlah sayang mom disini, mom akan melindungimu"
kembali kegenggam tangan blue,
kusandarkan badanku pada kursi dan membiarkan setiap spekulasi-spekulasi didalamnya berputar dan menghilang denan sendirinya.
Sedangkan dilain tempat seorang pria masih dia terpaku menyaksika darah yang mulai mengering,
ia tak perna tau bahwa anak kecil yang ia lukai adalah anaknya, buah hatinya sendiri.
Air mata pria itu mengalis cukup banyak dan mmbasahi kedua pipinya.
"hakkkkk maafkan dad sayang,
dad tak tahu. Maafkannnn dadddd sayang" ia berulang-ulang kali berteriak dan menyiksa dirinya sendiri.
Banyan saat mendorong anaknya sendiri kembali berputar diotaknya,
pria itu mengenggam kepalanya dengan kedua tanganya.
"akkkkkkk hentikan, aku mohon hentikan.
Hentikan. Aku tau aku salah. Tolong hentikan" ia kembali berteriak dan air mata yang keluar dari matanya semakin banyak dan sebagian membasahi bajunya.
Sekian lama pria itu dalam posisinya,
ia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari gudang tua ini.
Dalam fikirannya ia harus melihat keadaan putrinya,
ia bisa gila kalau terus seperti ini.
Dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobil, hanya 10 menit waktu yang ditempuh oleh pria ini.
Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit, ia sudah mengetahui kamar inap anaknya.
Dengan ragu ia membuka pintu kamar dimana anaknya tengah terbaring lemah karna perbuatnya.
Dengan langkah lemah ia mendekat kearah putrinya, air mata yang sedari tadi ia tahan kembali pecah.
Semakin dekat ia dengan putrinya semakin keras pulah isakan tangisnya,
ia menahan setiap air mata yang akan keluar dan menimbulkan isakan yang cukup keras.
Ia mengenggam tangan putrinya lalu mengelus wajahnya.
"maafkan dad sayang, maafkan dad.
Dad memang seorang pria bajingan, dad mohon bangunlah dan berikan kesempatan untuk dad meminta maaf padamu, dad mohon maafkan dad blue" tangisnya kembali tumpah ia tak bisa lagi menahanya bahkan untuk bernafs pria ini sangat sulit,
setelah melihat keadaan putrinya yang terbari lemah karna perbuatanya sendiri...
Kudengan isakan tangis seseorang,
apa mungkin itu olive tapikan olive menjaga emme dan edward dirumah, ataukan justin menyuruh olive kesini menemaniku.
Kubenarkan posisi tubuhku dan sedikit mengucek kedua mataku.
Aku sampat terlelap mungkin karna lelah.
Kembali kukerjapkan mataku .
Dan sekarang aku dapat melihat dengan jelas.
Astaga apa yang dilakukan pria bajingan ini,
kenapa dia bisa ada disini.
Dengan cepat kudorong tubuhnya menjauh dari anakku.
Dan kulangkahkan kakiku mendekat kearahnya.
"apa yang kau lakukan disini, apa kau mau melukainya lagi ataukah kau ingin membunuhnya.
Tidak cukupkah kau melukainya.
Pergilah dari sini sebelum aku bertindak lebih jauh dan membuatmu menyesal datang kesini.
Lihat, lihat semua ini karna .
Pergi lah pergi" cody tak bergeming ataupun mengeluarkan satu katapun dari bibirnya.
Pandanganya terus tertuju pada blue,
aku juga dapat melihat air mata yang keluar dari matanya.
Apa dia menyeesal, tak mungkin manusia sekeji dia tak mungkin mempunya rasa penyesalan pada dirinya.
Dia bukan manusia seperti itu, dia manusia yang tak punya rasa kasihan ataupun rasa bersalah walaupun yang dilakukanya melewati batas kewajaran dari suatu tindakan.
Kudorong tubuhnya kembali.
"pergila, aku mohon pergilah jangan buatku melakukan tindakan yang akan kau sesali cody.
Aku muak melihatmu.
Kau telah menyakitinya, kau yang membuatnya seperti itu. Pergggi cody pergi"...
Williana tak menyadari kehadiran suaminya,
justin mendengar setiap inci ucapan williana.
Dengan menahan emosi dia masuk dan menjatuhkan botol susu yang sedari tadi ia genggam.
Dan menimbulkan suara yang cukup kerasa.
dengan satu tarikan pada kemaja cody,
cody yang tadinya membelakanginya kini berhadapan denganya, justin mendaratkan tinjuan pada wajah cody berulang-ulang.
Hal itu membuat darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Williana hanya dia mematung menyaksikan kemarahan dari suaminya,
ia tak menginginkan ini, dia menginginka cody mendapatkan balsan bukan seperti ini tapi lebih dari ini.
"kau sunggu pria bajingan cody, setelah kau membuangnya dan tak menginginkanya, sekarang kau yang membuatnya seperti ini.
Dimana hatimu, dimana rasa sayang mu pada putrimu sendiri.
Pergi dari sini, sebelum kau merasakan hal seperti blue".....
Kugenggam kedua tanganya dan sesekali mengecupnya,
"terima kasih sayang kau kembali pada mom,
mom janji pada mu akan membuat orang itu merasakan bagaimana sakitnya saat dalam keadaan seperti mu,
kau tahu sayang mom sangat mencintaimu, mom tak bisa membayangkan andaikan kau benar-benar pergi dan tak kembali pada mom mungkin mom akan mati sayang,
terima kasih blue, trima kasing malaikat mom" kembali kusekah air mata yang keluar dari mataku.
Kutatap lekat-lekat wajah blue yang tak sepucat semalam.
Kukecup puncak kepala blue.
"tidurlah sayang mom disini, mom akan melindungimu"
kembali kegenggam tangan blue,
kusandarkan badanku pada kursi dan membiarkan setiap spekulasi-spekulasi didalamnya berputar dan menghilang denan sendirinya.
Sedangkan dilain tempat seorang pria masih dia terpaku menyaksika darah yang mulai mengering,
ia tak perna tau bahwa anak kecil yang ia lukai adalah anaknya, buah hatinya sendiri.
Air mata pria itu mengalis cukup banyak dan mmbasahi kedua pipinya.
"hakkkkk maafkan dad sayang,
dad tak tahu. Maafkannnn dadddd sayang" ia berulang-ulang kali berteriak dan menyiksa dirinya sendiri.
Banyan saat mendorong anaknya sendiri kembali berputar diotaknya,
pria itu mengenggam kepalanya dengan kedua tanganya.
"akkkkkkk hentikan, aku mohon hentikan.
Hentikan. Aku tau aku salah. Tolong hentikan" ia kembali berteriak dan air mata yang keluar dari matanya semakin banyak dan sebagian membasahi bajunya.
Sekian lama pria itu dalam posisinya,
ia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari gudang tua ini.
Dalam fikirannya ia harus melihat keadaan putrinya,
ia bisa gila kalau terus seperti ini.
Dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobil, hanya 10 menit waktu yang ditempuh oleh pria ini.
Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit, ia sudah mengetahui kamar inap anaknya.
Dengan ragu ia membuka pintu kamar dimana anaknya tengah terbaring lemah karna perbuatnya.
Dengan langkah lemah ia mendekat kearah putrinya, air mata yang sedari tadi ia tahan kembali pecah.
Semakin dekat ia dengan putrinya semakin keras pulah isakan tangisnya,
ia menahan setiap air mata yang akan keluar dan menimbulkan isakan yang cukup keras.
Ia mengenggam tangan putrinya lalu mengelus wajahnya.
"maafkan dad sayang, maafkan dad.
Dad memang seorang pria bajingan, dad mohon bangunlah dan berikan kesempatan untuk dad meminta maaf padamu, dad mohon maafkan dad blue" tangisnya kembali tumpah ia tak bisa lagi menahanya bahkan untuk bernafs pria ini sangat sulit,
setelah melihat keadaan putrinya yang terbari lemah karna perbuatanya sendiri...
Kudengan isakan tangis seseorang,
apa mungkin itu olive tapikan olive menjaga emme dan edward dirumah, ataukan justin menyuruh olive kesini menemaniku.
Kubenarkan posisi tubuhku dan sedikit mengucek kedua mataku.
Aku sampat terlelap mungkin karna lelah.
Kembali kukerjapkan mataku .
Dan sekarang aku dapat melihat dengan jelas.
Astaga apa yang dilakukan pria bajingan ini,
kenapa dia bisa ada disini.
Dengan cepat kudorong tubuhnya menjauh dari anakku.
Dan kulangkahkan kakiku mendekat kearahnya.
"apa yang kau lakukan disini, apa kau mau melukainya lagi ataukah kau ingin membunuhnya.
Tidak cukupkah kau melukainya.
Pergilah dari sini sebelum aku bertindak lebih jauh dan membuatmu menyesal datang kesini.
Lihat, lihat semua ini karna .
Pergi lah pergi" cody tak bergeming ataupun mengeluarkan satu katapun dari bibirnya.
Pandanganya terus tertuju pada blue,
aku juga dapat melihat air mata yang keluar dari matanya.
Apa dia menyeesal, tak mungkin manusia sekeji dia tak mungkin mempunya rasa penyesalan pada dirinya.
Dia bukan manusia seperti itu, dia manusia yang tak punya rasa kasihan ataupun rasa bersalah walaupun yang dilakukanya melewati batas kewajaran dari suatu tindakan.
Kudorong tubuhnya kembali.
"pergila, aku mohon pergilah jangan buatku melakukan tindakan yang akan kau sesali cody.
Aku muak melihatmu.
Kau telah menyakitinya, kau yang membuatnya seperti itu. Pergggi cody pergi"...
Williana tak menyadari kehadiran suaminya,
justin mendengar setiap inci ucapan williana.
Dengan menahan emosi dia masuk dan menjatuhkan botol susu yang sedari tadi ia genggam.
Dan menimbulkan suara yang cukup kerasa.
dengan satu tarikan pada kemaja cody,
cody yang tadinya membelakanginya kini berhadapan denganya, justin mendaratkan tinjuan pada wajah cody berulang-ulang.
Hal itu membuat darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Williana hanya dia mematung menyaksikan kemarahan dari suaminya,
ia tak menginginkan ini, dia menginginka cody mendapatkan balsan bukan seperti ini tapi lebih dari ini.
"kau sunggu pria bajingan cody, setelah kau membuangnya dan tak menginginkanya, sekarang kau yang membuatnya seperti ini.
Dimana hatimu, dimana rasa sayang mu pada putrimu sendiri.
Pergi dari sini, sebelum kau merasakan hal seperti blue".....
Attente Part 45
"pergi
dari sini cody, pergi kau pria bajingan" satu pukulan kembali mendarat
dipipi cody, aku hanya bisa melihat kemarah justin yang meluap-luap,
sebelumnya aku tak perna melihatnya seperti ini.
Apa mungkin karna ia sangat menyayangi putriku.
Sebegitu besarakan rasa sayangnya pada putriku,
aku tak perna menyangkah dia seperti ini karna putriku yang kenyataannya bukan darah dagingnya.
Kubiarkan justin meluapkan kemarahnya pada cody,
aku merasa itu setimpal dengan apa yang dia berbuat pada anak kami.
"kurasa kau harus pergi sekarang cody,
aku muak melihat mu disini semakin lama kau disini semakin besar rasa marahku padamu dan aku tak ingin menbuatmu kehilangan nyawa,
jadi pergila." justin mendorong tubuh cody keluar dari kamar blue ,
kulihat tubuh cody penuh dengan bercak darah yang keluar dari dut bibir dan hidungnya.
Aku puas melihatnya seperti itu,
kusentuh tangan justin yang memar akibat memukuli wajah dan perut cody.
Tapi dengan cepat justin menghempaskan tanganku,
aku menatapnya.
Ada apa ini.
Kenapa dia seperti ini.
Kucoba menyentuh bahunya tapi kembali justin menepis pelan tanganku.
Aku semakin bingung denganya.
Kulihat setitik air mata jatuh membasahi tanganya yang sedang mengenggam tangan munggil blue.
Kudekati justin dan duduk disampingnya,
kupeluk tubuhnya dan ia tak melepaskan ataupun membals memelukku seperti biasanya.
Aku tahu ada yang salah,
mungkin dia marah karna aku berbohong padanya tentang blue.
Aku yakin pasti itu penyebab dia mendiamiku.
"kau kenapa sayang? Apa kau marah padaku!"
justin tak menjawab pertanyaanku dia trus menatap luruh kearah wajah blue.
"maafkan aku karna sudah membohongimu,
aku tau aku salah karna tak jujur padamu,
aku hanya tak ingin kejadian seperti ini terjadi sayang.
Tak ada maksud lain dari kebohonganku,
kau maukan memaafkanku."
semakin keeratkan pelukanku pada pinggang justin.
Masih sama justin masih dia dan tak membals pelukanku.
Kubalikan kepalanya dan melumat cepat bibirnya,
aku melumat bibirnya dengan kasar agar ia membalsnya.
Cukup lama dia tak membals lumatan bibirku.
Baiklah just kau menolakku rupahnya.
Dengan cepat kupindahkan tanganku dan beralih kedadanya,
kuelus dadanya aku tahu, ia tak tahu apabila diperlakukan seperti ini.
Dan benar saja tak lama setelah kulakukan hal itu,
justin membals melumat bibirku dengan lembut,
dan semakin lama semakin lembut.
Cukup lama kami dalam adegan ini,
kuakhiri melumat bibirnya karna sebentar lagi aku kehbiasan nafas.
"maafkan aku,
kau mau memaafkanku kan sayang?"
"baiklah aku memaafkanmu,
tapi ingat janan mengulangi kesalahan ini dua kali,
apa tak ada lagi kebohongan yang kau tutupi dariku?"
kugelengkan kepalaku, maafkan aku just aku masih tak bisa melibatkanmu dengan masalah ini.
Ini dendamku dan dendan blue, aku tak ingin melibatkanmu dalam pusaran masalah ini,
aku ingin menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri.
Darah harus dibacar dengan darah,
dan hal ini akan kulakukan.
Akan kubuat kau merasakan sakitnya dan bagaimana rasanya saat nyamamu diujung tanduk.
"kau kenapa datang kesini,
bagaimana dengan emma dan edward.
Siapa yang menjaga mereka."
"tenanglah olive dan mom rose yang menjaga merka.
Aku kesini karna emma dan edward kehabisan susu.
Aku datang untuk memintamu mengisi botol mereka."
"oh, baiklah mana botolnya.?" kuangkat tanganku dan menungu justin memberikanku botol susu emma dan edward.
Justin berdiri dan mengambil tas yang berisi botol susu.
"mana pompan susunya?"
justin segera mengeluarkanya.
Dengan cepat kuisi satu persatu botol susu dengan asiku,
aku memang memberika asi pada anak kembarku,
kata dokter asi lembih baik dari pada susu kaleng.
"bagaimana apa semuanya sudah terisi sayang?" justin melihatku dan aku menganggukan kepalaku.
Kubenarkan pakaian dalamku dan luarku.
Kuberikan tas berisi 4 botol susu yang sudah terisi asi.
"pulanglah aku takut emem membutuhkan itu sayang,
kau tahukan klu emma lapar dan tak segera diberi asi dia akan mengabuk, aku akan mengebarkan setiap perkembangan blue padamu" kekecup sebentar bibirnya.
"baiklah, kau hati-hati disini.
Aku akan menyuruh seseorang menjagamu dari cody.
Jadi kau tak usah kawtir.
Kabarkan aku semuanya"
"ia sanyang aku akan mengebarkan setiap detail perkembangan blue."
kubalikan badanku saat justin sudah menghilang dari pandangan mataku.kututup pintu kamar dan menguncinya,
aku tak ingin cody masuk dan melakukan sesuatu yang tak kuinginkan.
Kubuka gorden dan membiarkan sinar matahari pagi masuk menyinari kamar ini.
Aku berharap blue bisa bangun pagi ini.
Dia sudah terlalu lama tertidur...
Tampa williana sadari blue mengerakkan tanganya dan kelopak matanya,
pelan tapi pasti blue membuka matanya,
walaupun itu sedikit demi sedikit.
Williana masih tak menyadari bahwa anaknya sudah sadar,
blue mencoba mengedarkan pandangan matanya walaupun masih sedikit kabur dan tak jelas..
Ia melihat sosok yang selama ini hadir dalam mimpinya.
Blue mencoba mengerakan mulutnya..
Apa mungkin karna ia sangat menyayangi putriku.
Sebegitu besarakan rasa sayangnya pada putriku,
aku tak perna menyangkah dia seperti ini karna putriku yang kenyataannya bukan darah dagingnya.
Kubiarkan justin meluapkan kemarahnya pada cody,
aku merasa itu setimpal dengan apa yang dia berbuat pada anak kami.
"kurasa kau harus pergi sekarang cody,
aku muak melihat mu disini semakin lama kau disini semakin besar rasa marahku padamu dan aku tak ingin menbuatmu kehilangan nyawa,
jadi pergila." justin mendorong tubuh cody keluar dari kamar blue ,
kulihat tubuh cody penuh dengan bercak darah yang keluar dari dut bibir dan hidungnya.
Aku puas melihatnya seperti itu,
kusentuh tangan justin yang memar akibat memukuli wajah dan perut cody.
Tapi dengan cepat justin menghempaskan tanganku,
aku menatapnya.
Ada apa ini.
Kenapa dia seperti ini.
Kucoba menyentuh bahunya tapi kembali justin menepis pelan tanganku.
Aku semakin bingung denganya.
Kulihat setitik air mata jatuh membasahi tanganya yang sedang mengenggam tangan munggil blue.
Kudekati justin dan duduk disampingnya,
kupeluk tubuhnya dan ia tak melepaskan ataupun membals memelukku seperti biasanya.
Aku tahu ada yang salah,
mungkin dia marah karna aku berbohong padanya tentang blue.
Aku yakin pasti itu penyebab dia mendiamiku.
"kau kenapa sayang? Apa kau marah padaku!"
justin tak menjawab pertanyaanku dia trus menatap luruh kearah wajah blue.
"maafkan aku karna sudah membohongimu,
aku tau aku salah karna tak jujur padamu,
aku hanya tak ingin kejadian seperti ini terjadi sayang.
Tak ada maksud lain dari kebohonganku,
kau maukan memaafkanku."
semakin keeratkan pelukanku pada pinggang justin.
Masih sama justin masih dia dan tak membals pelukanku.
Kubalikan kepalanya dan melumat cepat bibirnya,
aku melumat bibirnya dengan kasar agar ia membalsnya.
Cukup lama dia tak membals lumatan bibirku.
Baiklah just kau menolakku rupahnya.
Dengan cepat kupindahkan tanganku dan beralih kedadanya,
kuelus dadanya aku tahu, ia tak tahu apabila diperlakukan seperti ini.
Dan benar saja tak lama setelah kulakukan hal itu,
justin membals melumat bibirku dengan lembut,
dan semakin lama semakin lembut.
Cukup lama kami dalam adegan ini,
kuakhiri melumat bibirnya karna sebentar lagi aku kehbiasan nafas.
"maafkan aku,
kau mau memaafkanku kan sayang?"
"baiklah aku memaafkanmu,
tapi ingat janan mengulangi kesalahan ini dua kali,
apa tak ada lagi kebohongan yang kau tutupi dariku?"
kugelengkan kepalaku, maafkan aku just aku masih tak bisa melibatkanmu dengan masalah ini.
Ini dendamku dan dendan blue, aku tak ingin melibatkanmu dalam pusaran masalah ini,
aku ingin menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri.
Darah harus dibacar dengan darah,
dan hal ini akan kulakukan.
Akan kubuat kau merasakan sakitnya dan bagaimana rasanya saat nyamamu diujung tanduk.
"kau kenapa datang kesini,
bagaimana dengan emma dan edward.
Siapa yang menjaga mereka."
"tenanglah olive dan mom rose yang menjaga merka.
Aku kesini karna emma dan edward kehabisan susu.
Aku datang untuk memintamu mengisi botol mereka."
"oh, baiklah mana botolnya.?" kuangkat tanganku dan menungu justin memberikanku botol susu emma dan edward.
Justin berdiri dan mengambil tas yang berisi botol susu.
"mana pompan susunya?"
justin segera mengeluarkanya.
Dengan cepat kuisi satu persatu botol susu dengan asiku,
aku memang memberika asi pada anak kembarku,
kata dokter asi lembih baik dari pada susu kaleng.
"bagaimana apa semuanya sudah terisi sayang?" justin melihatku dan aku menganggukan kepalaku.
Kubenarkan pakaian dalamku dan luarku.
Kuberikan tas berisi 4 botol susu yang sudah terisi asi.
"pulanglah aku takut emem membutuhkan itu sayang,
kau tahukan klu emma lapar dan tak segera diberi asi dia akan mengabuk, aku akan mengebarkan setiap perkembangan blue padamu" kekecup sebentar bibirnya.
"baiklah, kau hati-hati disini.
Aku akan menyuruh seseorang menjagamu dari cody.
Jadi kau tak usah kawtir.
Kabarkan aku semuanya"
"ia sanyang aku akan mengebarkan setiap detail perkembangan blue."
kubalikan badanku saat justin sudah menghilang dari pandangan mataku.kututup pintu kamar dan menguncinya,
aku tak ingin cody masuk dan melakukan sesuatu yang tak kuinginkan.
Kubuka gorden dan membiarkan sinar matahari pagi masuk menyinari kamar ini.
Aku berharap blue bisa bangun pagi ini.
Dia sudah terlalu lama tertidur...
Tampa williana sadari blue mengerakkan tanganya dan kelopak matanya,
pelan tapi pasti blue membuka matanya,
walaupun itu sedikit demi sedikit.
Williana masih tak menyadari bahwa anaknya sudah sadar,
blue mencoba mengedarkan pandangan matanya walaupun masih sedikit kabur dan tak jelas..
Ia melihat sosok yang selama ini hadir dalam mimpinya.
Blue mencoba mengerakan mulutnya..
Attente Part 46
Blue terus berusahan mengoyangkan mulutnya tapi tetap saja tak bisa,
mulutnya masih kaku dan tak bisa digoyangkan.
Sedangkan williana sama sekali tak menyadari bahwa anaknya telah sadar.
Ia terus memandang taman yang didalamnya begitu banyak anak-anak seumuran blue sedang bermain dan tertawan dengan lepsanya.
Pikirannya terus berkecamuk bagaiman caranya agar semuanya bisa dibalskan.
Apa yang bisa membuat cody hancur dan sangat sakit.
Ia tak ingin cody hidup bahagia setelah ia melakukan perbuatan yang sangat keji pada putrinya.
Williana kembali menutup gorden dan membuat ruangan kembali gelap dan hanya sinar lampu yang memberi sedikit penerangan ruangan ini...
Mataku membulat saat melihat senyum terukir dibibir malaikatku dengan cepat kurengkuh tubuh munggil blue,
air mataku kembali jatuh tapi ini buka air mata kesedihan tapi kebahgian yang kutunggu-tunggu,
terima kasih sayang akhirnya kau membuka matamu,
kuelus rambut blue berulang-ulang.
Kelepaskan pelukanku dan menatap wajah malaikatku,
senyum terus terukir dibibirnya.
"hy sayang, bagaimana apa semuanya lebih baik?"
blue hanya menganggukan kepalanya, dan kembali memelukku.
Rasanya sangat nyaman saat blue kembali memelukku seperti ini.
Terima kasih tuhan atas segala karuniamu, aku tak bisa mengunggapkan rasa bahagiaku dan bersyukurku padamu karna kau masih terus melindungi putriku malaikat kecilku.
"mom" kembali kudengar suara malikat kecilku,
aku begitu merindukan suara itu,
sangat menyejukkan hatiku saat mendengar malaikatku menyebut itu.
Kulepaskan pelukanku dan mensejajarkan badanku dengan tubuh blue.
"kenapa sayang?"
"mom kenapa blue bisa ada disini?" kenapa ini, kenapa blue tak menginggat kejadia itu.
Dengan cepat kupencet tombol darurat untuk memanggil dokter.
10 menit kemudia dokter sudah ada.
"dok, bagaimana ini kenapa putriku tak mengingat kejadian hari itu"
dokter terus memeriksa keadan blue.
"hem begini nyonya ada kemungkina anak anda mengalami amnesia sementara,
ia tak bisa mengingat hal yang menyedihkan dan menyakitkan.
Tapi ini bukan masalah yang besar,
karna 1 atau dua bulan kedapan semuanya akan kembali norma.
Jadi kuharap anda jangan mengingatkanya dengan hal itu, biarkan dia yang mencoba mengingat dan kembali mengingatnya sendiri.
Karna kalau dipaksakan akan membuat efek samping pada putri anda"
"sayang mengerti dok"
"baiklah, selamat karna putri anda telah kembali"
"sama-sama dok semua ini juga karna anda" kusambut jabat tangan dokter dan tersenyum.
Saat dokter keluar kembali kubuka gorde dan membiarkan sinar matahari kembali menyinari ruangan rawat blue.
"mom ayo jawab kenapa blue ada disini" blue kembali memintaku menjawa pertanyaannya.
Kembali kudekati blue yang berbaring ditempat tidur,
"kau sakit sayang jadi harus kerumah sakit. Kau tahu jugakan klu orang sakit harus kerumah sakit." aku kembali tersenyum dan mengecup puncak kepala blue berulang-ulang..
"aw mom sakit" segera kutarik kepalaku dan menatap blue
"maaf sayang mom tak segajah,
apa masih sakit."
"iya mom sangat sakit."
"maafkan mom yah, oh iya mom harus menelpon dad dulu"
blue mengangukan kepalnya.
Segera kuambil ponselku dan memncet nomor justin.
"hallo sayang, kenapa ?" suara justin.
"hem just, bisakah kau kesini bersama anak-anak kita."
"kenapa? Apa blue kembali koma!"
"tidak sayang blue sudah sadar dan sekarang ia sedang istirahat"
"baiklah tunggu aku,
katakan pada blue aku mencintainya."
"baiklah akan aku sampaikan,
cepatlah kesini"
kuakhiri panggilan telponku dan kembali duduk disamping blue.
"apa dad akan kesini mom?"
"ia sayang dad akan kesini bersama adik-adik mu."
"hem aku merindukan mereka mom,
rasanya sudah begitu lama tak melihat kalian" blue kembali tersenyum.
"mom juga sayang sangat merindukanmu,
kau tau mom sangat kawatir.
Mom kira kau akan pergi dan tak kembali pada mom" blue mengenggam tanganku dan tangan satunya menyekah air mata yang kembali keluar tampa kukomando.
"kenapa mom menangis?"
"karna mom bahagia kau kembali untuk mom sayang,
mom sangat-sangat bahagia"
"mom, apa mom tahu saat aku tidur aku selalu memimpikan mom.
Memanggilku dan memmintaku jangan pergi dan kembali bersama mom untuk keluarga kita"
mungkin ini yang dimaksud oleh dokter itu,
karna suaraku membuat blue kambali dan tak pergi meninggalkanku.
"apa mimpi itu selalu datang saat kau tidur sayang?"
"ia mom aku selalu bermimpi seperti itu."
"baiklah apa blue lapar?"
"tidak mom blue tak lapar,
mom kenapa tadi aku seperti mendengar suara pria memanggilku,
tapi itu bukan suara dad.
Suaranya sangat menyejukanku mom"
apa mungkin suara yang dimaksud blue suara cody.
Apa mungkin itu terjadi.
Mungkin saja codykan ayah kandungnya dan ikatan anak perempuan dan ayahnya sangat peka.
Bagaimanapun aku menyangkalnya blue adalah putri dari cody.
Itu sangat wajar.
"mungkin saja itu suara dokter sayang,
siapa lagi pria selain dad yang kau kenal"
"mom aku mencintaimu mom"
"mom juga sayang sangat-sangat mencintaimu" kembali kupeluk tubuh blue.
mulutnya masih kaku dan tak bisa digoyangkan.
Sedangkan williana sama sekali tak menyadari bahwa anaknya telah sadar.
Ia terus memandang taman yang didalamnya begitu banyak anak-anak seumuran blue sedang bermain dan tertawan dengan lepsanya.
Pikirannya terus berkecamuk bagaiman caranya agar semuanya bisa dibalskan.
Apa yang bisa membuat cody hancur dan sangat sakit.
Ia tak ingin cody hidup bahagia setelah ia melakukan perbuatan yang sangat keji pada putrinya.
Williana kembali menutup gorden dan membuat ruangan kembali gelap dan hanya sinar lampu yang memberi sedikit penerangan ruangan ini...
Mataku membulat saat melihat senyum terukir dibibir malaikatku dengan cepat kurengkuh tubuh munggil blue,
air mataku kembali jatuh tapi ini buka air mata kesedihan tapi kebahgian yang kutunggu-tunggu,
terima kasih sayang akhirnya kau membuka matamu,
kuelus rambut blue berulang-ulang.
Kelepaskan pelukanku dan menatap wajah malaikatku,
senyum terus terukir dibibirnya.
"hy sayang, bagaimana apa semuanya lebih baik?"
blue hanya menganggukan kepalanya, dan kembali memelukku.
Rasanya sangat nyaman saat blue kembali memelukku seperti ini.
Terima kasih tuhan atas segala karuniamu, aku tak bisa mengunggapkan rasa bahagiaku dan bersyukurku padamu karna kau masih terus melindungi putriku malaikat kecilku.
"mom" kembali kudengar suara malikat kecilku,
aku begitu merindukan suara itu,
sangat menyejukkan hatiku saat mendengar malaikatku menyebut itu.
Kulepaskan pelukanku dan mensejajarkan badanku dengan tubuh blue.
"kenapa sayang?"
"mom kenapa blue bisa ada disini?" kenapa ini, kenapa blue tak menginggat kejadia itu.
Dengan cepat kupencet tombol darurat untuk memanggil dokter.
10 menit kemudia dokter sudah ada.
"dok, bagaimana ini kenapa putriku tak mengingat kejadian hari itu"
dokter terus memeriksa keadan blue.
"hem begini nyonya ada kemungkina anak anda mengalami amnesia sementara,
ia tak bisa mengingat hal yang menyedihkan dan menyakitkan.
Tapi ini bukan masalah yang besar,
karna 1 atau dua bulan kedapan semuanya akan kembali norma.
Jadi kuharap anda jangan mengingatkanya dengan hal itu, biarkan dia yang mencoba mengingat dan kembali mengingatnya sendiri.
Karna kalau dipaksakan akan membuat efek samping pada putri anda"
"sayang mengerti dok"
"baiklah, selamat karna putri anda telah kembali"
"sama-sama dok semua ini juga karna anda" kusambut jabat tangan dokter dan tersenyum.
Saat dokter keluar kembali kubuka gorde dan membiarkan sinar matahari kembali menyinari ruangan rawat blue.
"mom ayo jawab kenapa blue ada disini" blue kembali memintaku menjawa pertanyaannya.
Kembali kudekati blue yang berbaring ditempat tidur,
"kau sakit sayang jadi harus kerumah sakit. Kau tahu jugakan klu orang sakit harus kerumah sakit." aku kembali tersenyum dan mengecup puncak kepala blue berulang-ulang..
"aw mom sakit" segera kutarik kepalaku dan menatap blue
"maaf sayang mom tak segajah,
apa masih sakit."
"iya mom sangat sakit."
"maafkan mom yah, oh iya mom harus menelpon dad dulu"
blue mengangukan kepalnya.
Segera kuambil ponselku dan memncet nomor justin.
"hallo sayang, kenapa ?" suara justin.
"hem just, bisakah kau kesini bersama anak-anak kita."
"kenapa? Apa blue kembali koma!"
"tidak sayang blue sudah sadar dan sekarang ia sedang istirahat"
"baiklah tunggu aku,
katakan pada blue aku mencintainya."
"baiklah akan aku sampaikan,
cepatlah kesini"
kuakhiri panggilan telponku dan kembali duduk disamping blue.
"apa dad akan kesini mom?"
"ia sayang dad akan kesini bersama adik-adik mu."
"hem aku merindukan mereka mom,
rasanya sudah begitu lama tak melihat kalian" blue kembali tersenyum.
"mom juga sayang sangat merindukanmu,
kau tau mom sangat kawatir.
Mom kira kau akan pergi dan tak kembali pada mom" blue mengenggam tanganku dan tangan satunya menyekah air mata yang kembali keluar tampa kukomando.
"kenapa mom menangis?"
"karna mom bahagia kau kembali untuk mom sayang,
mom sangat-sangat bahagia"
"mom, apa mom tahu saat aku tidur aku selalu memimpikan mom.
Memanggilku dan memmintaku jangan pergi dan kembali bersama mom untuk keluarga kita"
mungkin ini yang dimaksud oleh dokter itu,
karna suaraku membuat blue kambali dan tak pergi meninggalkanku.
"apa mimpi itu selalu datang saat kau tidur sayang?"
"ia mom aku selalu bermimpi seperti itu."
"baiklah apa blue lapar?"
"tidak mom blue tak lapar,
mom kenapa tadi aku seperti mendengar suara pria memanggilku,
tapi itu bukan suara dad.
Suaranya sangat menyejukanku mom"
apa mungkin suara yang dimaksud blue suara cody.
Apa mungkin itu terjadi.
Mungkin saja codykan ayah kandungnya dan ikatan anak perempuan dan ayahnya sangat peka.
Bagaimanapun aku menyangkalnya blue adalah putri dari cody.
Itu sangat wajar.
"mungkin saja itu suara dokter sayang,
siapa lagi pria selain dad yang kau kenal"
"mom aku mencintaimu mom"
"mom juga sayang sangat-sangat mencintaimu" kembali kupeluk tubuh blue.
Attente Part 47
Kulepas pelukanku pada tubuh blue.
"sekarang kau tidur saja sayang, nanti klu dad datang mom akan membangunkanmu sayang"
"baiklah mom" blue membaringkan badanya dan mulai menutup matanya mungkin ia mencoba masuk kedalam alam mimpinya.
Kuelus setiap centi wajah blue rasanya sangat bahgia saat blue kembali membangilku,
kembali kukecup kedua pipinya.
Maaf kan mom sayang karna dendam mom kau harus terlihat dan merasakan sakit yang sebenarnya tak pantas kau rasakan, mom janji semuanya tak akan berakhir seperti ini.
Aku tak akan membiarkan hidup dan melangkah dengan bebas sayang.
Ingat janji mom ini, semuanya akan tuntas setelah mom tau dia juga merasakan sakit yang sama seperti sakit yang kau rasa bahkan lebih dari ini.
Tapi otakku kembali berfikir kenapa dia bisa kesini dan menangis mengenggam kedua tangan blue,
apa dia menyesal dan ingin mendapatkaan maaf dari blue.
Sebenarnya ini bukan salah cody seutuhnya wiil,
kau juga ikut ambil dalah masalah ini.
Andaikan cody tahu blue darah daginnya mungkin ia tak akan melukai anaknya.
Sendiri.
Akhh semua spekulasi-spekulasi kembali berputar dikepalku membuatku pusing dan tak bisa berfikir dengan jerni.
Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku dan menaruh kepalaku diatas kasur blue.
Kubiarkan angin musim semi membawa fikiranku terbang bersama hembusan angin yang berputar disampingku.
Kenangan-kenangan bersama blue kembali mengingatkanku bagaiman sakit dan menderitanya aku mempertahankannya agar hidup didunia ini.
Kubenarkan posisi badanku,
kenapa aku bisa kembali mengingat hal itu,
apa aku merindukan saat membesarkan dan menghidupin malaikatku dengan tanganku sendiri tanpa bantua dari cody.
Lamunanku buyar saat justin mengecup pipiku.
"hy sayang, apa yang sedang kau fikirkan?"
"tidak ada, hy anak-anak mom yang pintar,
kalian tak merepotkan bibi olive dan grandma rose kan?" kuambil edward dari gendongan justin.
Edwatd trus tersenyum dalam dekapanku,
aku merindukan mereka,
mereka adalah malaikat-malaikatku dan juga hidupku.
"just apa kau datang kesini sendiri?" kududukan edward disamping blue.
Justin menganggukan kepalnya dan melangkahkan kakinya kearah blue lalu ia mengecup kedua pipi malaikat kami.
"jangan buat dia bangun, dia baru saja tidur.
Kata dokter dia butuh istirahat"
"baiklah , nyonya williana" aku tersenyum saat ia mengucapkan itu.
Justin duduk disofa samping tempat tidur blue.
Aku menyusul dan merapatkan badanku diseblah justin.
"bagaimana sayang apa kata dokter, apa semuanya baik-baik saja"
"hem kata dokter blue mengalami amnesia sementara,
dan keadaan ini bertahan sampai 1 dan 2 bulan kedepan.
Ia tak bisa mengingat hal-hal yang menyakitkan dalam hidupnya,kau tahu?" kubenarkan posisiku mengehadap justin dan edward juga ikut bersandar pada tubuhku.
"ada apa? Kau mengangetkanku dan emma sayang" justin menaikan seblah alisnya,
aku tahu begitulah dia saat dia bingung dengan kelakuanku.
"hem blue tak mengingat kejadia saat dia terluka karna cody" akhir kalimat kusunggingkan senyumku.
"kenapa kau tersenyum?"
"aku tersenyum karna blue tak mengingat kejadia menyakitkan itu dan juga ia tak bisa mengingat saat aku menyebut blue adalah anak kandung cody" astaga kenapa aku bisa keceplosan seperti ini,
bagaiman ini, bagaiman kalau justin marah.
Dasar williana bodoh kenapa kau bisa seperti ini.
Kuperhatikan wajah justin biasa-biasa saja.
Kugenggam tanganya dan menghadapkan wajahnya kembali menatapaku.
"kenapa kau diam? Apa kau marah pada ku sayang.
Maaf kan aku, aku mengucapkan itu karna berharap cody tak melakukan itu setelah ia tahu blue adalah darah dagingya sendiri.
Maafkan aku yah sayang"
justin membals mengengam tanganku dengan satu tanganya yang tadi digunakan untuk mengenggam tangan emma.
"tak apa, aku tak marah.
Hanya saja aku terkejut dengan ucapanmu barusan.
Aku rasa yang kau katakan itu ada benarnya juga.
Sudah sepantasnya cody mengetahui siapa blue sebenarnya,
diakan ayah kandungnya dan dialah yang membuat blue bisa hadir didunia ini.
Aku tak marah sayang" justin menatapku dengan pandangan yang menyakinkanku bahwa dia tak marah karna ucapanku tadi.
"terima kasih sayang atas pengertianmu,
aku fikir kau marah padaku.
Tapi mulai hari ini aku tak akan membiarkan cody bertemu ataupun menyakitinya lagi"
"aku juga sayang tak akan membiarkan pria bajingan itu menyentuh anak kita,
dia tak berhak menyentuh ataupun menyampaikan pada blue dialah ayah kandungnya.
Walaupun kenyataanya benar cody adalah ayahnya"
kuanggukan kepalaku dan kembali menaruh kepalku didada justin,
justin hanya memainkan rambutku.
Kulihat edward sudah terlelap dengan hati-hati kubarikan edward disamping blue dan memperbaikin selimut blue yang tadi tersingkap.
Saat akan duduk blue terbangun.
Dengan cepat justin memeberikan emma padaku.
Lalu ia melangkah kearah blue.
"hy sayang,
dad merindukanmu. Apa kau tak merindukan dad?"
"blue juga merindukanmu dad.
Sangat merindukanmu.
Hy lihat edward tidur diseblahku"
kami hanya tersenyum.
"sekarang kau tidur saja sayang, nanti klu dad datang mom akan membangunkanmu sayang"
"baiklah mom" blue membaringkan badanya dan mulai menutup matanya mungkin ia mencoba masuk kedalam alam mimpinya.
Kuelus setiap centi wajah blue rasanya sangat bahgia saat blue kembali membangilku,
kembali kukecup kedua pipinya.
Maaf kan mom sayang karna dendam mom kau harus terlihat dan merasakan sakit yang sebenarnya tak pantas kau rasakan, mom janji semuanya tak akan berakhir seperti ini.
Aku tak akan membiarkan hidup dan melangkah dengan bebas sayang.
Ingat janji mom ini, semuanya akan tuntas setelah mom tau dia juga merasakan sakit yang sama seperti sakit yang kau rasa bahkan lebih dari ini.
Tapi otakku kembali berfikir kenapa dia bisa kesini dan menangis mengenggam kedua tangan blue,
apa dia menyesal dan ingin mendapatkaan maaf dari blue.
Sebenarnya ini bukan salah cody seutuhnya wiil,
kau juga ikut ambil dalah masalah ini.
Andaikan cody tahu blue darah daginnya mungkin ia tak akan melukai anaknya.
Sendiri.
Akhh semua spekulasi-spekulasi kembali berputar dikepalku membuatku pusing dan tak bisa berfikir dengan jerni.
Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku dan menaruh kepalaku diatas kasur blue.
Kubiarkan angin musim semi membawa fikiranku terbang bersama hembusan angin yang berputar disampingku.
Kenangan-kenangan bersama blue kembali mengingatkanku bagaiman sakit dan menderitanya aku mempertahankannya agar hidup didunia ini.
Kubenarkan posisi badanku,
kenapa aku bisa kembali mengingat hal itu,
apa aku merindukan saat membesarkan dan menghidupin malaikatku dengan tanganku sendiri tanpa bantua dari cody.
Lamunanku buyar saat justin mengecup pipiku.
"hy sayang, apa yang sedang kau fikirkan?"
"tidak ada, hy anak-anak mom yang pintar,
kalian tak merepotkan bibi olive dan grandma rose kan?" kuambil edward dari gendongan justin.
Edwatd trus tersenyum dalam dekapanku,
aku merindukan mereka,
mereka adalah malaikat-malaikatku dan juga hidupku.
"just apa kau datang kesini sendiri?" kududukan edward disamping blue.
Justin menganggukan kepalnya dan melangkahkan kakinya kearah blue lalu ia mengecup kedua pipi malaikat kami.
"jangan buat dia bangun, dia baru saja tidur.
Kata dokter dia butuh istirahat"
"baiklah , nyonya williana" aku tersenyum saat ia mengucapkan itu.
Justin duduk disofa samping tempat tidur blue.
Aku menyusul dan merapatkan badanku diseblah justin.
"bagaimana sayang apa kata dokter, apa semuanya baik-baik saja"
"hem kata dokter blue mengalami amnesia sementara,
dan keadaan ini bertahan sampai 1 dan 2 bulan kedepan.
Ia tak bisa mengingat hal-hal yang menyakitkan dalam hidupnya,kau tahu?" kubenarkan posisiku mengehadap justin dan edward juga ikut bersandar pada tubuhku.
"ada apa? Kau mengangetkanku dan emma sayang" justin menaikan seblah alisnya,
aku tahu begitulah dia saat dia bingung dengan kelakuanku.
"hem blue tak mengingat kejadia saat dia terluka karna cody" akhir kalimat kusunggingkan senyumku.
"kenapa kau tersenyum?"
"aku tersenyum karna blue tak mengingat kejadia menyakitkan itu dan juga ia tak bisa mengingat saat aku menyebut blue adalah anak kandung cody" astaga kenapa aku bisa keceplosan seperti ini,
bagaiman ini, bagaiman kalau justin marah.
Dasar williana bodoh kenapa kau bisa seperti ini.
Kuperhatikan wajah justin biasa-biasa saja.
Kugenggam tanganya dan menghadapkan wajahnya kembali menatapaku.
"kenapa kau diam? Apa kau marah pada ku sayang.
Maaf kan aku, aku mengucapkan itu karna berharap cody tak melakukan itu setelah ia tahu blue adalah darah dagingya sendiri.
Maafkan aku yah sayang"
justin membals mengengam tanganku dengan satu tanganya yang tadi digunakan untuk mengenggam tangan emma.
"tak apa, aku tak marah.
Hanya saja aku terkejut dengan ucapanmu barusan.
Aku rasa yang kau katakan itu ada benarnya juga.
Sudah sepantasnya cody mengetahui siapa blue sebenarnya,
diakan ayah kandungnya dan dialah yang membuat blue bisa hadir didunia ini.
Aku tak marah sayang" justin menatapku dengan pandangan yang menyakinkanku bahwa dia tak marah karna ucapanku tadi.
"terima kasih sayang atas pengertianmu,
aku fikir kau marah padaku.
Tapi mulai hari ini aku tak akan membiarkan cody bertemu ataupun menyakitinya lagi"
"aku juga sayang tak akan membiarkan pria bajingan itu menyentuh anak kita,
dia tak berhak menyentuh ataupun menyampaikan pada blue dialah ayah kandungnya.
Walaupun kenyataanya benar cody adalah ayahnya"
kuanggukan kepalaku dan kembali menaruh kepalku didada justin,
justin hanya memainkan rambutku.
Kulihat edward sudah terlelap dengan hati-hati kubarikan edward disamping blue dan memperbaikin selimut blue yang tadi tersingkap.
Saat akan duduk blue terbangun.
Dengan cepat justin memeberikan emma padaku.
Lalu ia melangkah kearah blue.
"hy sayang,
dad merindukanmu. Apa kau tak merindukan dad?"
"blue juga merindukanmu dad.
Sangat merindukanmu.
Hy lihat edward tidur diseblahku"
kami hanya tersenyum.
Attente Part 48
1 MINGGU TELAH BERLALU.
Sekarang blue sudah diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya.
Kata dokter perkembanganya sangat pesat, biasanya anak yang mengalami amnesia seperti blue membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu blue.
Kubereskan pakaian dan barang-barang blue.
"bagaimana apa semuanya sedah beres sayang?"
"hem iya sudah, bagaimana dengan blue?"
"dia sudah ada didalam mobil bersama olive."
"baiklah kita harus keadminitrasi masih ada yang harus kita selesaikan"
ditempat yang lain blue dan olive bercanda,
mereka tak menyadari kehadiran pria yang semakin mendekat.
Blue mendongakan kepalnya saat pri itu menyentuh bahunya.
"hy paman, bukanka paman teman momku" blue tersenyum saat melihat siapa pria itu.
Karna olive tahu siapa pria itu, olive segera mengendong tubuh mungil blue dan sedikit menjauh dari pria itu-cody-.
"sayang kau masuk dulu kedalam mobil bibi ingin bicara dengan paman itu"
"baiklah bibi ol"
blue segera masuk kedalam mobil.
Dan olive segera menutup pintu mobilnya,
olive segera mendekat kearah cody.
"sebaiknya anda segera pergi dari sini sebelum kedua orang tua blue datang,
aku juga tahu anda yang melakukan ini pada blue.
Anda tahu akibat dari perbuatan anda sangat merugikan blue dan kami sekeluarga.
Pergila sebelum semuanya terlambat." olive mencoba untuk tenang dan mengendalikan emosinya.
Walaupun ia sadari sangat ingin mencakar wajah cody,
amarah yang ia simpah sudah bertumpuk.
Mulai dari saatcody mencampakkan dan membuang williana saat ia mengandung blue dan sampai sekarang saat dia melukai darah daginya sendiri.
Cody tak juga pergi, malahan dia semakin mendekat kearah blue yang sedang dalam mobil.
"aku mohon sebaiknya anda pergi." olive mencoba untuk menjauhkan blue dari cody.
Cody mengengam tangan olive.
Cody berbalik dan menatap mata olive.
Disudut matanya hampir keluar butiran air mata.
" aku mohon biarkan aku menyentuhnya walaupun sedetik.
Kau tahukan aku tak perna menyentuhnya,
maafkan karna kesalahanku membuatnya seperti ini.
Aku ingin menyentuh darah dagingku.
Aku mohon biarkan aku menyentuhnya.
Aku janji hanya 2 menit.
Berikan aku waktu" cody tak lagi menahan air matanya.
Ia membiarkanya keluardan membasahi kedua pipinya.
Mungkin olive tersentuh dan membiarkan cody mendekat dan menyentuh anaknya sendiri.
Cody tahu ia mendapatkan izin.
Segera cody membuka pintu mobil justin dan mengendong tubuh munggil blue.
"hy cantik,
bagaimana keadaanmu.? Apa kau sudah lebih bai" cody mendaratkan ciuman kekedua pipi cabi blue.
Blue tersenyum mendapat perlakuan itu dari cody.
"ia paman aku sudah sembuh.
Dan sekarang akan pulang.
Paman kenapa tidak menjegukku saat dirumah sakit?"
"maafkan paman sayang, paman sibuk dan sekarang baru bisa menjenggukmu.
Hem paman punya hadia apa kau mau?"
"ia aku mau" blue mengangukan kepalanya dan tersenyum.
Cody menurunkan blue dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"terenggg" cody menunjukan sebuah kalung berliontin kura-kura pada blue.
"apa ini hadia yang paman maksud"
"ia sayang, apakau suka?"
"ia paman aku sangat suka."
"baiklah. Sini paman pakaikan"
blue segera memutar badanya dan sedikit mengangkat rambutnya agar memudahkan cody memasangkan kalaung itu dileher blue putrinya.
"yap selesai"
"sebaiknya kau segara pergi,
orang tua blue sudah dilobi dan sebentar lagi akan kesini,
pergila sebelum terjadi kekacauan"
cody segera berdiri dan mendekat keolive
"terima kasih atas semuanya" cody melangkah menjauh dari blue dan olive.
"dada paman hati-hati dijalan" teriak blue pada cody dan cody hanya melambaikan tanganya dan pergi meninggalkan blue dan olive.
Saat kemudian williana dan justin datang.
"hy,ol maaf kami lama tadi ada sedikit masalah.
Tapi semuanya baikkan ol?"
"ia will,
kau ini selalu saja meragukanku."
"maaf bukan aku meragukanmu,
tapi biasanyakan kau tak bisa mengerjakan sesuatu dengan benar" williana tersenyum dan olive hanya memanyunkan bibirnya.
"baiklah ayo kita pulang,
aku sudah rindu dengan rumahku." williana menarik olive dan blue masuk kedalam mobil.
Segera justin masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecapatan rendah.
30 menit perjalanan dari rumah sakit ke rumah williana.
Disana sudah menunggu mom rose dan kedua orang tua justin.
Kedua orang tuan justin ingin memberi kejutan selamat datang untuk blue cucu mereka.
Justin memarkirkan mobilnya dihalam rumahnya.
Ia segera keluar dan membukakan pintu untuk blue.
Segera blue turuh dan justin mengendeng tangan blue.
Justin masuk kedalam rumah.
Blue segera duduk disofa ruang keluar.
Tanpa ia sadari grandma dan grandpanya sudah menyiapkan sesuatu untuknya.
Dengan mengendap-ngedap mereka mendekat kearah blue yang sedang asyik menonton acaran tv.
"selamat datang dirumah sayang" ucap mereka kompak.
Blue segera berbalik dan menutup mulutnya dengan kedua tanganya.
"hy sayang selamat datang dirumah?" blue segera berlari kearah grandma dan grandpanya.
"aku merindukan kalian" blue tersenyum...
Sekarang blue sudah diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya.
Kata dokter perkembanganya sangat pesat, biasanya anak yang mengalami amnesia seperti blue membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu blue.
Kubereskan pakaian dan barang-barang blue.
"bagaimana apa semuanya sedah beres sayang?"
"hem iya sudah, bagaimana dengan blue?"
"dia sudah ada didalam mobil bersama olive."
"baiklah kita harus keadminitrasi masih ada yang harus kita selesaikan"
ditempat yang lain blue dan olive bercanda,
mereka tak menyadari kehadiran pria yang semakin mendekat.
Blue mendongakan kepalnya saat pri itu menyentuh bahunya.
"hy paman, bukanka paman teman momku" blue tersenyum saat melihat siapa pria itu.
Karna olive tahu siapa pria itu, olive segera mengendong tubuh mungil blue dan sedikit menjauh dari pria itu-cody-.
"sayang kau masuk dulu kedalam mobil bibi ingin bicara dengan paman itu"
"baiklah bibi ol"
blue segera masuk kedalam mobil.
Dan olive segera menutup pintu mobilnya,
olive segera mendekat kearah cody.
"sebaiknya anda segera pergi dari sini sebelum kedua orang tua blue datang,
aku juga tahu anda yang melakukan ini pada blue.
Anda tahu akibat dari perbuatan anda sangat merugikan blue dan kami sekeluarga.
Pergila sebelum semuanya terlambat." olive mencoba untuk tenang dan mengendalikan emosinya.
Walaupun ia sadari sangat ingin mencakar wajah cody,
amarah yang ia simpah sudah bertumpuk.
Mulai dari saatcody mencampakkan dan membuang williana saat ia mengandung blue dan sampai sekarang saat dia melukai darah daginya sendiri.
Cody tak juga pergi, malahan dia semakin mendekat kearah blue yang sedang dalam mobil.
"aku mohon sebaiknya anda pergi." olive mencoba untuk menjauhkan blue dari cody.
Cody mengengam tangan olive.
Cody berbalik dan menatap mata olive.
Disudut matanya hampir keluar butiran air mata.
" aku mohon biarkan aku menyentuhnya walaupun sedetik.
Kau tahukan aku tak perna menyentuhnya,
maafkan karna kesalahanku membuatnya seperti ini.
Aku ingin menyentuh darah dagingku.
Aku mohon biarkan aku menyentuhnya.
Aku janji hanya 2 menit.
Berikan aku waktu" cody tak lagi menahan air matanya.
Ia membiarkanya keluardan membasahi kedua pipinya.
Mungkin olive tersentuh dan membiarkan cody mendekat dan menyentuh anaknya sendiri.
Cody tahu ia mendapatkan izin.
Segera cody membuka pintu mobil justin dan mengendong tubuh munggil blue.
"hy cantik,
bagaimana keadaanmu.? Apa kau sudah lebih bai" cody mendaratkan ciuman kekedua pipi cabi blue.
Blue tersenyum mendapat perlakuan itu dari cody.
"ia paman aku sudah sembuh.
Dan sekarang akan pulang.
Paman kenapa tidak menjegukku saat dirumah sakit?"
"maafkan paman sayang, paman sibuk dan sekarang baru bisa menjenggukmu.
Hem paman punya hadia apa kau mau?"
"ia aku mau" blue mengangukan kepalanya dan tersenyum.
Cody menurunkan blue dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"terenggg" cody menunjukan sebuah kalung berliontin kura-kura pada blue.
"apa ini hadia yang paman maksud"
"ia sayang, apakau suka?"
"ia paman aku sangat suka."
"baiklah. Sini paman pakaikan"
blue segera memutar badanya dan sedikit mengangkat rambutnya agar memudahkan cody memasangkan kalaung itu dileher blue putrinya.
"yap selesai"
"sebaiknya kau segara pergi,
orang tua blue sudah dilobi dan sebentar lagi akan kesini,
pergila sebelum terjadi kekacauan"
cody segera berdiri dan mendekat keolive
"terima kasih atas semuanya" cody melangkah menjauh dari blue dan olive.
"dada paman hati-hati dijalan" teriak blue pada cody dan cody hanya melambaikan tanganya dan pergi meninggalkan blue dan olive.
Saat kemudian williana dan justin datang.
"hy,ol maaf kami lama tadi ada sedikit masalah.
Tapi semuanya baikkan ol?"
"ia will,
kau ini selalu saja meragukanku."
"maaf bukan aku meragukanmu,
tapi biasanyakan kau tak bisa mengerjakan sesuatu dengan benar" williana tersenyum dan olive hanya memanyunkan bibirnya.
"baiklah ayo kita pulang,
aku sudah rindu dengan rumahku." williana menarik olive dan blue masuk kedalam mobil.
Segera justin masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecapatan rendah.
30 menit perjalanan dari rumah sakit ke rumah williana.
Disana sudah menunggu mom rose dan kedua orang tua justin.
Kedua orang tuan justin ingin memberi kejutan selamat datang untuk blue cucu mereka.
Justin memarkirkan mobilnya dihalam rumahnya.
Ia segera keluar dan membukakan pintu untuk blue.
Segera blue turuh dan justin mengendeng tangan blue.
Justin masuk kedalam rumah.
Blue segera duduk disofa ruang keluar.
Tanpa ia sadari grandma dan grandpanya sudah menyiapkan sesuatu untuknya.
Dengan mengendap-ngedap mereka mendekat kearah blue yang sedang asyik menonton acaran tv.
"selamat datang dirumah sayang" ucap mereka kompak.
Blue segera berbalik dan menutup mulutnya dengan kedua tanganya.
"hy sayang selamat datang dirumah?" blue segera berlari kearah grandma dan grandpanya.
"aku merindukan kalian" blue tersenyum...
Attente Part 49
Kulangkahkan kakiku kekamar emma dan edward,
mereka sedang bermain bersama justin.
Blue sedang bermain bersama orang tua justin.
Kubiarkan mereka menikmati kebersamaan mereka.
Kulihat justin tengah mengendong kedua anak kami, kelihatanya dia sangat kewalahan .
Dengan senyum dikedua sudut bibirku.
Kudukati justin dan mengambil edward dari gendongannya.
"ah untung kau datang sayang, edward sangat nakal."
"hem aku tahu,
kan kau juga nakal yah jelas anakmu juga seperti itu"
justin mendekatiku dan mencubit pelan ujung hidungku.
"just lepaskan, aku tak bisa bernafas, just lepaskan" justin melepas cubitanya pada hidugku.
"kau ini hampir saja membunuhku" justin hanya tertawa dan sedetik kemudian ia melumat bibirku sebentar lalu melepaskannya.
"aku merindukanmu ill" bisiknya ditelingahku.
Aku tahu maksudnya tapi ini bukan waktu yang tepat,
emma dan edward belum tidur,
segerah kudorong tubuh justin saat ia akan memelukku.
Justin menatapku dengan tatapan bertanya,
"aku tahu kau menginginkanku,
tapi sekarang bukan waktu yang tepat, kau mengertikan sayang" ucapku pada justin.
Justin menghembuskan nafas berat dan membalikan badanya,
aku tahu dia kecewa dengan jawabanku tadi.
Tapi ini memang bukan waktu yang tepat.
Kudekati justin dan memeluknya dari belakang.
"ayolah sayang kau tak usah kecewa.
Masih ada waktu yang lain. Kita bisa melakukanya malam nanti."
kuelus dada justin dan mengecup berulang-ulang pundak belakangnya.
"baiklah, aku juga salah meminta itu disaat semuanya belum tepat. Tapi kau janjikan "
"ia aku janji kan aku juga merindukanmu sayang" kembali kudaratkan kecupan dipunggung belakang justin.
Justin membalikan badanya dan segera menarik wajahku semakin dekat dengan wajahnya dan sedetik kemudian kurasakan lumatan-lumatan kecil disetiap sudut bibirku..
Kubals dengan melumat bibir bawahnya.
Kami tak lagi memperdulikan emma dan edward yang sedang kami gendong.
Justin menarik tengkuk leherku dan membuat lidahnya mendesak masuk kedalam mulutku.
Lama kami dalam posisi ini...
Tampa mereka sadari sepasang mata melihat adegan itu.
"maaf mom tak melihat ko" ibu justin segera menutup pintu kamar cucunya..
Justin dan williana hanya bisa tertawa kecut menyadari adegan mesra mereka dilihat oleh ibu justin.
Williana menatap justin dan justinpun begitu sedetik kemudia mereka tertawa bersama.
"sebainya kita turun ill"
"baiklah" justin dan williana keluar dari kamar anak kembarnya .
Mereka melangkahkan kaki ke taman belakang dimana blue dan orang tua justin sedang bermain.
"hy sayang" ucap justin pada blue.
"hy juga dad, hy mom.
Lihat mom aku punya kalaung baru" williana mendekat kearah blue.
"hem sayang siapa yang memberikanmu kalung itu" williana menunjuk kalung yang tergantung indah dilher putrinya.
"kalaung ini diberikan oleh paman te.." ucapan blue terpotong karan olive.
"kalung itu diberikan oleh temanku,
tadi ia datang menjengguk blue dirumah sakit dan dia memberikan kalung itu sebagai hadia karna kepulanganya" blue menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan olive...
Kutarik lengan olive menjauh dari blue, justin dan kedua orang tuanya.
"jujur padaku siapa yang memberikan kalaung itu pada blue?"
"hem will, aku sudah bilang padamu teman aku yang memberikan itu, dia teman dekatku aku yang membetahukanya kalau keponakanku sedang sakit dan dia meminta untuk menjenguk blue.
Dan dia memberikan kalung itu.
Kau tak usah kawatir bukan cody yang memberikan kalung itu, kau juga tahukan aku membenci cody sangat-sangat membenci." aku masih tak yakin dengan ucapan olive tapi kucoba berfikiran positiv,
mungkin saja yang dikatakan olive memang benar.
"baiklah aku percaya padamu" kutinggalkan olive yang masih diam disofa..
Olive masih memikirkan ucapan yang barusan dia ucapkan pada williana.
Ia berfikir apakah semuanya benar,
olive menatap punggung belakang williana sahabat yang sangat ia sayangi.
"maafkan aku will bukan aku bermaksud membohongimu dan menutupi semua ini,
hanya saja aku tak bisa menolak saat cody dengan tulus meminta bertemu anaknya.
Aku tahu aku sudah melakukan hal yang sangat kau benci tapi maafkan aku.
Aku tak bisa menolaknya will" olive menutup wajahnya dan membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Setelah cukup lama olive menangisi kesalahan dan kebohongan yang ia lakaukan pada sahabatnya.
Ia berdiri dan melangkahkan kakinya kehalamn belakang.
Williana menyadari kehadiran olive segera mengeser duduknya dan memberikan ruang untuk olive duduk.
"dari mana saja kau?" tanya williana pada olive.
"hem dari kamar mandi"
"oh kukira kau sudah pulang"
"tidak"
lama mereka diam dan hanya memperhatikan justin bermain bersama anak-anaknya.
Williana kadang tersenyum melihat tingkah justin yang terkadang konyol dan mengemaskan membuat blue tertawa....
Sesekali justin juga menganggkat tubuh emma dan membuat emma tertawa.
Rasanya sangat bahagia bisa melihat keluarga bahagia seperti ini.
Aku harap tak ada lagi kesedihan dalam hari-hari selanjutnya.
mereka sedang bermain bersama justin.
Blue sedang bermain bersama orang tua justin.
Kubiarkan mereka menikmati kebersamaan mereka.
Kulihat justin tengah mengendong kedua anak kami, kelihatanya dia sangat kewalahan .
Dengan senyum dikedua sudut bibirku.
Kudukati justin dan mengambil edward dari gendongannya.
"ah untung kau datang sayang, edward sangat nakal."
"hem aku tahu,
kan kau juga nakal yah jelas anakmu juga seperti itu"
justin mendekatiku dan mencubit pelan ujung hidungku.
"just lepaskan, aku tak bisa bernafas, just lepaskan" justin melepas cubitanya pada hidugku.
"kau ini hampir saja membunuhku" justin hanya tertawa dan sedetik kemudian ia melumat bibirku sebentar lalu melepaskannya.
"aku merindukanmu ill" bisiknya ditelingahku.
Aku tahu maksudnya tapi ini bukan waktu yang tepat,
emma dan edward belum tidur,
segerah kudorong tubuh justin saat ia akan memelukku.
Justin menatapku dengan tatapan bertanya,
"aku tahu kau menginginkanku,
tapi sekarang bukan waktu yang tepat, kau mengertikan sayang" ucapku pada justin.
Justin menghembuskan nafas berat dan membalikan badanya,
aku tahu dia kecewa dengan jawabanku tadi.
Tapi ini memang bukan waktu yang tepat.
Kudekati justin dan memeluknya dari belakang.
"ayolah sayang kau tak usah kecewa.
Masih ada waktu yang lain. Kita bisa melakukanya malam nanti."
kuelus dada justin dan mengecup berulang-ulang pundak belakangnya.
"baiklah, aku juga salah meminta itu disaat semuanya belum tepat. Tapi kau janjikan "
"ia aku janji kan aku juga merindukanmu sayang" kembali kudaratkan kecupan dipunggung belakang justin.
Justin membalikan badanya dan segera menarik wajahku semakin dekat dengan wajahnya dan sedetik kemudian kurasakan lumatan-lumatan kecil disetiap sudut bibirku..
Kubals dengan melumat bibir bawahnya.
Kami tak lagi memperdulikan emma dan edward yang sedang kami gendong.
Justin menarik tengkuk leherku dan membuat lidahnya mendesak masuk kedalam mulutku.
Lama kami dalam posisi ini...
Tampa mereka sadari sepasang mata melihat adegan itu.
"maaf mom tak melihat ko" ibu justin segera menutup pintu kamar cucunya..
Justin dan williana hanya bisa tertawa kecut menyadari adegan mesra mereka dilihat oleh ibu justin.
Williana menatap justin dan justinpun begitu sedetik kemudia mereka tertawa bersama.
"sebainya kita turun ill"
"baiklah" justin dan williana keluar dari kamar anak kembarnya .
Mereka melangkahkan kaki ke taman belakang dimana blue dan orang tua justin sedang bermain.
"hy sayang" ucap justin pada blue.
"hy juga dad, hy mom.
Lihat mom aku punya kalaung baru" williana mendekat kearah blue.
"hem sayang siapa yang memberikanmu kalung itu" williana menunjuk kalung yang tergantung indah dilher putrinya.
"kalaung ini diberikan oleh paman te.." ucapan blue terpotong karan olive.
"kalung itu diberikan oleh temanku,
tadi ia datang menjengguk blue dirumah sakit dan dia memberikan kalung itu sebagai hadia karna kepulanganya" blue menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan olive...
Kutarik lengan olive menjauh dari blue, justin dan kedua orang tuanya.
"jujur padaku siapa yang memberikan kalaung itu pada blue?"
"hem will, aku sudah bilang padamu teman aku yang memberikan itu, dia teman dekatku aku yang membetahukanya kalau keponakanku sedang sakit dan dia meminta untuk menjenguk blue.
Dan dia memberikan kalung itu.
Kau tak usah kawatir bukan cody yang memberikan kalung itu, kau juga tahukan aku membenci cody sangat-sangat membenci." aku masih tak yakin dengan ucapan olive tapi kucoba berfikiran positiv,
mungkin saja yang dikatakan olive memang benar.
"baiklah aku percaya padamu" kutinggalkan olive yang masih diam disofa..
Olive masih memikirkan ucapan yang barusan dia ucapkan pada williana.
Ia berfikir apakah semuanya benar,
olive menatap punggung belakang williana sahabat yang sangat ia sayangi.
"maafkan aku will bukan aku bermaksud membohongimu dan menutupi semua ini,
hanya saja aku tak bisa menolak saat cody dengan tulus meminta bertemu anaknya.
Aku tahu aku sudah melakukan hal yang sangat kau benci tapi maafkan aku.
Aku tak bisa menolaknya will" olive menutup wajahnya dan membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Setelah cukup lama olive menangisi kesalahan dan kebohongan yang ia lakaukan pada sahabatnya.
Ia berdiri dan melangkahkan kakinya kehalamn belakang.
Williana menyadari kehadiran olive segera mengeser duduknya dan memberikan ruang untuk olive duduk.
"dari mana saja kau?" tanya williana pada olive.
"hem dari kamar mandi"
"oh kukira kau sudah pulang"
"tidak"
lama mereka diam dan hanya memperhatikan justin bermain bersama anak-anaknya.
Williana kadang tersenyum melihat tingkah justin yang terkadang konyol dan mengemaskan membuat blue tertawa....
Sesekali justin juga menganggkat tubuh emma dan membuat emma tertawa.
Rasanya sangat bahagia bisa melihat keluarga bahagia seperti ini.
Aku harap tak ada lagi kesedihan dalam hari-hari selanjutnya.
Attente Part 50
"will aku pulang yah" suara olive membuyarkan lamunanku.
Kudongakan kepalaku dan tersenyum padanya.
Kubenarkan posisiku tapi olive menahanku dan kembali mendudukan badanku,
"tak usah aku bisa kedepan sendiri, sebaiknya kau menemanimu keluargamu" bisik olive ditelingahku.
"baiklah, ku hati-hati dijalan"
"ia, sampaikan salamku pada suami dan mertuamu.
Dah will aku duluan"
"iya, sampaikan juga salamku pada mom" olive hanya menganggukan kepalnya dan meninggalkan rumahku.
Kembali perhatianku tersita pada justin dan kedua orang tuanya.
****
"ill apa semuanya sudah beres sayng" justin berteriak dari dalam kamar
"ia sudah, bagaiman dengan blue apa dia sudah siap"
"ia" kulanjutkan menyiapkan bekal untuk blue, hari ini hari pertamanya masuk kesekolah biasa lagi.
Kurasakan pelukan hangat dikakiku.
Aku tau ini pelukan blue.
"hy sayang kenapa kau memeluk kaki mom,
ayo bangun" kubenarkan posisi blue dan menatapnya.
"mom aku gugup?"
"kau gugup. Gugup karna apa sayang?"
"hem aku juga tak tahu mom,
hanya saja aku merasa seperti itu"
"baiklah supaya kau tak gugup ayo ikuti apa yang mom lakukan.
Mom juga seperti ini klu mom gugup."
"baik mom"
"pertama-tama tarik nafas dalam-dalam dan buang dengan teratur,
ulngin sebanyak tiga kali.
Dan kemudia tutup matamu sebut nama mom dan dad dalam hatimu yakinka kami ada didekatmu.
Lalu buka matamu dan tersenyum seindah mungkin, kau mengerti sayang"
"ia mom aku mengerti"
"bagus kalau begitu, ini bekalmu sayang, jangan nakal dan jadilah anak yang baik.
Ok"
"ok mom, dah " blue mengecup kedua pipiku lalu mendekat kearah justin yang sudah menunggu didepan pintu.
"dah sayang hati-hati dijalan,
kau tak usah menjemput blue.
Kata olive dia yang akan menjemputnya " kukecup sebentar bibir justin dan melepasnya.
"kau juga hati-hati dirumah.
Telpon aku kalau terjadi sesuuatu denganmu dan anak-anak kita" justin mengecup sebentar puncak kepalku dan melajuka mobilnya.
Kututup pintu rumahku setelah memastikan mobil justin sudah menghilang dari pandangan mataku...
Dilain tempat seorang wanita tengah menikmati coklat panasnya disebuah cafe disudut kota.
Ia menanti seorang pria yang memintanya datang.
Sebenarnya wanita ini sangat berat datang kesini karna ia tahu ini adalah hal yang salah.
Yang ia lakukan adalah hal yang mampu membuat sahabatnya terluka dan sakit.
Tapi dia juga tak bisa menepis hati kecilnya bahwa seorang ayah ingin mendekatkan dirinya pada anak kandung dan darah danginya sendiri.
Semua spekulasi-spekulasi itu berputar dan membuat wanita itu merasa pusing dan lelah.
Wanita itu membalikan badanya saat seseorang menyentuh bahunya dengan lembut.
"maaf, aku membuatmu menunggu"
wanita itu-olive- berdiri dari duduknya.
"tak apa, aku juga baru sampai.
Silahkan duduk" olive kembali duduk dan pria itu-cody- duduk dihadapan olive.
"katakan apa yang ingin kau katakan aku tak punya waktu banyak."
"begini aku tahu kau sahabat williana dan aku juga tahu kau membenciku.
Tapi bisakah kau membantuku menemui blue dibelakang williana dan justin.
Aku hanya ingin menemuinya dan memberika kasih sayang sebagai seorang ayah pada blue.
Apa kau bisa membantuku, aku tak tahu harus meminta tolong pada siapa.
Aku hanya bisa meminta itu darimu,
aku tahu kau wanita yang baik.
Bisakah kau membantuku?" cody mengenggam tangan olive ia melakukan itu agar olive yakin dengan apa yang diucapkan cody.
Olive terlihat masih bingung antar membantu cody dan menolak permintanya.
"maafkan aku, tapi aku tak bisa kau tahukan aku dan williana menjalin hubungan melebihi sahabat.
Dan aku takut will akan salah paham dengan ini.
Aku mau kau menemuinya secara lansung.
Aku tahu will adalah wanita yang baik dan sangat pemaaf,
temui dia secara baik-baik dan mintalah padanya.
Aku tak bisa cody aku hanya orang lain dan bukan bagian dari mereka." olive mencoba menarik tanganya yang digenggam oleh cody.
Tapi cody menahan dan semakin mengenggam erat tangan olive.
Cody menatap olive,
"aku mohon padamu olive,
aku tak akan meminta lebih aku hanya ingin menemuinya dan lebih mengenalnya dan menebus kesalahanku padanya." air mata cody kini membasahi kedua pipi cody.
Olive melihat kesungguhan dari sorot mata cody.
Kembali ia menarik nafas dalam-dalam.
Ia sudah memutuskan.
"baiklah aku akan membantumu tapi ingat kau tak akan melukai ataupun membuatnya seperti dulu.
Ingat aku hanya bisa membantu bertemu denganya tapi jangan meminta aku untuk melakukan hal yang lebih" kini wajah cody dihiasi senyum yang mengambang dengan indah.
Ia semakin erat mengenggam tangan olive.
"terima kasih banyak atas pengertianmu,
aku berjanji tak akan melakukan hal bodoh itu lagi.
Aku hanya ingin menebus kesalahanku yang kubuat padanya."
"baiklah aku rasa hanya itu yang bisa kuucapakan, aku harus segera kembali kekantor aku takut justin curiga padaku.
Baiklah hubungin aku saja kalau kau ingin bertemu dengan blue." olive berdiri dan meninggalkan cody.
Kudongakan kepalaku dan tersenyum padanya.
Kubenarkan posisiku tapi olive menahanku dan kembali mendudukan badanku,
"tak usah aku bisa kedepan sendiri, sebaiknya kau menemanimu keluargamu" bisik olive ditelingahku.
"baiklah, ku hati-hati dijalan"
"ia, sampaikan salamku pada suami dan mertuamu.
Dah will aku duluan"
"iya, sampaikan juga salamku pada mom" olive hanya menganggukan kepalnya dan meninggalkan rumahku.
Kembali perhatianku tersita pada justin dan kedua orang tuanya.
****
"ill apa semuanya sudah beres sayng" justin berteriak dari dalam kamar
"ia sudah, bagaiman dengan blue apa dia sudah siap"
"ia" kulanjutkan menyiapkan bekal untuk blue, hari ini hari pertamanya masuk kesekolah biasa lagi.
Kurasakan pelukan hangat dikakiku.
Aku tau ini pelukan blue.
"hy sayang kenapa kau memeluk kaki mom,
ayo bangun" kubenarkan posisi blue dan menatapnya.
"mom aku gugup?"
"kau gugup. Gugup karna apa sayang?"
"hem aku juga tak tahu mom,
hanya saja aku merasa seperti itu"
"baiklah supaya kau tak gugup ayo ikuti apa yang mom lakukan.
Mom juga seperti ini klu mom gugup."
"baik mom"
"pertama-tama tarik nafas dalam-dalam dan buang dengan teratur,
ulngin sebanyak tiga kali.
Dan kemudia tutup matamu sebut nama mom dan dad dalam hatimu yakinka kami ada didekatmu.
Lalu buka matamu dan tersenyum seindah mungkin, kau mengerti sayang"
"ia mom aku mengerti"
"bagus kalau begitu, ini bekalmu sayang, jangan nakal dan jadilah anak yang baik.
Ok"
"ok mom, dah " blue mengecup kedua pipiku lalu mendekat kearah justin yang sudah menunggu didepan pintu.
"dah sayang hati-hati dijalan,
kau tak usah menjemput blue.
Kata olive dia yang akan menjemputnya " kukecup sebentar bibir justin dan melepasnya.
"kau juga hati-hati dirumah.
Telpon aku kalau terjadi sesuuatu denganmu dan anak-anak kita" justin mengecup sebentar puncak kepalku dan melajuka mobilnya.
Kututup pintu rumahku setelah memastikan mobil justin sudah menghilang dari pandangan mataku...
Dilain tempat seorang wanita tengah menikmati coklat panasnya disebuah cafe disudut kota.
Ia menanti seorang pria yang memintanya datang.
Sebenarnya wanita ini sangat berat datang kesini karna ia tahu ini adalah hal yang salah.
Yang ia lakukan adalah hal yang mampu membuat sahabatnya terluka dan sakit.
Tapi dia juga tak bisa menepis hati kecilnya bahwa seorang ayah ingin mendekatkan dirinya pada anak kandung dan darah danginya sendiri.
Semua spekulasi-spekulasi itu berputar dan membuat wanita itu merasa pusing dan lelah.
Wanita itu membalikan badanya saat seseorang menyentuh bahunya dengan lembut.
"maaf, aku membuatmu menunggu"
wanita itu-olive- berdiri dari duduknya.
"tak apa, aku juga baru sampai.
Silahkan duduk" olive kembali duduk dan pria itu-cody- duduk dihadapan olive.
"katakan apa yang ingin kau katakan aku tak punya waktu banyak."
"begini aku tahu kau sahabat williana dan aku juga tahu kau membenciku.
Tapi bisakah kau membantuku menemui blue dibelakang williana dan justin.
Aku hanya ingin menemuinya dan memberika kasih sayang sebagai seorang ayah pada blue.
Apa kau bisa membantuku, aku tak tahu harus meminta tolong pada siapa.
Aku hanya bisa meminta itu darimu,
aku tahu kau wanita yang baik.
Bisakah kau membantuku?" cody mengenggam tangan olive ia melakukan itu agar olive yakin dengan apa yang diucapkan cody.
Olive terlihat masih bingung antar membantu cody dan menolak permintanya.
"maafkan aku, tapi aku tak bisa kau tahukan aku dan williana menjalin hubungan melebihi sahabat.
Dan aku takut will akan salah paham dengan ini.
Aku mau kau menemuinya secara lansung.
Aku tahu will adalah wanita yang baik dan sangat pemaaf,
temui dia secara baik-baik dan mintalah padanya.
Aku tak bisa cody aku hanya orang lain dan bukan bagian dari mereka." olive mencoba menarik tanganya yang digenggam oleh cody.
Tapi cody menahan dan semakin mengenggam erat tangan olive.
Cody menatap olive,
"aku mohon padamu olive,
aku tak akan meminta lebih aku hanya ingin menemuinya dan lebih mengenalnya dan menebus kesalahanku padanya." air mata cody kini membasahi kedua pipi cody.
Olive melihat kesungguhan dari sorot mata cody.
Kembali ia menarik nafas dalam-dalam.
Ia sudah memutuskan.
"baiklah aku akan membantumu tapi ingat kau tak akan melukai ataupun membuatnya seperti dulu.
Ingat aku hanya bisa membantu bertemu denganya tapi jangan meminta aku untuk melakukan hal yang lebih" kini wajah cody dihiasi senyum yang mengambang dengan indah.
Ia semakin erat mengenggam tangan olive.
"terima kasih banyak atas pengertianmu,
aku berjanji tak akan melakukan hal bodoh itu lagi.
Aku hanya ingin menebus kesalahanku yang kubuat padanya."
"baiklah aku rasa hanya itu yang bisa kuucapakan, aku harus segera kembali kekantor aku takut justin curiga padaku.
Baiklah hubungin aku saja kalau kau ingin bertemu dengan blue." olive berdiri dan meninggalkan cody.
Attente Part 51
Cody merasa sangat senang saat mendengar jawaban dari olive,
ia tahu ini adalah hal yang sangat berat untuk olive lakukan tapi ia sangat bersyukur karna olive mau membantunya menbus semua kesalahan yang diperbuat olehnya.
Dengan langkah pasti cody keluar dari cafe tempatnya bertemu dengan olive.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah kearah sebuah toko mainna yang cukup ramai.
Ia memarkirkan mobilnya tepat didepan toko maina.
Cody memasuki toko mainan itu dan mulai memilih apa yang akan ia berikan pada blue, ia tak begitu tahu apa yang disuka oleh blue.
Cody dia memikirkan permainan apa yang disukai gadis kecil sumuran blue.
Sampai seorang pelayan toko menghapirinya.
"maaf tuan anda mencari apa, mungkin saya bisa membantu anda?"
"hem begini saya sedang mencari mainan yang tepat untuk gadis kecil usian 10 tahun.
Menurutmu mainan apa yang cocok untuknya"
"hem gadis usia 10 tahun yah, biasanya gadis usia seperti itu senang dengan berbie dan boneka.
Sebaiknya anda melihat-lihat disana, disana banyak boneka yang mungkin bisa jadi pilihan anda" cody tersenyum dan meninggalkan pelayan toko itu.
Sejam cody memilih boneka yang akan ia berikan pada blue dan pilihanya jatuh pada boneka lumba-lumba besar.
Dengan harap semoga blue menyukai boneka pilihanya.
Dilain tempat olive masih terus berfikir dengan ucapanya barusan pada cody,
ia tahu ini kesalah tak seharusnya ia melakukan hal ini tapi kembali hatinya memintanya untuk melakukan itu.
Ia bingung dan membuat semua pekerjaanya berantakan.
Mungkin justin mengetahui kegelisahan olive.
Ia tak banyak menyuruh atau meminta olive menangani masalah kecil yang biasa ditangani oleh olive, ia memilih untuk membiarkan olive tenang dan lebih rileks..
***
kulirik jam didinding sudah menunjukan pukul 12: 30 berarti blue sudah pulang.
Kuambil ponselku dan memncet nomor olive.
"hallo will" suara olive sedikit aneh.
"kau kenapa, apa kau sakit?"
"tidak aku baik-baika saja,
oh iya ada apa kau menelponku?"
"kau bisakan menjemput blue disekolahnya,?"
"ia bisa, kau tenang saja semuanya akan baik-baik saja,
sudah dulu will, nanti blue menunggu terlalu lama"
"baiklah, ingat jangan ngebut"
"ia will. Dah" olive mematikan panggilanku.
Segera perhatianku teralihkan pada emma yang tiba-tiba menangis.
Segera kuangkat emma dari boxnya.
"diam sayang kau kenapa,?" aku mencoba menenangkan emma tapi ia masih saja menangis, kurabah popoknya tidak, tidaj bocor.
"cup,cup anak anak mom yang satu ini haus.
Baiklah ayo kita minum sayang" segera kuberikan asi pada emma dan benar saja dia langsung diam.
Oh ternyata dia haus kau membuat mom kawatir sayang..
Ditempat lain olive menunggu blue keluar dari sekolahnya,
olive merasakan getaran pada ponselnya.
Segera ia merogo tasnya dan mengambil ponselnya..
Tanpa melihat siapa yang menelponya .
"hallo, siapa ini?"
"ini aku olive cody"
"oh kau, ada apa?"
"hem begini bisakah kau mempertemukan aku dengan blue siang ini?"
"hem baiklah, sebaiknya kita bertemu dicafe tadi, kurasa disana aman dan tak begitu mencolok.
Kau tunggu saja aku disan"
"baiklah, aku menunggumu" tanpa menjawab olive segera mematikan panggilan dari cody.
Dengan lincah jari-jari lentiknya memencet nomor williana.
"hallo ada apa ol?"
"hem will, blue memintaku untuk makan siang diluar apa kau mengizinkan?" dengan cemas olive menunggu jawaban williana.
"ia, jangan lupa kau harus pulang secepatnya.
Kau tahukan blue belum sembuh total, ia masih perlu istirahat lebih."
"ia aku tahu williana.
Baiklah aku harus pergi sekarang" olive mengakhiri panggilanya.
Dengan cepat ia menghampiri blue yang tengah perjalan keluar dari sekolahnya.
"hy sayang, bagaimana dengan pelajaranmu hari ini?"
"semuanya baik bibi ol.
Oh iya kenapa kau yang menjemputku?"
"hem dadmu sibuk dan mom mu sedang mengurus edward yang sedang demam.
Hem apa kau tak senang bibi ol yang menjemputmu" olive membuat wajahnya terlihat sedih.
Blue segera mencium pipi olive dan memeluknya.
"aku sukako bibi ol, tapikan aku hanya heran biasanya dad yang menjemputku."
"baiklah sayang klu kau suka.
Bibi kira kau tak suka, hem blue sebaiknya kita makan siang dulu bibi lapar apa kau juga lapar?"
olive menyentuh kedua bahu blue.
"ia bibi ol aku lapar"
"klu begitu,
mari kita berangkat".
Selama perjalanan blue selalu tertawa karna mendengar gurauan dari olive.
Memang olive dan blue sangat akrab.
Olive sangat mencintai blue seperti ia mencintai dirinya sendiri.
Olive memarkirkan mobilnya dan segera turun lalu membukakan pintu mobil untuk blue.
"kita akan makan disini bibiol?" blue bertanya dan pandanganya menyapu semua sudut restoran didepanya,
"ia sayang kita akan makan disini, oh iya kita juga akan makan bersama paman yang kemarin."
blue mengalihkan pandanganya ke olive.
"maksud bibi ol, paman yang memberikan kalaung cantik ini?" blue mengenggam kalung yang diberikan oleh cody.
Olive segera memposisikan badannya.
"ia sayang, tapi ingat kau jangan bilang pada siapa-siapa"
"ia" blue tersenyum
ia tahu ini adalah hal yang sangat berat untuk olive lakukan tapi ia sangat bersyukur karna olive mau membantunya menbus semua kesalahan yang diperbuat olehnya.
Dengan langkah pasti cody keluar dari cafe tempatnya bertemu dengan olive.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah kearah sebuah toko mainna yang cukup ramai.
Ia memarkirkan mobilnya tepat didepan toko maina.
Cody memasuki toko mainan itu dan mulai memilih apa yang akan ia berikan pada blue, ia tak begitu tahu apa yang disuka oleh blue.
Cody dia memikirkan permainan apa yang disukai gadis kecil sumuran blue.
Sampai seorang pelayan toko menghapirinya.
"maaf tuan anda mencari apa, mungkin saya bisa membantu anda?"
"hem begini saya sedang mencari mainan yang tepat untuk gadis kecil usian 10 tahun.
Menurutmu mainan apa yang cocok untuknya"
"hem gadis usia 10 tahun yah, biasanya gadis usia seperti itu senang dengan berbie dan boneka.
Sebaiknya anda melihat-lihat disana, disana banyak boneka yang mungkin bisa jadi pilihan anda" cody tersenyum dan meninggalkan pelayan toko itu.
Sejam cody memilih boneka yang akan ia berikan pada blue dan pilihanya jatuh pada boneka lumba-lumba besar.
Dengan harap semoga blue menyukai boneka pilihanya.
Dilain tempat olive masih terus berfikir dengan ucapanya barusan pada cody,
ia tahu ini kesalah tak seharusnya ia melakukan hal ini tapi kembali hatinya memintanya untuk melakukan itu.
Ia bingung dan membuat semua pekerjaanya berantakan.
Mungkin justin mengetahui kegelisahan olive.
Ia tak banyak menyuruh atau meminta olive menangani masalah kecil yang biasa ditangani oleh olive, ia memilih untuk membiarkan olive tenang dan lebih rileks..
***
kulirik jam didinding sudah menunjukan pukul 12: 30 berarti blue sudah pulang.
Kuambil ponselku dan memncet nomor olive.
"hallo will" suara olive sedikit aneh.
"kau kenapa, apa kau sakit?"
"tidak aku baik-baika saja,
oh iya ada apa kau menelponku?"
"kau bisakan menjemput blue disekolahnya,?"
"ia bisa, kau tenang saja semuanya akan baik-baik saja,
sudah dulu will, nanti blue menunggu terlalu lama"
"baiklah, ingat jangan ngebut"
"ia will. Dah" olive mematikan panggilanku.
Segera perhatianku teralihkan pada emma yang tiba-tiba menangis.
Segera kuangkat emma dari boxnya.
"diam sayang kau kenapa,?" aku mencoba menenangkan emma tapi ia masih saja menangis, kurabah popoknya tidak, tidaj bocor.
"cup,cup anak anak mom yang satu ini haus.
Baiklah ayo kita minum sayang" segera kuberikan asi pada emma dan benar saja dia langsung diam.
Oh ternyata dia haus kau membuat mom kawatir sayang..
Ditempat lain olive menunggu blue keluar dari sekolahnya,
olive merasakan getaran pada ponselnya.
Segera ia merogo tasnya dan mengambil ponselnya..
Tanpa melihat siapa yang menelponya .
"hallo, siapa ini?"
"ini aku olive cody"
"oh kau, ada apa?"
"hem begini bisakah kau mempertemukan aku dengan blue siang ini?"
"hem baiklah, sebaiknya kita bertemu dicafe tadi, kurasa disana aman dan tak begitu mencolok.
Kau tunggu saja aku disan"
"baiklah, aku menunggumu" tanpa menjawab olive segera mematikan panggilan dari cody.
Dengan lincah jari-jari lentiknya memencet nomor williana.
"hallo ada apa ol?"
"hem will, blue memintaku untuk makan siang diluar apa kau mengizinkan?" dengan cemas olive menunggu jawaban williana.
"ia, jangan lupa kau harus pulang secepatnya.
Kau tahukan blue belum sembuh total, ia masih perlu istirahat lebih."
"ia aku tahu williana.
Baiklah aku harus pergi sekarang" olive mengakhiri panggilanya.
Dengan cepat ia menghampiri blue yang tengah perjalan keluar dari sekolahnya.
"hy sayang, bagaimana dengan pelajaranmu hari ini?"
"semuanya baik bibi ol.
Oh iya kenapa kau yang menjemputku?"
"hem dadmu sibuk dan mom mu sedang mengurus edward yang sedang demam.
Hem apa kau tak senang bibi ol yang menjemputmu" olive membuat wajahnya terlihat sedih.
Blue segera mencium pipi olive dan memeluknya.
"aku sukako bibi ol, tapikan aku hanya heran biasanya dad yang menjemputku."
"baiklah sayang klu kau suka.
Bibi kira kau tak suka, hem blue sebaiknya kita makan siang dulu bibi lapar apa kau juga lapar?"
olive menyentuh kedua bahu blue.
"ia bibi ol aku lapar"
"klu begitu,
mari kita berangkat".
Selama perjalanan blue selalu tertawa karna mendengar gurauan dari olive.
Memang olive dan blue sangat akrab.
Olive sangat mencintai blue seperti ia mencintai dirinya sendiri.
Olive memarkirkan mobilnya dan segera turun lalu membukakan pintu mobil untuk blue.
"kita akan makan disini bibiol?" blue bertanya dan pandanganya menyapu semua sudut restoran didepanya,
"ia sayang kita akan makan disini, oh iya kita juga akan makan bersama paman yang kemarin."
blue mengalihkan pandanganya ke olive.
"maksud bibi ol, paman yang memberikan kalaung cantik ini?" blue mengenggam kalung yang diberikan oleh cody.
Olive segera memposisikan badannya.
"ia sayang, tapi ingat kau jangan bilang pada siapa-siapa"
"ia" blue tersenyum
Attente Part 52
SEMINGGU KEMUDIA.
"Hari ini tepat seminggu aku selalu mengantar blue untuk bertemu dengan ayahnya, aku harap ini bukan kesalahan dan semoga saja williana tak menyadari keanehan ini" ucap olive dalam hati sebelum ia masuk kedalam rumah williana...
Ting tong ting tong.
"tunggu" dengan langkah pasti aku membuka pintu rumah ku,
kulihat senyum kiku yang kutemui saat membuka pintu rumah.
"hy masuklah, apa blue tertidur lagi?"
"ia dia ada dimobil, apa kau repot? Klu ia biar aku yang mengendongnya kedalam kamar".
"tak apa biar aku saja kan kau sudah lelah menemaninya seharian ini." kulangkahkan kakiku kemobil olive dan dengan lembut kugendong tubuh blue,
astaga anak ini semakin berat saja.
Kuhentikan langkahku disamping olive.
"kau pulanglah istirahat, besok kau kerjakan.
Terimakasih ol"
"baikla will, aku pulang" kupandangi mobil olive yang samakin jauh dari pandangan mataku.
Dengan pelan kututup pintu rumahku dan kembali melangkahkan kakiku kekamar blue.
Kubaringkan tubuh blue dan menyelimuti badanya dengan selimut,
kuambil boneka yang ia pengang.
Olive, olive kau selalu saja menuruti maunya.
Seminggu bermain bersamanya blue sudah memiliki lebih dari 20 boneka.
Aku saja pusing mau menyimpan dimana.
"sayang" kudongakan kepalaku dan menatap justin yang sedang berdiri dipintu kamar blue.
"apa blue sudah tidur?"
"ia, ayo.ayo kita keluar nanti dia mendengar kita" kutarik dengan lembut lengan justin.
Justin melingkarkan tanganya depinggangku dan membuat kami semakin dekat.
Kutaruh kepalaku didadanya dan justin memainkan rambutku.
Saat ini kami-aku-justin- berdiri dibalko kamar,
justin merubah posisi kami sekarang dia berdiri dibelakang ku.
Lalu melingkarkan kedua tanganya kepinggangku.
Lama kami dalam kebisuan dan fikiran masing-masing.
Rasanya sangat nyaman dalam pelukanya.
Selama kami mempunya anak lagi,
hal seperti ini sangat jarang kami lakukan,
tapi hari ini kembali justin menghadirkan suasana romantis.
Dia memang tahu saat ini aku sanat jenuh dengan rutinitas sebagai ibu rumah tangga.
"ill"
"hem"
"apa tak rindu untuk bekerja lagi sayang?"
"hem kau mau aku jujur atau bohong?"
"yang jujur"
"baiklah, kadang kalah aku sangat menginginkan kehidupanku dulu.
Aku rindu meminpin rapat.
Aku rindu saat suasan kantor..
Tapi semuanya hanya sebatas kerindua saja,
tak ada keingina kembali dan menjalani rutinitas kehidupan kuyang dulu.
Aku tahu sekarang aku adalah ibu dari tia orang anak dan istri dari seorang pria,
aku tak ingin membuat kehidupan rumah tangga kita tak harmonis karna kesibukan yang kita jalani.
Aku ingin rumah tangga kita seindah apa yang kubayangkan sebelum menikah denganmu just" diakhir kalimat kustin membalikan badanku dan membuat tatapan mataku bertemu dengan mata indahnya.
Matanya mampu membuatku luluh dan tak berdaya saat menatap matanya itu.
"terima kasih karna kau tak mementingkan egomu dan meninggalkan tugasmu sebagai ibu dan juga istri dari seorang pria, yang selalu mencintaimu.
Aku bangga bisa menikah dan menjalani sisa hidupku bersamamu sayang" justin mengucapkanya dengan sorot matanya yang sangat menyentuh lubuk hatiku.
"hem ill, apa persaan cintamu padaku masih sama seperti dulu?" pertanyaan justin membuatku membulatkan kedua mataku apa katanya.
"dengar aku aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang,
bahkan rasa cintaku semakin hari semakin bertambah.
Jangan perna parna berfikir aku tak lagi mencintaimu,
kau selalu ada disini dalam hatiku" kutarik tangan justin dan meletakkanya didadaku.
Sesaat kemudia justin tersenyum dan kembali menarik tubuhku mendekat kearahnya,
"kau tahu ill aku sangat mencintaimu,
begitu banyak wanita hadir dalam hidupukku.
Tapi tak ada yang bisa membuat hatiku bergetar saat dekat dengan mereka.
Kau wanita pertama yang mampu membuatku mengerti bahwa aku jatuh cinta padamu,
dan sampai sekarang cintaku padamu tak berubah.
Kau harus tahu itu sayang". Diakhir kalimat justin,
dia merengkuh wajahku dan membuat ujung hidung kami bertemu.
Aku tahu maksudnya kututup kedua mataku dan menunggu hal selanjutnya,
tapi kurasakan ciuman justin bukan dibibirku tapi dipipiku.
Dia begitu lembut mengecupnya.
Sesaat setelah justin mengecup pipiku, kubuka kedua mataku dan tersenyum.
"terima kasih sayang" bisiknya tepat ditelingahku.
"sama-sama just" kubenamkan kepalaku didada justin dan sebaliknya justin mendekap hangat tubuhku yang kedinginan karna udara hari ini lebih dingin dari kemarin.
Lama kami dalam posisi ini aku tak ingin mengakhiri momen ini.
Jarang kami bisa seperti ini dan aku merasa justin juga tak ingin mengakhirinya.
Justin melepas pelukanya dan mendongakan kepalaku agar menatapnya.
"ada apa?"
"tak apa" sedetik kemudian justin melumat bibirku dengan lembut,
kubals dengan melumat lembut bibir bawahnya..
Lema kami melakukan adengan ciuman ini.
Justin melepas bibirku.
Dan menetap mataku,
sesaat kemudia justin mengeluarkan kota bludru dari dalam saku celananya.
Lama ia menatap mataku dan mengenggap kota itu..
"Hari ini tepat seminggu aku selalu mengantar blue untuk bertemu dengan ayahnya, aku harap ini bukan kesalahan dan semoga saja williana tak menyadari keanehan ini" ucap olive dalam hati sebelum ia masuk kedalam rumah williana...
Ting tong ting tong.
"tunggu" dengan langkah pasti aku membuka pintu rumah ku,
kulihat senyum kiku yang kutemui saat membuka pintu rumah.
"hy masuklah, apa blue tertidur lagi?"
"ia dia ada dimobil, apa kau repot? Klu ia biar aku yang mengendongnya kedalam kamar".
"tak apa biar aku saja kan kau sudah lelah menemaninya seharian ini." kulangkahkan kakiku kemobil olive dan dengan lembut kugendong tubuh blue,
astaga anak ini semakin berat saja.
Kuhentikan langkahku disamping olive.
"kau pulanglah istirahat, besok kau kerjakan.
Terimakasih ol"
"baikla will, aku pulang" kupandangi mobil olive yang samakin jauh dari pandangan mataku.
Dengan pelan kututup pintu rumahku dan kembali melangkahkan kakiku kekamar blue.
Kubaringkan tubuh blue dan menyelimuti badanya dengan selimut,
kuambil boneka yang ia pengang.
Olive, olive kau selalu saja menuruti maunya.
Seminggu bermain bersamanya blue sudah memiliki lebih dari 20 boneka.
Aku saja pusing mau menyimpan dimana.
"sayang" kudongakan kepalaku dan menatap justin yang sedang berdiri dipintu kamar blue.
"apa blue sudah tidur?"
"ia, ayo.ayo kita keluar nanti dia mendengar kita" kutarik dengan lembut lengan justin.
Justin melingkarkan tanganya depinggangku dan membuat kami semakin dekat.
Kutaruh kepalaku didadanya dan justin memainkan rambutku.
Saat ini kami-aku-justin- berdiri dibalko kamar,
justin merubah posisi kami sekarang dia berdiri dibelakang ku.
Lalu melingkarkan kedua tanganya kepinggangku.
Lama kami dalam kebisuan dan fikiran masing-masing.
Rasanya sangat nyaman dalam pelukanya.
Selama kami mempunya anak lagi,
hal seperti ini sangat jarang kami lakukan,
tapi hari ini kembali justin menghadirkan suasana romantis.
Dia memang tahu saat ini aku sanat jenuh dengan rutinitas sebagai ibu rumah tangga.
"ill"
"hem"
"apa tak rindu untuk bekerja lagi sayang?"
"hem kau mau aku jujur atau bohong?"
"yang jujur"
"baiklah, kadang kalah aku sangat menginginkan kehidupanku dulu.
Aku rindu meminpin rapat.
Aku rindu saat suasan kantor..
Tapi semuanya hanya sebatas kerindua saja,
tak ada keingina kembali dan menjalani rutinitas kehidupan kuyang dulu.
Aku tahu sekarang aku adalah ibu dari tia orang anak dan istri dari seorang pria,
aku tak ingin membuat kehidupan rumah tangga kita tak harmonis karna kesibukan yang kita jalani.
Aku ingin rumah tangga kita seindah apa yang kubayangkan sebelum menikah denganmu just" diakhir kalimat kustin membalikan badanku dan membuat tatapan mataku bertemu dengan mata indahnya.
Matanya mampu membuatku luluh dan tak berdaya saat menatap matanya itu.
"terima kasih karna kau tak mementingkan egomu dan meninggalkan tugasmu sebagai ibu dan juga istri dari seorang pria, yang selalu mencintaimu.
Aku bangga bisa menikah dan menjalani sisa hidupku bersamamu sayang" justin mengucapkanya dengan sorot matanya yang sangat menyentuh lubuk hatiku.
"hem ill, apa persaan cintamu padaku masih sama seperti dulu?" pertanyaan justin membuatku membulatkan kedua mataku apa katanya.
"dengar aku aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang,
bahkan rasa cintaku semakin hari semakin bertambah.
Jangan perna parna berfikir aku tak lagi mencintaimu,
kau selalu ada disini dalam hatiku" kutarik tangan justin dan meletakkanya didadaku.
Sesaat kemudia justin tersenyum dan kembali menarik tubuhku mendekat kearahnya,
"kau tahu ill aku sangat mencintaimu,
begitu banyak wanita hadir dalam hidupukku.
Tapi tak ada yang bisa membuat hatiku bergetar saat dekat dengan mereka.
Kau wanita pertama yang mampu membuatku mengerti bahwa aku jatuh cinta padamu,
dan sampai sekarang cintaku padamu tak berubah.
Kau harus tahu itu sayang". Diakhir kalimat justin,
dia merengkuh wajahku dan membuat ujung hidung kami bertemu.
Aku tahu maksudnya kututup kedua mataku dan menunggu hal selanjutnya,
tapi kurasakan ciuman justin bukan dibibirku tapi dipipiku.
Dia begitu lembut mengecupnya.
Sesaat setelah justin mengecup pipiku, kubuka kedua mataku dan tersenyum.
"terima kasih sayang" bisiknya tepat ditelingahku.
"sama-sama just" kubenamkan kepalaku didada justin dan sebaliknya justin mendekap hangat tubuhku yang kedinginan karna udara hari ini lebih dingin dari kemarin.
Lama kami dalam posisi ini aku tak ingin mengakhiri momen ini.
Jarang kami bisa seperti ini dan aku merasa justin juga tak ingin mengakhirinya.
Justin melepas pelukanya dan mendongakan kepalaku agar menatapnya.
"ada apa?"
"tak apa" sedetik kemudian justin melumat bibirku dengan lembut,
kubals dengan melumat lembut bibir bawahnya..
Lema kami melakukan adengan ciuman ini.
Justin melepas bibirku.
Dan menetap mataku,
sesaat kemudia justin mengeluarkan kota bludru dari dalam saku celananya.
Lama ia menatap mataku dan mengenggap kota itu..
Attente part 63
Cody melepas bibirnya dari bibir olive,
cody masih dia mematng begitupun dengan olive. Seakan bibir mereka keluh dan tak bisa digoyangkan.
Hening itulah kata yang menggambarkan suasana yang timbul disekita mereka, hanya bunyi ranting yang bergesakan yang dapat terdengar.
OLIVE POV
apa yang barusan terjadi dia,dia menciumku.
Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku mencintainya bahkan sangat mencintainya tapi apakah ini benar aku juga tak ingin memperburuk masalahku dengan will,
ia sahabatku dan juga kakakku.
"hem maafkan aku ol karna lancang menciummu" kulihat cody berdiri dan melangkah meninggalkanku,
ayo olive kejar dia, dia pria yang kau cintai dan dia juga mencintaimu.
Ayo kejar dia.
Dengan cepat aku berlari dan mendekap tubuh kekar cody dari belakang.
Kupeluk tubuhnya dengan sangat erat.
Aku tak ingin kehilanganya, aku tak peduli dengan will ia akan mengerti dengan sendirinya.
"aku mohon jangan pergi, aku mencintaimu.
Aku mencintaimu teteplah disini.
Ini yang ingin kau dengarkan dariku aku mencintaimu cody" tangisku pecah dalam dekapan cody,
air mataku jatuh membasahi punggu belakang cody.
Sedetik kemudia cody membalikan tubuhnya dan kembali mendekapku dengan hangat.
Sesekali ia mendaratkan kecupan-kecupan lembut dirambutku.
"terima kasih olive karna kau mau menerimaku.
Aku tak perna membayangkan sejauh ini.
Aku datang hari ini hanya untuk memberitahukan perasaan yang selama ini menyiksaku dan sekarng aku mendapatkanmu,
kau tahu ini kebahagian yang sangat indah untukku"
"akupun sama cody,
aku tak mengirah kau memiliki perasaan yang sama denganku" ucapku masih dalam dekapan hangatnya.
Cody melepas pelukanya dan membawaku kembali duduk.
Ia terus menyunggingkan senyum indahnya padaku,
dan akupun sama...
Dilain tempat seorang pria tengah melajukan mobilnya,
dengan hati-hati ia memarkirkan mobilnya.
Ia masuk kkedalam rumahnya.
Ia mencari dimana istrinya berada..
JUSTIN POV.
"sayang kau didalam" kuketuk pintu kamar mandi,
"ia aku didalam" kudengar jawaban ill.
Kudekati emma dan edward yang tengah asyik bermain dengan mainan mereka.
"hey,heyhey, apa kalian tak rindu dengan dad" kuangkat emma kedalam gendongaku dan kemudian menganggkat edward.
"wah kalian berat sekali,
seminggu yang lalu dad tak merasa kalian seberat ini" kukecup pipi kedua anakku.
Tak lama kurasakan dekapan lembut ditebuhku,
dan kecupan-kecupan lembut mendarat ditengkuk leherku.
Membuat bulu kudukku merinding.
"kenapa kau pulang cepat sayang?"
"karna aku rindu kalian"
"apa itu benar?" iil mengelus dadaku
"ia itu benar"
kuturunkan emma dan edward kembali keboxnya masing-masing.
Kutarik lembut lengan ill dan mendudukanya dikasur lalu aku duduk diseblahnya.
Kudekap tubuhnya dari samping,
"ada apa just?" ill menatapku dan tersenyum
"begini sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu.
Tapi apakah kau akan mendengarnya?"
"hem, ia ceritakanlah aku pasti mendengarnya dengan baik" ill kembali tersenyum dan mengecup pelan bibirku lalu melepaskanya.
"begini sebenarnya aku mengetahui hal ini taksegaja,
aku juga awalnya terkejut dan tak mengira semua ini akan terjadi.
Tapi aku kembali bahwa ini adalah cinta dan cinta tak bisa dihalangi bagaimanpun caranya.
Kuharap kau juga akan mengerti dengan apa yang akan kuceritakan padamu" ill menatapku dengan tatapan aneh.
"apa maksud dari perkataanmu barusan?"
"maksudku adalah aku ingin kau mengerti dengan cinta olive kepada cody dan begitupun cody mencintai olive.
Aku ingin kau tak menghalangi mereka,
aku ingin melihat mereka bahagia ill.
Kau tahukan olive bukan tipe wanita yang gampang jatuh cinta,
dan sekarang ia telah jatuh cinta pada pria." kulihat raut wajah ill berubah.
Mukanya memerah aku tau ia menahan amarahnya.
Kembali kurengkuh tubuhnya dan mendekapnya.
"aku mohon ill biarkan mereka merasakan indahnya cinta satu sama lain"..
WILLIANA POV
jantungku seakan berhenti berdetak ketika justin mengucapkan semua yang ia dengar dan ketahui.
Ada apa denganmu olive kenapa kau bisa jatuh cinta dengan proi bajingan itu.
Justin menarikku dalam dekapanya
"biarkan mereka merasakan cinta merka ill" dengan hati-hati kulepas dekapan justin dan menatapnya.
"aku tak bisa jut,
olive bukan sekedar sahabat bagiku dia adikku, dia saudaraku.
Aku tak bisa melihatnya tersakiti dan kembali merasakan hal yang sama dengaku.
Aku tak kan membiarkanya melakukan itu pada olive.
Aku taka kan bisa menyetujui hal konyol dan tak masuk akal ini just" aku berdiri dan menatap luruk keluar.
Aku tak bisa membuat olive masuk kelobang yang sama dengaku,
ia harus bahagia dan tak boleh tersakiti.
Kurasakan justin mendekapku.
"kau harus melupakan masa lalu ill,
aku tahu pasti sulit melupakanya tapi itu harus kau lakukan.
Kau tahu mereka saling mencintai dan apa kau tegah melihat olive meninggalkan pria yang ia cintai hanya karna ingin melihatmu senang"
"tapi bukan dengan pria bajingan itu, masih banyak pria lain"
"aku ingin tanya padamu.."
cody masih dia mematng begitupun dengan olive. Seakan bibir mereka keluh dan tak bisa digoyangkan.
Hening itulah kata yang menggambarkan suasana yang timbul disekita mereka, hanya bunyi ranting yang bergesakan yang dapat terdengar.
OLIVE POV
apa yang barusan terjadi dia,dia menciumku.
Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku mencintainya bahkan sangat mencintainya tapi apakah ini benar aku juga tak ingin memperburuk masalahku dengan will,
ia sahabatku dan juga kakakku.
"hem maafkan aku ol karna lancang menciummu" kulihat cody berdiri dan melangkah meninggalkanku,
ayo olive kejar dia, dia pria yang kau cintai dan dia juga mencintaimu.
Ayo kejar dia.
Dengan cepat aku berlari dan mendekap tubuh kekar cody dari belakang.
Kupeluk tubuhnya dengan sangat erat.
Aku tak ingin kehilanganya, aku tak peduli dengan will ia akan mengerti dengan sendirinya.
"aku mohon jangan pergi, aku mencintaimu.
Aku mencintaimu teteplah disini.
Ini yang ingin kau dengarkan dariku aku mencintaimu cody" tangisku pecah dalam dekapan cody,
air mataku jatuh membasahi punggu belakang cody.
Sedetik kemudia cody membalikan tubuhnya dan kembali mendekapku dengan hangat.
Sesekali ia mendaratkan kecupan-kecupan lembut dirambutku.
"terima kasih olive karna kau mau menerimaku.
Aku tak perna membayangkan sejauh ini.
Aku datang hari ini hanya untuk memberitahukan perasaan yang selama ini menyiksaku dan sekarng aku mendapatkanmu,
kau tahu ini kebahagian yang sangat indah untukku"
"akupun sama cody,
aku tak mengirah kau memiliki perasaan yang sama denganku" ucapku masih dalam dekapan hangatnya.
Cody melepas pelukanya dan membawaku kembali duduk.
Ia terus menyunggingkan senyum indahnya padaku,
dan akupun sama...
Dilain tempat seorang pria tengah melajukan mobilnya,
dengan hati-hati ia memarkirkan mobilnya.
Ia masuk kkedalam rumahnya.
Ia mencari dimana istrinya berada..
JUSTIN POV.
"sayang kau didalam" kuketuk pintu kamar mandi,
"ia aku didalam" kudengar jawaban ill.
Kudekati emma dan edward yang tengah asyik bermain dengan mainan mereka.
"hey,heyhey, apa kalian tak rindu dengan dad" kuangkat emma kedalam gendongaku dan kemudian menganggkat edward.
"wah kalian berat sekali,
seminggu yang lalu dad tak merasa kalian seberat ini" kukecup pipi kedua anakku.
Tak lama kurasakan dekapan lembut ditebuhku,
dan kecupan-kecupan lembut mendarat ditengkuk leherku.
Membuat bulu kudukku merinding.
"kenapa kau pulang cepat sayang?"
"karna aku rindu kalian"
"apa itu benar?" iil mengelus dadaku
"ia itu benar"
kuturunkan emma dan edward kembali keboxnya masing-masing.
Kutarik lembut lengan ill dan mendudukanya dikasur lalu aku duduk diseblahnya.
Kudekap tubuhnya dari samping,
"ada apa just?" ill menatapku dan tersenyum
"begini sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu.
Tapi apakah kau akan mendengarnya?"
"hem, ia ceritakanlah aku pasti mendengarnya dengan baik" ill kembali tersenyum dan mengecup pelan bibirku lalu melepaskanya.
"begini sebenarnya aku mengetahui hal ini taksegaja,
aku juga awalnya terkejut dan tak mengira semua ini akan terjadi.
Tapi aku kembali bahwa ini adalah cinta dan cinta tak bisa dihalangi bagaimanpun caranya.
Kuharap kau juga akan mengerti dengan apa yang akan kuceritakan padamu" ill menatapku dengan tatapan aneh.
"apa maksud dari perkataanmu barusan?"
"maksudku adalah aku ingin kau mengerti dengan cinta olive kepada cody dan begitupun cody mencintai olive.
Aku ingin kau tak menghalangi mereka,
aku ingin melihat mereka bahagia ill.
Kau tahukan olive bukan tipe wanita yang gampang jatuh cinta,
dan sekarang ia telah jatuh cinta pada pria." kulihat raut wajah ill berubah.
Mukanya memerah aku tau ia menahan amarahnya.
Kembali kurengkuh tubuhnya dan mendekapnya.
"aku mohon ill biarkan mereka merasakan indahnya cinta satu sama lain"..
WILLIANA POV
jantungku seakan berhenti berdetak ketika justin mengucapkan semua yang ia dengar dan ketahui.
Ada apa denganmu olive kenapa kau bisa jatuh cinta dengan proi bajingan itu.
Justin menarikku dalam dekapanya
"biarkan mereka merasakan cinta merka ill" dengan hati-hati kulepas dekapan justin dan menatapnya.
"aku tak bisa jut,
olive bukan sekedar sahabat bagiku dia adikku, dia saudaraku.
Aku tak bisa melihatnya tersakiti dan kembali merasakan hal yang sama dengaku.
Aku tak kan membiarkanya melakukan itu pada olive.
Aku taka kan bisa menyetujui hal konyol dan tak masuk akal ini just" aku berdiri dan menatap luruk keluar.
Aku tak bisa membuat olive masuk kelobang yang sama dengaku,
ia harus bahagia dan tak boleh tersakiti.
Kurasakan justin mendekapku.
"kau harus melupakan masa lalu ill,
aku tahu pasti sulit melupakanya tapi itu harus kau lakukan.
Kau tahu mereka saling mencintai dan apa kau tegah melihat olive meninggalkan pria yang ia cintai hanya karna ingin melihatmu senang"
"tapi bukan dengan pria bajingan itu, masih banyak pria lain"
"aku ingin tanya padamu.."
Attente Part 64
"aku ingin bertanya padamu?,
andaikan kau diposisi olive dan aku diposisi cody, apakah kau akan meninggalkan cody dan membiarkan hatiku dan hati pria yang kau cintai tersakiti?" justin menatap dalam mataku,
"ia aku akan melakukan itu,
aku tak akan mencintaimu karna hal yang telah kau lakukan pada sahabtaku" jawabku tegas.
"itu bukan jawaban yang tepat ill,
aku tahu kau menyanyangin olive melebihi dirimu,
tapi apakah kau tegah membiarkan hatinya tersakiti dan terluka hanya karna keegoisanmu semata,
apa kau mau mengulangin hal yang sama pada olive, adikmu?"
apa yang dikatakan justin ada benarnya, tapi apakah cody benar-benar mencintai olive.
Apakah ia tak akan mengulangi kesalhanya lagi.
Aku tak bisa membayangkan andaikan itu benar-benar terjadi dan terulang pada olive adikku.
Ini tak benar, aku harus mengehalangi semuanya
"tidak just, aku tak bisa melihat olive sakit karna pria itu,
aku tak akan merelakah adikku tersakiti."
"apa ini keputusan yang kau ambil ill?"
"ia"
"baiklah kalau itu jadi keputusanmu,
tapi kuharap kau tak akan menyesali apa yang telah kau ambil dikemudian hari." justin mendaratkan kecupan lembut dirambutku lalu melangkah meninggalkaku diam mematung didepan jendela..
Kuraih ponselku dan memencet nomor olive.
"hallo olive, apa kau bisa datang kerumahku hari ini ada yang ingin kubicarakan denganmu?"
"ia aku bisa,"
"baiklah aku menunggumu" kumatikan ponselku dan kembali menaruhnya diatas meja.
Baiklah ini keputusanku dan aku tak akan menyesalinya.
Dialain tempat :
OLIVE POV
"siapa yang menelponmu barusan?"
"will, kurasa ada hal yang penting yang ingin dia bicarakan denganku?" kusunggingkan senyum pada pria yang sekarang telah sepenuhnya dalam hatiku."
"hem olive?"
"ia cody"
"aku ingin bertanya?"
"apa"
"aku hanya ingin tahu apa kau akan meninggalkanku andaikan will mengetahui tentang hubungankita ini.?"
"hem aku rasa tidak akan cody.
Aku mencintaimu dan aku menerima semua resiko ini,
aku tahu ini salah tapi aku mencintaimu apakah aku salah karna mencintai pria yang dulu menyakiti sahabatku.
Aku hanya ingin kau membuktikan pada will bahwa kau telah berubah dan tak akan mengulangi kesalahanmu dulu."
cody menarik tangank dan mengecupnya berulang-ulang.
"itu pasti aku akan menunjukan padanya bahwa aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu,
bagaimanapun caranya aku akan membuktikan padanya aku sudah berubah dan ingin merangkai kebahagian dengan, dengan wanita yang kucintai."
"baiklah, cody aku rasa aku harus kembali kekantor ini sudah waktunya," cody berdiri dan menarik tanganku alhasil akupun berdiri.
"ayo aku antar, bagaiman kalau pulang nanti aku menjemputmu?"
"tak usah cody aku bawa mobil dan juga aku harus bertemu dengan will,
apa kau sudah siap bertemu denganya sekarang?"
"aku sudah siap ol,
aku sudah siap"
"baiklah kalau kau sudah siapa,
apa kau mau bertemu denganya hari ini juga?" aku menaikan seblah alisku saat menanyakan hal ini pada cody.
Kulihat raut wajahnya berubah, aku tau ia masih ragu.
"baiklah, aku yang akan mengantarmu kerumah wil,
aku siap dengan segala resiko yang akan terjadi"
"baiklah, aku tunggu kau"..
CODY POV
baiklah ini keputusan yang kupilih, mau tak mau aku juga harus bertemu dengan will,
aku akan menunjukan padanya bahwa aku benar-benar mencinti olive dan tak akan mengulangi kesalahan yang telah kuperbuat kepadanya,
aku tak ingin kehilangan wanita yang kucintai untuk kedua kalinya.
Aku sudah leleh mengalah dan membiarkan wanita yang kucintai pergi meninggalkanku.
Aku siap aku harus siap mengambil seriko ini,
olive harus melihat kesungguhanku,
bahwa aku benar-benar mencintainya dan tak akan meninggalkanya setelah merangkai indahnya cinta bersamanya.
Aku ingin dia selamanya disampingku sampai maut memisahkan kami berdua.
Aku tahu will mencintainya olive dan menyanyanginya.
Aku tahu ia tak akan membiarkan olive menderita karna keegoisanya.
Jam berganti jam,
tak terasa sekarang sudah jam 5 sore dan waktunya menjemput olive.
Dengan cepat kulajukan mobilku kekantor olive.
Kulihat dari kejauhan olive sudah menungguku.
"hay sudah lama, maaf tadi ada sedikit masalah" kudekati olive dan memeluknya sebentar.
"tak apa, ayo will sudah tiga kali menghubungiku" olive masuk kedalam mobil dan dengan cepat kulajukan mobilku kearah rumah kediaman will dan suaminya.
20 menit kemudian, kamu sampai dirumah will.
Terlihat dari luar rumah ini penuh dengan kehangatan.
"ayo" olive mengandeng tanganku dan meremasnya,
kutahan tangan olive dan membuat langkah kami berhenti tepat didepan pintu rumah will.
Olive menyunggingkan senyum dan sedetik kmemudia mendaratkan kecupan hangat dipipiku.
"tenanglah, kau harus tenang,
bukanya ini kemauan mu bertemu denganya"
"ia aku tahu, tapi aku sedikit gugup ol" olive terkekeh kecil dan kembali menatapku.
"lakukan yang kukatakan,
tarik nafas dalam-dalam dan buang,
tarik lagi dan buang, tarik lagi dan buang" kulakukan yang diucapkan olive dan benar aku sedikit tenang ..
andaikan kau diposisi olive dan aku diposisi cody, apakah kau akan meninggalkan cody dan membiarkan hatiku dan hati pria yang kau cintai tersakiti?" justin menatap dalam mataku,
"ia aku akan melakukan itu,
aku tak akan mencintaimu karna hal yang telah kau lakukan pada sahabtaku" jawabku tegas.
"itu bukan jawaban yang tepat ill,
aku tahu kau menyanyangin olive melebihi dirimu,
tapi apakah kau tegah membiarkan hatinya tersakiti dan terluka hanya karna keegoisanmu semata,
apa kau mau mengulangin hal yang sama pada olive, adikmu?"
apa yang dikatakan justin ada benarnya, tapi apakah cody benar-benar mencintai olive.
Apakah ia tak akan mengulangi kesalhanya lagi.
Aku tak bisa membayangkan andaikan itu benar-benar terjadi dan terulang pada olive adikku.
Ini tak benar, aku harus mengehalangi semuanya
"tidak just, aku tak bisa melihat olive sakit karna pria itu,
aku tak akan merelakah adikku tersakiti."
"apa ini keputusan yang kau ambil ill?"
"ia"
"baiklah kalau itu jadi keputusanmu,
tapi kuharap kau tak akan menyesali apa yang telah kau ambil dikemudian hari." justin mendaratkan kecupan lembut dirambutku lalu melangkah meninggalkaku diam mematung didepan jendela..
Kuraih ponselku dan memencet nomor olive.
"hallo olive, apa kau bisa datang kerumahku hari ini ada yang ingin kubicarakan denganmu?"
"ia aku bisa,"
"baiklah aku menunggumu" kumatikan ponselku dan kembali menaruhnya diatas meja.
Baiklah ini keputusanku dan aku tak akan menyesalinya.
Dialain tempat :
OLIVE POV
"siapa yang menelponmu barusan?"
"will, kurasa ada hal yang penting yang ingin dia bicarakan denganku?" kusunggingkan senyum pada pria yang sekarang telah sepenuhnya dalam hatiku."
"hem olive?"
"ia cody"
"aku ingin bertanya?"
"apa"
"aku hanya ingin tahu apa kau akan meninggalkanku andaikan will mengetahui tentang hubungankita ini.?"
"hem aku rasa tidak akan cody.
Aku mencintaimu dan aku menerima semua resiko ini,
aku tahu ini salah tapi aku mencintaimu apakah aku salah karna mencintai pria yang dulu menyakiti sahabatku.
Aku hanya ingin kau membuktikan pada will bahwa kau telah berubah dan tak akan mengulangi kesalahanmu dulu."
cody menarik tangank dan mengecupnya berulang-ulang.
"itu pasti aku akan menunjukan padanya bahwa aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu,
bagaimanapun caranya aku akan membuktikan padanya aku sudah berubah dan ingin merangkai kebahagian dengan, dengan wanita yang kucintai."
"baiklah, cody aku rasa aku harus kembali kekantor ini sudah waktunya," cody berdiri dan menarik tanganku alhasil akupun berdiri.
"ayo aku antar, bagaiman kalau pulang nanti aku menjemputmu?"
"tak usah cody aku bawa mobil dan juga aku harus bertemu dengan will,
apa kau sudah siap bertemu denganya sekarang?"
"aku sudah siap ol,
aku sudah siap"
"baiklah kalau kau sudah siapa,
apa kau mau bertemu denganya hari ini juga?" aku menaikan seblah alisku saat menanyakan hal ini pada cody.
Kulihat raut wajahnya berubah, aku tau ia masih ragu.
"baiklah, aku yang akan mengantarmu kerumah wil,
aku siap dengan segala resiko yang akan terjadi"
"baiklah, aku tunggu kau"..
CODY POV
baiklah ini keputusan yang kupilih, mau tak mau aku juga harus bertemu dengan will,
aku akan menunjukan padanya bahwa aku benar-benar mencinti olive dan tak akan mengulangi kesalahan yang telah kuperbuat kepadanya,
aku tak ingin kehilangan wanita yang kucintai untuk kedua kalinya.
Aku sudah leleh mengalah dan membiarkan wanita yang kucintai pergi meninggalkanku.
Aku siap aku harus siap mengambil seriko ini,
olive harus melihat kesungguhanku,
bahwa aku benar-benar mencintainya dan tak akan meninggalkanya setelah merangkai indahnya cinta bersamanya.
Aku ingin dia selamanya disampingku sampai maut memisahkan kami berdua.
Aku tahu will mencintainya olive dan menyanyanginya.
Aku tahu ia tak akan membiarkan olive menderita karna keegoisanya.
Jam berganti jam,
tak terasa sekarang sudah jam 5 sore dan waktunya menjemput olive.
Dengan cepat kulajukan mobilku kekantor olive.
Kulihat dari kejauhan olive sudah menungguku.
"hay sudah lama, maaf tadi ada sedikit masalah" kudekati olive dan memeluknya sebentar.
"tak apa, ayo will sudah tiga kali menghubungiku" olive masuk kedalam mobil dan dengan cepat kulajukan mobilku kearah rumah kediaman will dan suaminya.
20 menit kemudian, kamu sampai dirumah will.
Terlihat dari luar rumah ini penuh dengan kehangatan.
"ayo" olive mengandeng tanganku dan meremasnya,
kutahan tangan olive dan membuat langkah kami berhenti tepat didepan pintu rumah will.
Olive menyunggingkan senyum dan sedetik kmemudia mendaratkan kecupan hangat dipipiku.
"tenanglah, kau harus tenang,
bukanya ini kemauan mu bertemu denganya"
"ia aku tahu, tapi aku sedikit gugup ol" olive terkekeh kecil dan kembali menatapku.
"lakukan yang kukatakan,
tarik nafas dalam-dalam dan buang,
tarik lagi dan buang, tarik lagi dan buang" kulakukan yang diucapkan olive dan benar aku sedikit tenang ..
Attente Part 65
"bagaimana apa kau sudah siap cod?" kuanggukan kepalaku tanda aku siap, walaupun dalam lubuk hatiku yang paling dalam tak siap.
Dengan hati-hati olive memencet bell rumah will,
tak lama sosok yang dulu kucintai tengah berdiri dengan wajah yang tak bisa kuartika,
matanya membulat dan ia menutup mulutnya dengan kedua tanganya.
Pandanganku beralih ke olive kulihat olive biasa-biasa saja, sepertinya dia benar-benar sudah siap dengan segala resiko yang terjadi.
Sedetik kemudian will menarik tangan olive menjauh dari..
WILLIANA POV
kutarik dengan kasar tangan olive,
apa dia sudah gila berani-beraninya dia membawa pria bajingan itu.
"will kau menyakiti lenganku?" aku tak mendengar ucapan olive dan trud menariknya menjauh dari pria bajingan itu.
"apa yang kau lakukan ol? Apa kau sudah tak waras, hy sadarlah ol" kutatap dalam mata olive dan dia juga menatapku.
Lama olive diam dan hanya deruh nafas yang kudengar darinya.
"jawab aku olive?"
"baiklah will, maafkan aku. Aku tahu ini salah. Tapi bisakah kau biarkan aku bersamanya, aku mencintainya dan diapun sama mencintaiku.
Kau tahu will dia sudah berubah bahkan dia yang meminta bertemu denganmu, kau tahu kalau dia hanya ingin mempermainkanku dia tak mungkin meminta datang kesini.
Aku mohon will aku mencintainya sangat mencintainya." olive mengenggam tangaku dan sesekali meremasnya bahkan air matanya jatuh membasahi tangaku yang digenggam olehnya.
Aku masih tak yakin dengan pria itu apakah dia benar-benar sudah sadar ataukah hanya mengulangi kesalahnya dan membaut olive tersakiti,
baiklah aku akan membiarkanmu tapi kau tak akan perna lepas dari pengawasanku cody.
Kulepas tanganku yang digenggam oleh olive.
Kusekah air matanya dan menyentuh pipinya.
"baiklah aku akan mengizinkanmu mencintainya dan dia juga mencintaimu,
tapi kumohon jangan perna menangis lagi didepanku.
Aku hanya ingin yang terbaik bagimu ol, kau adikku aku tak ingin kejadia yang dulu kualami terulang padamu,
kau mengertikan apa yang kumaksud barusan." kutatap matanya dan menariknya kedalam dekapanku.
Tangisanya semakin pecah dan membuatku yakin dia benar-benar mencintai pria itu,
baiklah cody kau harus hati-hati kalau kau menyakitinya atau ujung ambutnya terluka akan kubuat kau lebih sakit dari yang dialami oleh olive.
"sudahlah diam, jangan menagis ini yang kau inginkankan, ayo tersenyumlah" kuusap punggung belakangnya dan mengecup puncak kepalnay.
Ia melas pelukanku dantersenyum,
"terima kasih will, kau benar-benar mengerti apa yang kuinginkan.
Aku mengerti dengan kekawatiranmu hanya saja aku jamin cody sudah berubah dan ia berjanji akan membuktikanya padamu" dia tersenyum dan mengecup pipiku.
"baiklah kau bisa bersamanya, sana pergila kuyakin cody menunggumu"
"terima kasih will" olive melangkah meninggalkanku yang diam mematung memandang punggu belakang cody dan olive.
"tunggu" dengan kompak mereka memberhentikan langkahnya dan berbalik.
Dengan cepat kuarahkan langkahku kearah mereka berdua.
"tunggu, aku belum selesai denganmu" kutunjuk muka cody.
Kulihat perubahan dari raut wajah cody.
"aku membiarkanmu memiliki olive tapi jangan fikir aku sudah memaafkanmu,
kau harus tahu aku melakukan ini semat-mata demi olive, aku tak bisa melihatnya menderita.
Jadi kuharap kau tak melukainya.
Klu sampai aku mengetahui itu.
Aku benar-benar akan membunuhmu jam itu juga.
Kau mengerti" kutunjuk muka cody.
"baiklah, kau bisa melakukan apa saja padaku andaikan aku melukai olive.
Terserah kau" cody menatapku dan kulihat dari sorot matanya terdapat ketulusan yang telah lama tak kulihat dari sorot matanya.
"baiklah, kalian sebaiknya pergi sebelum blue melihatmu dan ingin ikut dengan olive." dengan cepat olive kembali menarikku dalam dekapanya.
"terima kasih" disela-sela pelukan kami.
"ia, pergila cody menunggumu"
dengan cepat olive melepas pelukanya dan membuka pintu mobil dan naik..
JUSTIN POV
kulihat olive sudah menjauh dari pandangan mataku,
kudekap hangat tubuh istriku.
Aku benar-benar mencintainya dia bisa merelakan keegoisanya dan membiarkan olive merasakan indahnya cinta yang tengah ia rasakan.
"hey sayang kau membuatku terkejut"
"hem kurasa wanitaku ini sudah melakukan hal yang benar,
aku senang mendengar apa yang barusan yang kau lakukan sayang" kudaratkan kecupan hangat ditengkuk lehernya.
Dan membuatnya tersenyum dan membalikan badanya lalu kembali tersenyum.
"apa yang kau katakan itujujur?"
"ia aku mengatakan ini dari lubuk hatikku yang paling dalam,
kau tahu aku bangga dengan apa yang barusan kau lakukan. Ka merelakan keegoisanmu dan membiarkan olive merasakan indahnya cinta yang tengah dia rasakan"
kurengku wajahnya dan melumat bibirnya dengan lembut,
lama kami dalam adegan ini,
kuakhiri dengan mengecup puncak kepalanya.
"terima kasih karna kau sudah membuat keputusan yang tak akan kau sesali diakhir cerita "
"sama-sama semua ini kulakukan karna mengingat perkatanmu pagi tadi,
kau benar tak seharusnya aku seperti ini"..
Dengan hati-hati olive memencet bell rumah will,
tak lama sosok yang dulu kucintai tengah berdiri dengan wajah yang tak bisa kuartika,
matanya membulat dan ia menutup mulutnya dengan kedua tanganya.
Pandanganku beralih ke olive kulihat olive biasa-biasa saja, sepertinya dia benar-benar sudah siap dengan segala resiko yang terjadi.
Sedetik kemudian will menarik tangan olive menjauh dari..
WILLIANA POV
kutarik dengan kasar tangan olive,
apa dia sudah gila berani-beraninya dia membawa pria bajingan itu.
"will kau menyakiti lenganku?" aku tak mendengar ucapan olive dan trud menariknya menjauh dari pria bajingan itu.
"apa yang kau lakukan ol? Apa kau sudah tak waras, hy sadarlah ol" kutatap dalam mata olive dan dia juga menatapku.
Lama olive diam dan hanya deruh nafas yang kudengar darinya.
"jawab aku olive?"
"baiklah will, maafkan aku. Aku tahu ini salah. Tapi bisakah kau biarkan aku bersamanya, aku mencintainya dan diapun sama mencintaiku.
Kau tahu will dia sudah berubah bahkan dia yang meminta bertemu denganmu, kau tahu kalau dia hanya ingin mempermainkanku dia tak mungkin meminta datang kesini.
Aku mohon will aku mencintainya sangat mencintainya." olive mengenggam tangaku dan sesekali meremasnya bahkan air matanya jatuh membasahi tangaku yang digenggam olehnya.
Aku masih tak yakin dengan pria itu apakah dia benar-benar sudah sadar ataukah hanya mengulangi kesalahnya dan membaut olive tersakiti,
baiklah aku akan membiarkanmu tapi kau tak akan perna lepas dari pengawasanku cody.
Kulepas tanganku yang digenggam oleh olive.
Kusekah air matanya dan menyentuh pipinya.
"baiklah aku akan mengizinkanmu mencintainya dan dia juga mencintaimu,
tapi kumohon jangan perna menangis lagi didepanku.
Aku hanya ingin yang terbaik bagimu ol, kau adikku aku tak ingin kejadia yang dulu kualami terulang padamu,
kau mengertikan apa yang kumaksud barusan." kutatap matanya dan menariknya kedalam dekapanku.
Tangisanya semakin pecah dan membuatku yakin dia benar-benar mencintai pria itu,
baiklah cody kau harus hati-hati kalau kau menyakitinya atau ujung ambutnya terluka akan kubuat kau lebih sakit dari yang dialami oleh olive.
"sudahlah diam, jangan menagis ini yang kau inginkankan, ayo tersenyumlah" kuusap punggung belakangnya dan mengecup puncak kepalnay.
Ia melas pelukanku dantersenyum,
"terima kasih will, kau benar-benar mengerti apa yang kuinginkan.
Aku mengerti dengan kekawatiranmu hanya saja aku jamin cody sudah berubah dan ia berjanji akan membuktikanya padamu" dia tersenyum dan mengecup pipiku.
"baiklah kau bisa bersamanya, sana pergila kuyakin cody menunggumu"
"terima kasih will" olive melangkah meninggalkanku yang diam mematung memandang punggu belakang cody dan olive.
"tunggu" dengan kompak mereka memberhentikan langkahnya dan berbalik.
Dengan cepat kuarahkan langkahku kearah mereka berdua.
"tunggu, aku belum selesai denganmu" kutunjuk muka cody.
Kulihat perubahan dari raut wajah cody.
"aku membiarkanmu memiliki olive tapi jangan fikir aku sudah memaafkanmu,
kau harus tahu aku melakukan ini semat-mata demi olive, aku tak bisa melihatnya menderita.
Jadi kuharap kau tak melukainya.
Klu sampai aku mengetahui itu.
Aku benar-benar akan membunuhmu jam itu juga.
Kau mengerti" kutunjuk muka cody.
"baiklah, kau bisa melakukan apa saja padaku andaikan aku melukai olive.
Terserah kau" cody menatapku dan kulihat dari sorot matanya terdapat ketulusan yang telah lama tak kulihat dari sorot matanya.
"baiklah, kalian sebaiknya pergi sebelum blue melihatmu dan ingin ikut dengan olive." dengan cepat olive kembali menarikku dalam dekapanya.
"terima kasih" disela-sela pelukan kami.
"ia, pergila cody menunggumu"
dengan cepat olive melepas pelukanya dan membuka pintu mobil dan naik..
JUSTIN POV
kulihat olive sudah menjauh dari pandangan mataku,
kudekap hangat tubuh istriku.
Aku benar-benar mencintainya dia bisa merelakan keegoisanya dan membiarkan olive merasakan indahnya cinta yang tengah ia rasakan.
"hey sayang kau membuatku terkejut"
"hem kurasa wanitaku ini sudah melakukan hal yang benar,
aku senang mendengar apa yang barusan yang kau lakukan sayang" kudaratkan kecupan hangat ditengkuk lehernya.
Dan membuatnya tersenyum dan membalikan badanya lalu kembali tersenyum.
"apa yang kau katakan itujujur?"
"ia aku mengatakan ini dari lubuk hatikku yang paling dalam,
kau tahu aku bangga dengan apa yang barusan kau lakukan. Ka merelakan keegoisanmu dan membiarkan olive merasakan indahnya cinta yang tengah dia rasakan"
kurengku wajahnya dan melumat bibirnya dengan lembut,
lama kami dalam adegan ini,
kuakhiri dengan mengecup puncak kepalanya.
"terima kasih karna kau sudah membuat keputusan yang tak akan kau sesali diakhir cerita "
"sama-sama semua ini kulakukan karna mengingat perkatanmu pagi tadi,
kau benar tak seharusnya aku seperti ini"..
Attente Part 66
WILLIANA POV
semenjak hari itu cody terus memperlihatkan perubahan sikapnya, bahkan aku tak perna melihat olive sebahagia saat dia disamping cody.
Mungkin cody ingin memperlihatkan padaku bahwa dia sudah berubah dan ingin serius dengan olive.
Bahkan yang membuatku menyerah adalah 2 hari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan, yah mungkin memng sekarng sudah saatnya aku merelakan olive sepenuhnya pada cody.
Dan sebagai hadia pernikahanya aku memberikanya gaun penganti yang perna kugunakan untuknya.
Saat menirima gaun itu olive sangat senang dan berharap mempunya kehidupan rumah tangga sepertiku bahagia dan dikelilingi olive malaikat-malaikat kecil,
kujatuhkan tubuhku disofa dan sesekali memencet remot tv mencari acara yang bagus.
Tapi tetap saja semuanya membosankan..
Mungkin karna lelah menyiapkan persiapan pernikahan olive williana tertidur disofa dengan ditemani oleh suara tv.
Dari arah dapur muncul gadis kecil
dengan gels ditangannya..
JUSTIN POV.
aku merasa bahagia karna williana sudah sepenuhnya mengizinkan hubungan cody dan olive bahkan dia sendiri yang menyiapkan pesta pernikahan olive.
Aku berharap cody bisa menepati janjinya padaku.
Kulangkahkan kakiku keluar dari gedung kantor dan melajukan mobilku dengan kecepatan rendah,
rasanya tak bertemu dengan ill dan anak-anak satu hari seperti seabad.
Aku menrindukan mereka.
Dengan hati-hati kuparkirkan mobilku dihalaman dan keluar.
Kubukan pintu rumahku lalu kembali melangkahkan kakiku kedalam kamar aku yakin mereka pasti sudah terlelap dan terbuai oleh mimpi.
Dengan hati-hati kubuka pintu kamar blue, lalu masuk dan mendaratkan kecupan dipuncak kepalanua."have anice dream" kututup pintu kamarnya dengan hati-hati agar tak membangunkanya.
Kembalu kulangkahkan kakiku kekamar dimana wanita yang kucintai tengah terbuai dalam mimpi indahnya.
Saat kubuka pintu kamar, aku mendapati ill tengah berdiri dibalkon kamar. Dengan hati-hati dan cukup pelan kulangkahkan kakiku.
Dan memeluk tubuhnya, aroma tubuhnya selalu membuatkku nyaman saat mendekapnya seperti saat ini.
"hy sayang apa yang sedang kau lakukan ?"
"hem hanya menikmati angin musim gugur yang sebentar lagi akan berganti"
"hem, aku rasa bukan hanya itu.
Ayo katakan apa yang menganggu fikiranmu?"
semakin kepererat pelukanku pada tubuhnya.
"sebenarnya aku masih tak yakin dengan keputusanku membiarkkan olive menikah dengan cody sayang, aku masih merasa cody belum sepenuhnya sadar?" kurasakan ia mendaratkan tanganya diatas tanganku yang tengah memeluknya.
"ayolah ill ini yang terbaik saynag, kau sudah melakukan apa yang seharusnya seorang kakak lakaukan.
Andaikan benar yang kau katakan biarlah itu menjadi urusan mereka.
Kau tahu olive begitu bahagia saat tau kau yang akan menyiapkan semuanya dan ia juga trus menceritakan kepada rekan-rekan kerjanya bahwa gaun yang akan dipakai olehnya adalah gaun kakaknya.
Apa kau tak ikut senang dengan apa yang dirasakan olive saat ini, dan apa kau tega merusak kebahagian itu hanya karna fikiranmu tentang cody?"
"kurasa aku tak bisa sayang, aku begitu menyayangi olive dan ini hanya firasat seorang kakak pada adiknya hanya itu tak lebih."
"aku tau itu sayang dan sebaiknya kau melupakan semua itu karna kau akan melihat kebahagia yang lebih, aku yakin itu"
"baiklah, ayo kita masuk udara semakin dingin" ill menark lembut tanganku dan menutup pintu balkon.
Dengan mudahnya kedua sejoli itu terbuai kedalam mimpi indahnya, semuanya tersa indah
saat meraka saling memiliki.
Sedangkan dilain tempat seorang pria tengah memandang luruk,
senyum terus mereka dibibirnya,
ia tak perna membayangkan akan menikahi wanita yang sangat ia cintai bahkan yang membautnya senang adalah orang yang menyiapakan semuanya adalah wanita yang dulu ia sakiti bahkan ia merasa will sudah memaafkanya sepenuhnya..
Dengan sedikit bersandar dipagar balko kamarnya ia menutup kedua matanya,
hayalan tentang masa depanya berputar-putar dibenaknya,
ia sudah memikirkan bagaimana nanti saat ia memiliki seorang anak dari rahain olive pasti itu akan menambah kebahaian mereka berdua..
Dengan harapan itu cody menutup pintu balkonya lalu menjatuhkan dirinya dikasur dan mulai terbuai dengan alam mimpi yang mungkin mempertemukanya dengan pujaan hatinya yang sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya...
Olive pov
hem sepertinya aku tak bisa tidur,
jantungku berdetak sangat cepat semenjak hari dimana cody melamarku,
aku sangat senang dengan hal yang dilakukan cody padaku.
Dan kalain harus tahu semua bayangan tentang masa lalunya yang selalu menghantuiku membuatku takut dan ragu padanya tapi ia menepis semua itu dan memberikanku kebahagia yang tak perna kurasakan.
Dia benar-benar pria yang mampu membuatku jatuh hati dan merelakan semua hatiku untuknya.
I LOVE YOU CODY.
Kubenamkan kepalaku kebantal dan mencoba beralih kealam mimpi yang mungkin mempertemukan aku dengan pujana hatiku..
Wanita cantik itu telah terbuai kedalam alam mimpinya
Attente Part 67 (The End)
semenjak hari itu cody terus memperlihatkan perubahan sikapnya, bahkan aku tak perna melihat olive sebahagia saat dia disamping cody.
Mungkin cody ingin memperlihatkan padaku bahwa dia sudah berubah dan ingin serius dengan olive.
Bahkan yang membuatku menyerah adalah 2 hari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan, yah mungkin memng sekarng sudah saatnya aku merelakan olive sepenuhnya pada cody.
Dan sebagai hadia pernikahanya aku memberikanya gaun penganti yang perna kugunakan untuknya.
Saat menirima gaun itu olive sangat senang dan berharap mempunya kehidupan rumah tangga sepertiku bahagia dan dikelilingi olive malaikat-malaikat kecil,
kujatuhkan tubuhku disofa dan sesekali memencet remot tv mencari acara yang bagus.
Tapi tetap saja semuanya membosankan..
Mungkin karna lelah menyiapkan persiapan pernikahan olive williana tertidur disofa dengan ditemani oleh suara tv.
Dari arah dapur muncul gadis kecil
dengan gels ditangannya..
JUSTIN POV.
aku merasa bahagia karna williana sudah sepenuhnya mengizinkan hubungan cody dan olive bahkan dia sendiri yang menyiapkan pesta pernikahan olive.
Aku berharap cody bisa menepati janjinya padaku.
Kulangkahkan kakiku keluar dari gedung kantor dan melajukan mobilku dengan kecepatan rendah,
rasanya tak bertemu dengan ill dan anak-anak satu hari seperti seabad.
Aku menrindukan mereka.
Dengan hati-hati kuparkirkan mobilku dihalaman dan keluar.
Kubukan pintu rumahku lalu kembali melangkahkan kakiku kedalam kamar aku yakin mereka pasti sudah terlelap dan terbuai oleh mimpi.
Dengan hati-hati kubuka pintu kamar blue, lalu masuk dan mendaratkan kecupan dipuncak kepalanua."have anice dream" kututup pintu kamarnya dengan hati-hati agar tak membangunkanya.
Kembalu kulangkahkan kakiku kekamar dimana wanita yang kucintai tengah terbuai dalam mimpi indahnya.
Saat kubuka pintu kamar, aku mendapati ill tengah berdiri dibalkon kamar. Dengan hati-hati dan cukup pelan kulangkahkan kakiku.
Dan memeluk tubuhnya, aroma tubuhnya selalu membuatkku nyaman saat mendekapnya seperti saat ini.
"hy sayang apa yang sedang kau lakukan ?"
"hem hanya menikmati angin musim gugur yang sebentar lagi akan berganti"
"hem, aku rasa bukan hanya itu.
Ayo katakan apa yang menganggu fikiranmu?"
semakin kepererat pelukanku pada tubuhnya.
"sebenarnya aku masih tak yakin dengan keputusanku membiarkkan olive menikah dengan cody sayang, aku masih merasa cody belum sepenuhnya sadar?" kurasakan ia mendaratkan tanganya diatas tanganku yang tengah memeluknya.
"ayolah ill ini yang terbaik saynag, kau sudah melakukan apa yang seharusnya seorang kakak lakaukan.
Andaikan benar yang kau katakan biarlah itu menjadi urusan mereka.
Kau tahu olive begitu bahagia saat tau kau yang akan menyiapkan semuanya dan ia juga trus menceritakan kepada rekan-rekan kerjanya bahwa gaun yang akan dipakai olehnya adalah gaun kakaknya.
Apa kau tak ikut senang dengan apa yang dirasakan olive saat ini, dan apa kau tega merusak kebahagian itu hanya karna fikiranmu tentang cody?"
"kurasa aku tak bisa sayang, aku begitu menyayangi olive dan ini hanya firasat seorang kakak pada adiknya hanya itu tak lebih."
"aku tau itu sayang dan sebaiknya kau melupakan semua itu karna kau akan melihat kebahagia yang lebih, aku yakin itu"
"baiklah, ayo kita masuk udara semakin dingin" ill menark lembut tanganku dan menutup pintu balkon.
Dengan mudahnya kedua sejoli itu terbuai kedalam mimpi indahnya, semuanya tersa indah
saat meraka saling memiliki.
Sedangkan dilain tempat seorang pria tengah memandang luruk,
senyum terus mereka dibibirnya,
ia tak perna membayangkan akan menikahi wanita yang sangat ia cintai bahkan yang membautnya senang adalah orang yang menyiapakan semuanya adalah wanita yang dulu ia sakiti bahkan ia merasa will sudah memaafkanya sepenuhnya..
Dengan sedikit bersandar dipagar balko kamarnya ia menutup kedua matanya,
hayalan tentang masa depanya berputar-putar dibenaknya,
ia sudah memikirkan bagaimana nanti saat ia memiliki seorang anak dari rahain olive pasti itu akan menambah kebahaian mereka berdua..
Dengan harapan itu cody menutup pintu balkonya lalu menjatuhkan dirinya dikasur dan mulai terbuai dengan alam mimpi yang mungkin mempertemukanya dengan pujaan hatinya yang sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya...
Olive pov
hem sepertinya aku tak bisa tidur,
jantungku berdetak sangat cepat semenjak hari dimana cody melamarku,
aku sangat senang dengan hal yang dilakukan cody padaku.
Dan kalain harus tahu semua bayangan tentang masa lalunya yang selalu menghantuiku membuatku takut dan ragu padanya tapi ia menepis semua itu dan memberikanku kebahagia yang tak perna kurasakan.
Dia benar-benar pria yang mampu membuatku jatuh hati dan merelakan semua hatiku untuknya.
I LOVE YOU CODY.
Kubenamkan kepalaku kebantal dan mencoba beralih kealam mimpi yang mungkin mempertemukan aku dengan pujana hatiku..
Wanita cantik itu telah terbuai kedalam alam mimpinya
Attente Part 67 (The End)
Aku cepetin aja yah..
Hari ini mungkin hari dimana semua wanita akan bahagia,
hari dimana seorang wanita akan seutuhnya menjadi miliknya seutuhnya.
Semuanya terasa indah.
Ia terus menatap dirinya didepan cermin,
ia terus tersenyum seraya melihat pantulan tubuhnya dicermin.
Seorang wanita mendekat kerahnya,
keangguna yang dipancarkan tak kalah dengan wanita yang tengah mengenakan gaun pengantin yang indah.
"bagaimana apa kau suka, ataukah kau ingin aku mencarikan gaun yang baru. Masih ada waktu untuk mencari yang baru?"
"tak usah will, aku menyukai ini kau tahu aku menyukai gaun ini semenjak melihat kau mengunakanya dialtar saat mengucapkan janji suci kalian."
"baiklah, ayo kurasa cody sudah menunggumu kau tahu ia terlihat gugup,
oh iya apa kau menyukai dekorasi yang kubuat, aku tak tahu apa yang kau sukai tapi aku tahu cody suka dengan dengan pantai jadi aku menyiapkan semuanya dipantai."
"aku suka will, apa saja yang kau lakukan untuk pernikahanku aku suka" olive memeluk tubuh williana begitupun williana membals pelukan olive yang sudah ia anggap adiknya sendiri.
Dengan hati-hati kedua wanita cantik itu berjalan keluar hotel dan melangkahkan kaki mereka ketempat dimana cinta olive dan cody akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Terlihat jelas diraut wajah olive kecemasan dan kebahagian menjadi satu, dengan hati-hati ia melangkah agar tak membaut gaun yang ia kenakan tak kusut karna langkahnya yang salah.
Dengan begitupun williana mengetahui apa yang dirisaukan oleh olive.
Ia meremas pelan taggan adiknya,
"tenanglah semuanya akan baik-baik saja, tarik nafas dalam-dalam dan buang lakukan semua itu beulang-ulang" williana mencoba menenangkan kerisauan adiknya yang dilanda kepanikan karna hal yang akan ia lalui hari ini.
OLIVE POV
rasanya jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya,
kulihat cody sudah berdiri dialtar dengan jas hitam, ia terlihat sangat tampan dengan jas yang ia kenakan.
Kulangkahkan kakiku dengan will disampingku, ia terus mengenggam tanganku dan sesekali meremas tangaku aku tahu ia ingin membuatku tenang tapi sama saja aku masih gugup..
WILLIANA POV.
Kulihat olive dan cody ssedang mengucapkan janji suci mereka,
melihatnya seperti itu membuatku teringat dengan pernikahnku dulu dengan justin.
Aku tahu ini yang terbaik bagiku dan bagi olive.
Aku tak ingin melakukan kesalahan lagi dalam hidupku.
Aku tak ingin merusak kebahagian olive dan cody.
Tepuk tangan menyeruak dikatenakan keduanya tengah berciuman,
bahkan justin mengecup pipiku saat cody mencium bibir olive.
Aku hanye terkekeh kecil.
Oh iya aku lupa blue sudahn mengetaui bahwa cody adalah ayah kandung,
aku memutuskan memberitahukan hal ini pada blue.
Karna ia semakin menyadari kemiripanya dengan cody.
Dan aku semakin tak bisa membohonginya lagi.
Tapi tentang ini hanya blue yang tahu.
Justin dan olive maupun orang tua justin tak tahu sama sekali.
Cody dan blue juga mau menyembunyikan semua ini.
Aku tak bisa memberitahukan pada mereka karna aku takut justin tak akan menyetujui dengan yang kulakukan.
Justin menarikku dan membuatku sadar dengan lamunanku.
Justin menarikku kebibir pantai dan membuat sedikit gaunku basah karna air laut, yang dingin.
Kulihat ia terus tersenyum,
"ada apa, just kau tahukan acaranya belum selesai.
Aku tak enak nanti olive mengirah aku tak menyukai dengan pernikahnya?"
"sudahlah sayang olive tak akan mengirah seperti itu,
aku merindukan saat-saat berdua denganmu.
Kau tahu aku mengingat perniahan kita saat menlihat olive dan cody mengucapkan janji sucinya.
Kau tahu aku juga menrinduka saat mengecup bibirmu didepan orang banyak" astaga justin kau membuat mukakau merah.
Kupukul pelan dadanya,
dan membuatnya sedikit meringis.
"sakit sayang, kau ini tak bisa romantis"
"ayolah just kau ini sangat gombal,
kau tahu aku juga mengingat hal yang sama denganmu kau tahu.
Aku rindu saat kau bilang akan menjangaku sepenuhnya.
Aku juga merindukan saat kau mengecup bibirku. Dan melewati malam pertama kita bersama."
justin kembali menarikku kedlam pelukanya,
hari ini sangat indah,
justin memelukku dansesekali mendaratkan kecupan hangat dipuncak kepalaku.
Kuharap kehidupan kami akan terus seperti ini,
bahkan kuharap akan semakin bahagia.
Dengan adanya anak-anak kami yang mampu membuat semuanya terasa lebih indah.
Matahari tengelam membuat suasan romantis semakin meyelimuti kami berdua.
Tuhan kuharap ini akhir dari kesedihan dan dendam yang kurasakan au ingin semuanya merasakan bahagian dan hidup lebih indah..
Baiklah kurasa sudah cukup aku membagi kisah hidupku dengan kalian,
semoga lain waktu aku bisa kembali menceritakan kisah cintaku bersama justin.
SelesaiiHari ini mungkin hari dimana semua wanita akan bahagia,
hari dimana seorang wanita akan seutuhnya menjadi miliknya seutuhnya.
Semuanya terasa indah.
Ia terus menatap dirinya didepan cermin,
ia terus tersenyum seraya melihat pantulan tubuhnya dicermin.
Seorang wanita mendekat kerahnya,
keangguna yang dipancarkan tak kalah dengan wanita yang tengah mengenakan gaun pengantin yang indah.
"bagaimana apa kau suka, ataukah kau ingin aku mencarikan gaun yang baru. Masih ada waktu untuk mencari yang baru?"
"tak usah will, aku menyukai ini kau tahu aku menyukai gaun ini semenjak melihat kau mengunakanya dialtar saat mengucapkan janji suci kalian."
"baiklah, ayo kurasa cody sudah menunggumu kau tahu ia terlihat gugup,
oh iya apa kau menyukai dekorasi yang kubuat, aku tak tahu apa yang kau sukai tapi aku tahu cody suka dengan dengan pantai jadi aku menyiapkan semuanya dipantai."
"aku suka will, apa saja yang kau lakukan untuk pernikahanku aku suka" olive memeluk tubuh williana begitupun williana membals pelukan olive yang sudah ia anggap adiknya sendiri.
Dengan hati-hati kedua wanita cantik itu berjalan keluar hotel dan melangkahkan kaki mereka ketempat dimana cinta olive dan cody akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Terlihat jelas diraut wajah olive kecemasan dan kebahagian menjadi satu, dengan hati-hati ia melangkah agar tak membaut gaun yang ia kenakan tak kusut karna langkahnya yang salah.
Dengan begitupun williana mengetahui apa yang dirisaukan oleh olive.
Ia meremas pelan taggan adiknya,
"tenanglah semuanya akan baik-baik saja, tarik nafas dalam-dalam dan buang lakukan semua itu beulang-ulang" williana mencoba menenangkan kerisauan adiknya yang dilanda kepanikan karna hal yang akan ia lalui hari ini.
OLIVE POV
rasanya jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya,
kulihat cody sudah berdiri dialtar dengan jas hitam, ia terlihat sangat tampan dengan jas yang ia kenakan.
Kulangkahkan kakiku dengan will disampingku, ia terus mengenggam tanganku dan sesekali meremas tangaku aku tahu ia ingin membuatku tenang tapi sama saja aku masih gugup..
WILLIANA POV.
Kulihat olive dan cody ssedang mengucapkan janji suci mereka,
melihatnya seperti itu membuatku teringat dengan pernikahnku dulu dengan justin.
Aku tahu ini yang terbaik bagiku dan bagi olive.
Aku tak ingin melakukan kesalahan lagi dalam hidupku.
Aku tak ingin merusak kebahagian olive dan cody.
Tepuk tangan menyeruak dikatenakan keduanya tengah berciuman,
bahkan justin mengecup pipiku saat cody mencium bibir olive.
Aku hanye terkekeh kecil.
Oh iya aku lupa blue sudahn mengetaui bahwa cody adalah ayah kandung,
aku memutuskan memberitahukan hal ini pada blue.
Karna ia semakin menyadari kemiripanya dengan cody.
Dan aku semakin tak bisa membohonginya lagi.
Tapi tentang ini hanya blue yang tahu.
Justin dan olive maupun orang tua justin tak tahu sama sekali.
Cody dan blue juga mau menyembunyikan semua ini.
Aku tak bisa memberitahukan pada mereka karna aku takut justin tak akan menyetujui dengan yang kulakukan.
Justin menarikku dan membuatku sadar dengan lamunanku.
Justin menarikku kebibir pantai dan membuat sedikit gaunku basah karna air laut, yang dingin.
Kulihat ia terus tersenyum,
"ada apa, just kau tahukan acaranya belum selesai.
Aku tak enak nanti olive mengirah aku tak menyukai dengan pernikahnya?"
"sudahlah sayang olive tak akan mengirah seperti itu,
aku merindukan saat-saat berdua denganmu.
Kau tahu aku mengingat perniahan kita saat menlihat olive dan cody mengucapkan janji sucinya.
Kau tahu aku juga menrinduka saat mengecup bibirmu didepan orang banyak" astaga justin kau membuat mukakau merah.
Kupukul pelan dadanya,
dan membuatnya sedikit meringis.
"sakit sayang, kau ini tak bisa romantis"
"ayolah just kau ini sangat gombal,
kau tahu aku juga mengingat hal yang sama denganmu kau tahu.
Aku rindu saat kau bilang akan menjangaku sepenuhnya.
Aku juga merindukan saat kau mengecup bibirku. Dan melewati malam pertama kita bersama."
justin kembali menarikku kedlam pelukanya,
hari ini sangat indah,
justin memelukku dansesekali mendaratkan kecupan hangat dipuncak kepalaku.
Kuharap kehidupan kami akan terus seperti ini,
bahkan kuharap akan semakin bahagia.
Dengan adanya anak-anak kami yang mampu membuat semuanya terasa lebih indah.
Matahari tengelam membuat suasan romantis semakin meyelimuti kami berdua.
Tuhan kuharap ini akhir dari kesedihan dan dendam yang kurasakan au ingin semuanya merasakan bahagian dan hidup lebih indah..
Baiklah kurasa sudah cukup aku membagi kisah hidupku dengan kalian,
semoga lain waktu aku bisa kembali menceritakan kisah cintaku bersama justin.
Langganan:
Komentar (Atom)


